Category: Uncategorized

Cara Mengurus Surat Ijin Mengemudi di UAE-Abu Dhabi

Setelah tinggal di Abu Dhabi selama kurang-lebih 3 tahun, akhirnya bulan Maret lalu saya memberanikan diri untuk mengurus driving license alias surat ijin mengemudi alias SIM. Bukan tidak bisa menyetir, tapi mendengar cerita dari suami dan teman-teman bahwa rangkaian tes yang harus diikuti sangatlah banyak dan panjang. Seketika saya mengingat proses mendapatkan SIM di Indonesia yang cuma bayar, lalu foto! Alhasil selama ini saya nyetirnya asal nyetir dan tanpa tau aturan yang berlaku, hiks.

Baiklah, langkah pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan SIM adalah datang ke Emirates Driving Company yang terletak di Mussafah untuk melakukan open file atau registrasi. Siapkan copy dan dokumen asli dari paspor, emirates id, visa, SIM dari negara asal (kalau ada) dan legalisir SIM dari KBRI. Untuk jam kerja-nya bisa di cek langsung di website berikut yah.

Pada tahapan ini, petugas akan mengambil data diri sekaligus foto kita. Jangan lupa dandan yang kece! Jika lulus, foto inilah yang nantinya akan terpampang di SIM kita. Sesudah melengkapi proses pemberkasan, kita menuju ke gedung utama di bagian driving schools services center untuk mengaktifkan akun yang sebelumnya sudah diregistrasi. Pendaftarannya juga bisa dilakukan melalui aplikasi Abu Dhabi Police, biayanya 320 dhs.

Setelah akun aktif, kita bisa mendaftar untuk mengikuti kelas teori yang keseluruhan-nya ada 8 kelas. Oleh karena ingin mempersingkat waktu, maka kelas teori saya padatkan menjadi 2 hari. Untuk mengikuti kelas teori, biaya yang harus dikeluarkan sebesar 1102 dhs. Sesudah mengikuti kelas teori, kita dapat mem-booking jadwal tes di resepsionis.

Saya beruntung karena tes-nya dilakukan seminggu kemudian, mengingat ada teman yang harus menunggu hingga sebulan untuk mendapatkan jadwal tes. Sempat nderedeg juga di tahapan ini. Namanya udah lama ga sekolah, jangan-jangan daya ingat udah mulai menurun. Tapi alhamdulillah soal yang keluar tidak jauh berbeda dari apa yang sudah diajarkan di kelas. Jika sudah lulus tes teori, kita akan diberi SIM sementara yang bisa digunakan saat praktek mengemudi dijalan.

Sebenarnya untuk mereka yang sudah memiliki SIM di negara asalnya bisa mempergunakan golden chance atau kesempatan untuk langsung mengikuti road test tanpa harus praktek mengemudi lebih dahulu. Tapi saya melewatkan kesempatan tersebut! Alasannya sederhana sih, walaupun di Indonesia memiliki 9 tahun jam terbang menyetir mobil, tetap saja saya merasa perlu untuk membiasakan diri dengan setir yang berada di kiri. Jadilah saya mengambil jadwal road test di tanggal 20 Mei. Sehingga ada waktu yang cukup untuk berlatih mengemudi di jalan.

Oiyaaa, untuk praktek mengemudi di jalan kita harus mengeluarkan biaya sebesar 75 dhs per kelas (durasi 45 menit). Awalnya, saya bermaksud mengambil 4 kelas biar irit, tapi kok masih belum percaya diri! Jadilah diperpanjang hingga 8 kelas. Sedikit saran, pilihlah instruktur dengan cermat. Jika perlu minta rekomendasi dari teman anda. Saya mengikuti kelas praktek yang di-instruktur-i oleh Syad (mungkin ada yang butuh kontaknya boleh japri). Orangnya sabar tapi tegas. Di pertemuan pertama, Syad banyak mengkoreksi cara menyetir saya yang sangat tidak mengikuti peraturan. Ia berkali-kali menekankan bahwa praktek mengemudi dilakukan bukan untuk lulus tes pada tanggal 20 mei. Praktek ini bertujuan untuk membuat saya terbiasa dengan aturan jalan di UAE, sehingga nantinya dapat menyetir dengan aman dan selamat.

If you drive safely, you will pass the test!

Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga, tepat tanggal 20 Mei saya mengikuti road test. Dihari H, semua peserta dikumpulkan di ruang resepsionis tempat pertama kami meregistrasikan diri. Sesudah itu, satu demi satu peserta diarahkan menuju bus. Sebelum menaiki bus, tiap orang diwajibkan membayar 40 dhs. Nantinya bus ini akan berjalan dibelakang mobil khusus untuk praktek, didalamnya terdapat 2 orang polisi (1 polisi pria duduk disamping pengemudi, 1 polisi wanita duduk dibelakang) yang siap menilai performa menyetir peserta tes. Saya mengikuti road test bersama dengan 21 orang lain yang berasal dari berbagai negara. Dari obrolan yang kami lakukan, ada yang sudah gagal 2x, 4x dan lain sebagainya. Sebenarnya mendengar informasi tersebut sempat membuat saya down, tapi karena sudah terlanjur, ya sekalian saja saya tanya penyebab mereka gagal di tes sebelumnya.

