Category: Potpouri

5 Must Have Applications for me! 

Recently, one of the bloggers groups I have joined with gave a challenge to write an article about five must-have applications in your smartphone. It’s kinda unique challenge and made me a bit confused to choose ?.

After a long discussion with my inner self, i finally made up my mind, and here are the list:

  1. Whatsapp, almost all of my friend have it. From informal chit-chat to business matters, I can do it here. Eventhough lately whatsapp often has slow response, I still use it. As a backup plan, i already download telegram. It’s like whatsapp, but it’s running faster and have simple design as well. For now, atleast.
  2. Instagram, as i love to capture pictures, Instagram  helps me to “freeze” moments and collect memories. Most importantly, nowadays so many celebrities are using this application. It feels so much fun when you walk from one account to another, just for looking for what’s the new trend in fashion/cook/life style or whatever you like.
  3. WordPress, since i decided to be a blogger and promised to keep writing at least one article per week, this application became a must have item for me. This application really facilitates me,  so i can just focus on making the article. With this app on my mobile, I don’t need any laptop or pc anymore. Just write while I can and post it!
  4. Watermark Pro, i always try to do my best in everything, so does in photography. So this is my effort to prevent any piracy. Eventhough some people said it is useless because photoshop can 100% remove your watermark. I just love to do it. Yeah, at least i’ve tried.
  5. Facebook, having a baby means you can’t hang out with your friends as often as before. You will have a “little-tail” who always follows your step. But thanks to Mark for creating this social application, I can still keep in touch with my friends and family, whenever i want, wherever I am!

There you have it, five must-have apps for my phone (4/5 are social media application ???). Anyway, with or without them, don’t let your smartphone separates you from the real world, as The World is the most important application 🙂

How about yours?

Korean Drama Industry: Cultural and Economic Impact

In my community there are some people who underestimate the quality of Korean Drama. I don’t know exactly why, because most of them don’t even watch any single Korean Drama until finish. Too early too judge, perhaps?

I think there are many aspects that determine the movie quality. The producer, cast, director, wardrobe, setting and, the most important, the story itself. In fact, finding a good movie in Korean Drama is as easy as finding one in Hollywood movies.

In this article, I want to invite you to pay attention to Korean Drama industry that overwhelmingly powerful and remarkably popular. The popular definiton isn’t only about the number of their fanatic fans, but more to their success in introducing korean culture to the world.


For example, I learned a lot about traditional wedding preparation in Korea by watching 20 episodes of “Can We Get Married?” and 16 episodes of “Love and Marriage” drama
Let me explain in a bit what I got ?

Marriage, as the most important stage of someone’s life, needs a significant amount of time for the preparation. So, from episode to episode, the drama is all about how the groom and bride working harder to manage their emotion when preparing the wedding.

Korean traditional wedding

Since their wedding were decided by the groom and bride’s elders, problems start to appear when the bride’s elders give the list of dowry that must be provide by the groom. In return, the bride also needs to give something to the groom’s elders as a manner to say thank you.

Another conflict is about the background check (education, social, and economic status, etc) that is usual thing to do before the actual wedding is organized. The side who is found to have slacks should make a commitment to close the gaps.

Actually, the main story is familiar and so common to happen in other countries. But Korea is one step ahead for their creativity in packaging a simple idea into something out of the box.

Its wonderful when you see they still proudly wear hanbok (korean traditional dress) for the ceremony. It’s also amazing how you feel hungry and craving when the actors start to eat ssambap, bulgoggibibimbap, kimchi like I do . Even many moslems wanna try the taste of soju after watching the stars savor it ?.

The writer try to cook ssambap

See? 

Something that you think is small turns to be a huge factor that brings economical profit to korean national income.

If you don’t believe me, you guys can check how many people visit Korea because they watch it’s beauty through the Korean Dramas because I wanna go there someday ?.

Bandara. 

