Category: Travelling

Mengunjungi Emirates Sharjah: Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan

Jika Abu Dhabi dikenal sebagai ibu kota yang menjadi pusat bisnis sekaligus pusat perekonomian di UAE, maka Dubai lebih dikenal dengan kemegahan arsitektur dan modernitas kawasannya. Lain hal nya dengan Sharjah yang lebih mendapat julukan sebagai ibu kota budaya UAE. Hal ini tidak lepas dari peranan penguasa Sharjah, Dr. Syeikh Sultan bin Hamad al-Qasimi, yang memang pengagum sejarah, arsitektur dan budaya. Beberapa Museum yang pernah saya kunjungi diantaranya:

MUSEUM PERADABAN ISLAM

Museum yang di resmikan pada tanggal 6 Juni 2008 ini memiliki dua galeri utama. Galeri pertama diberi nama “Abu Bakar Gallery of Islamic Faith” yang berisikan mengenai prinsip Lima Rukun Islam dan Enam Rukun Iman. Didalam galeri ini terdapat koleksi Kiswah atau kain penutup Kabah di Mekkah, ada pula berbagai manuskrip Quran. Selanjutnya terdapat “Ibn Al-Haytham Gallery of Science and Technology” yang menyajikan kontribusi ulama Islam bagi peradaban dunia di bidang-bidang seperti astronomi, kedokteran, geografi, arsitektur, matematika, kimia, teknologi militer, navigasi laut dan rekayasa.

Ibn Al-Haytham sendiri merupakan salah satu ilmuwan Islam yang juga dikenal sebagai Bapak Optik karena banyak melakukan penelitian mengenai cahaya. Di bagian lantai teratas, pengunjung dapat menikmati interior kubah berupa langit biru lengkap dengan mozaik dari 12 zodiak dalam ilmu astrologi. Penggunaan kubah dan banyaknya ruangan yang menggunakan gerbang lengkung pada museum ini mempertegas penggunaan arsitektur Islam peninggalan dinasti Ummayah yang kemudian berkembang pesat di Andalusia.

AL MAHATTA MUSEUM

Di museum ini menceritakan tentang sejarah penerbangan di emirat Sharjah. Terdapat tiga ruangan pamer, ruangan utama berisikan display beberapa jenis pesawat terbang yang pernah digunakan oleh emirat Sharjah. Sedangkan dua ruangan lainnya merupakan ruangan yang mendukung informasi mengenai sejarah penerbangan di emirat Sharjah. Bandara Sharjah dibangun pada tahun 1932 dan merupakan bandara pertama yang dimiliki oleh negara kawasan teluk. Bandara ini dibuat sebagai tempat transit penerbangan komersial dengan rute dari Inggris ke India.

Baca Juga: 4 Wisata Menarik di Dubai, Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Untuk menuju ke museum ini, saya melewati King Abdul Azis Road yang dahulunya merupakan jalur airplane runway di bandara lama tersebut. Di dua ruangan pendukung, saya berkesempatan menonton diorama dan film mengenai sejarah penerbangan, ada pula display bioskop yang pertama ada di Sharjah. Dengan entrance fee sebesar 10 dirham per orang, saya serasa diajak bernostalgia menelusuri kejayaan Sharjah di masa lampau.

Fakta menarik tentang Sharjah:
➢ Sharjah merupakan satu-satunya emirat yang berbatasan langsung dengan ke enam emirat yang lain.
➢ Sharjah merupakan emirat pertama yang menyediakan pendidikan untuk perempuan pada tahun 1942.
➢ Sharjah merupakan emirat pertama di GCC yang memiliki bioskop dan bandara.

Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit tentang negara Persatuan Emirat Arab yang juga dikenal sebagai Uni Arab Emirates (UAE). Sebagaimana wisatawan mancanegara lebih familiar dengan Bali dibanding Indonesia, selama ini masyarakat juga lebih familiar dengan Dubai dan Abu Dhabi dibanding negara UAE sendiri.

Tidak banyak yang tau bahwa Uni Emirates Arab terdiri atas 7 emirat yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ras Al Khaimah, Umm Al Qwain, Fujairah dan Ajman. Negara ini dipimpin oleh presiden yang juga penguasa Abu Dhabi, HH Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Abu Dhabi merupakan ibu kota negara dan menjadi pusat pemerintahan negara ini, sedangkan Dubai dikembangkan sebagai tourism and commercial city.

Berdasarkan hal tersebut, tidak sedikit teman-teman yang mengirim pesan dan bertanya tips untuk berwisata ke UAE. Biasanya sih saya dengan rajin akan menjawab setiap pertanyaan yang masuk ke inbox. Namun setelah diamati, sebenarnya daftar pertanyaannya hampir sama. Jadi saya akan rangkum dalam bentuk Q&A supaya bisa lebih jelas.

  1. Bagaimana cara mengurus visa untuk berkunjung ke UAE?
    Jika anda menggunakan maskapai Emirates/Etihad, visa bisa dibeli dari maskapai tersebut. Namun jika menggunakan maskapai lain, saya lebih menyarankan untuk mengurus di travel agent. Untuk yang transit, bisa membeli visa di airport seharga 300 dirham yang berlaku selama 4 hari.
  1. Apakah untuk masuk ke UAE, membutuhkan 3 kata untuk nama yang tercantum dalam paspor?
    Sebaiknya iya, walaupun suami saya menggunakan 2 kata dalam paspornya dan aman-aman saja.
  1. Katanya biaya hidup di UAE itu mahal, apakah memungkinkan untuk travelling dengan gaya backpacker?

