Category: Potpouri

3 Tantangan Ketika Memutuskan Menggunakan Hijab!

Jika dirunut kebelakang, sudah hampir dua tahun saya menggunakan hijab. Hal ini cukup mengagetkan banyak orang, lah jangankan orang lain, saya aja kaget 😂. Baiklah, melalui tulisan ini saya akan sedikit bercerita hal-hal apa saya yang membuat saya memutuskan menggunakan hijab.

Jadi, bagaimana awalnya saya memutuskan menggunakan hijab?

Saya bukan tidak tau bahwa setiap umat muslim yang sudah baligh diwajibkan untuk menutup aurat, tapi hanya Allah yang memiliki kuasa untuk membolak-balikkan hati, maka nasehat dari siapapun ya tetap saja tidak akan ada yang masuk ke kepala 🙄.

Saran saya, jika keluarga atau teman Anda berasa di fase ini, baiknya jangan malah di beri label kafir, liberal, bebal, keras hati dan berbagai stempel lainnya. Perlakuan seperti itu bukannya akan membuat mereka tersadar, namun malah akan menjadi-jadi seperti yang saya lakukan.

Iyah, karena sebel dikata-katain kafir jadi sekalian saya tantangin tuh yang doyan ceramah dengan menggunakan hot pants kemana-mana.

Percayalah, akan lebih baik jika Anda mendoakannya ❤️.

Long story short, entah doa siapa yang pada akhirnya dikabulkan Allah.

Di suatu sore di bulan Maret, suami mengajak jalan-jalan ke Yas Mall. Saya menggunakan celana jeans pendek sebagaimana biasa. Untuk pertama kalinya saya merasa malu menggunakan celana pendek. Malam itu juga saya membahas perasaan malu tersebut kepada suami, saya juga minta ijin untuk menggunakan hijab. Alhamdulillah suami mendukung keputusan tersebut.

Apa lagi yang melatar-belakangi keputusan tersebut?

Hmm,,apa yah? Bisa dibilang 2 tahun lalu adalah masa-masa terberat dalam hidup saya. Papa saya mengidap Leukimia akut dan divonis hidupnya tinggal 18 bulan. Saya yang selama ini tidak pernah sekalipun jauh dari orang tua, tiba-tiba berada ditengah gurun dan tidak bisa hadir untuk menemani dan merawat papa yang sedang sakit.

Itu adalah titik terendah dalam hidup saya and nobody knew how sorry I am.

Selain berdoa, rasanya tidak ada lagi yang bisa saya perbuat. Saya menyesali diri karena belum banyak yang saya lakukan untuk membahagiakan papa. Belum lagi dari sisi spiritual, yang paling mendasar untuk menutup aurat saja tidak saya lakukan. Apakah lantas ada jaminan bahwa amal ibadah yang lain akan diterima?

Disitu saya menangis sejadi-jadinya. Saya tidak mau mengulangi hal yang sama terhadap suami. Bukankah sesudah menikah, segala tanggung jawab papa akan berpindah ke tangan suami? Jadi sederhananya, menggunakan hijab adalah bentuk cinta saya kepada suami, karena Allah.

Baca juga: Apa Benar Wanita Butuh Kepastian?

Apakah lantas hidup saya baik-baik saja?

Ini adalah salah satu keputusan besar dalam hidup saya, tidak mungkin tidak membawa pengaruh apapun. Ada banyak sekali tantangan yang harus saya hadapi selama menggunakan hijab. Bisa dibilang tantangan tersebut justru datang dari dalam diri saya.

  1. Merasa Sombong

    Seringkali karena merasa sudah menutup aurat, maka saya akan memandang sebelah-mata seorang muslim yang masih menggunakan tanktop, hot pants, bikini, dll. Ada yang sempat seperti itu? Saya sih ga munafik dan ga mau bohong. Memang saya pernah dihinggapi penyakit ujub, sombong dan merasa lebih solehah dibanding yang lain. Untungnya Allah masih memberi saya kewarasan untuk tidak terus-terusan menjadi pribadi yang seperti itu. Ya kali sapa elo? Baru pake hijab aja udah sok solehah 😂. Apalagi saya pernah berada di posisi mereka, dihakimi itu tidak enak.

  2. Lebih Sensitif

    Jadi suatu hari, saya pernah bergabung dengan mommies community gitu deh, terus intinya tidak mendapat sambutan yang hangat. Saat melihat anggotanya memang rata-rata bukan muslim dan tidak menggunakan hijab. Saya yang seorang muslim dan menggunakan hijab mendadak dihinggapi perasaan inferior dan tersisih.