Nantinya didalam bis, kita akan berdiskusi dengan peserta lain, siapa yang akan turun dan tes duluan. Satu sama lain biasanya akan berebut ingin mendapatkan giliran nomer sekian, sekian dan sekian. Tapi saran saya, lupakan hal tersebut! Mau giliran nomer 1 atau nomer 10, jika cara menyetirnya salah – tidak akan lulus. Jadi daripada buang-buang energi untuk memperebutkan nomer, lebih baik kita mengamati teman yang lebih dahulu turun dari bus dan mengikuti tes. Setiap orang di tes sekitar 2-5 menit, sesudahnya kita bisa kembali ke bus dan menunggu SMS yang dikirim oleh UAE Traffic. Setelah menerima sms tersebut, kita bisa segera meng-issue kartu SIM melalui aplikasi Abu Dhabi police, biayanya 315 dhs. Alhamdulillah, begitu kartu ditangan bahagia-nya ngalah-ngalahin lulus skripsi hahahaha. Bayangkan aja dari 22 orang, cuma ada 7 yang lulus. Masyaa Allah.

Mungkin ada yang heran, dapet SIM aja bahagia bener. Bagaimana tidak berbahagia, mau tau total biaya yang dikeluarkan? Totalnya sekitar 2400 dhs atau sekitar 9 juta rupiah! Menurut saya pribadi, mengeluarkan uang sejumlah itu untuk mengurus SIM sangatlah mahal. Dibanding di Indonesia yang cukup membayar 500 ribu rupiah saja. Belum lagi waktu yang harus dikeluarkan untuk mengurus ini-itu, bahkan suami sampai ambil cuti untuk mengantar saya registrasi dan tes. Alhamdulillah-nya saat proses mengurus SIM ini saya lakukan, ada mama yang sedang berkunjung ke Abu Dhabi. Jadilah saya harus bersungguh-sungguh untuk lulus road test. Hampir semua orang saya minta bantuan doa dan tips-tips-nya.

Sekalian saya tuliskan tips dan trik saat mengikuti road-test ya, siapa tau ada yang butuh.

  1. Jangan lupa menyapa polisi dibelakang, ucapkan Assalammualaikum dengan ramah. Tunjukkan bahwa anda percaya diri. Masyarakat lokal umumnya menyukai orang yang bersemangat, percaya diri namun tetap santun.
  2. Cek SMS alias Seat-Mirrors-Seat belt. Namanya mobil habis digunakan pengemudi lain, pasti donk pengaturan-nya harus disesuaikan dengan kebutuhan kita.
  3. Dengarkan instruksi dari polisi didepan, jangan takut mengambil keputusan untuk menyalip kendaraan lain jika memang dibutuhkan.
  4. Pastikan selalu melihat ke arah front mirror saat menginjak rem. Polisi dibelakang yang nantinya akan mengecek gesture kita selama menyetir.
  5. Saat akan pindah jalur atau belok kiri/kanan, pastikan untuk mengecek sekitar baru menyalakan lampu sign. Ada lima tahapan dalam mengecek kondisi jalan, yaitu cek front mirror, side view mirror, blind spot, nyalakan lampu sign lalu cek kembali front mirror. Kelihatannya ribet, tapi inilah salah satu indikator utama dalam penilaian.

Demikian pengalaman saya mengurus SIM di Abu Dhabi, tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang telah dengan tulus membantu doa, memberikan tips dan meyakinkan bahwa saya pasti lulus. Makasih ya semuanya, gusti Allah yang membalas 🙏🏻❤️. Semoga bermanfaat ya teman-teman.

Baca juga:Cara Mengurus Residence Visa di UAE-Abu DhabiBerbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke UAE: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Romantic Anniversary Staycation at Dusit Thani Abu Dhabi

We wanted to celebrate our wedding anniversary with a staycation in a hotel and, after some search and discussion, we chose Dusit Thani Abu Dhabi as the venue of our private little event ❤️.

When we arrived at their lobby, we were greeted with Thai’s traditional music, played live by someone in traditional costume. It was delightful and brought us a bit closer to our home country.

Our room was quite spacious. A glass wall separated the bedroom from the bathtub should be perfect for our celebration, if only our little angel didn’t join the fun. But the most pleasant surprise was a cake tart with “Happy Anniversary” written on it. Turned out that hubby secretly called the hotel prior to our stay, asked them if they could provide us anything for our occasion, and they did run that extra miles.

After relaxing for a while, we went upstairs to the pool. They had one adult pool, one jacuzzi, and one baby pool. Obviously we plunged to the baby pool to accompany her enjoying the water. Hubby then found out that the baby pool had bubble nozzle, just like the jacuzzi, so he turned it on, and Deira welcomed the bubbly water with a big laugh.

The rest of the evening went smoothly, as we escaped our daily routine. In the morning, we went downstairs for breakfast at Benjarong, one of their restaurant. Plenty of choices of Thailand dishes really indulged our palates as those South-east asian foods reminded us to Indonesia. Actually, that’s the main reason why we chose Dusit Thani. It because we missed our homeland, and they successfully eased our craving as they presented Asian ambience in their hotel. So for those who want to feel the warmth of Asian smile, you don’t have to go farther than Dusit Thani Abu Dhabi.

Make Your Own Floating Balloons with Balloonee!