All human life can be found in an airport. Berbagai emosi saling tumpang-tindih diantara ribuan orang yang memadati setiap ruang yang ada di bandara. Ada yang sudah bahagia, ada pula yang masih dalam perjalanan menuju bahagia.

Mataku tanpa sengaja berpapasan dengan seorang perempuan. Wajahnya sesegar bunga dalam genggaman, garis bibir yang tanpa sadar terus merekah, binar bahagia tampak jelas pada sudut matanya. Memandang dengan lekat setiap orang yang melintas di pintu kedatangan. Jangan sampai terlewat barang sekedip saja. Menunggu kekasihnya, mungkin.

Kusapukan mataku kearah lain. Sesosok pria berdiri termangu melihat papan pengumuman. Menghela nafas cukup dalam, berlomba dengan sang waktu, sebelum kekesalan memenuhi rongga dadanya. Tampak sigap jemarinya menari di atas keyboard ponselnya. Mengirimkan kabar mengenai pesawatnya yang akan datang terlambat, mungkin.

Ada pula wajah-wajah penuh pengharapan yang tekun mengular dalam antrian imigrasi, tampak sibuk membayangkan tumpukan riyal dalam genggaman. Teringat bahwa dibelakang sana ada keluarga yang menunggu kiriman uang darinya, mungkin.

Dalam hitungan detik, perhatianku teralihkan pada rombongan pramugari yang menarik kopernya. Tampak anggun berbalut seragam yang khas, tidak lupa senyum ramah yang menawan. Kulirik jam-ku, tepat pukul 00:00. Dedikasi pada sebuah profesi, mungkin.


Saat ini, didepanku ada pria yang terus memandangi langit-langit boarding room. Pikirannya berkelana, entah kemana. Kepada orang tuanya, anaknya atau…entahlah.

Bandara. Selalu ada yang tertinggal dalam setiap perjalanan.
*photo source: www.thousandwonders.net

Mereka bilang saya GENDUT! 

Semalam teman saya mengunggah foto lamanya di salah satu grup whatsapp yang saya ikuti. Beragam komentar yang mengarah pada satu kesimpulan-pun bermunculan. Saat ini ia tampak berbeda dan lebih cantik.

Tidak seperti biasanya, saya merasa enggan untuk menanggapi. Saya meragukan validitas komentar “tambah cantik”, “cantikan sekarang” dan lain sebagainya itu karena saya merasa indikator yang saat itu digunakan untuk memuji adalah berat badan.

Yup! Teman saya berhasil menurunkan berat badannya hingga puluhan kilogram dengan usaha dan disiplin yang tinggi. I do really salute her effort.

Tapi woiiii cantik ejaannya bukan K-U-R-U-S woiiiii!

Bagaimanapun saya harus jujur terhadap diri sendiri, badan yang super melebar setelah melahirkan membuat saya menjadi lebih sensitif jika ada obrolan yang mengarah kepada bentuk fisik.

Apalagi lebaran baru saja lewat, masih basah luka di hati atas komentar tidak bertanggung jawab yang mempertanyakan bentuk fisik. Baik dengan nada khawatir, maupun berbalut canda. Keduanya sama-sama bikin nyesek brohhh!

Bukan tidak paham jika dibalik mulut-mulut itu tersimpan kepedulian tentang kondisi kesehatan kami. Tapi, dijaman yang serba modern dengan kemudahan akses informasi yang begitu tinggi, saya tidak yakin masih ada orang yang tidak mengetahui bahaya obesitas. Dan lagi, we don’t know who is healthy and who is not just by looking at their body size ?.

Kadang saya berpikir, apa perlu orang-orang berukuran plus size ini membawa press release mengenai apa saja yang telah dan sedang ia lakukan untuk mencapai bobot ideal?

Tapi jujur deh! Pertanyaan mulut-mulut itu membuat saya memperhatikan hidup mereka yang sepertinya tidak cukup bahagia. Sehingga mulut-mulut itu merasa perlu untuk menyebarkan virus tidak bahagia kemana-mana.


