Pengalaman Mengikuti Iftaar di Sheikh Zayed Grand Mosque

Apa kabar teman-teman? Masih semangat kan puasanya? Saya sih lumayan lemas mengingat suhu diluar sudah mencapai 40 derajat celcius. Jadilah males ngapa-ngapain hehehe. Sebelum berbagi resep, saya mau berbagi cerita dulu tentang bulan Ramadhan di Abu Dhabi. Sebenarnya tahun lalu saya sudah sempat menuliskan sedikit cerita tentang situasi puasa disini yang sangat jauh berbeda dengan di Indonesia.

Baca juga: 4 Pengalaman Baru Menjalankan Puasa di Negeri Orang

Selayaknya negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim, Abu Dhabi memiliki masjid besar yang bernama Sheikh Zayed Grand Mosque. Masjid yang berdiri diatas tanah seluas 12 hektar ini mampu menampung lebih dari 40 ribu orang. Pilar-pilar masjid banyak dihiasi ornamen floral dan emas yang memberikan kesan mewah. Hal ini mengantarkan saya pada memori tahun lalu ketika mengunjungi Al Ain Museum. Di museum tersebut dipajang beberapa foto masjid ditahun 1960-an, masa sebelum minyak ditemukan di negara ini. Dari foto tersebut jelas terlihat bagaimana masjid sudah dibangun dengan megah, padahal penduduknya sendiri masih tinggal di yanoobi atau tenda yang terbuat dari anyaman daun kurma. Menyaksikan hal ini membuat saya berdecak kagum, betapa pemimpin negara ini memberikan yang terbaik untuk rumah Allah.  Tidak hanya itu, untuk penganut agama lain-pun disediakan rumah ibadah yang menunjukkan betapa pemimpin negara ini menjunjung tinggi toleransi. Jangan khawatir, nanti akan saya tulis di artikel terpisah.

Didalam masjid yang mulai dibangun pada tahun 1996 ini tidak hanya ada area ibadah, namun ada pula cafe, souvenir shop, juga perpustakaan yang berisikan berbagai literatur agama Islam. Di halaman masjid terdapat makam Sheikh Zayed, pendiri negara UAE. Sepanjang hari ada staff yang khusus bertugas untuk mengumandangkan bacaan Al Quran di sekitar makam. Sayangnya kita dilarang mengambil gambar ditempat tersebut. Di sekeliling area masjid juga terdapat kolam yang melambangkan ketenangan dalam berdialog dengan sang pencipta. Masjid ini sangat terbuka untuk siapapun yang ingin mengenal agama Islam, jadi siapapun boleh berkunjung asal mau mengikuti tata tertib yang ada. Biaya masuknya gratis, bahkan pengunjung yang tidak menggunakan baju muslim akan dipinjami abaya untuk perempuan dan kondura untuk laki-laki.

Sebagaimana masjid-masjid di Indonesia, di masjid ini juga menyediakan menu takjil dan berbuka selama bulan ramadhan. Area akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu laki-laki, perempuan dan keluarga. Mengingat banyak masyarakat yang menikmati waktu berbuka di masjid, maka sebaiknya sebelum jam 6:30 pm kita sudah sampai disini. Harap bersabar ya, mengingat besarnya ukuran masjid maka jarak perjalanan dari tempat parkir ke lokasi masjid lumayan bikin kaki berkonde. Lagi-lagi mengingat ukuran masjidnya yang luar biasa besar, biasanya saya sudah membawa wudhu dari rumah. Jadi sesampai di masjid langusng duduk manis, menikmati makanan lalu dilanjut sholat maghrib. Umumnya, pengunjung akan tetap berada di masjid hingga waktu tarawih tiba. Tapi karena saya bawa toddler jadilah seusai ibadah maghrib langsung pulang.

Oiyaaa, takjil yang dibagikan tidak hanya sekedar kurma dan air minum loh. Namun lengkap dengan menu utama berupa paket Nasi Biryani dan Sayur Kari. Makan bersama diatas hamparan karpet seperti ini sungguh menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Seselesai makan, masing-masing dari kami akan membereskan sisa makanan dan membuangnya ketempat sampah. Sungguh sangat mendamaikan hati.

Sayangnya sesampai dirumah saya masih punya PR untuk menyiapkan makan sahur, karena saya lagi malas masak yang ribet. Jadilah saya memasak “Tumis Tempe dan Cecek Pedas” untuk menu sahur. Berhubung disini tidak ada yang menjual kulit sapi segar, maka saya memanfaatkan rambak yang dibawakan mama dari Indonesia. Saya menggunakan 250 gram rambak kering yang telah direndam semalaman.

Tumis Tempe dan Cecek Pedas

Bahan:
1 papan tempe, potong kotak
250 gram rambak, rendam semalam
Segenggam pete jika suka
50 cc air asam
250 cc air

Bumbu:
8 siung bawang merah
5 siung bawang putih
5 buah cabai rawit
2 ruas lengkuas
1 sdm gula merah sisir
1/2 sdm garam
2 lembar daun salam

Cara membuat:

  1. Goreng tempe setengah matang, sisihkan. Cuci bersih rambak yang sudah direndam semalaman.
  2. Haluskan bumbu kecuali daun salam.
  3. Panaskan minyak, tumis daun salam hingga wangi. Masukkan bumbu halus dan tumis hingga tanak.
  4. Masukkan gula merah dan garam, tambahkan tempe dan cecek. Aduk rata.
  5. Tambahkan air asam, aduk hingga matang.
  6. Masukkan air, biarkan hingga menyusut dan meresap.
  7.  Tambahkan pete, koreksi rasa dan siap disajikan.

Demikian pengalaman saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman semua. Boleh di share juga donk pengalaman ramadhan di kotamu?

Baca juga: Piknik ke Green Mubazarah: Agenda Wajib Setiap Musim Dingin, Sheikh Zayed Festival: Festival untuk Mengenang Presiden Pertama UAE

4 Comments

  1. Wah takjilnya kok enaak 😚😚 lengkap sampai makan besar. Pas saat berbuka, apakah ada orang lokal yg bawa makanan untuk dibagikan? Dan biasanya orang Abu Dhabi itu jajanan khas buka puasanya apa ya Mba Ayu?

    1. Iya mba, saking banyaknya bisa dibawa pulang. Ntar dilanjut makan lagi pas abis tarawih. Karena di masjid sudah ada yg mengkoordinasi. Biasanya orang lokal buka tenda dihalaman rumah untuk bagi2 takjil dan makanan. Makanan khasnya mereka ya nasi biryani, nasi mandi. Ga ada makanan khusus. Beda sama orang kita yg heboh bikin kolak, pisang goreng dll 🤣

      Disini ga kaya di Indonesia mbak, ramadhan/idul fitri ya kaya hari biasa 😄

Leave a Reply