    Namun kabar baiknya, Allah mempertemukan dengan komunitas mom blogger yang memang sejalan dengan hobi dan passion saya. Bahkan dari komunitas ini, saya berhasil mewujudkan cita-cita untuk tetap gajian walaupun bekerja dari rumah. Rencana Allah selalu lebih indah, ya?

  3. Mengurangi Eksistensi

    Ini adalah tantangan terberat untuk saya. Bahkan mungkin akan menjadi bahasan paling panjang 😂. Bayangkan saja, beberapa bulan setelah menggunakan hijab, gaya rambut ombre mendadak hits di seantero negeri. Serius! Saya sempat menyesal menggunakan hijab. Tau gitu di-pending dulu #eh.

    Belum lagi saat menemukan baju yang kece tapi ternyata panjangnya cuma selengan. Ampun, perkara baju doank bisa membuat nyesek loh ternyata. Apalagi saat travelling ke Bali, bawaannya pengen buka hijab. Sebenarnya, saya bisa aja sih tetap mengecat rambut dengan warna ombre, ataupun membeli baju berlengan pendek untuk dikenakan dirumah. Tapi jujur, sungguh tidak mudah membelenggu keinginan untuk eksis alias pamer rambut di instagram.

Siapa yang bilang hijrah itu gampang? Kata mamak, surga itu mahal-panci yang murah. Anyway, pada akhirnya saya cuma bisa berharap bahwa pengorbanan saya untuk tidak mengikuti fashion update tadi menjadi tambahan amalan saya di akherat nanti.

Berbicara seperti ini, bukan berarti cara berpakaian saya sudah sempurna. Saya masih lebih sering menggunakan celana jeans model pensil dibanding rok atau gamis, sekali lagi karena hati saya belum tergerak. Saya tau, sebenarnya hal ini sifatnya personal, dan tidak dapat dihindari jika kemudian akan ada pihak yang memberikan judgement seenak udel-nya. Tapi saya yakin, pembaca jaman sekarang adalah pembaca yang cerdas, sehingga dibanding yang julid akan jauh lebih banyak yang bisa mengambil pelajaran dari tulisan saya diatas.

Baca juga tulisan Mbak Tikha tentang My Hijab Story: Sebuah Janji Di Masa Kecil. Yuk berbagi pengalaman tentang hijab pertamamu di kolom komentar, supaya kita dapat saling memberi semangat agar tetap istiqamah. 

 

 

Kenangan Masa Kecil Saat Lebaran Tiba

Lebaran tahun ini saya dan suami memutuskan untuk tidak mudik karena Januari lalu saya sudah pulang. Tahun ini tentu saja terasa berbeda dengan lebaran sebelumnya, tahun lalu kami mudik sebulan dan berkeliling dari rumah saudara satu ke saudara yang lain. Walaupun tetap saja ada yang terlewatkan, tapi alhamdulillah keluarga besar saya mengerti dan insyaa Allah memaafkan segala khilaf yang saya perbuat. Selain itu, kehadiran papa masih melengkapi lebaran tahun kemarin, walaupun seminggu kemudian papa opname di rumah sakit hingga berbulan-bulan. Praktis tahun ini menjadi tahun pertama kami berlebaran tanpa kehadiran papa.

Diam-diam saya berpikir, sepertinya saya hanya mencari-cari alasan untuk tidak pulang. Saya tidak siap menerima kenyataan bahwa papa sudah tidak ada. Mungkin terdengar egois karena sebenarnya ada mama yang tentunya kangen anak dan cucunya ini. But, who are you to judge the life I live?

Banyak sekali kenangan masa kecil saat lebaran yang ingin saya tuliskan. Saat lebaran tiba, biasanya keluarga kami merayakannya di rumah budhe (eyang dari pihak mama tinggal dengan budhe), dan dirumah eyang dari pihak papa.


Mama, kakak dan saya biasanya pergi ke Jakarta dari awal ramadhan, dan nantinya papa akan menjemput saat liburan usai. Di Jakarta, kami menginap dirumah budhe yang memiliki 7 orang anak. Bisa dibayangkan betapa meriahnya menjalankan puasa ramadhan dirumah budhe😆. Solat jamaah, berebut takjil dan ikut mengaji cabe rawit bersama sepupu-sepupu saya. Memasuki lebaran, budhe akan mengajak kami berkeliling untuk bersilaturahmi dengan saudara lain yang tinggal di Jakarta.

