Ketika Teori Parenting Tidak Semudah Praktiknya

Pernahkah kalian membayangkan jika suatu hari, satu-satunya anak yang kita cintai bertanya

“Mama, bolehkah aku menjadi guru TK?”. Ketika muda, dengan lantang saya akan menjawab “Sure dear, you can be whatever you want to be!”.

Namun saat ini saya sudah menjadi orang tua yang berhadapan dengan naik dan turunnya kehidupan. Saya sudah melangkah lebih jauh dibandingkan 5 tahun lalu saat saya masih tinggal dirumah papa dan mama. Segala hal domestik yang dulunya cuma tau beres, kini menjadi tanggung jawab saya. Akankah tetap semudah itu bagi saya untuk mengucapkan kalimat diatas?

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari salah satu teman saya yang bersuamikan seorang direktur di sebuah perusahaan. Ia menceritakan bahwa satu-satunya anak yang ia banggakan ingin menjadi guru TK. Si Ibu yang besar dan bersekolah di Indonesia, walaupun tidak melarang namun tetap saja terkejut dengan pilihan anaknya.

Bukan bermaksud mengecilkan peranan guru TK, tapi saya paham betul perasaan yang mendera teman saya ini. Dari sekian banyak profesi yang akrab ditelinga kita seperti dokter, pilot, engineer, kontraktor, ia memilih menjadi guru TK yang notabene membutuhkan banyak kesabaran didalamnya. Jangankan mengurus anak orang lain, mengurus anak sendiri saja seringkali terasa melelahkan #curcol hahahaha 😂🙊. Surprisingly, sang suami menjawab permintaan anaknya dengan tenang “If you like it, just go for it!”. 

Hal tersebut membuat saya terharu, awalnya saya kira seseorang dengan posisi demikian akan menaruh harapan yang besar terhadap anaknya. Tapi ternyata saya salah, ia justru lebih mampu mengapresiasi cita-cita anaknya yang tampak kecil dimata lingkungan.

Idealnya, dalam teori parenting orang tua harus mendukung cita-cita anaknya sejauh itu positif. Tapi sungguhkah saya mampu melakukan hal tersebut? Melakukan apa yang dilakukan oleh suami dari teman saya tadi.

Jika dipikir lebih mendalam, walaupun saya orang-tuanya, saya tidak memiliki hak untuk menghakimi apapun pilihan anak saya. Kewajiban saya adalah mengoptimalisasi semua mimpi dan cita-citanya. Semakin lama menjadi Ibu, semakin saya tersadar bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus dan terus dipelajari. 

Anak layaknya kertas putih yang Tuhan berikan untuk kita. I’m the one who writes everything for her. Sudah sewajarnya saya tidak menuliskan berbagai ketakutan-ketakutan didalam lembaran hidupnya. Hal terpenting justru jika suatu hari ia menemukan ketakutan dalam hidupnya, dia tau bagaimana harus menghadapi kesulitan tersebut.

Sungguh semua orang ingin menjadi orang tua yang sempurna untuk anaknya. Memberikan segala yang terbaik yang kita miliki untuk anak, entah itu materi, saran, doa dan lain sebagainya. Tapi semakin kesini, saya menyadari makna bahwa anak hanyalah titipan. Suatu hari ia akan meninggalkan rumah, menggapai mimpinya yang mungkin jauh berbeda dengan kita.

Saya menuliskan hal ini bukan untuk mendiskreditkan siapapun, tulisan ini hanyalah pengingat diri, jika saja suatu hari nanti anak saya datang dan bertanya

“Mama, Deira mau jadi guru TK boleh?”

“Mama, Deira mau jadi pustakawan boleh?”

“Mama, Deira mau jualan tanaman boleh?”

…dst

Semoga sebagai orang tua, saya mampu meredam ego dan tidak mengecilkan apapun yang ia cita-citakan. Bahkan Kolonel Sanders, pendiri jaringan ayam goreng terbesar di dunia, mengawali bisnisnya dari sebuah food truck. 

Toh pada akhirnya tidak akan ada orang tua yang rela melihat anaknya menghabiskan 9 jam dalam sehari mengerjakan hal yang tidak dia sukai 😃.

7 Comments

  1. “As long as u happy, do it kids..with all of ur heart..”
    Pgnnya sih jwb gtu bsk ketika pilihan karir mereka tak spt yg aq bayangin.. tp g perlu khawatir lah profesi mereka bsk skrg aja blom ada..

Leave a Reply