Menjadi Orang Tua, Bahagia Sepanjang Masa

  • Category : Potpouri
  • By : Ayu Tanimoto
  • Date : 12 February, 2017



Belakangan, marak kita temukan generasi muda berusia produktif yang nongkrong cantik di café ataupun restoran yang sedang hits di berbagai platform sosial media. Seakan budaya morning coffee atau afternoon tea sudah menjadi gaya hidup yang tidak boleh terlewatkan. Belum lagi segala atribut yang menempel di badan, mulai dari pakaian, tas hingga sepatu branded yang kerap kali dijadikan sebagai indikator keberhasilan finansial seseorang. Demikian pula, seiring dengan semakin majunya teknologi, gadget ataupun smartphone keluaran terbaru juga menjadi kebutuhan wajib.

Modernitas tersebut tak ayal menjadi salah satu pemicu dalam perubahan lifestyle sebagian besar penduduk Indonesia. Ditambah aktifnya promosi dari para pelaku bisnis melalui penggunaan sosial media yang kian mendorong masyarakat untuk berperilaku konsumtif. Sungguh, teknologi berhasil menciptakan pasar yang disambut baik oleh para pemilik modal. Semua orang memiliki peluang untuk tampak keren dan kekinian. Siapapun yang tidak mengikuti trend tersebut harus siap tergerus dan terpinggirkan.

Akan tetapi fenomena tersebut menjadi ironis saat mengetahui fakta yang dipaparkan oleh BPJS Ketenagakerjaan bahwa memasuki usia pensiun, penghasilan seseorang akan menurun hingga 60%. Di sisi lain, kebutuhan hidup tidak pernah berhenti. Bahkan memiliki potensi untuk menjadi lebih tinggi karena adanya kenaikan harga ataupun inflasi. Satu hal yang juga sering terlewatkan seiring bertambahnya usia, pemeliharaan kesehatan yang seharusnya menjadi komponen utama dalam mempertahankan kualitas hidup seringkali dikesampingkan.

Terlebih bagi individu yang berstatus karyawan, memasuki masa pensiun adalah hal yang pasti. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya setiap orang mempersiapkan kebebasan finansial di usia pensiun-sedini mungkin. Merujuk hasil penelitian Kementerian Keuangan pada tahun 2014, hanya sekitar 5% dari total jumlah tenaga kerja di Indonesia yang tercatat memiliki program perencanaan pensiun.

Hal tersebut yang kemudian menjadi landasan pemikiran saya dan suami untuk memiliki produk investasi. Mengingat suami saya bekerja di sektor swasta, dapat dipastikan bahwa kami tidak memiliki jaminan pensiun layaknya PNS ataupun karyawan BUMN pada umumnya. Begitu pula saya yang berprofesi sebagai start-up blogpreneur, yang penghasilannya belom menentu, segala hal harus dipikirkan dengan lebih terarah. Termasuk perihal pemilihan instrumen investasi yang harus dipertimbangkan dengan matang.

Sejauh pengetahuan saya, metode investasi konvensional seperti menabung dibank, membeli logam mulia ataupun properti merupakan pilihan utama yang layak dilakukan. Alternatif lainnya adalah dengan membuka tabungan dalam bentuk deposito/saham/reksadana. Namun masih belum banyak yang paham bahwa produk asuransi jaminan hari tua juga merupakan pilihan yang tepat dalam mengamankan masa depan keuangan keluarga.

Mungkin sebagian orang akan mengatakan saya lebay alias berlebihan karena berbicara mengenai masa pensiun di usia 27 tahun. Padahal, justru karena saya masih berada di usia yang terbilang sangat produktif, saya harus lebih proaktif. Saya meyakini hal ini sebagai tanggung jawab atas rejeki yang Allah SWT berikan pada hari ini, serta bentuk rasa cinta saya pada suami dan anak-anak.

Saya dan suami ingin menjadi orang tua yang mandiri. Sebisa mungkin kami akan berusaha untuk tidak membebani anak-anak kami hanya karena ketidak hati-hatian diwaktu muda. Terlebih, kamipun mendambakan masa tua yang sejahtera, berjalan-jalan berdua, menghabiskan waktu dengan anak-cucu tanpa kekhawatiran besok akan makan apa?

Sudah ada ibu mertua saya sebagai contoh. Di usia pensiunnya, beliau masih mampu berjalan-jalan keliling Eropa dan Amerika dengan biaya sendiri. Sungguh keterlaluan kalau kami tidak mengambil pelajaran dari beliau.

Pada akhirnya, bahagia di hari tua memang tidak sesederhana membalikkan telapak tangan, ada berbagai pilihan, tantangan dan resiko yang harus dihadapi dengan bijaksana. Bukankah akan lebih berbahagia jika kelak, kita tidak hanya berhasil mengantarkan anak menuju pintu gerbang kemandirian, tapi juga sukses memberikan contoh yang tepat dalam memetik hasil dari segala prioritas yang dilakukan saat berusia produktif.

11 Comments

Leave a Reply