    Mungkin banget! Untuk akomodasi, bisa cek tarif hotel lewat situs Agoda atau sejenisnya. Sejauh yang saya tau, ada juga hotel yang tarifnya tidak berbeda jauh dengan yang ditawarkan oleh AirBnB. Kalau mau lebih irit bisa juga memanfaatkan situs couchsurfing yang sudah banyak dimanfaatkan para traveller. Untuk transportasi, bisa mengandalkan transportasi umum seperti Dubai Metro (semacam MRT) dan citybus yang jadwalnya tepat waktu dan jelas banget rutenya. Sempat ada yang bertanya, kalau naik Uber gimana? Boleh! Tapi tarifnya lebih mahal dari taksi regular.

    Buat ngecek rute dubai metro bisa ke sini, sedangkan untuk jadwal bus, bisa dicek di sini

  1. Bagaimana dengan makanan di UAE? Apakah bisa diterima lidah Indonesia?

    80% penduduk UAE adalah expatriates jadi bisa dipastikan tidak akan susah menemukan restoran Indonesia/China/Thailand/Vietnam dll. Insyaa Allah terjamin kehalal-annya. Mengingat negara ini layaknya toserba atau toko serba ada, tidak perlu khawatir masalah harga. Dari harga murah meriah hingga harga yang bikin seret kerongkongan juga ada, dengan 5 dirham kita sudah bisa makan Shawarma dengan kenyang.

  1. Apakah negara ini aman untuk solo woman traveller?
    Menurut saya negara ini termasuk aman untuk solo woman traveller. Bahkan salah satu hal yang paling membuat saya betah tinggal disini karena mereka sangat mengutamakan perempuan. Hampir disemua tempat terdapat area khusus untuk perempuan (parkir, ruang tunggu, antrian dll). Apalagi jika anda seorang Ibu yang menggendong anak, biasanya akan diberi antrian khusus.
  1. Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi UAE?

    UAE adalah negara teluk yang sebagian besar wilayahnya merupakan gurun pasir, sehingga saat summer tiba, suhu bisa mencapai 54 derajat celcius. Namun tidak banyak yang tau jika UAE juga memiliki musim dingin di bulan November-Maret. Emang ga sampe bersalju sih, suhu paling rendah berkisar 9-11 derajat celcius. Menariknya, banyak tempat wisata yang hanya buka saat winter tiba, salah satunya Dubai Miracle Garden.

  1. Berapa dirham yang sebaiknya dibawa untuk berlibur ke UAE?
    Mata uang UAE adalah Dirham, satu dirhamnya sekitar 3600 rupiah. Jumlah yang dibawa bisa dihitung dari perkiraan kebutuhan anda selama disini dikalikan berapa hari anda akan tinggal disini. Agar tidak rugi, saya menyarankan untuk membawa dirham secukupnya. Tapi jika takut kurang, lebih baik membawa US Dollar karena lebih mudah untuk menukarkan kedalam dirham.
  1. Selama di UAE, sebaiknya menginap di Dubai atau di Abu Dhabi?

    Ini pertanyaan paling susah untuk dijawab karena tergantung beberapa faktor, diantaranya: berapa lama anda akan berlibur di UAE? Apa preferensi anda? Misalnya saya memiliki 5 hari waktu untuk berlibur, dan saya memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi seni dan sejarah negara ini. Maka saya akan menghabiskan 3 hari di Dubai dan 2 hari di Abu Dhabi.

    Saya akan menginap lebih lama di Dubai karena lokasinya berbatasan dengan emirates Sharjah yang mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai “Capital City of Arab Culture” dan “Capital City of Islamic Culture”. Sehingga saya tetap bisa mengeksplor Dubai namun tetap berkesempatan untuk mengunjungi Sharjah dengan efektif dan efisien.

  1. Tempat apa saja yang menarik untuk dikunjungi selama berada di UAE?
    Untuk penggemar skyscraper dan shopping, Dubai adalah tempat yang tepat untuk anda. Kota tersebut dipenuhi gedung dengan arsitektur yang unik, belum lagi pusat perbelanjaannya yang up-to-date dan sering diskon. Sedangkan pecinta seni bisa mengunjungi Sharjah. Tapi jika anda ingin berselancar dinegara gurun, bisa mengeksplorasi Fujairah. Banyak resort cantik dengan harga yang lumayan terjangkau.

Baca Juga: Empat Wisata Menarik di Dubai, Mengunjungi Emirates Sharjah: Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan

Nah kurang lebih demikian rangkumannya, sambil jalan akan saya tambahkan. Jika masih ada yang kurang jelas, boleh tinggalkan komentar atau kirim pesan lewat facebook/instagram.

Selama bisa, insyaa Allah akan saya bantu.

5 Negara Impian untuk Dikunjungi!

Beberapa tahun kebelakang, demam travelling melanda seantero dunia. Jalan-jalan keluar negeri sudah bukan lagi menjadi aktivitas mewah yang hanya bisa dilakukan oleh kelas sosial tertentu. Asal mau bekerja keras, semua orang bisa mewujudkan impian untuk melihat dunia. Lihat saja bagaimana gencarnya promosi yang dilakukan maskapai penerbangan. Mulai dari tiket seharga 0 rupiah hingga fasilitas cicilan dengan bunga 0%. Siapa yang tidak tergoda? 😆

Saya adalah salah satu orang yang senang travelling, baik itu ke tempat wisata domestik maupun mancanegara. Bahkan ketika tinggal di Abu Dhabi yang walaupun kotanya tidak terlalu besar, saya berusaha mengalokasikan waktu di akhir pekan untuk sekedar berkunjung ke tempat yang saya sukai, misalnya taman, museum, galeri seni dan lain sebagainya.