My #BabyDei is already two years old now, yet I still remembered the excitement we had when we celebrated her first birthday a bit more than a year ago. We decided to handle everything without hiring an event organizer, we had to make the preparation ourselves, from selecting the venue, choosing the birthday cake tart, and buying the balloons!

Read more: DIY Birthday: #BabyDei Turns One!

Yes, the balloons were we, and especially hubby, remembered the most from that event. He had to go to a party equipments store, purchased 20 big, floating balloons, brought them through the mall to the parking lot, and then struggled to put those balloons into our car’s baggage compartment. We never knew that or such a light-weight objects, balloons would require our effort and determination. It was as if they really didn’t want to be locked in the trunk.

What complicated things a bit more was the fact that floating balloons would not last long. If we bought them any day before the D-Day, they wouldn’t be half exciting by the time we put them to the party. For best result, balloons need to be bought just before the party started. That means, we had to manage our precious time even more to squeeze the balloon-buying activity into our already jam-packed schedule.

If only there was such thing as instant floating balloon, that we could buy in our leisure time, and be made floating in a flick of time when we need them to float.

Well, here comes Baloonee! With just a phone call, Balloonee will deliver a tank (or more, if you really need a lot of balloons) of helium gas, the uninflated balloons, and a balloon-inflation device to your choice of address. Balloonee offers three sizes of helium packages:

  • Standard, which provides you with 125 latex balloons and 140m of white ribbons,
  • Jumbo, that will bring you 250 balloons and 280m of white ribbons, and,
  • Mega, if you need up to 500 balloons and 560m of white ribbons.

Best of all, they all are free delivery and pickup, no deposit, and no rental!

For our latest event, they sent us Standard Helium package. Since the helium comes in the tank, you can ask them to be delivered a few days prior the event without fearing the gas escaping and, trust me, transporting a tank of helium is a lot easier than transporting a bunch of helium balloons.

Inflating those balloons are also easy. Just screw in the regulator, stick the rubber nozzle into the mouth of the balloon, and then bend and hold the nozzle body to any direction. Immediately the gas will start inflating the balloon. When you reach the desired balloon size, release the nozzle to stop the helium flow. You then just have to tie the balloon, put a string if necessary, and repeat the process. Once the party’s over, you can then again call Balloonee to arrange the pick-up of the regulator and tank.

Now that we know about Balloonee, our daughter doesn’t have to wait for her birthday to enjoy helium balloons. We can order Balloonee to bring the package any time we feel like surprising our little #babyDei.

Balloonee did not only make our baby’s dream came true, but also helped in making us adult realising our dream. Hubby loves taking pictures, and I love my pictures be taken. One of our dream pictorial was about having fun with balloons. Before, it was just a dream because, just imagining the hassle of transporting those balloons to the scene put our photographic mood off.

Now, once again, Balloonee came to the rescue. It was so easy now in preparing the balloons, that finding the scenery, and living the scene were back to be our main focus of photo-shooting session. In short, floating balloons are now easy come, easy go, and lots of fun.

**This post is in collaboration with Balloonee.  For more info, visit their website here or contact their whatsapp number: +971552903495. All photos and opinions shared are my own.

 

Asyiknya Ikutan Festival Wisata Kuliner Hong Kong Bareng Jetstar

Beberapa tahun kebelakang, berjalan-jalan keluar negeri masih menjadi hal yang eksklusif bagi kalangan tertentu, mengingat tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli tiket dan membayar akomodasi. Namun ditengah kemudahan akses informasi seperti saat ini, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpelesir ke-luar negeri dengan menggunakan budget yang minimalis.

Salah satunya, jika kamu adalah pecinta kuliner seperti saya, dan berminat untuk menghadiri festival wisata kuliner di Hong Kong, maka kita bisa pergi ke Hong Kong mengunakan Jetstar Airlines. Maskapai penerbangan asal Australia ini merupakan salah satu anak perusahaan Qantas, yang merupakan maskapai penerbangan premium.

Wisata Kuliner Hongkong

Terdapat beragam menu yang disajikan dalam festival wisata kuliner Hong Kong. Hidangan ini disajikan dengan dekorasi dan suasana yang atraktif sehingga tentunya akan memberikan pengalaman berburu kuliner yang seru dan tidak terlupakan.

Ada yang tau kuliner apa saja yang bisa kita temukan dalam festival ini?

Bermacam-macam snack khas tempo dulu hingga yang kekinian dapat kita temukan dalam festival ini. Ada juga hidangan yang ‘serius’ seperti chinese barbeque, dim sum, beragam masakan mie dan dessert yang dapat kita nikmati sambil menikmati suasana. Membayangkannya saja sudah membuat air liur mengalir dan ingin segera mencoba.

Oiya selain berbagai menu diatas, tersedia juga menu dari berbagai negara lain seperti Thailand, Malaysia dan India. Adanya makanan yang lezat dan dekorasi yang menarik tentunya menjadi salah satu momen yang tepat untuk menambah koleksi foto pribadi, saya pribadi, sebisa mungkin akan menjepret banyak kuliner dengan smartphonemu selama festival kuliner ini berlangsung.

Selain makanan, di festival tersebut kita juga bisa menemukan minuman Hong Kong-Style Milk Tea yang terinspirasi dari budaya minum teh ala China. Minuman ini terbuat dari olahan teh yang dicampur dengan susu sehingga menghasilkan rasa creamy yang bertekstur lembut. Di Hong Kong sendiri, minuman ini sudah dikenal sejak tahun 1950.