Bikin ngakak melihat bagaimana mulut-mulut itu merasa bahagia dengan hidupnya hanya karena ia berukuran ideal sesuai stigma masyarakat.

Bahagia itu dihati, bukan dimulut apalagi di facebook! ?

*ditulis oleh perempuan yang sempat baper abis dibilang gendut ama m****a, kolega plus teman2 di Indonesia

3 Alasan Mengapa Orang yang Tinggal di Luar Negeri itu KEREN!

Tolong banget sebelum baca dibedain dulu, antara liburan di luar negeri dengan tinggal di luar negeri. Karena keduanya jelas dan sangat jauh berbeda.

Intinya, buat siapapun yang pernah ataupun sedang tinggal di luar negeri kita tercinta, Indonesia!

You are rocksss guys! 

Gimana engga?

1. Kreatif

Jadi ceritanya mau bikin ayam goreng nih, baru nyadar kalau ternyata minyak goreng lagi abis. Lupakan deh ketok-ketok tetangga sebelah buat minta minyak. Apalagi Indomaret didepan kompleks.

Indomaret? Apaan tuh?!

Buat beli minyak goreng aja, elo kudu nunggu suami pulang kerja terus nitip beliin di supermarket. Eh! Ini buat gw yang ga kunjung ngurus sim denk! Buat yang lebih mandiri dari gw sih, biasanya bakal ngeluarin mobil lalu menuju supermarket terdekat buat beli minyak.

Tapi 100% yakin deh, ibu-ibu yang tinggal di luar negeri ini lebih banyak yang memilih untuk menjadi kreatif dibandingkan mandiri. Kami-kami ini, biasanya langsung puter otak! Yaudah deh dikecap aja atau di bakar aja ayamnya.

2. Multitasking

Saat kebanyakan ibu-ibu di Indonesia sempat banget buat nonton infotainment di jam 10 pagi. Yah kan ketauan kerjaan gw di Indo begitu, makanya apal banget jam tayangnya wkwkwk! Ketularan nyokap nih *lempar remote sembunyi tangan*, atau lagi sibuk lunchie ama besties di mall dekat office, yah ketauan lagi salah satu hobi lama saya.

Kita yang diluar negeri? beuhhh boro-boro!

Walaupun suami ga nyuruh dan ga minta. Pastinya kepikiran kalau main lenggang kangkung keluar rumah. Minimal bersihin rumah tipis-tipis dan nyiapin makan siang dulu deh!

Jadi dibalik foto yang gemerlap itu, sebenarnya ada ibu-ibu yang gedubrakan bersihin rumah, nyiapin bekalnya suami, makanan buat anak dan lain sebagainya.

Gimana yaaaa, saat sebagian besar teman-teman di Indonesia dibantu dengan ART atau minimal yahhh ada eyang yang bantu jagain anak kita, kita-kita yang disini berjuang bahu-membahu dengan suami tercinta untuk menyelesaikan kerjaan rumah yang kisahnya udah kaya sinetron #CintaFitri #CatatanHatiSeorangIstri. Nah lo! Lagi-lagi ketauan hobi jaman jahiliyahnya wahahaha. 

Secara yaaaaa, kalau ga tinggal diluar negeri, lo ga bakal tau kalau…yang namanya setrikaan itu…#jrengjreng #lebay
Never ending story!

Emang ada juga sih ibu-ibu disini yang pake ART, tapi ga lantas bikin mereka nganggur. Masi ada tugas anter-jemput anak, ngurus dokumen ini-itu, dan lain-lain sebagainya.
Kalau yang punya supir, yaudahlahya amal-ibadahnya pasti banyak banget makanya hidupnya dikasih lebih mudah ~kelar~

3. Sabar dan Disiplin

Men! Ini luar negeri men! Segala urusan ga ada yang bisa diselesaikan dengan mudah. Semua mengikuti standar, proses dan aturan yang berlaku. Apalagi kalau dinegara tersebut tidak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa utama.