Baca juga: Naik Kapal Pesiar di Sunborn Yacht London

Bepergian selalu menawarkan pengalaman baru, belum lagi kesempatan untuk belajar mengenai kebudayaan masyarakat sekitar. Itulah sebabnya, saya rela menyisihkan sebagian pemasukan untuk berlibur. Setelah bekerja selama setahun penuh, sudah sewajarnya memberikan reward untuk diri sendiri.

Berikut adalah 5 negara impian untuk dikunjungi:

  1. China

    Sejak kecil saya tertarik dengan berbagai kebudayaan dan sejarah bangsa ini. Terlebih setelah membaca novel berjudul Empress Orchid karya Anchee Min, keinginan saya untuk berwisata ke China, tepatnya ke kota Beijing menjadi semakin membuncah. Forbidden city yang menjadi latar belakang novel tersebut menempati urutan teratas untuk bangunan bersejarah yang paling ingin saya kunjungi. Ketika berada di bangunan bersejarah, saya selalu membayangkan bagaimana dahulunya orang-orang di jaman itu menjalani kehidupannya. Kehidupan istana yang penuh kemewahan, namun juga berbalut intrik tentang perebutan kekuasaan. Bittersweet. What a life!

  2. Turki

    Sebelumnya saya tidak terlalu tertarik dengan negara ini. Namun setelah mengikuti drama serial “Magnificent Century” yang menceritakan tentang kejayaan dinasti Ottoman didalam istana Topkapi, seketika saya memasukkan Turki kedalam daftar negara yang ingin saya kunjungi. Selain itu, secara geografis, Turki adalah negara yang sangat unik karena sebagian wilayahnya berada di benua Asia, sebagian lagi di Benua Eropa. Pastinya hal tersebut berpengaruh terhadap gaya arsitektural bangunan dan tata kotanya. Kabar baiknya, insyaa Allah saya berkesempatan untuk menyambut tahun baru 2018 di negara ini.

  3. Yunani

    Saya merasa familiar dengan negara ini sejak berusia 6 tahun. Dilatar belakangi dari kesukaan membaca komik Doraemon, saya mengenal seorang tokoh yang bernama Poseidon, dewa penguasa laut. Ketika membaca dan menggali lebih dalam, akhirnya saya malah menjadi tertarik dengan mitologi Yunani kuno. Kebayang donk bagaimana besar keinginan saya untuk berkunjung ke Parthenon yang berlokasi di Akropolis, kuil pemujaan untuk Dewi Athena.

    Belum lagi Pulau Santorini yang keindahannya sangat memanjakan mata. Sebenarnya, di awal tahun 2014, saya dan suami sempat membeli tiket dan paket trip menuju negara ini, namun karena kemudian saya hamil maka perjalanan tersebut harus ditunda. Mengapa? karena menurut review yang saya baca, Santorini adalah sebuah pulau berbukit sehingga perjalanan kesana membutuhkan stamina yang baik dan tidak disarankan untuk usia kehamilan 8 bulan.

  4. Austria

    Lebih spesifik lagi saya ingin berkunjung ke Vienna. Mengingat julukannya sebagai The City of Music, membuat tempat ini layak dimasukkan dalam wish list. Saya memang tidak bisa memainkan piano, tapi saya penggemar musik klasik dan menariknya di kota ini kita bisa menemukan segala hal tentang musik. Mulai dari sekolah musik sampai museum-museum tentang musik sangat dilestarikan di sini. Tidak mengherankan ya, karena memang banyak komposer terkenal yang karya-karya musiknya lahir dari Wina. Bahkan musisi sekelas Beethoven dan Mozart menghabiskan akhir hayatnya di kota ini!

  5. Korea Selatan

    Lagi-lagi saya ingin mengunjungi suatu negara karena terinspirasi tontonan drama serialnya. Ada yang tau serial drama Jewel in The Palace? Drama saeguk berlatar-belakang jaman kerajaan dinasti Joseon ini membuat saya terkagum-kagum dengan keindahan Pulau Jeju yang menjadi tempat pengasingan si tokoh utama. Belum lagi disepanjang film, penonton ‘disuguhi’ berbagai potret kekayaan kuliner Korea.

    Walaupun cukup sering mampir ke restoran Korea, tetap saja saya ingin merasakan kelezatan kimchi dinegara asalnya.

Itulah lima negara yang ingin saya kunjungi, jika dianalisa sebenarnya kelihatan yah bahwa si-empunya blog ini adalah pecinta sejarah hahahaha. Anyway, semoga Allah memberikan umur dan rejeki untuk mewujudkan cita-cita saya. Artikel ini merupakan tulisan kolaborasi saya dengan Indira yang juga memiliki daftar negara impian untuk dikunjungi.

Baca juga: 7 Hal Yang Harus Dipersiapkan Ketika Mengunjungi Warner Bross Studio: The Making of Harry Potter

Kalau boleh tau, negara apa yang ingin kalian kunjungi? SYuk bagikan mimpimu di kolom komentar, sehingga kita bisa saling  mendoakan ❤️.

Asyiknya Ikutan Festival Wisata Kuliner Hong Kong Bareng Jetstar

Beberapa tahun kebelakang, berjalan-jalan keluar negeri masih menjadi hal yang eksklusif bagi kalangan tertentu, mengingat tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli tiket dan membayar akomodasi. Namun ditengah kemudahan akses informasi seperti saat ini, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpelesir ke-luar negeri dengan menggunakan budget yang minimalis.