Keesokan harinya, dengan bersemangat budhe akan mengajak kami berkeliling Jakarta. Mulai dari Monas, TMII, Dufan, Seaworld dan berbagai tempat wisata yang sedang hits di jamannya. Apalagi saya juga memiliki om yang tinggal di Jakarta, libur lebaran terasa sempurna. Pergi ke berbagai tempat bersama sepupu menjadi tradisi yang tidak pernah terlewatkan. Hingga suatu hari, budhe yang menjadi kesayangan semua orang dinyatakan terkena kanker dan harus pergi untuk selamanya. Hal yang tidak mudah saya terima. Saat menulis ini saya baru menyadari, selepas kepergian budhe, sekalipun saya belum pernah menginjakkkan kaki kerumah budhe. Sebagaimana kepergian papa, ternyata sampai saat ini saya belum bisa menerima kepergian budhe saya.

Satu-satunya budhe yang bisa saya ajak ngobrol tentang segala hal. Budhe yang walaupun suami sudah mencukupi tapi masih rajin mencari rezeki. Budhe yang rajin sholat dan gemar bersedekah. Budhe yang menjadi ibu kedua bagi mama saya. Budhe yang sangat peduli dengan orang lain dan seringkali lupa mempedulikan kesehatannya sendiri. No one like you!

Semua kebersamaan itu tidak akan terlupakan sekaligus membuat saya merasa terharu jika mengingatnya.

Lain cerita ketika saya menghabiskan waktu lebaran dirumah eyang dari pihak papa. Saat lebaran tiba, semua anak dan cucu akan berkumpul dirumah eyang. Setiap malam kami akan begadang dan main remi, 41, karambol bahkan karaoke ga jelas. Sehari sebelum lebaran, cucu perempuan biasanya membantu eyang memasak tumpeng/nasi berkat untuk dibawa ke masjid. Saat malam takbir bisa dipastikan rumah eyang kosong, karena kami semua menghabiskan waktu di masjid untuk takbiran dan makan nasi berkat bersama warga lainnya. Semua terasa menyenangkan hingga tanpa terasa waktu terus berlalu dan tradisi itu terhenti selepas kepergian eyang saya 😢.

Setiap keluarga selalu memiliki tradisinya sendiri. 

Begitupula dengan tradisi lebaran keluarga kecil saya saat ini. Saat lebaran tiba, biasanya kami solat di masjid dekat rumah kemudian berkumpul potluck ketupat lebaran dengan teman-teman yang juga tidak mudik. Tentu saja sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan apa yang biasa saya lakukan ketika kanak-kanak, tapi kami tetap merasakan kegembiraan dan kebersamaan saat lebaran. Dimanapun dan kapanpun, lebaran selalu menjadi momen yang spesial bagi kami. Semoga kita semua masih diberi rezeki untuk bertemu dengan lebaran tahun mendatang.

Ketika Saya Memutuskan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Per bulan Agustus 2017 nanti, terhitung sudah 3 tahun saya meninggalkan dunia kerja. Saya belum bisa move on dan mungkin tidak akan move on 😁.

Mengapa?

Banyak hal yang saya pelajari dari tempat tersebut. Saat itu, saya sangat beruntung karena memiliki manajer yang mempercayakan banyak hal kepada saya. Ia tidak segan untuk melibatkan saya dalam setiap aktivitasnya.

Tentu saja si ibu manager tidak seceroboh itu untuk mempercayakan berbagai hal begitu saja. Tidak ada sesuatu yang berjalan secara instan, bukan? Saya ingat betul yang beliau lakukan ketika awal memasuki dunia kerja, beliau mengajak saya untuk ikut duduk meeting bersama stakeholder. Selain benar-benar duduk, saya berinisiatif untuk menjadi juru tulis notulen rapat. Dari situ saya memperhatikan bagaimana mereka berbasa-basi, berdiskusi dan kemudian bernegosiasi. Bahkan saya mencatat dengan baik reaksi beliau jika ada poin-poin dalam proposal kami yang ditolak. Catatan tersebut bukan untuk kepo, bukan pula untuk bergosip. Catatan tersebut adalah ilmu yang mengajari saya bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, dalam konteks profesional kerja. Hasilnya, tidak sekalipun terbayang dalam benak saya akan melakukan meeting dan audiensi dengan teman-teman komunitas, walikota, direktur BUMN ataupun pejabat pemerintahan di usia saya yang baru 22 tahun.

Mungkin saat manajer saya membaca tulisan ini, beliau akan ingat apa yang saya sampaikan setiap waktu appraisal tiba. Saya tidak pernah sekalipun meminta kenaikan gaji, tidak pula meminta kenaikan grade. Saya hanya meminta untuk terlibat di project A, B, C, …, dst.