Misalkan kaya kemarin waktu saya berkunjung ke museum, butuh waktu sekitar 5 menit buat nanya tempat parkir pengunjung ada di sebelah mana.
Jadi bisa dipastikan, orang yang tinggal di luar negeri sifatnya SABAR! Semoga aja sabar beneran, bukan disabar-sabarin wakkakakakak ~ngaca~



Kedengerannya simpel sih, tapi disini emang bukan seperti di tanah air yang bisa bebas parkir dimana aja asal ga ada polisi. Disini polisinya ga keliatan, cuma tau-tau ada sms cintanya aja. Mending disiplin, duitnya bisa buat jajan keleus.
Well, Kalau situ tinggal di Indonesia dan melakukan ketiga hal diatas ini juga, jangan khawatir!
Kamu juga keren kok!

Bahkan kalau elo ga melakukan hal tersebut,

Kamu tetep keren! 


Masih ada banyak hal lain yang bikin elo layak dibilang keren, karena saya yakin semua ibu itu terlahir KEREN! Maklum, kontraknya aja ama Allah cin!

Nah karena ada banyak hal, dan saya belom sempet nulis. Daripada nunggu tulisan gw, lo bikin blog sendiri deh. Sambil ngantri #j.co juga boleh ?
Eitttt! Yang baca tulisan saya dilarang #baper yah. Saya ga punya obatnya! Kalau #laper mah mangga mampir. Mau masak #satepadang nih!

Oiyah, makasih buat yang udah mampir blog sayahhh. Terakir saya cek, sehari visitornya bisa sampe 1000 lebih #senang

Dubito, ergo cogito, ergo sum

It’s common for people arriving at a new place to experience “culture shock”. Culture shock is an uncomfortable feeling caused by the disappearance of everyday symbols that people used to see in their daily life.

Many things may trigger this culture shock. In my case, it was my previous status and profession.

My status as a single lady made me used to take decision on every thing in my sole interest. There was no such typical topics as “where does your husband work at?”, “where are the children study at?”. Those questions that were thrown when you started to stay here. Back then I had to deal only with “What do you do for living?”, “What is your hobby?”, and “What do you do at weekend?” -kind of questions.

Yes, the universe spun around me, myself, and I

Also, my previous profession made me interacted with people from various backgrounds such as government officials, ambassadors, businessman, etc. Many times, I had to meet them not only once or twice, but multiple times with high intensity.

The conclusion I got from those interactions was: The sky never declared itself high. People knows the sky is high, effortlessly.

That’s why I was surprised when I met some people in haute couture a la socialites and judge others based on what they wore. Hilarious.

Actually, when we look for the definition of “socialite” in dictionary:

… A person (usually from a privileged background) who has a largely known reputation and a high social position in upper class society. A socialite spends a significant amount of time attending various fashionable social gatherings.

It makes me wonder, so if you have not boarded the airline in first class, have not driven Rolls Royce, have never brought kangkoong in Hermes ala @princessyahrini, and have no connection with any royal family, will the real socialites will only see you as social-climber, at best ?


Last but not least, in my personal opinion, not surprising if those sosialite-wannabes act more brightly than the real one, because they have to advertise themself in their effort to be recognized. The real socialtes, on the other hand, don’t have that urge, since they all already are shining.

#emangnyinyir #emangnyindir

*yang ga terima, nulis sendiri di blog masing-masing*

No Feast Last Forever

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mencintai tempat ini. Secara umum Abudhabi merupakan kota yang bersih, bebas macet, tertib dan teratur. Bayangkan saja, dengan mudahnya kita menemukan berbagai fasilitas umum, yang walaupun gratis, namun tetap terawat dan menarik untuk dikunjungi. Seperti public park, library, museum dan lain sebagainya. Gimana saya ga bahagia coba? ?.