Jalan-jalan ke Hong Kong

Seperti yang kita ketahui, Hong Kong sedang memaksimalkan potensi pariwisatanya. Lihat saja pesan pariwara mengenai pariwisatanya yang banyak bertebaran dimana-mana. Dalam hal ini, potensi pariwisata di Hong Kong memang tidak bisa dipandang remeh. Tidak salah jika kemudian negara ini dijadikan salah satu tujuan favorit family holiday banyak orang. Terlebih kita tidak hanya dapat mengikuti festival wisata kuliner, namun Hong Kong juga menawarkan kesempatan pada kita untuk mengenal sejarah dan warisan negara tersebut melalui museum dan galeri yang dapat kita temukan dengan mudahnya.

How to get there?

Salah satu yang saya rekomendasikan adalah dengan menggunakan maskapai Jetstar, dengan maskapai tersebut kita dapat travelling dengan hati yang tenang. Mengingat maskapai Jetstar, dengan Qantas sebagai induk perusahaannya, sudah sangat berpengalaman di industri penerbangan.

Armadanya sendiri menggunakan pesawat Boeing 787 Dreamliner, Airbus A321, dan Bombardier Q300. Dan info untuk kamu, Jetstar sudah memenangkan penghargaan sebagai Best Low-Cost Airline dari SkyTrax, pada 2011, 2012 dan 2013.

Berburu Makanan Halal dan Vegetarian di Festival Wisata Kuliner Hong Kong

Menariknya, sudah banyak restoran di Hong Kong yang memiliki sertifikasi halal. Sehingga untuk teman-teman yang muslim dan mungkin menganut pola hidup vegetarian  tetap dapat menikmati makanan dengan nyaman tanpa rasa khawatir. Berikut beberapa daftar restoran yang mungkin bisa dijadikan pilihan:

1. Islamic Centre Canteen

Kantin Islamic Centre ini menyediakan hidangan Kanton dan dim sum dengan bahan baku yang terjamin kehalal-annya. Rasanya tidak perlu dipertanyakan dan yang pasti kita bisa ikut serta dalam festival kuliner tanpa rasa khawatir.

Islamic Centre Canteen berlokasi di Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick Islamic Centre, 40 Oi Kwan Road, Wan Chai, Hong Kong.

2. Aladin Mess

Dari namanya saja kita bisa menebak bahwa Aladin Mess adalah restoran yang menyediakan masakan bercita-rasa India. Kapan lagi kita bisa menyantap makanan India yang lezat, halal dan berlokasi di tengah-tengah Causeway Bay? Sungguh akan menjadi pengalaman bersantap yang unik dan tidak terlupakan.

Aladin Mess berlokasi di Fu Hing House, 60 Russel Street, Causeway Bay, Hong Kong Island.

3. Spice Restaurant

Restoran ini menyediakan kuliner khas Thailand, Melayu dan India. Interior restoran ini didesain dengan suasana yang menarik, sehingga memberikan semangat bagi kita, para traveller, untuk berliburan dan mengeksplorasi wisata kuliner di Hong Kong.

Selain tiga restoran yang saya sebutkan tadi, masih banyak tempat yang menyajikan makanan halal dan vegetarian. Contohnya, kita bisa menemukan kudapan lokal yang sangat lezat seperti egg tart, pineapple buns, put chai ko atau pudding dari beras dan lain sebagainya.

Festival Wisata Kuliner Hong Kong bukan hanya menghadirkan semangat menikmati makanan yang ada, tetapi juga pengalaman yang berharga saat bertemu dan berbaur dengan berbagai suku bangsa yang hadir dalam festival tersebut. Bersama Jetstar kita bisa mewujudkan impianmu terbang ke berbagai tempat eksotis dengan biaya yang terjangkau!

Ketika Teori Parenting Tidak Semudah Praktiknya

Pernahkah kalian membayangkan jika suatu hari, satu-satunya anak yang kita cintai bertanya

“Mama, bolehkah aku menjadi guru TK?”. Ketika muda, dengan lantang saya akan menjawab “Sure dear, you can be whatever you want to be!”.

Namun saat ini saya sudah menjadi orang tua yang berhadapan dengan naik dan turunnya kehidupan. Saya sudah melangkah lebih jauh dibandingkan 5 tahun lalu saat saya masih tinggal dirumah papa dan mama. Segala hal domestik yang dulunya cuma tau beres, kini menjadi tanggung jawab saya. Akankah tetap semudah itu bagi saya untuk mengucapkan kalimat diatas?

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari salah satu teman saya yang bersuamikan seorang direktur di sebuah perusahaan. Ia menceritakan bahwa satu-satunya anak yang ia banggakan ingin menjadi guru TK. Si Ibu yang besar dan bersekolah di Indonesia, walaupun tidak melarang namun tetap saja terkejut dengan pilihan anaknya.

Baca juga: Kenangan Masa Kecil Saat Lebaran Tiba

Bukan bermaksud mengecilkan peranan guru TK, tapi saya paham betul perasaan yang mendera teman saya ini. Dari sekian banyak profesi yang akrab ditelinga kita seperti dokter, pilot, engineer, kontraktor, ia memilih menjadi guru TK yang notabene membutuhkan banyak kesabaran didalamnya. Jangankan mengurus anak orang lain, mengurus anak sendiri saja seringkali terasa melelahkan #curcol hahahaha 😂🙊. Surprisingly, sang suami menjawab permintaan anaknya dengan tenang “If you like it, just go for it!”. 