Hasilnya?

Setiap tahun, gaji saya naik antara 15%-30%. Untuk yang pernah jadi karyawan pasti tau seberapa besar angka tersebut karena standar kenaikan gaji perusahaan umumnya hanya 5-15%.

Satu hal yang pasti, hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Percayalah, tidak semua atasan/perusahaan memberikan kesempatan tersebut kepada karyawannya. Jadi, jika saat ini anda berada diposisi saya, jangan berhenti dan jangan berkeluh kesah. Itu adalah kesempatan belajar yang sangat mahal yang belum tentu bisa anda dapatkan ditempat lain.

Memutuskan keluar kerja dan menjadi ibu rumah tangga merupakan keputusan terbesar dalam hidup saya yang baru 27 tahun ini. Saya meninggalkan office life diusia produktif yang bisa dibilang sedang “seru-serunya”. Saya yakin, bukan hanya saya yang mengalami dilema ini, banyak perempuan-perempuan hebat lain yang mengikhlaskan karirnya untuk keluarga namun tetap sukses memberdayakan diri, entah dengan berbisnis makanan/pakaian/kosmetik/travel dll atau sukses mengantarkan anaknya menjadi insan yang soleh/solehah. Bedanya mereka diam dan tidak koar-koar seperti saya hahahaha. Kembali lagi, menulis merupakan me time, menulis adalah waktu terbaik untuk berkontemplasi dan berdialog dengan dalam diri.

Menjadi Ibu Rumah Tangga?

Saat ini, praktis bisa dibilang saya tidak bekerja. Orang tidak melihat saya mengenakan seragam dan berangkat kekantor setiap paginya. Sehari-hari yang saya lakukan adalah menggeser layar handphone atau laptop kekiri, kekanan, keatas dan kebawah. Tapi syukur alhamdulillah, Allah tetap memberi saya kesempatan untuk memberdayakan diri. Setiap harinya saya masih bekerja. Setiap pagi, saya mengecek email, menghubungi kontak PR/brand, mengkonsep ide, mengirimkan proposal, bernegosiasi dan lain sebagainya. Bukan karena saya mengejar uang, sesederhana karena memang saya senang melakukan hal tersebut. Do your passion and money will follow, that’s what I do right now.

Saya hanya tidak mau semua yang saya kumpulkan sekian tahun menguap karena pilihan saya untuk menjadi ibu rumah tangga, termasuk ilmu dan pengalaman di dunia kerja.

Apakah lantas saya bisa dibilang sukses?

Iya, saya sukses mendobrak zona nyaman didalam diri saya, namun saya belum sukses menjadi apa-apa. Jalan saya masih sangat panjang, banyak mimpi yang sudah saya buat tapi bahkan saya belum tau bagaimana mewujudkannya 😂. Saya hanya tau bahwa saya harus terus berjalan, memaksimalkan potensi diri. Melakukan apa yang bisa saya lakukan dengan segala keterbatasan yang ada. Misalnya, saat ini keterbatasan saya adalah keluar rumah dan meninggalkan anak, maka bekerja menggunakan internet menjadi solusi saya.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti saya kehilangan potensi untuk berkarya. Saya percaya, Allah tidak sesembrono itu memberikan takdir pada ciptaanNya.

Dimanapun saya berada, selalu ada tujuan mengapa saya diletakkan disitu. Begitu pula ketika saat ini saya berada di gurun yang bernama Abu Dhabi ini. Allah ingin saya mengambil banyak pelajaran dari tempat ini untuk bekal hidup saya kedepan. Entah apa dan dimana yang baru bisa saya tuliskan ketika saya sudah tidak lagi berada disini. Segala hal didunia ini sifatnya hanya sementara, bukan?

Jangan bertanya tentang kegagalan, karena daftarnya pasti lebih tebal dari novel Harry Potter yang ke-7. Tentu saja berbagai kegagalan tersebut mengecilkan hati saya, tapi saya tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, karena waktu terus berjalan. Segala yang terjadi sudah ada yang mengatur dan pasti yang terbaik.

Oh yes! I’cant move on but I’m awake that life must go on and here I am.

Apa benar wanita butuh kepastian? #SelmaHaqyJourney

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk turut membahas kisah cinta mbak Selma dan mas Haqy yang populer di instagram dengan hashtag #SelmaHaqyJourney. Sudah bukan jaman saya ngurusin cinta-cintaan anak jaman sekarang. Tapi ketika saya membaca statement mbak Selma bahwa apa yang dia lakukan semata-mata karena ingin menginspirasi generasi muda Indonesia, saya-pun merasa terpanggil #eaaa. Alhasil, ajakan teman blogger untuk berkolaborasi melalui tulisan dengan tema ini-pun saya iyakan. Bisa di cek juga tulisan SyunaMom tentang Saat Harus Memilih Antara Kekasih atau Pelamar

Oke, secara pribadi saya tidak akan menyalahkan mbak Selma atas keputusan yang diambilnya. Lah apalah aku ini? Emaknya juga bukan.

