Kenangan Masa Kecil Saat Lebaran Tiba

Lebaran tahun ini saya dan suami memutuskan untuk tidak mudik karena Januari lalu saya sudah pulang. Tahun ini tentu saja terasa berbeda dengan lebaran sebelumnya, tahun lalu kami mudik sebulan dan berkeliling dari rumah saudara satu ke saudara yang lain. Walaupun tetap saja ada yang terlewatkan, tapi alhamdulillah keluarga besar saya mengerti dan insyaa Allah memaafkan segala khilaf yang saya perbuat. Selain itu, kehadiran papa masih melengkapi lebaran tahun kemarin, walaupun seminggu kemudian papa opname di rumah sakit hingga berbulan-bulan. Praktis tahun ini menjadi tahun pertama kami berlebaran tanpa kehadiran papa.

Diam-diam saya berpikir, sepertinya saya hanya mencari-cari alasan untuk tidak pulang. Saya tidak siap menerima kenyataan bahwa papa sudah tidak ada. Mungkin terdengar egois karena sebenarnya ada mama yang tentunya kangen anak dan cucunya ini. But, who are you to judge the life I live?

Banyak sekali kenangan masa kecil saat lebaran yang ingin saya tuliskan. Saat lebaran tiba, biasanya keluarga kami merayakannya di rumah budhe (eyang dari pihak mama tinggal dengan budhe), dan dirumah eyang dari pihak papa.

Mama, kakak dan saya biasanya pergi ke Jakarta dari awal ramadhan, dan nantinya papa akan menjemput saat liburan usai. Di Jakarta, kami menginap dirumah budhe yang memiliki 7 orang anak. Bisa dibayangkan betapa meriahnya menjalankan puasa ramadhan dirumah budhe😆. Solat jamaah, berebut takjil dan ikut mengaji cabe rawit bersama sepupu-sepupu saya. Memasuki lebaran, budhe akan mengajak kami berkeliling untuk bersilaturahmi dengan saudara lain yang tinggal di Jakarta.

Keesokan harinya, dengan bersemangat budhe akan mengajak kami berkeliling Jakarta. Mulai dari Monas, TMII, Dufan, Seaworld dan berbagai tempat wisata yang sedang hits di jamannya. Apalagi saya juga memiliki om yang tinggal di Jakarta, libur lebaran terasa sempurna. Pergi ke berbagai tempat bersama sepupu menjadi tradisi yang tidak pernah terlewatkan. Hingga suatu hari, budhe yang menjadi kesayangan semua orang dinyatakan terkena kanker dan harus pergi untuk selamanya. Hal yang tidak mudah saya terima. Saat menulis ini saya baru menyadari, selepas kepergian budhe, sekalipun saya belum pernah menginjakkkan kaki kerumah budhe. Sebagaimana kepergian papa, ternyata sampai saat ini saya belum bisa menerima kepergian budhe saya.

Satu-satunya budhe yang bisa saya ajak ngobrol tentang segala hal. Budhe yang walaupun suami sudah mencukupi tapi masih rajin mencari rezeki. Budhe yang rajin sholat dan gemar bersedekah. Budhe yang menjadi ibu kedua bagi mama saya. Budhe yang sangat peduli dengan orang lain dan seringkali lupa mempedulikan kesehatannya sendiri. No one like you!

Semua kebersamaan itu tidak akan terlupakan sekaligus membuat saya merasa terharu jika mengingatnya.

Lain cerita ketika saya menghabiskan waktu lebaran dirumah eyang dari pihak papa. Saat lebaran tiba, semua anak dan cucu akan berkumpul dirumah eyang. Setiap malam kami akan begadang dan main remi, 41, karambol bahkan karaoke ga jelas. Sehari sebelum lebaran, cucu perempuan biasanya membantu eyang memasak tumpeng/nasi berkat untuk dibawa ke masjid. Saat malam takbir bisa dipastikan rumah eyang kosong, karena kami semua menghabiskan waktu di masjid untuk takbiran dan makan nasi berkat bersama warga lainnya. Semua terasa menyenangkan hingga tanpa terasa waktu terus berlalu dan tradisi itu terhenti selepas kepergian eyang saya 😢.

Setiap keluarga selalu memiliki tradisinya sendiri. 

Begitupula dengan tradisi lebaran keluarga kecil saya saat ini. Saat lebaran tiba, biasanya kami solat di masjid dekat rumah kemudian berkumpul potluck ketupat lebaran dengan teman-teman yang juga tidak mudik. Tentu saja sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan apa yang biasa saya lakukan ketika kanak-kanak, tapi kami tetap merasakan kegembiraan dan kebersamaan saat lebaran. Dimanapun dan kapanpun, lebaran selalu menjadi momen yang spesial bagi kami. Semoga kita semua masih diberi rezeki untuk bertemu dengan lebaran tahun mendatang.

11 Comments

  1. Ntah kenapa momen lebaran saat kecil dulu memang jauuh lbh menarik ya drpd skarang :D. Stdaknya sih buatku begitu :). Tahun ini aku jg ga mudik mba.. Secara tiket gila2an, apalagi ke medan :p. Makanya aku ma suami slalu milih mudik itu g hrs lebaran.. Enakan pulang pada saat bukan peak season lagi 😀

Leave a Reply