Hal tersebut membuat saya terharu, awalnya saya kira seseorang dengan posisi demikian akan menaruh harapan yang besar terhadap anaknya. Tapi ternyata saya salah, ia justru lebih mampu mengapresiasi cita-cita anaknya yang tampak kecil dimata lingkungan.

Idealnya, dalam teori parenting orang tua harus mendukung cita-cita anaknya sejauh itu positif. Tapi sungguhkah saya mampu melakukan hal tersebut? Melakukan apa yang dilakukan oleh suami dari teman saya tadi.

Jika dipikir lebih mendalam, walaupun saya orang-tuanya, saya tidak memiliki hak untuk menghakimi apapun pilihan anak saya. Kewajiban saya adalah mengoptimalisasi semua mimpi dan cita-citanya. Semakin lama menjadi Ibu, semakin saya tersadar bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus dan terus dipelajari.

Baca juga: Ketika Saya Memutuskan Jadi Ibu Rumah Tangga

Anak layaknya kertas putih yang Tuhan berikan untuk kita. I’m the one who writes everything for her. Sudah sewajarnya saya tidak menuliskan berbagai ketakutan-ketakutan didalam lembaran hidupnya. Hal terpenting justru jika suatu hari ia menemukan ketakutan dalam hidupnya, dia tau bagaimana harus menghadapi kesulitan tersebut.

Sungguh semua orang ingin menjadi orang tua yang sempurna untuk anaknya. Memberikan segala yang terbaik yang kita miliki untuk anak, entah itu materi, saran, doa dan lain sebagainya. Tapi semakin kesini, saya menyadari makna bahwa anak hanyalah titipan. Suatu hari ia akan meninggalkan rumah, menggapai mimpinya yang mungkin jauh berbeda dengan kita.

Saya menuliskan hal ini bukan untuk mendiskreditkan siapapun, tulisan ini hanyalah pengingat diri, jika saja suatu hari nanti anak saya datang dan bertanya

“Mama, Deira mau jadi guru TK boleh?”

“Mama, Deira mau jadi pustakawan boleh?”

“Mama, Deira mau jualan tanaman boleh?”

…dst

Semoga sebagai orang tua, saya mampu meredam ego dan tidak mengecilkan apapun yang ia cita-citakan. Bahkan Kolonel Sanders, pendiri jaringan ayam goreng terbesar di dunia, mengawali bisnisnya dari sebuah food truck.

Toh pada akhirnya tidak akan ada orang tua yang rela melihat anaknya menghabiskan 9 jam dalam sehari mengerjakan hal yang tidak dia sukai 😃.

Mengapa Saya Enggan Membagikan Berbagai Berita Sensitif seperti Pembakaran Gereja, Pembubaran Sekolah Minggu, Krisis di Rohingya dan lain sebagainya di Sosial Media?

Saya menyadari tulisan ini akan sedikit menimbulkan pro dan kontra, tapi segala hal memang memiliki dua sisi. Maka ijinkanlah saya menuliskan pemikiran yang mungkin berbeda sisi dengan pemahaman anda. Saya sengaja menuliskan opini ini disaat kondisi politik sudah lebih reda. Harapan saya agar bisa dibaca dengan kondisi yang lebih tenang dan damai. Sehingga inti tulisan ini dapat dipahami oleh semua pembaca, karena pada akhirnya semua mengharapkan Indonesia yang damai dan tentram (Abu Dhabi, Oktober 2017).

Tulisan ini diawali dengan pertanyaan, mengapa saya jarang membagikan berbagai berita sensitif seperti pembakaran gereja, pembubaran sekolah minggu, krisis di Rohingya dan lain sebagainya di sosial media?

Jawaban simpelnya sih jelas, saya tidak merasa memiliki kompetensi untuk mengomentari berita tersebut. Jika pada akhirnya caption yang saya berikan tidak membawa dampak positif apapun, lebih baik saya menahan jempol untuk meninggalkan komentar.

Untuk kasus pembubaran sekolah minggu di Pulo Gebang misalnya, banyak pihak memviralkan video tersebut. Ditambah sedemikian hujatan pada caption yang membuat umat lain terluka. Mengapa? Karena masih banyak yang tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah ulah oknum, namun menggeneralisir dan membuat caption yang ujung-ujungnya malah mendiskreditkan agama yang dianut si-pelaku.

Padahal jika kita mau lebih seksama membaca, seorang saksi mengatakan ada pelaku yang meneriakkan “Ahok bangsat! Ahok itu anjing!” saat pembubaran terjadi. Gosh! Seriously ini hanyalah sentimen politik yang dibalut issue agama. Tapi sayangnya, sadar atau tidak, banyak teman-teman yang tetap bersikukuh mendiskreditkan ajaran Islam tanpa benar-benar tau seperti apa Islam sebenarnya. Saya juga bukan melarang anda membagikan berita seperti itu, tapi jika caption yang anda berikan hanya makin memperuncing jurang yang ada antara umat beragama di Indonesia. Pertanyaan saya cuma satu, lantas apa bedanya anda dengan orang yang anda hujat tadi?