Mengingat saya penganut paham selama janur kuning belum melengkung, semua masih memiliki kesempatan yang sama. Saya bisa memaklumi keputusan yang diambil mbak Selma dan mas Haqy. Toh, mbak Selma juga manusia, wajarlah kalau khilaf-khilaf dikit waktu liat yang bening 😍.

Hanya saja, berbagai pertanyaan muncul dikepala ketika si-mbak menggunakan jargon wanita butuh kepastian dalam tulisannya. Setau saya yang juga wanita, wanita mah butuhnya banyak 😂. Dari yang sifatnya intangible, wanita itu butuh disayang, dimanjain, di-iya-in, diberi pujian, dibimbing, dan lain sebagainya. Belum lagi yang sifatnya tangible, wanita butuh belanja, nyalon, nonton, haha-hihi, endebrah brah brah brah. Jadi saya cukup surprised ketika tau mbak Selma ini cuma butuh kepastian!

Berkaca pada pengalaman saya ketika memutuskan menikah, ada banyak faktor yang saya pertimbangkan sebelum mengiyakan ajakan menikah #papadei. Dibandingkan kesiapan finansial, saya lebih memilih untuk memperhatikan indikator kecocokan pemikiran, visi-misi dan kematangan emosional. Bermodalkan tiga hal tersebut, kesiapan finansial menjadi hal yang mungkin dicapai berdua. Begitu juga pengalaman teman blogger saya yang punya 7 Kriteria Pria Idaman untuk Dijadikan Suami. Dan mbak Selma semudah itu mengatakan bahwa dia cuma butuh kepastian?

Coba saya nanya, seumpama sebelum mbak Selma dilamar mas Haqy, ada seorang pria yang katakanlah bernama Haqqul yang memutuskan untuk memberikan kepastian kepada mbak Selma, let’s say Haqqul ini berprofesi sebagai karyawan pabrik sabun dan dari keluarga yang biasa saja, apa mbak Selma akan langsung mau?

Sebagaimana yang mbak Selma gembar-gemborkan, Haqqul membawa kepastian loh! 

Saya sih cuma mengajak mbak Selma untuk lebih jujur dalam menulis. Kalau ga siap untuk jujur ya jangan membagikan kehidupan pribadinya ke publik donk 😂. Eits,,bukan saya nyinyir, pemikiran sederhana itu hanya berlandaskan pada statement mbak Selma yang mengatakan bahwa mbak Selma belum cinta sama mas Haqy. Jadi sampe sekarang saya masih bingung dan belum menemukan jawaban kenapa mbak Selma memutuskan menikah dengan mas Haqy? Apakah benar hanya karena butuh kepastian? 

Mbak Selma sayang, hidup ga semudah cocote Mario Bross. Mungkin akan lebih baik jika mbak Selma sedikit lebih bersabar dalam menceritakan perjalanan cinta yang belum ada cinta-nya ini. Akan lebih inspiratif jika mbak Selma membagikan cerita tentang bagaimana si-mbak dan si-mas menumbuhkan dan memelihara perasaan cinta satu sama lain, karena memelihara perasaan itu bukan sesuatu yang mudah loh mbak. Mbak sendiri sudah berpengalaman kan sebelumnya?

Sekali lagi, saya tidak menyalahkan, saya hanya menyayangkan tindakan si-mbak yang memilih untuk membagikan kisah cinta yang katanya menginspirasi ini ke media sosial. Banyak judgement dan mis-interpretasi yang akan timbul. Jangan sampai si-mbak lupa menghitung keuntungan dan kerugian semua pihak sebelum memposting hal pribadi seperti ini. Bayangkan kalau si-mbak jadi mas Haqy, se-Indonesia sudah mendengar kalau mbak Selma belum cinta sama si-mas 😂. Belum lagi perasaan Senna, mantan pacar si-Mbak, yang terlanjur diajak foto ala-ala tapi ujungnya malah ditinggal kawin. 