Salah satunya, jika kamu adalah pecinta kuliner seperti saya, dan berminat untuk menghadiri festival wisata kuliner di Hong Kong, maka kita bisa pergi ke Hong Kong mengunakan Jetstar Airlines. Maskapai penerbangan asal Australia ini merupakan salah satu anak perusahaan Qantas, yang merupakan maskapai penerbangan premium.

Wisata Kuliner Hongkong

Terdapat beragam menu yang disajikan dalam festival wisata kuliner Hong Kong. Hidangan ini disajikan dengan dekorasi dan suasana yang atraktif sehingga tentunya akan memberikan pengalaman berburu kuliner yang seru dan tidak terlupakan.

Ada yang tau kuliner apa saja yang bisa kita temukan dalam festival ini?

Bermacam-macam snack khas tempo dulu hingga yang kekinian dapat kita temukan dalam festival ini. Ada juga hidangan yang ‘serius’ seperti chinese barbeque, dim sum, beragam masakan mie dan dessert yang dapat kita nikmati sambil menikmati suasana. Membayangkannya saja sudah membuat air liur mengalir dan ingin segera mencoba.

Oiya selain berbagai menu diatas, tersedia juga menu dari berbagai negara lain seperti Thailand, Malaysia dan India. Adanya makanan yang lezat dan dekorasi yang menarik tentunya menjadi salah satu momen yang tepat untuk menambah koleksi foto pribadi, saya pribadi, sebisa mungkin akan menjepret banyak kuliner dengan smartphonemu selama festival kuliner ini berlangsung.

Selain makanan, di festival tersebut kita juga bisa menemukan minuman Hong Kong-Style Milk Tea yang terinspirasi dari budaya minum teh ala China. Minuman ini terbuat dari olahan teh yang dicampur dengan susu sehingga menghasilkan rasa creamy yang bertekstur lembut. Di Hong Kong sendiri, minuman ini sudah dikenal sejak tahun 1950.

Jalan-jalan ke Hong Kong

Seperti yang kita ketahui, Hong Kong sedang memaksimalkan potensi pariwisatanya. Lihat saja pesan pariwara mengenai pariwisatanya yang banyak bertebaran dimana-mana. Dalam hal ini, potensi pariwisata di Hong Kong memang tidak bisa dipandang remeh. Tidak salah jika kemudian negara ini dijadikan salah satu tujuan favorit family holiday banyak orang. Terlebih kita tidak hanya dapat mengikuti festival wisata kuliner, namun Hong Kong juga menawarkan kesempatan pada kita untuk mengenal sejarah dan warisan negara tersebut melalui museum dan galeri yang dapat kita temukan dengan mudahnya.

How to get there?

Salah satu yang saya rekomendasikan adalah dengan menggunakan maskapai Jetstar, dengan maskapai tersebut kita dapat travelling dengan hati yang tenang. Mengingat maskapai Jetstar, dengan Qantas sebagai induk perusahaannya, sudah sangat berpengalaman di industri penerbangan.

Armadanya sendiri menggunakan pesawat Boeing 787 Dreamliner, Airbus A321, dan Bombardier Q300. Dan info untuk kamu, Jetstar sudah memenangkan penghargaan sebagai Best Low-Cost Airline dari SkyTrax, pada 2011, 2012 dan 2013.

Berburu Makanan Halal dan Vegetarian di Festival Wisata Kuliner Hong Kong

Menariknya, sudah banyak restoran di Hong Kong yang memiliki sertifikasi halal. Sehingga untuk teman-teman yang muslim dan mungkin menganut pola hidup vegetarian  tetap dapat menikmati makanan dengan nyaman tanpa rasa khawatir. Berikut beberapa daftar restoran yang mungkin bisa dijadikan pilihan:

1. Islamic Centre Canteen

Kantin Islamic Centre ini menyediakan hidangan Kanton dan dim sum dengan bahan baku yang terjamin kehalal-annya. Rasanya tidak perlu dipertanyakan dan yang pasti kita bisa ikut serta dalam festival kuliner tanpa rasa khawatir.

Islamic Centre Canteen berlokasi di Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick Islamic Centre, 40 Oi Kwan Road, Wan Chai, Hong Kong.

2. Aladin Mess

Dari namanya saja kita bisa menebak bahwa Aladin Mess adalah restoran yang menyediakan masakan bercita-rasa India. Kapan lagi kita bisa menyantap makanan India yang lezat, halal dan berlokasi di tengah-tengah Causeway Bay? Sungguh akan menjadi pengalaman bersantap yang unik dan tidak terlupakan.

Aladin Mess berlokasi di Fu Hing House, 60 Russel Street, Causeway Bay, Hong Kong Island.

3. Spice Restaurant

Restoran ini menyediakan kuliner khas Thailand, Melayu dan India. Interior restoran ini didesain dengan suasana yang menarik, sehingga memberikan semangat bagi kita, para traveller, untuk berliburan dan mengeksplorasi wisata kuliner di Hong Kong.

Selain tiga restoran yang saya sebutkan tadi, masih banyak tempat yang menyajikan makanan halal dan vegetarian. Contohnya, kita bisa menemukan kudapan lokal yang sangat lezat seperti egg tart, pineapple buns, put chai ko atau pudding dari beras dan lain sebagainya.

Festival Wisata Kuliner Hong Kong bukan hanya menghadirkan semangat menikmati makanan yang ada, tetapi juga pengalaman yang berharga saat bertemu dan berbaur dengan berbagai suku bangsa yang hadir dalam festival tersebut. Bersama Jetstar kita bisa mewujudkan impianmu terbang ke berbagai tempat eksotis dengan biaya yang terjangkau!

