Setitik Harapan untuk Industri Bioskop Tanah Air

Hai…akhirnya sabtu ini nge-date berduaan juga, setelah beberapa weekend kemarin riwa-riwi ke Dubai. Ke Dubai ngapain aja? Ya liburan, ya nadah barang, ya nganterin temen yang pulang ke Indonesia for good. Alhamdulillah punya aktivitas hihihi Jadi ceritanya setelah menunggu lebih-kurang selama setahun. Sekuel ke tujuh film favorit yang digawangi oleh Vin Diesel ini release juga. Walaupun dalam sekuel ini, tokoh favorit saya adalah Han (Sun Kang), bukannya Dom, mati ditangan Shaw (Jason Statham).

Sebenarnya postingan ini bukan mengenai sinopsis filmnya sih. Secara masi baru tayang, saya ga mau jadi spoil-er kan. Saya cuma pengen berbagi pengalaman nonton bioskop di Abudhabi. Hihihi pasti ada beberapa yang komentar nyinyir, “apa spesialnya nonton bioskop kok sampe harus diposting? Norak banget!”. Well, bakalan norak kalau otak saya seperti anda yang isinya cuma bisa posting tanpa ada esensi :).

Di Abudhabi, distribusi film di kelola oleh beberapa bioskop, diantaranya Al Wahda Cinema, Oscar Cinema, Cine Royal, Novo Cinema dan lain sebagainya. Bandingkan dengan di Indonesia, dimana jaringan bioskop di dominasi oleh jaringan 21 Cineplex. Padahal luas emirates Abudhabi hanyalah 67.340 kilometer persegi (1/117 dari luas Indonesia). Banyaknya jumlah pelaku usaha dibidang ini membuat industri bioskop di Abudhabi menjadi lebih hidup. Masing-masing bioskop berlomba untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengunjungnya. Tidak hanya memperhatikan sarananya saja, tapi juga service karyawannya. 

Beberapa hal yang membuat saya terkesima diantaranya tersedianya concierge bukan hanya di setiap ruangan tapi juga di setiap lantai. Mereka dengan ramah menyapa dan mengecek tiket, sesudahnya mereka menghubungi concierge di ruangan kami. Sehingga sesampai disana, semua telah beres. Tidak hanya itu, seusai menonton film, kami menanyakan tata cata untuk meng-klaim additional free charge for 2 hours parking kepada petugasnya. Mereka-pun meminta concierge di lantai dasar untuk menunjukkan ruangannya pada kami sesampainya disana. Sehingga di lantai dasar nanti, kami sudah tidak perlu menjelaskan ulang maksud klaim tersebut.

Untuk gedungnya, saya menemukan sesuatu yang unik. Di Novo Cinema tidak hanya menyediakan kursi yang terjajar dibawah, mereka juga membuat balcony seat. Which is sama persis dengan bioskop era 1930-an. Dimana dahulunya kursi di balkon hanya boleh ditempati oleh para meneer Belanda. Yeiii, akhirnya saya berhasil mendapatkan rasa superior yang sama hahahah. Berikut saya lampirkan beberapa fotonya yah ?. 

Oiya makanan bioskopnya juga khas Arabian banget. Porsinya masya allah jumbo ❤️. Kalau tau isinya sebaskom gini, mungkin saya pesen pop corn cuma satu. Untung saya sempet mencegah suami untuk pesen dua pop corn ukuran large. Bisa cape ngunyahnya ?

 Oiya, sembari menunggu film diputar kita juga bisa membaca informasi mengenai sejarah proyektor, kalau mau foto dengan booth-nya juga boleh. Yang jaim ke laut ajaaaaa ?

Semoga iklim berkompetisi dengan sehat juga bisa diterapkan di negara tercinta kita Indonesia. Karena ujung-ujungnya pasti kita sebagai konsumen yang merasakan manfaatnya 😀

 

 

3 Comments

Leave a Reply