 

“Dikenal sebagai sosok yang inspiratif memang menyenangkan, tapi untuk mampu memberikan inspirasi, akan lebih baik jika kita belajar berempati terlebih dahulu” 

Serius deh, masih ada banyak cara yang lebih bijaksana yang bisa dilakukan untuk dapat menginspirasi orang lain. Di usia pernikahan yang baru memasuki usia 3 tahun ini, boro-boro menginspirasi, saya sih lebih memilih untuk memperbaiki diri dan menyelaraskan langkah dalam mewujudkan visi-misi keluarga kami. Kalaupun ternyata mampu menjadi inspirasi bagi orang lain, itu adalah bonus, bukannya fokus. Jangan lupa mbak, sudah ada MT sebagai contoh, betapa berkata-kata itu lebih mudah daripada bertindak. Beneran deh, kata-kata dan hashtag saja tidak cukup untuk menginspirasi.

Akhir kata, semoga si-mbak dan si-mas bisa lebih bijaksana dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah ya 🙂

#babydei Turns One!

About a year ago, mama brought you to the world. Your cry through the night was the most beautiful sound we’ve ever heard. You were born healthy, witnessed by the people who love you. Mom, Dad, Grandpa, Grandma gathered around you. Dad and Grandma even stayed in the delivery room to accompany you through our nine hours long fight. Finally you came, along wih our tears, the tears of joy.

Three hundred and sixty five days later, our togetherness wasn’t something to be taken lightly. Never before we felt so stressed out just because you had fever or when you didn’t want to eat. But then again, never before we’ve been so happy seeing you, when you were three-months-and-ten-days old, turned yourself on your belly for the first time, or when we saw you took your first step on your ten month-iversarry. You were our box of surprise that brings happiness after happiness to us.

Oh, by the way, my dear baby, don’t you forget to thank Allah for bringing us a dad who lovingly carried you around, patiently fed you, and even regularly changed your diapers.

Just as your name, Aimee Azalea Deira Cahyadi, mom and dad hope that one day you will become like a refreshing oase and bring blessing and enlightment to the people around you.

Here are the picture of your birthday picnic! Maybe its easier for papa and mama to celebrate your birthday in cafe or restaurant. But we choose to prepare everything by ourselves because someone special deserves anything special. Again, Happy Birthday!

Love,
MomAndDad

Menjadi Orang Tua, Bahagia Sepanjang Masa



Belakangan, marak kita temukan generasi muda berusia produktif yang nongkrong cantik di café ataupun restoran yang sedang hits di berbagai platform sosial media. Seakan budaya morning coffee atau afternoon tea sudah menjadi gaya hidup yang tidak boleh terlewatkan. Belum lagi segala atribut yang menempel di badan, mulai dari pakaian, tas hingga sepatu branded yang kerap kali dijadikan sebagai indikator keberhasilan finansial seseorang. Demikian pula, seiring dengan semakin majunya teknologi, gadget ataupun smartphone keluaran terbaru juga menjadi kebutuhan wajib.

Modernitas tersebut tak ayal menjadi salah satu pemicu dalam perubahan lifestyle sebagian besar penduduk Indonesia. Ditambah aktifnya promosi dari para pelaku bisnis melalui penggunaan sosial media yang kian mendorong masyarakat untuk berperilaku konsumtif. Sungguh, teknologi berhasil menciptakan pasar yang disambut baik oleh para pemilik modal. Semua orang memiliki peluang untuk tampak keren dan kekinian. Siapapun yang tidak mengikuti trend tersebut harus siap tergerus dan terpinggirkan.

Akan tetapi fenomena tersebut menjadi ironis saat mengetahui fakta yang dipaparkan oleh BPJS Ketenagakerjaan bahwa memasuki usia pensiun, penghasilan seseorang akan menurun hingga 60%. Di sisi lain, kebutuhan hidup tidak pernah berhenti. Bahkan memiliki potensi untuk menjadi lebih tinggi karena adanya kenaikan harga ataupun inflasi. Satu hal yang juga sering terlewatkan seiring bertambahnya usia, pemeliharaan kesehatan yang seharusnya menjadi komponen utama dalam mempertahankan kualitas hidup seringkali dikesampingkan.

Terlebih bagi individu yang berstatus karyawan, memasuki masa pensiun adalah hal yang pasti. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya setiap orang mempersiapkan kebebasan finansial di usia pensiun-sedini mungkin. Merujuk hasil penelitian Kementerian Keuangan pada tahun 2014, hanya sekitar 5% dari total jumlah tenaga kerja di Indonesia yang tercatat memiliki program perencanaan pensiun.