Naik Kapal Pesiar di Sunborn Yacht London

Ada yang sudah pernah naik kapal pesiar?

Saya dan suami sama-sama memiliki impian untuk berlibur menggunakan kapal pesiar. Diawal menikah, kami sempat membeli paket tur milik Royal Carribbean. Tapi sebelum hal tersebut terlaksana, saya sudah keburu hamil, akhirnya mimpi naik pesiar kami simpan terlebih dahulu.

Hingga akhirnya April kemarin kami memutuskan untuk mengunjungi London. Saya dan suami sangat excited mengingat kami sama-sama belum pernah menjejakkan kaki di negaranya Ratu Elizabeth. Seperti biasa, saya mengambil alih tugas mencari hotel. Setelah berselancar di internet dan membaca berbagai artikel, saya menemukan hotel yang mengingatkan cita-cita kami diawal menikah dulu. Naik KAPAL PESIAR.

SunBorn Yacht Hotel terletak di Royal Victoria Dock, posisinya bisa dibilang tidak strategis karena jauh dari pusat perbelanjaan, old town bahkan bandara Heathrow. Bahkan seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya, butuh £70 dari pusat kota untuk mencapai tempat ini dengan taksi. But, who cares?

Hotel yang diresmikan pada tahun 2015 ini memiliki total 136 kamar dan terdiri atas 5 lantai. Memasuki lobby, kami terperangah melihat interiornya yang klasik dan mewah. Apalagi badan kapal didesain menggunakan kaca transparan sehingga mata langsung tertuju ke sungai Thames yang mengalir dibawah kapal. Menurut staff yang bertugas, kapal pesiar yang digunakan memang khusus didesain menjadi hotel sehingga tidak ada mesin penggerak didalamnya.

Tepat pukul 03:00 pm, kami memasuki kamar yang sudah di-book sebelumnya. Agar pengalaman ini terasa maksimal, saya dan suami memesan ruangan dengan river view. Begitu pintu terbuka, I feel so sentimental. Kami bergegas menuju ke balkon, masyaa Allah. Semoga saya dan suami ada umur dan rejeki untuk berpesiar menggunakan kapal.

Sama seperti di lobby, perabot dan interior yang diusung bergaya klasik. Di mini bar tersedia coffee machine lengkap dengan peralatan minum teh dan coklat panas ala keluarga kerajaan Inggris. Jadilah kami menikmati pemandangan di balkon sambil ngopi-ngopi cantik 😉. Begitu pula dengan Deira yang berinisiatif untuk merebahkan diri di kasur yang empuk dan nyaman, belum lagi selimutnya yang lembut. Poin positif lain dari tempat ini, di kamar mandinya terdapat water closet with shower. Selama 9 hari sebelumnya di UK, baru dihotel ini saya menemukan water closet with shower. Sungguh suatu hal yang membahagiakan untuk traveler muslim seperti kami. Menurut saya, hotel ini bisa disejajarkan dengan resort. Karena begitu saya berada didalamnya, saya tidak berminat untuk keluar. Akan tetapi suami saya yang suka fotografi mengajak saya untuk mengeksplorasi daerah disekitar hotel sekaligus mencari makan malam.

Ternyata lokasi hotel berada di kawasan yang disebut dengan ExCeL atau Exhibition Center London, tepatnya bersebelahan dengan ADNEC (Abu Dhabi National Exhibition Company). Usut punya usut, area tersebut merupakan salah satu investasi milik pemerintah Abu Dhabi. Tercatat, berbagai event berskala internasional seperti London Boat Show, British International Motor Show, London Marathon, World Travel Market, Defence Security and Equipment International dan G20 London Summit diselenggarakan di ExCeL.

Everything is connected
There are no coincidences

Sekitar 500 meter dari hotel juga terdapat Emirates Air Lines milik Doppelmayr yang pembangunannya disponsori oleh maskapai Emirates milik pemerintah UAE. Ditempat ini kita menyeberangi Sungai Thames dengan menggunakan cable car. Aliran sungai yang tenang tampak memukau dari ketinggian 90 meter, dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menyeberang dari sisi Royak Victoria Dock ke Greenwich Peninsula. Sebagai residen Abu Dhabi, saya sangat kagum dengan cara berpikir Sheikh Zayed dan Sheikh Khalifa yang visioner. Kepikiran aja bikin investasi disini. Semoga Indonesia bisa sevisioner UAE dan semakin jaya 🙂

Cruising London with Sunborn Yacht

Have you ever been on a cruise before?

My hubby and I both have a dream of being onboard of a cruise. When we just got married, we have booked a Royal Carribbean tour package, but then I was expecting baby Deira so the dream cruise had to be postponed.

Finally on April 2017, we decided to visit London. We were excited about it because this was the first time we would set foot on Queen Elizabeth’s land. As always, I took the charge of finding the hotel and, after cruising the internet and reading countless articles, I found a hotel that reminded us about our dream: TO BE ONBOARD OF A CRUISE.

Sunborn Yacht Hotel was moored on Royal Victoria Dock, which was quite far away from the shopping centre, old town, and Heathrow. It took us £70 to go to the dock from the city center, but who cares. This hotel, which was christened in 2015, had 5 deks and contained 136 rooms. Upon entering the lobby, we were astounded by its classic and luxurious design. Through the hull’s glass wall, we could see the water of Victoria Dock and the houses across the water. According to the staff, the cruise was specifically designed for hotel, so it had no engine.

