Kakek Winnie The Pooh, Korban atau Pelaku? 

Belakangan ini saya tertarik untuk mencermati penggunaan sosial media yang seringkali dijadikan alat untuk menggalang massa. Well, Obama, Jokowi bahkan Jonru-pun mendapatkan popularitasnya melalui media ini.

Tapi tidak jarang juga saya harus tersenyum miris ketika melihat berbagai informasi yang bersliweran melalui fesbuk. Betapa sebuah kabar burung yang masih belum jelas validitasnya telah menyebar secara viral. Lalu siapa yang musti bertanggung jawab?
Saya ambil contoh, misalnya yg lagi ngehits di timeline saya belakangan ini adalah “Kakek Winnie The Pooh”. Sebelumnya diberitakan oleh salah satu pengguna medsos bahwa kakek ini menderita stroke dan demi menopang hidupnya, ia terpaksa berkostum winnie the pooh untuk menarik perhatian orang dan mendapatkan uang. Setelah ditelusuri, konon si kakek berpenghasilan 15 juta dalam sebulan, rumahnya bagus dan istrinya 7 (Source: Kompas). Jadilah hanya dalam hitungan hari, si-kakek yang awalnya mendapatkan simpati masyarakat dihujani bulan-bulanan netizen fesbuk. Ironis, kebencian yang muncul karena fakta yang ada tidak sesuai dengan opini publik yang sudah terlanjur dibentuk. Padahal menurut beberapa sumber lain si-kakek tidak sekaya itu, apa yang dia dapat juga tidak melulu dari hasil menjadi Winnie The Pooh (Source: Tempo).

Saya pun masih bias, apakah si-kakek bisa dikategorikan sebagai korban atau pelaku. Satu hal yang pasti, kedewasaan masyarakat dalam menggunakan media sosial masih perlu ditingkatkan. Walaupun wall tersebut milik kita, bukan berarti kita bisa posting suka-suka, terlebih bila hal tersebut menyangkut kepentingan umum. Kita tetap memiliki peran untuk bertanggung jawab terhadap informasi yang disebarkan. Mungkin lebih bijaksana jika kita berpikir 2x sebelum membagikan informasi di media sosial #justathought

Leave a Reply