Mengapa Saya Enggan Membagikan Berbagai Berita Sensitif seperti Pembakaran Gereja, Pembubaran Sekolah Minggu, Krisis di Rohingya dan lain sebagainya di Sosial Media?

  • Category : Uncategorized
  • By : Ayu Tanimoto
  • Date : 4 October, 2017

Saya menyadari tulisan ini akan sedikit menimbulkan pro dan kontra, tapi segala hal memang memiliki dua sisi. Maka ijinkanlah saya menuliskan pemikiran yang mungkin berbeda sisi dengan pemahaman anda. Saya sengaja menuliskan opini ini disaat kondisi politik sudah lebih reda. Harapan saya agar bisa dibaca dengan kondisi yang lebih tenang dan damai. Sehingga inti tulisan ini dapat dipahami oleh semua pembaca, karena pada akhirnya semua mengharapkan Indonesia yang damai dan tentram (Abu Dhabi, Oktober 2017).

Tulisan ini diawali dengan pertanyaan, mengapa saya jarang membagikan berbagai berita sensitif seperti pembakaran gereja, pembubaran sekolah minggu, krisis di Rohingya dan lain sebagainya di sosial media?

Jawaban simpelnya sih jelas, saya tidak merasa memiliki kompetensi untuk mengomentari berita tersebut. Jika pada akhirnya caption yang saya berikan tidak membawa dampak positif apapun, lebih baik saya menahan jempol untuk meninggalkan komentar. 

Untuk kasus pembubaran sekolah minggu di Pulo Gebang misalnya, banyak pihak memviralkan video tersebut. Ditambah sedemikian hujatan pada caption yang membuat umat lain terluka. Mengapa? Karena masih banyak yang tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah ulah oknum, namun menggeneralisir dan membuat caption yang ujung-ujungnya malah mendiskreditkan agama yang dianut si-pelaku.

Padahal jika kita mau lebih seksama membaca, seorang saksi mengatakan ada pelaku yang meneriakkan “Ahok bangsat! Ahok itu anjing!” saat pembubaran terjadi. Gosh! Seriously ini hanyalah sentimen politik yang dibalut issue agama. Tapi sayangnya, sadar atau tidak, banyak teman-teman yang tetap bersikukuh mendiskreditkan ajaran Islam tanpa benar-benar tau seperti apa Islam sebenarnya. Pertanyaan saya cuma satu, lantas apa bedanya anda dengan orang yang anda hujat tadi?

Saya juga bukan melarang anda membagikan berita seperti itu, tapi jika caption yang anda berikan hanya makin memperuncing jurang yang ada antara umat beragama di Indonesia. Please, apa bedanya anda dengan Jonru?

Contoh lainnya adalah mengenai krisis di Rohingya, siapa yang tidak miris melihat foto mayat bayi bergelimpangan dimana-mana. Baik itu foto hoax atau foto beneran, ibu mana yang tega melihat anak kecil kelaparan dan berdarah-darah terkena tembakan?

Kalau mau menyumbang silahkan, tapi jangan kemudian menyudutkan orang yang berandanya bersih dari berita semacam ini sebagai orang yang apatis dan tidak peduli dengan saudara sesama muslim di Ronghiya. Beranda saya bersih loh dari postingan tentang Rohingya, tapi apakah saya harus update status setelah melakukan donasi?

Belum lagi pihak-pihak yang mendesak dan memojokkan pemerintahan Jokowi untuk menyelesaikan kasus ini. Please, masih banyak warga Indonesia yang jangankan untuk beli sepatu, makan aja susah! Dan ketika saudara kita yang terlupakan ini mendapat bantuan sembako dari umat beragama lain, ada oknum yang teriak-teriak “kristenisasi! kafirisasi!”  dan lain sebagainya.

Saya tidak berada di pihak manapun, saya hanya warga Indonesia yang merindukan suasana tahun 90an. Saat saya bermain dengan Helen, Rizqy, Putu dan lain sebagainya tanpa ada pertanyaan #agamamuapa.

Sebagaimana program yang digagas oleh Presiden Indonesia yang ke-7, sudah waktunya Revolusi Mental dilakukan. Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, menjadi warga negara yang cerdas dan kritis untuk mengevaluasi kinerja Kabinet Kerja 2014. Bukannya menjadi kaum salawi yang sedikit-sedikit menimpakan kesalahan pada Jokowi. Walaupun banyak pihak yang meng-klaim kemenangan beliau hanyalah hasil dari pencitraan, well, bukannya memang itu fungsi kampanye? Memberikan citra terbaik atas program kerja yang mereka buat. Suka atau tidak suka, beliau adalah presiden yang dipilih 53,15% penduduk Indonesia. 

Tidak perlu ikut perang jika kita sebagai warga negara Indonesia ingin memberikan kontribusi pada negara. Hal paling kecil misalnya dengan selalu mengecek kebenaran segala informasi yang anda terima. Menggunakan teknologi secara bijaksana memang bukan hal yang mudah, namun bisa dilakukan. Lebih baik memanfaatkan teknologi untuk menambah wawasan, berkreasi dan memajukan diri dibanding menyebar kebencian pada sesama manusia.

Don’t ever forget, we are all HUMAN ❤️

8 Comments

Leave a Reply