At 03:00 PM, we entered our room. To maximize the experience, we booked a suite room with river view. When we opened the door, I felt so sentimental. Immediately we went out to the balcony and, Masha Allah, the view was gorgeous. I wished we both lived long enough be on the real cruise.

Just like the lobby, the furniture and interior of the room was designed with classical look. The mini bar was equipped with coffee machine complete with tea set to enjoy coffee, tea, or hot chocolate. So there we were, enjoyed afternoon coffee and the cold England’s breeze at the balcony, looked down to the Dockland. Deira took initiative to lay down on the cozy bed, that was complemented with a soft and warm blanket. The closet shower in the bathroom was another plus point to us, moslem travelers, as for the first 9 days in UK, this was the first time I ever encountered closet shower. I think this hotel was comparable to resort because once we were inside, we lost the willing to go out, even though my hubby whose hobby is photography asked me to stroll around the dock to find photo spots and dinner.

Also in the Royal Victoria Dock, next to this yacht hotel, was ExCeL, Exhibition Center London, which was part of ADNEC (Abu Dhabi National Exhibition Company). A quick investigation later, I found out that the area was one of Abu Dhabi government investment. Several international events were held in this area such as London Boat Show, British International Motor Show, London Marathon, World Travel Market, Defence Security and Equipment International, and G20 London Summit.

Everything is connected
There are no coincidences

At one end of the dock, around 500 meters from the hotel, a cable car installation owned by Doppelmayr, whose construction was sponsored by Emirates, Dubai’s airline, another emirates of UAE. The cable brought us across the river Thames to the Greenwhich Peninsula with 10 minutes journey time. As resident of Abu Dhabi, I admired the visionary thoughts of Sheikh Zayed and Sheikh Khalifa. I wished Indonesia could take their as an example.

7 Hal yang Harus Dipersiapkan Ketika Mengunjungi Warner Bros Studio Tour: The Making of Harry Potter

Siapa sih yang ga kenal Harry Potter alias the boy who lived? Saya pertama kali membaca novel Harry Potter pada tahun 2004 atau kurang lebih kelas 2 SMP. Mengingat harga novelnya cukup mahal, saya memilih untuk pinjam saja dari teman. Kalau ga salah karena yang punya cuma beberapa orang, jadi minjemnya-pun kudu antri. Kebayang donk seberapa excitednya saya ketika suami tercinta nawarin untuk memasukkan Warner Bros Studio Tour: The Making of Harry Potter ke dalam daftar itinerari selama di Great Britain. Tapi ternyata untuk berkunjung ke WB Studio Tours ga bisa dadakan kaya ngegoreng tahu bulat, hampir aja kami ga jadi masuk sini. Saya sih udah mau drama nangis-nangis aja, masa udah sampe London tapi ga bisa masuk ke studionya Harry Potter.

Nah biar teman-teman tidak mengalami yang saya alami, berikut saya tuliskan artikel mengenai 7 hal yang harus dipersiapkan ketika mengunjungi Warner Bross Studio Tour: The Making of Harry Potter (dibikin 7 biar kaya jumlah horcruxes).

  1.  Tiket, Berdasarkan pengalaman saya, sesudah visa UK berada ditangan, sebaiknya segera membeli tiket masuk melalui website resmi WB Studio Tours, mengingat tiket yang dijual jumlahnya terbatas (dalam sehari terdapat dua sesi tur yang ditawarkan yaitu morning dan afternoon tour, dimana hanya tersedia 590 tiket disetiap sesinya). Oleh karena saya kehabisan tiket online, maka saya membeli tiket melalui jalur alternatif. Alias membelinya ke pihak ke-3 alias travel yang bekerja sama dengan WB Studio Tours dan harganya menjadi 3x lipat dari harga normal donkkkk 😭. Salah satu travel yang menyediakan jasa tersebut adalah City Wonders Tours. Total yang harus kami bayarkan sebesar $367 untuk 2 orang, biaya tersebut sudah termasuk tiket PP kereta dari Euston-Watford Junction (£23) dan shuttle bus (£2,5). Eike sebel sih karena bayar mahal, tapi positifnya dengan mengikuti tur ini, saya dan suami mendapatkan tour guide yang menjelaskan koleksi WB studio ini dengan sangat detail.
  2. Mengingat WB Studio Tours berukuran besar, pilih sesi pagi saat membeli tiket agar kita berkesempatan mengeksplor setiap detail tempat ini. Sayang donk udah jauh-jauh kemari tapi kita ga bisa menikmati secara maksimal karena diburu waktu.
  1. Jangan lupa minta paspor Harry Potter yang khusus disediakan untuk anak-anak ke bagian informasi. Nantinya paspor tersebut akan mendapatkan stempel di area tertentu, beberapa orang dewasa juga ada yang minta paspor tersebut untuk koleksi. Sayangnya saking semangatnya saya lupa minta 😑. Padahal pas di antrian masuk udah bolak-balik ngomong ke #papadei biar jangan sampe lupa minta paspor. Tapi begitu udah sampe dalem ternyata mendadak kesirep alias lupa diri.
  2. Setelah melalui checking area, kita akan diarahkan menuju theater room. Saran saya, ambil posisi paling depan! Karena selepas giant screen selesai memutar cuplikan film Harry Potter, layar akan digulung dan pintu great hall yang super besar itu akan membentang didepan anda. Momen ini berhasil membuat saya dan beberapa pengunjung lain mewek terharu, apalagi dalam hitungan detik-pintu gerbang Hogwarts dibuka 😍. Dengan berdiri didepan, saya jamin efek nganga nya makin lebar hahahaha. Sayang ga boleh di videoin.
  3. Jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman! Sebenarnya didalam WB Studio Tours disediakan cafe yang menjual sandwich, hotdog dll. Tapi karena saya tipikal orang yang tidak sabar menahan lapar, jadi saya bekal cookies dan biskuit untuk mengganjal perut sembari menunggu antrian yang luar biasa. Oiyah ditempat ini kita juga bisa mencicipi Butterbeer! Butterbeer dijual dalam dua jenis, bertempatkan gelas kaca seharga £7 yang gelasnya bisa dibawa pulang sebagai suvenir atau menggunakan gelas plastik seharga £3. Jika ingin membawa gelas buterbeer sebagai suvenir, jangan lupa membawa kantong plastik yah! Agar sisa butter tidak meluber mengotori tas kita.
  4. Istirahat semaksimal mungkin di cafe ini, karena ini baru setengah perjalanan. Masih ada area diagon alley dan CGI yang membahas detail proses pembuatan film Harry Potter.
  1. Disiplin budget! Ini serius mengingat harga suvenirnya super lebayyyy. Sebagai gambaran jubah Hogwart £80, mantel Hogwarts £60, tongkat sihir £25, magnet kulkas £7, bertie bott alias permen aneka rasa £9. Jangan kalap dan berbelanjalah dengan bijaksana!