Selain itu, kualitas hidup yang baik membuat kami jarang menemukan barang dengan grade rendah. Katakanlah daging, adanya daging yang berkualitas bagus atau bagus banget. Ga perlu khawatir ketemu daging glonggongan apalah-apalah itu.

Belum lagi secara sosiologis, 80% residen Abudhabi merupakan expatriates yang berasal dari berbagai penjuru dunia, sehingga tenggang rasa sudah menjadi makanan sehari-hari. Ga ada tuh yang ngeribetin karyawan pake topi sinterklas, ataupun hiasan pohon cemara di bulan Desember. Padahal ini negara Islam loh ?. Apa kabar Indonesia? Sedih deh kalau mulai bahas beginian ?.

Sedangkan secara psikologis , tinggal di Abudhabi memang menjauhkan kami dari keluarga besar di Indonesia. Namun kondisi demikian membuat kami lebih menghargai pertemanan dan persaudaraan. Punya teman di perantauan tuh beneran kaya nemu emas deh. Eitsss,,teman yang menyehatkan jiwa yahhh, soalnya kalau buat haha-hihi doank, ama kuntilanak juga bisa kali yak ?. 

Friends are the family we choose for ourselves

Tapi entah harus sedih atau senang, di tempat inilah kami harus belajar let go of everything you fear to lose. Mau ataupun tidak mau.

Di Abudhabi, tidak ada yang pasti. Segala hal bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Jabatan tinggi bukan jaminan kita tidak akan di-rumah-kan. Senyaman apapun rumah atau apartemen yang menjadi tempat bernaung, tetaplah bukan milik kita. Sebaik-baiknya teman, bukan berarti tak ada perpisahan. We are moving so fast, too fast. 

Semoga saya, anda, kita, tidak menjadi terlena dengan “pesta” yang sementara ini. Because, no feast last forever. 

Mengutip kata-kata teman saya,

Every moment in our life is not forever…someday, this road and its surroundings surely will be missed. So I take the opportunity to cherish every bit of my moment living here.

I love Abudhabi ❤️

Yes, we all love Abudhabi. Let’s make the best of it ?

Edisi (hampir) ketinggalan pesawat! 

Akhirnya orang tua saya harus pulang ke Surabaya lebih awal.

Sebenarnya ortu saya dijadwalkan pulang tanggal 27 Februari 2016 menggunakan Emirates. Rasanya ga rela harus berpisah secepat ini, tapi melihat hasil cek lab dari rumah sakit Al Noor, kondisi fisik papa yang unpredictable (dari yg sehat, segar-bugar trus tau2 lemes) dan dari beliaunya sendiri pun minta pulang. Maka kami memutuskan untuk memajukan jadwal kepulangan.

Dua hari lalu akhirnya kami memesan tiket di Etihad, dengan pertimbangan bandara Abu dhabi lebih dekat dengan rumah. Malam sebelum pulang, kami masih sempat mampir Najd Palace untuk makan nasi mandi kesukaan papa.

Sekitar jam 1:20 kami berangkat dari rumah, sesampainya di bandara ternyata yang bisa menemani passengers hingga immigration and check in counter hanya 1 orang. Tapi saya minta kepada petugas agar #babydei yang sedang digendong mama boleh dibawa masuk. Alhamdulillah beliau mengijinkan. Sayapun menunggu diluar. Entah kenapa ada perasaan yang mendorong saya untuk ikut masuk ke dalam. Seumur-umur saya tuh takut banget melanggar aturan dll. Tapi kali ini saya merasa saya harus masuk. Saya merogoh saku dan saya menemukan kunci (yang saya gunakan sebagai alasan) untuk masuk. Sayapun minta ijin lagi pada petugasnya untuk mengantarkan kunci, sepertinya si petugas paham kalau itu cuma upaya saya agar diperbolehkan masuk mengantar. Tapi Alhamdulillah ya dikasih ijin.
Sesampainya di counter check in, ternyata pesawat sudah boarding dan ortu sudah ga bisa masuk ke pesawat terlebih dengan kondisi papa yang harus pake wheel chair dan 3 koper bawaan yang segede gambreng.