Hal tersebut yang kemudian menjadi landasan pemikiran saya dan suami untuk memiliki produk investasi. Mengingat suami saya bekerja di sektor swasta, dapat dipastikan bahwa kami tidak memiliki jaminan pensiun layaknya PNS ataupun karyawan BUMN pada umumnya. Begitu pula saya yang berprofesi sebagai start-up blogpreneur, yang penghasilannya belom menentu, segala hal harus dipikirkan dengan lebih terarah. Termasuk perihal pemilihan instrumen investasi yang harus dipertimbangkan dengan matang.

Sejauh pengetahuan saya, metode investasi konvensional seperti menabung dibank, membeli logam mulia ataupun properti merupakan pilihan utama yang layak dilakukan. Alternatif lainnya adalah dengan membuka tabungan dalam bentuk deposito/saham/reksadana. Namun masih belum banyak yang paham bahwa produk asuransi jaminan hari tua juga merupakan pilihan yang tepat dalam mengamankan masa depan keuangan keluarga.

Mungkin sebagian orang akan mengatakan saya lebay alias berlebihan karena berbicara mengenai masa pensiun di usia 27 tahun. Padahal, justru karena saya masih berada di usia yang terbilang sangat produktif, saya harus lebih proaktif. Saya meyakini hal ini sebagai tanggung jawab atas rejeki yang Allah SWT berikan pada hari ini, serta bentuk rasa cinta saya pada suami dan anak-anak.

Saya dan suami ingin menjadi orang tua yang mandiri. Sebisa mungkin kami akan berusaha untuk tidak membebani anak-anak kami hanya karena ketidak hati-hatian diwaktu muda. Terlebih, kamipun mendambakan masa tua yang sejahtera, berjalan-jalan berdua, menghabiskan waktu dengan anak-cucu tanpa kekhawatiran besok akan makan apa?

Sudah ada ibu mertua saya sebagai contoh. Di usia pensiunnya, beliau masih mampu berjalan-jalan keliling Eropa dan Amerika dengan biaya sendiri. Sungguh keterlaluan kalau kami tidak mengambil pelajaran dari beliau.

Pada akhirnya, bahagia di hari tua memang tidak sesederhana membalikkan telapak tangan, ada berbagai pilihan, tantangan dan resiko yang harus dihadapi dengan bijaksana. Bukankah akan lebih berbahagia jika kelak, kita tidak hanya berhasil mengantarkan anak menuju pintu gerbang kemandirian, tapi juga sukses memberikan contoh yang tepat dalam memetik hasil dari segala prioritas yang dilakukan saat berusia produktif.

The Art of Cut and Paste (Decoupage!)

Friday morning, i finally started my decoupage project. I bought a tray from Jareer book store as a media. I choose a tissue paper with London theme, remembering that I want to visit that place someday. Ssst! I just following law attraction theory from the secret ?.

Now, i’m going to share the step-by-step to decoupage:

  1. Get your material ready! After choosing a media that you want to decoupage. Select the tissue paper and colour background you like. You can use either all the picture on tissue paper or part of it. I suggest you to mix and match the combination between the background and the tissue paper. In my case, since i’m a beginner, i play safe and choose white color as a background ?.
  2. Paint the media. I waited for about 20 minutes to make it dry.
  3. Continue with a sandpaper to quickly remove the imperfections. Apply the glue onto the surface and the back of tissue paper. I use paintbrush to make a thin layer. Wait until half dry.
  4. Place the tissue paper on top of the glued-surface. Do it smoothly until the tissue paper is perfectly stick into the surface. I used paintbrush to make sure the bubbles are removed. Wait until 10 minutes.
  5. Re-apply the glue onto the tissue paper to make sure it sticks. This time, let it completely dry.
  6. Cut any excess tissue paper, continue with sandpaper to tidy it up.
  7. Apply some layers of varnish as a protective coat, use paintbrush or sponge. Allow to dry and then repeat as much as you want. Like i wrote before , wikipedia recommend to repeat the varnish until 30/40x to get a perfect result. But i did it only twice ?.

Actually i did it for special purpose, parents as role models should give attention for the development of children. I keep my day busy doing something beneficial so she captures her mom not only as a cook, blogger etc. In her golden age, I want my daughter to have many option to develop her personal interests. By doing decoupage, she can be involved in the moments she touches the brush, watches me do it, and sees the result. Its a kind of quality time for us.

Catering for My Creative Mood

Two of my friends, who have high passion in decoupage, opened a new store named Vintageous in Jakarta. Actually, I think, I don’t have any talent in arts or crafts. I’m just a lover of arts.

However, watching how they did a decoupage on their YouTube channel challenged me. they made decoupage looked easy and simple. So, i decided to order one DIY kit from them had it and delivered through my bestie’s husband who recently visited Indonesia.