Kurang lebih itu tips dari saya. Buat yang mau menambahkan tips dan saran silahkan tinggalkan komen dibawah. Terima kasih sebelumnya 🙂

7 Things to be Prepared When Visiting Warner Bros Studio Tour: The Making of Harry Potter

Who doesn’t know Harry Potter, the Boy Who Lived? I read about him on J.K. Rowling’s novels on 2004, on my second year of Junior High School. The novels were quite pricey, so I, as well as some of my colleges, chose to borrow them from my friend and, due to high demand while the supply was really low, it was quite a queue back then. No wonder I was ecstatic when my hubby suggested to include the Warner Bros Studio Tour: The Making of Harry Potter in our UK Itinerary. Little did we know that to enter tour, we need to purchase the ticket early. I guess even today, 13 years later, the queue was still long (-_-). I almost broke down in tears, but luckily we found an empty slot provided by a tour agency.

So, for those Harry’s diehard fans, I wrote this post so you guys will be much more well-prepared in attending this tour.

  1. Ticket. Because there are only limited number of tickets sold (590 tickets per session, and there are only two sessions per day), as soon as your UK visa is approved, please buy the ticket through official website of WB Studio Tours. Alternatively, if you couldn’t get the ticket just like we did, you can buy the package offered several WB-approved tour operators. Their ticket price can be three times higher, but they usually offer a guided tour throughout the studio. In my case, we purchased the packages from City Wonders Tours that cost us USD 367 for two people. That already includes two return train tickets from London Euston to Watford Junction (£46) and shuttle bus between Watford Junction and the studio (£5). I was initially a bit upset by their price, but their guide, Matthew, was very knowledgeable about everything the studio has, and gave us a detailed explanation. So I guess it was worth it after all, because without the guide, we wouldn’t know half as much.
  2. Since WB Studio was huge, morning session is the best time to visit so we have ample time to explore the venue and its exhibits. We come along way from London not just to see fellow visitors, do we?
  1. Don’t forget to ask for Harry Potter passport. The passports were provided by the studio for the children. This passport will be stamped in certain posts within the studio. Although intended for children, you guys adults need not to be ashamed to ask for the passport because it’s a worthy collectible. While we were in the queue, I repeatedly reminded my hubby to ask for one, but alas, we forgot to ask!
  2. After the security checking area, we were guided to enter a theatre room with several rows of seats. My advice: take the front row, for right after the short introductory clip, the screen will roll up and suddenly you will face the gate of Hogward’s Great Hall. This dramatic event succeeded in making me, as well as several others fans, bursted into tears, and I had goosebumps when they opened the gate. By sitting at the front row, you are guaranteed to experience much more dramatic effect.
  3. Don’t forget to bring your own snack! WB Studio has cafetaria which sells sandwich, hotdog, etc, but since I am the kind of people who can’t hold their hunger, I brought some cookies and biscuits to munch while we waited in the queue. Oh and one more thing: the cafetaria sells Butterbeer! You can buy it either in a £7 souvenir mug or in usual £3 plastic glass. Should you choose to buy the souvenir glass, then don’t forget to also prepare a plastic bag so the butterbeer leftover won’t stain your bag.
  1. Take enough rest while you are in the cafetaria, because after it, there are still Diagon Alley and CGI areas that describe in detail about the making of Harry Potter the movie.
  2. Discipline on your budget! This is serious, as the souvenirs in the shop are quite expensive. Hogwarts’ jacket is sold for £80, the mantel is for £60, wands are for £25 each, and one fridge magnets costs you £9. So, keep calm and keep shopping wisely.

That’s a few tips from me. You are more than welcome to add more by leaving your comments below.

Note: The number of tips resembles to the number of horcruxes, but that was purely coincidental.

4 Transportasi Utama Selama di United Kingdom

Selama 11 hari berada di UK, kami menghabiskan 5 hari untuk mengeksplorasi London. Sistem transportasi di Inggris sudah sangat terstruktur. Untuk keluar kota London, kita dapat menggunakan GWR (Great Western Railway). Sedangkan jika ingin jalan-jalan didalam kota London bisa menggunakan tube ataupun bus kota yang terkenal dengan double decker-nya. Untuk itu, kita harus membiasakan diri membaca jalur tube dan jalur bis kota biar ga sampe nyasar 😂.