Udah perasaan rasanya ga karuan, ya allah kok ya ada aja. Ekspresi muka papa mama udah yang gelo kepikiran takut ngerepotin anaknya. Karena klo sampe ga terbang ama flight yg ini, apa kabar dengan tiket pesawat dr jakarta ke surabaya-nya. Belom lagi papa harus menunggu sekian jam di bandara. Ga kebayang cape+ruwetnya. Padahal Senin depan papa sudah harus ke Malang untuk di rawat.

Tapi mmg tugasnya manusia itu harus mengimani Allah, apapun rencananya. Bitter-sweet, completely.

Udah deh muka saya pucat, suara bergetar ga karuan, minta tolong mas-nya ngasih kebijakan. Mas-nya juga udah nanya ke manajernya, but the only solution ya itu. Beli tiket lagi. Saya minta untuk ketemu manajernya. Akhirnya manajernya mengusahakan tapi ya ga janji juga. Sempat ada opsi passengernya doank yang masuk, koper ditinggal. Udah mulut kami ga putus komat-kamit doa ga karuan.

Mana engineernya ditelpon bolak-balik ga diangkat. Ngelirik jam udah 2:15. Padahal pesawat take off jam 2:50.

Alhamdulillah ga lama kemudian, si bapak manajer berhasil mendapatkan ijin dari engineernya untuk memasukkan papa dan mama plus kopernya asal didampingi dengan staff bandara. Makin saya nangis mewek ga karuan. Udah diliatin orang bodo amat. Bayangin aja ibu-ibu sambil gendong bayi.

Akhirnya papa-mama masuk ke counter imigrasi dan pesawat dengan didampingi dua orang. Udah nangis antara sedih harus berpisah, bersyukur, campur aduk ga karuan. Sampe ditanyain sama orang2 imigrasi, kenapa nangis2 ?.

Maka nikmat Allah mana lagi yang mau saya dustakan?

Oiya, apa kabar suami saya? Ada. Saya yakin yang kelintas di kepalanya suami pasti “yaudah beli tiket lagi aja”. Berbekal keyakinan atas sikapnya suami, saya jadi lebih tenang untuk meminta kebijakan. Usaha dulu.

Melihat tipikal negara Arab, memang disini lebih enak kalau perempuan yang maju untuk meminta kebijakan, karena prinsip Islam untuk memuliakan perempuan tuh beneran berkali-kali saya rasakan dan dapatkan. Ga berhenti rasanya nangis bersyukur. Mungkin lebay, mungkin alay tapi saya butuh nulis untuk menurunkan adrenalin ?. Semoga bermanfaat yah.

Sebelom balik dari bandara, masih sempet fotoin keripik usus mbok ndewor, dagangan temen yang udah sampe di Abudhabi, yang enak banget dan ga pake msg. Silahkan kakak yang mau order ke fb-nya mbak “Azna El Hayat” 

When we’re talking about PASSION

Sebenarnya blog ini lahir sebagai bagian dari program Life Coaching yang saya ikuti (lebih lanjut cek di sini), tujuannya jelas: untuk mengembangkan diri. Karena saya ga mau jadi ibu rumah tangga biasa, saya maunya jadi irt plus-plus. Bo’ plis deh, naik haji aja ada yang plus-plus ya kaaaan?!
Program ini diawali dengan menggali hal apa saja yang saya sukai. Mulai dari terima pesenan makanan #ciyehhh, freelance writer, blogging, sampe jualan online ?

Ternyata what I love the most is nulis. Nulis apa aja yang terlintas dikepala. Dan sebenernya, everything is going well sampe suatu hari coach saya bilang “Coba connect-in lah itu blog ke fesbuk!”. Alhamdulillah sejak mendapat arahan seperti itu saya malah berhenti nulis ?. Padahal banyak banget yang mau ditulis. Entah mengapa?!