Contoh lainnya adalah mengenai krisis di Rohingya, siapa yang tidak miris melihat foto mayat bayi bergelimpangan dimana-mana. Baik itu foto hoax atau foto beneran, ibu mana yang tega melihat anak kecil kelaparan dan berdarah-darah terkena tembakan?

Kalau mau menyumbang silahkan, tapi jangan kemudian menyudutkan orang yang berandanya bersih dari berita semacam ini sebagai orang yang apatis dan tidak peduli dengan saudara sesama muslim di Ronghiya. Beranda saya bersih loh dari postingan tentang Rohingya, tapi apakah saya harus update status setelah melakukan donasi?

Belum lagi pihak-pihak yang mendesak dan memojokkan pemerintahan Jokowi untuk menyelesaikan kasus ini. Please, masih banyak warga Indonesia yang jangankan untuk beli sepatu, makan aja susah! Dan ketika saudara kita yang terlupakan ini mendapat bantuan sembako dari umat beragama lain, ada oknum yang teriak-teriak “kristenisasi! kafirisasi!”  dan lain sebagainya.

Saya tidak berada di pihak manapun, saya hanya warga Indonesia yang merindukan suasana tahun 90an. Saat saya bermain dengan Helen, Rizqy, Putu dan lain sebagainya tanpa ada pertanyaan #agamamuapa.

Sebagaimana program yang digagas oleh Presiden Indonesia yang ke-7, sudah waktunya Revolusi Mental dilakukan. Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, menjadi warga negara yang cerdas dan kritis untuk mengevaluasi kinerja Kabinet Kerja 2014. Bukannya menjadi kaum salawi yang sedikit-sedikit menimpakan kesalahan pada Jokowi. Walaupun banyak pihak yang meng-klaim kemenangan beliau hanyalah hasil dari pencitraan, well, bukannya memang itu fungsi kampanye? Memberikan citra terbaik atas program kerja yang mereka buat. Suka atau tidak suka, beliau adalah presiden yang dipilih 53,15% penduduk Indonesia. Kalau memang kurang berkenan dengan gaya kepemimpinan beliau, 2019 jangan dipilih. As simple as that. Mau ikut berkampanye untuk lawan politik yang bersangkutan-pun tak mengapa. Asal jangan menggunakan hate speech. Bahasa menunjukkan budaya, sudah seharusnya kita menjunjung budaya bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan santun.

Tidak perlu ikut perang jika kita sebagai warga negara Indonesia ingin memberikan kontribusi pada negara. Hal paling kecil misalnya dengan selalu mengecek kebenaran segala informasi yang anda terima. Menggunakan teknologi secara bijaksana memang bukan hal yang mudah, namun bisa dilakukan. Lebih baik memanfaatkan teknologi untuk menambah wawasan, berkreasi dan memajukan diri dibanding menyebar kebencian pada sesama manusia.

Don’t ever forget, we are all HUMAN ❤️

Black Pepper Rib Eye Steak A La Mama Dei

Hampir semua orang suka makan steak, termasuk saya dan suami. Tapi kalau setiap hari makan di restoran, selain bahaya untuk dompet, bahaya juga untuk kesehatan. Karena kita ga pernah tau kan, kandungan apa saja yang ada didaamnya. Sedangkan kalau masakan rumahan, kita bisa mengontrol semua macam dan kebersihan bahannya.

Kali ini saya mencoba memasak menu steak yang memang menjadi makanan favorit #papadei. Resep dan cara memasaknya hasil modifikasi sana-sini, jadi bisa disesuaikan dengan selera keluarga masing-masing. Dengan kemajuan teknologi seperti saat ini terasa menyenangkan yah, semua masakan restoran bisa dihadirkan dirumah. Benar-benar memudahkan orang yang senang belajar memasak seperti saya 😍.

Berikut hasil utak-atik resep saya, semoga cocok yah 😉

Bahan:

  • 2 pcs Rib Eye Steak @200 gram
  • 3 siung Bawang Putih
  • 5 siung Bawang Merah
  • 3 sdm Merica Hitam
  • 5 sdm Whipping Cream
  • 1 buah Bawang Bombay, iris tipis
  • 1 sdm Olive Oil
  • 1/2 sdm Saus Tiram
  • 1/2 sdm Kecap Manis
  • 1/2 sdm Saus Inggris
  • Gula dan Garam secukupnya

Pelengkap:

  • Kentang Goreng
  • Buncis potong sesuai selera
  • Wortel potong dadu

Cara membuat steak:

  1. Rendam daging dengan 1 sdm olive oil, garam dan merica sesuai selera, sisihkan minimal 30 menit sebelum dibakar.
  2. Siapkan pan dan bakar tiap permukaan daging selama 4 menit atau sesuai selera dengan menggunakan api sedang. Bisa juga dioven 4 menit dengan suhu 120 derajat celcius untuk mendapatkan tingkat kematangan medium-rare

Cara membuat saus:

  1. Tumis bawang putih dan bawang merah cincang dengan 1 sdm butter hingga wangi.
  2. Masukkan 2 sdm merica hitam yg ditumbuk kasar.
  3. Tambahkan saus tiram dan saus inggris.
  4. Tambahkan whipping cream 5 sdm, jika dirasa terlalu pekat boleh ditambah air/kaldu sesuai selera.
  5. Tambahkan gula dan garam sesuai selera.
  6. Aduk hingga mendidih

Cara membuat pelengkap:

  1. Tumis buncis dan wortel menggunakan butter,
  2. Tumis bawang bombay dengan butter secukupnya,
  3. Goreng kentang dengan minyak banyak, tiriskan agar crunchy.