1. Tube dan Bus Kota

Jika anda berencana menggunakan kedua transportasi umum ini di London, maka saya sarankan untuk membeli Oyster Card. Sistemnya seperti Dubai Metro, jadi tiap orang harus memegang 1 kartu karena menggunakan sistem check in/check out. Biaya deposit setiap kartu sebesar £5. Untuk menentukan besaran top up yang anda perlukan tinggal hitung £6 dikalikan berapa hari anda tinggal di London. Jadi jika dalam satu hari kita sudah membayar akumulasi tiket tube/bus sebesar £6, maka dijalur selanjutnya saldo kita tidak akan di-debet lagi. Klo ga salah sekali jalan naik tube tiketnya sebesar £1-2,5.

2. Black Cab

Sebenarnya saya udah diingetin teman yang tinggal di London bahwa taksi di London mahalnya naudzubillah hahaha. Tapi liat bentuknya yang unyu-unyu, saya dan suami tertarik untuk nyobain. Nah 3 hari terakhir kami menginap di Sunborn Yacht Hotel yang terletak di London Timur, dimana hotel tersebut berjarak 60 menit dari hotel kami sebelumnya. Total biaya yang dikeluarkan £70.

3. Uber Taxi

Sebelum sampai UK, saya terlebih dahulu download aplikasi Uber mengingat lokasi Sunborn Yacht Hotel dengan Heathrow Airport yang lumayan jauh. Kalau naik Black Cab bakalan mahal donk yah, jadi sebagai alternatif kita menggunakan Uber Taxi. Untuk jarak tempuh 1,5 jam biayanya £152. Experience is really the best teacher and she sends a super terrific bills 😂. Buat yang penasaran kenapa saya dan suami bela-belain nginep ke hotel yang lokasinya jauh dari peradaban, nanti baca disini yah.

4. GWR (Great Western Railway).

Ini adalah kereta cepat antar kota, kami memutuskan untuk mengeksplorasi kota Bath yang terletak di Sommerset. Harga tiket London-Bath Spa-London sebesar £110 untuk berdua.

Melihat itinerari kami yang ingin ke Sommerset untuk masuk ke Roman Bath, ke Harry Potter Studio dan pindah hotel ke ExCel, menyewa dan menyetir mobil sendiri jatuhnya memang akan lebih irit jika dibandingkan dengan naik kereta api.

Namun kami memilih untuk menggunakan transportasi umum karena waktu kunjung yang terbatas. London adalah salah satu kota tersibuk didunia, udahlah cuma 5 hari masa mau diabisin dengan bermacet-macet ria didalam mobil? Selain itu, kami ingin merasakan suasana dan gaya hidup masyarakat di negara ini. We want to live like a local in London. Melalui cara ini kami dapat berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat setempat. Dengan cara ini kami berhasil membuktikan bahwa apa yang tersebar di facebook tidaklah benar adanya. Sepengalaman saya, mereka tidak rasis dan cukup ramah. Bahkan saat kami bingung membaca jalur tube, beberapa dari mereka tidak segan menawarkan bantuan untuk mencari kereta yang tepat.

It is better to see something once, than to hear it a thousand times.

 

4 Main Modes of Transportations While in United Kingdom

For eleven days in UK, we spent five days exploring London. England’s transportation system was highly structured. For inter-city travel we can use trains, while within the city there are tube and buses at our disposal. So, unless you want to get lost in London, it’s good to know your route.

1. Tube and Buses

If you plan to use these modes of transportation, you need to buy an Oyster Card. The system works similarly to Dubai’s Nol card, where each passenger needs to have one card, and you check in while entering the tube station and check out upon leaving it. For buses, you only check in when you board the bus, and no check out is necessary. Deposit fee for each new card is £5. Oyster has caping scheme where you only have to pay at maximum £6 in your daily commute after which you can ride for free for the rest of that day. That makes it easier for us to calculate our daily budget for Oyster: simply multiple £6 by the number of days you will be staying in London. I noticed that it took me around £1-2.5 each time I checked-in and check-out of the tube system.

2. Black cabs

I have been warned by my friend who lives in Britain that London taxi is quite expensive, but we couldn’t keep ourselves away from having it a ride, so we hailed a black cab when we moved from Hilton Olympia at the west side of London to Sunborn Yacht Hotel at the east side. The ride took about one hour and cost us £70.

3. Uber Taxi

Before we reached UK, I downloaded Uber application, and we hired one Uber taxi for our ride from Sunborn Yacht Hotel back to Heathrow airport, that took 1.5 hours and cost £152. Experience is a good teacher and she sent us a super terrific bills. For those who are interested on why we stayed at the hotel that is quite far from the city center, please read on this link later.

4. Train.

We chose to use GWR (Great Western Railway) train when we went for a day trip to Bath from London. The return tickets between London and Bath Spa stations are £110 for two person. Besides GWR, there are several other train companies serving various destinations.

In the aftermath, reviewing our itinerary of London(west to east and back to Heathrow at the west side), Bath, and Harry Potter Studio, it actually might be cheaper if we rented a car and drove it ourselves. You can google it yourself if you don’t believe me.

Yet, we chose those public transportation modes because of our limited visiting time. London is one of the busiest city in the world, and we don’t want spending most of our five days sitting on a car in the middle of the traffic. Moreover, we also wanted to feel how the Londoners commute. By riding the public transports, we could have more interaction with the people, and that way we proved that what are widespread in social media are not completely true, to say the least. As far as my experience went, Londoners are not racist and many of them are friendly. Some even took the time and effort in helping us finding the correct tube route.

It’s better to see something once than to hear (or read) it a thousand times.