Manusia bisa menipu orang lain, tapi mana bisa menipu diri sendiri?

Bohong denk,,benernya saya tau kenapa saya ga mau. Karena Malu dan Takut alias GA PEDE. Gimana engga? Disaat orang lain berlomba menuliskan blog yang informatif, saya malah ngoceh ngalor-ngidul, menuliskan hal-hal random yang muter-muter di kepala.
Secaraaaaa, sapa elu? Seberapa penting sih pemikiran saya sampai harus terdokumentasikan. That’s the point! 
Nah diumur saya yang udah 26 tahun ini, apa yang udah saya capai? Kawin, punya anak dan apal 15 surat pendek #pamer #riya

Cukupkah? Ya enggak lahhhh ?

I want more. It’s too early buat leyeh-leyeh manja, ga ngapa-ngapain.

I will be nobody, if that’s what I believe

Pikiran seketika melayang donk ke temen saya yang udah sukses dengan toko online instagram-nya @momzoebc @maooprewalker @aimaccha #anakgaulinstagram

Saya inget banget waktu jaman kuliah, sempet nanya ke yang bersangkutan. Setelah lulus kuliah ntar, rencananya apa? Kerja, kuliah lagi atau apaan? Dia mantab banget menjawab “buka usaha”. Padahal pas itu usianya baru 20 taon #garuk2tanah


Apalagi ketika pindah di Abudhabi, saya banyak menjumpai perempuan super yang walaupun usianya udah ga 20an tapi semangat berkaryanya masih luar biasa.

Misalnya, Bunda Esther yang disela kesibukan mendampingi anaknya menyelesaikan kuliah S2 di Texas masih sempat merilis buku kumpulan resep masakan, masih sempat juga buka kantin yang masakannya terkenal enak.

Ada lagi yang namanya Mba Ventin, tangannya sakti tuh! Bisa menumbuhkan tomat dan sayur-sayuran di padang pasir lewat teknologi hidroponik. Ada lagi yang namanya Mba Adhelia alias Dhea yang jago bikin cup cake dan buka kelas make up. Gila kaaaan?! Sejaoh ini dari tanah air tapi masih bisa berprestasi ?

For sure, it’s not about money. But Passion

*sementara saya bisanya nulis, jadinya nulis2 dulu aja deh.

I have no special talents, I just passionately curious-Albert Einstein-

 

#bukannyindir #cumanyinyir #amadirisendiri

お誕生日おめでとうございます

Mama mungkin bukan satu-satunya orang yang kucintai. Tapi aku yakin satu-satunya manusia yang paling mencintaiku adalah Mama. Hari ini tepat 53 tahun usiamu, belum ada yang bisa kuberikan untuk menunjukkan baktiku. Ingin sekali aku berada disebelahmu, mengucapkan selamat ulang tahu, memeluk erat, dan mencium tanganmu.

Oiya ma, kandunganku berusia 9 minggu sekarang. Alhamdulillah aku jarang mual ma, ga susah makan juga. Tapi bahkan pinggangku mulai terasa sakit ketika terlalu lama berdiri atau duduk di lantai. Gimana dulu 8 bulan aku diperut mama? Pasti bikin sakit mama ya?

Semua pikiran-pikiran itu bikin aku nangis ma. Coba mama perhitungan, berapa ya ma total hutangku sama mama? Bahkan seumur hidup, aku ga bakal bisa membayarnya.

Ibadahku belum sempurna ma, aku belum bisa jadi bekal pembuka kunci surga untukmu ma. Maafin aku ya ma, tapi aku janji, aku bakal terus berusaha. Kaya kata mama, pada akhirnya semua buat diriku sendiri.

お誕生日おめでとうございます

Selamat ulang tahun ya ma. Aku sayang mama, sehat-sehat terus ya ma. Walaupun aku jauh disini, Allah pasti selalu menjaga mama.