Setelah semua komponen disiapkan, bisa di tata ke piring saji sesuai selera. Biasanya saya menempatkan tumisan bawang bombay dibawah steak karena memberikan aroma wangi dan rasa manis tanpa menghilangkan rasa khas daging itu sendiri.

Baca juga: Resep Bebek Goreng Surabaya

Biasanya selera tiap orang untuk tingkat kematangan daging tidaklah sama, cara diatas untuk memasak daging dengan level medium rare. Jika ingin membuatnya lebih matang bisa mengambil waktu 7 menit untuk tiap sisinya. Kehadiran pelengkap juga tidak baku seperti yang ada di resep saya. Bisa menggunakan jagung pipil yang ditumis dengan butter, jagung utuh yg dibakar, ataupun menggunakan coleslaw. Silahkan menyesuaikan dengan isi kulkas kita.

Apa benar wanita butuh kepastian? #SelmaHaqyJourney

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk turut membahas kisah cinta mbak Selma dan mas Haqy yang populer di instagram dengan hashtag #SelmaHaqyJourney. Sudah bukan jaman saya ngurusin cinta-cintaan anak jaman sekarang. Tapi ketika saya membaca statement mbak Selma bahwa apa yang dia lakukan semata-mata karena ingin menginspirasi generasi muda Indonesia, saya-pun merasa terpanggil #eaaa. Alhasil, ajakan teman blogger untuk berkolaborasi melalui tulisan dengan tema ini-pun saya iyakan. Bisa di cek juga tulisan SyunaMom tentang Saat Harus Memilih Antara Kekasih atau Pelamar

Oke, secara pribadi saya tidak akan menyalahkan mbak Selma atas keputusan yang diambilnya. Lah apalah aku ini? Emaknya juga bukan.

Mengingat saya penganut paham selama janur kuning belum melengkung, semua masih memiliki kesempatan yang sama. Saya bisa memaklumi keputusan yang diambil mbak Selma dan mas Haqy. Toh, mbak Selma juga manusia, wajarlah kalau khilaf-khilaf dikit waktu liat yang bening 😍.

Hanya saja, berbagai pertanyaan muncul dikepala ketika si-mbak menggunakan jargon wanita butuh kepastian dalam tulisannya. Setau saya yang juga wanita, wanita mah butuhnya banyak 😂. Dari yang sifatnya intangible, wanita itu butuh disayang, dimanjain, di-iya-in, diberi pujian, dibimbing, dan lain sebagainya. Belum lagi yang sifatnya tangible, wanita butuh belanja, nyalon, nonton, haha-hihi, endebrah brah brah brah. Jadi saya cukup surprised ketika tau mbak Selma ini cuma butuh kepastian!

Berkaca pada pengalaman saya ketika memutuskan menikah, ada banyak faktor yang saya pertimbangkan sebelum mengiyakan ajakan menikah #papadei. Dibandingkan kesiapan finansial, saya lebih memilih untuk memperhatikan indikator kecocokan pemikiran, visi-misi dan kematangan emosional. Bermodalkan tiga hal tersebut, kesiapan finansial menjadi hal yang mungkin dicapai berdua. Begitu juga pengalaman teman blogger saya yang punya 7 Kriteria Pria Idaman untuk Dijadikan Suami. Dan mbak Selma semudah itu mengatakan bahwa dia cuma butuh kepastian?

Coba saya nanya, seumpama sebelum mbak Selma dilamar mas Haqy, ada seorang pria yang katakanlah bernama Haqqul yang memutuskan untuk memberikan kepastian kepada mbak Selma, let’s say Haqqul ini berprofesi sebagai karyawan pabrik sabun dan dari keluarga yang biasa saja, apa mbak Selma akan langsung mau?

Sebagaimana yang mbak Selma gembar-gemborkan, Haqqul membawa kepastian loh! 

Saya sih cuma mengajak mbak Selma untuk lebih jujur dalam menulis. Kalau ga siap untuk jujur ya jangan membagikan kehidupan pribadinya ke publik donk 😂. Eits,,bukan saya nyinyir, pemikiran sederhana itu hanya berlandaskan pada statement mbak Selma yang mengatakan bahwa mbak Selma belum cinta sama mas Haqy. Jadi sampe sekarang saya masih bingung dan belum menemukan jawaban kenapa mbak Selma memutuskan menikah dengan mas Haqy? Apakah benar hanya karena butuh kepastian? 

Mbak Selma sayang, hidup ga semudah cocote Mario Bross. Mungkin akan lebih baik jika mbak Selma sedikit lebih bersabar dalam menceritakan perjalanan cinta yang belum ada cinta-nya ini. Akan lebih inspiratif jika mbak Selma membagikan cerita tentang bagaimana si-mbak dan si-mas menumbuhkan dan memelihara perasaan cinta satu sama lain, karena memelihara perasaan itu bukan sesuatu yang mudah loh mbak. Mbak sendiri sudah berpengalaman kan sebelumnya?