The DIY kit came with a miniature of Indonesian cracker’s tin can as a media, paint, brush paint, glue, and sure the tissue paper. My friends’s staff sent me a lot of pictures of the colour paper through whatsapp. I can’t hold my self not to order. So i bought 15 set of papers, just in case i became addicted in decoupage.

I already imagined how many ikea uae’s products (www.ikea.com) that can be used as the base of decoupage ?. The word decoupage itself is originated from the French word decouper, which means, ‘to cut.’ The technique has existed for a long time, originating in Italy in the late 17th and early 18th centuries. It was traditionally used as a way to imitate lacquer decorating styles, but using paper rather than other materials.
So, if you curious about how i have fun with decoupage, stay tuned, i’ll be right back soon with my creation however good or bad it may be.

5 Must Have Applications for me! 

Recently, one of the bloggers groups I have joined with gave a challenge to write an article about five must-have applications in your smartphone. It’s kinda unique challenge and made me a bit confused to choose ?.

After a long discussion with my inner self, i finally made up my mind, and here are the list:

  1. Whatsapp, almost all of my friend have it. From informal chit-chat to business matters, I can do it here. Eventhough lately whatsapp often has slow response, I still use it. As a backup plan, i already download telegram. It’s like whatsapp, but it’s running faster and have simple design as well. For now, atleast.
  2. Instagram, as i love to capture pictures, Instagram  helps me to “freeze” moments and collect memories. Most importantly, nowadays so many celebrities are using this application. It feels so much fun when you walk from one account to another, just for looking for what’s the new trend in fashion/cook/life style or whatever you like.
  3. WordPress, since i decided to be a blogger and promised to keep writing at least one article per week, this application became a must have item for me. This application really facilitates me,  so i can just focus on making the article. With this app on my mobile, I don’t need any laptop or pc anymore. Just write while I can and post it!
  4. Watermark Pro, i always try to do my best in everything, so does in photography. So this is my effort to prevent any piracy. Eventhough some people said it is useless because photoshop can 100% remove your watermark. I just love to do it. Yeah, at least i’ve tried.
  5. Facebook, having a baby means you can’t hang out with your friends as often as before. You will have a “little-tail” who always follows your step. But thanks to Mark for creating this social application, I can still keep in touch with my friends and family, whenever i want, wherever I am!

There you have it, five must-have apps for my phone (4/5 are social media application ???). Anyway, with or without them, don’t let your smartphone separates you from the real world, as The World is the most important application 🙂

How about yours?

Korean Drama Industry: Cultural and Economic Impact

In my community there are some people who underestimate the quality of Korean Drama. I don’t know exactly why, because most of them don’t even watch any single Korean Drama until finish. Too early too judge, perhaps?

I think there are many aspects that determine the movie quality. The producer, cast, director, wardrobe, setting and, the most important, the story itself. In fact, finding a good movie in Korean Drama is as easy as finding one in Hollywood movies.

In this article, I want to invite you to pay attention to Korean Drama industry that overwhelmingly powerful and remarkably popular. The popular definiton isn’t only about the number of their fanatic fans, but more to their success in introducing korean culture to the world.


For example, I learned a lot about traditional wedding preparation in Korea by watching 20 episodes of “Can We Get Married?” and 16 episodes of “Love and Marriage” drama
Let me explain in a bit what I got ?

Marriage, as the most important stage of someone’s life, needs a significant amount of time for the preparation. So, from episode to episode, the drama is all about how the groom and bride working harder to manage their emotion when preparing the wedding.

Korean traditional wedding

Since their wedding were decided by the groom and bride’s elders, problems start to appear when the bride’s elders give the list of dowry that must be provide by the groom. In return, the bride also needs to give something to the groom’s elders as a manner to say thank you.

Another conflict is about the background check (education, social, and economic status, etc) that is usual thing to do before the actual wedding is organized. The side who is found to have slacks should make a commitment to close the gaps.

Actually, the main story is familiar and so common to happen in other countries. But Korea is one step ahead for their creativity in packaging a simple idea into something out of the box.

Its wonderful when you see they still proudly wear hanbok (korean traditional dress) for the ceremony. It’s also amazing how you feel hungry and craving when the actors start to eat ssambap, bulgoggibibimbap, kimchi like I do . Even many moslems wanna try the taste of soju after watching the stars savor it ?.

The writer try to cook ssambap

See? 

Something that you think is small turns to be a huge factor that brings economical profit to korean national income.

If you don’t believe me, you guys can check how many people visit Korea because they watch it’s beauty through the Korean Dramas because I wanna go there someday ?.