Sekali lagi, saya tidak menyalahkan, saya hanya menyayangkan tindakan si-mbak yang memilih untuk membagikan kisah cinta yang katanya menginspirasi ini ke media sosial. Banyak judgement dan mis-interpretasi yang akan timbul. Jangan sampai si-mbak lupa menghitung keuntungan dan kerugian semua pihak sebelum memposting hal pribadi seperti ini. Bayangkan kalau si-mbak jadi mas Haqy, se-Indonesia sudah mendengar kalau mbak Selma belum cinta sama si-mas 😂. Belum lagi perasaan Senna, mantan pacar si-Mbak, yang terlanjur diajak foto ala-ala tapi ujungnya malah ditinggal kawin. 

 

“Dikenal sebagai sosok yang inspiratif memang menyenangkan, tapi untuk mampu memberikan inspirasi, akan lebih baik jika kita belajar berempati terlebih dahulu” 

Serius deh, masih ada banyak cara yang lebih bijaksana yang bisa dilakukan untuk dapat menginspirasi orang lain. Di usia pernikahan yang baru memasuki usia 3 tahun ini, boro-boro menginspirasi, saya sih lebih memilih untuk memperbaiki diri dan menyelaraskan langkah dalam mewujudkan visi-misi keluarga kami. Kalaupun ternyata mampu menjadi inspirasi bagi orang lain, itu adalah bonus, bukannya fokus. Jangan lupa mbak, sudah ada MT sebagai contoh, betapa berkata-kata itu lebih mudah daripada bertindak. Beneran deh, kata-kata dan hashtag saja tidak cukup untuk menginspirasi.

Akhir kata, semoga si-mbak dan si-mas bisa lebih bijaksana dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah ya 🙂

Deira in the Adventureland’s Jungle

Last week, we spent the weekend in our neighboring Emirate, Sharjah. We’ve planned to visit Al Manhatta Museum and Al Qasba and, while we were there, attending an invitation from Adventureland. So we decided to stay in Sharjah for 1 night in Hotel 72, i chose the hotel because their strategic location, it was across of corniche beach, Al Noor Mosque, and at the same time also close to our destination points above.

We visited Adventureland in Sahara Centre Shopping Mall, we came a bit late because the road was quite busy in the evening. Actually, it was our first time in the biggest indoor family entertainment center in Middle East with 70,000 square feet. We expected a lot of fun!

We met a staff named Naro to pick the giveaway and media kit. We got GO FOR GOLD membership from Adventureland, we had adventure card worth 100 dhs to access the kids attractions and family rides. Adventureland came with a re-energized jungle theme and my daughter couldn’t hold herself not to be excited and so she walked all around the jungle ?. Then, she was stuck in Green Go Round, after she saw a lot of horses there with a double-decker grand carousel. Afterall, which kid would not be appealed to ride?
Face to face with the carrousel, there was Parachute, an attraction that would surely be adored by future pilots, as these colorful corsairs take young kids to fly up and down, around, clockwise and back again. I was even sure that papa looked happier than the daughter. It sure was papa’s time!?

If you want to make a birthday party for your children, Adventureland can be considered as the venue as well. They provide a birthday packages with price ranging from 75 AED including the meals. We had a great time in Adventureland. Hopefully they will open Adventureland in Abu Dhabi too :))

Summer? BHAYYYYY!

Beberapa waktu terakhir kaca rumah berembun, kata suami sih itu tanda-tanda pergantian musim. Cuma bisa bilang alhamdulillah,,akhirnya, setelah kurang lebih 7 bulan berjibaku dengan summer. Buat yang udah lama tinggal di gurun sih mungkin sudah bisa berdamai dengan kondisi. Masalahnya, ini summer pertama saya. Ga pernah kebayang ngerasain suhu 54 derajat. Sempet kepikiran juga buat nyeplok telor di kaca mobil, atau coba ngegoreng kerupuk di padang pasir #apasih.

Summer ala saya dimulai pada bulan April, saat dada mulai nyesek tiap jalan dari parkiran mobil ke mall/sebuah gedung. Sayanya sih masih belagu “ah baru segini doank..”. Tetep ga ada usaha pake lotion, moisturizer apalagi sunblock B-). Begitu masuk Mei, udah mulai yasalam deh. Kulit muka ngelupas ga karuan. Sampe dikira pake krim muka apalah-apalah itu. Udah mulai ngerengek-rengek aja pengen pulang ke Indonesia, ditambah kangen emak tercinta yang semakin menjadi-jadi. Sayangnya atau malah alhamdulillahnya, berbarengan sama rencana kabur itu, saya ketauan hamil donks. Jadilah sampai sekarang saya masih bercokol disini.

Beneran saya diajarin sabar, ga pernah kebayang harus beradaptasi untuk banyak hal dalam satu waktu. Apalagi di awal kehamilan lumayan , mulutnya pengen tapi ujung-ujungnya keluar. Sakit semua di badan. Akhirnya trimester pertama kehamilan, saya lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan. Sebenernya satu macem buah juga denk, soalnya waktu dimasukin buah selain apel, ujung-ujungnya jackpot juga. Jadi deh sehari saya bisa makan 5 buah apel. Bukannya ga mau makan, tapi makanan yang saya pengenin ga ada semua. Kangen nasi goreng duk-duk-lah, tahu telor-lah, nasi bebek-lah.