Category: Parenting

Ketika Teori Parenting Tidak Semudah Praktiknya

Pernahkah kalian membayangkan jika suatu hari, satu-satunya anak yang kita cintai bertanya

“Mama, bolehkah aku menjadi guru TK?”. Ketika muda, dengan lantang saya akan menjawab “Sure dear, you can be whatever you want to be!”.

Namun saat ini saya sudah menjadi orang tua yang berhadapan dengan naik dan turunnya kehidupan. Saya sudah melangkah lebih jauh dibandingkan 5 tahun lalu saat saya masih tinggal dirumah papa dan mama. Segala hal domestik yang dulunya cuma tau beres, kini menjadi tanggung jawab saya. Akankah tetap semudah itu bagi saya untuk mengucapkan kalimat diatas?

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari salah satu teman saya yang bersuamikan seorang direktur di sebuah perusahaan. Ia menceritakan bahwa satu-satunya anak yang ia banggakan ingin menjadi guru TK. Si Ibu yang besar dan bersekolah di Indonesia, walaupun tidak melarang namun tetap saja terkejut dengan pilihan anaknya.

Baca juga: Kenangan Masa Kecil Saat Lebaran Tiba

Bukan bermaksud mengecilkan peranan guru TK, tapi saya paham betul perasaan yang mendera teman saya ini. Dari sekian banyak profesi yang akrab ditelinga kita seperti dokter, pilot, engineer, kontraktor, ia memilih menjadi guru TK yang notabene membutuhkan banyak kesabaran didalamnya. Jangankan mengurus anak orang lain, mengurus anak sendiri saja seringkali terasa melelahkan #curcol hahahaha 😂🙊. Surprisingly, sang suami menjawab permintaan anaknya dengan tenang “If you like it, just go for it!”. 

Hal tersebut membuat saya terharu, awalnya saya kira seseorang dengan posisi demikian akan menaruh harapan yang besar terhadap anaknya. Tapi ternyata saya salah, ia justru lebih mampu mengapresiasi cita-cita anaknya yang tampak kecil dimata lingkungan.

Idealnya, dalam teori parenting orang tua harus mendukung cita-cita anaknya sejauh itu positif. Tapi sungguhkah saya mampu melakukan hal tersebut? Melakukan apa yang dilakukan oleh suami dari teman saya tadi.

Jika dipikir lebih mendalam, walaupun saya orang-tuanya, saya tidak memiliki hak untuk menghakimi apapun pilihan anak saya. Kewajiban saya adalah mengoptimalisasi semua mimpi dan cita-citanya. Semakin lama menjadi Ibu, semakin saya tersadar bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus dan terus dipelajari.

Baca juga: Ketika Saya Memutuskan Jadi Ibu Rumah Tangga

Anak layaknya kertas putih yang Tuhan berikan untuk kita. I’m the one who writes everything for her. Sudah sewajarnya saya tidak menuliskan berbagai ketakutan-ketakutan didalam lembaran hidupnya. Hal terpenting justru jika suatu hari ia menemukan ketakutan dalam hidupnya, dia tau bagaimana harus menghadapi kesulitan tersebut.

Sungguh semua orang ingin menjadi orang tua yang sempurna untuk anaknya. Memberikan segala yang terbaik yang kita miliki untuk anak, entah itu materi, saran, doa dan lain sebagainya. Tapi semakin kesini, saya menyadari makna bahwa anak hanyalah titipan. Suatu hari ia akan meninggalkan rumah, menggapai mimpinya yang mungkin jauh berbeda dengan kita.

Saya menuliskan hal ini bukan untuk mendiskreditkan siapapun, tulisan ini hanyalah pengingat diri, jika saja suatu hari nanti anak saya datang dan bertanya

“Mama, Deira mau jadi guru TK boleh?”

“Mama, Deira mau jadi pustakawan boleh?”

“Mama, Deira mau jualan tanaman boleh?”

…dst

Semoga sebagai orang tua, saya mampu meredam ego dan tidak mengecilkan apapun yang ia cita-citakan. Bahkan Kolonel Sanders, pendiri jaringan ayam goreng terbesar di dunia, mengawali bisnisnya dari sebuah food truck.

Toh pada akhirnya tidak akan ada orang tua yang rela melihat anaknya menghabiskan 9 jam dalam sehari mengerjakan hal yang tidak dia sukai 😃.

Eczema: Causes, Symptoms and Treatment

Alhamdulillah, we entered the month of October, which meant that the summer was over. Apart from the heat, I didn’t really like summer because its dry weather made the skin parched. Also, as it turned out, this extreme condition affected Deira’s skin as well.

One morning earlier this summer I found her with red rash on one of her elbow. I didn’t pay much attention at first, but day after day the rash grew until one day I notice dried blood smeared the rash. Apparently the rash became itchy and naturally she scratch them. Immediately I brought her to Dr. Dinesh Banur, her pediatric consultant at NMC Royal Hospital in Khalifa City. Both Deira, my hubby, and me like him because he treated Deira with gentle care and answered many of our questions patiently and concisely. He also quite cautious in prescribing medications. He rarely ordered paracetamol, and even more rarely antibiotics. Mom’s milk is the best medicine we can give to our little one, he said.

Speaking of him and our baby’s rash, He diagnosed it as dermatitis atopic or known as Eczema. This is a skin condition happened to the hyper-sensitive skin, and manifested as inflamation and super itchy rash. If kept untreated, the rash could develop skin infection. This skin condition is hereditary and hence did not contagious.

I remembered when I was a little girl, I had the similar skin condition but, thank God, it subsided after I consumed monitor lizard’s meat. My mom fed me that lizard’s meat dish we me knowing it because it was believed, in javanese tradition, to have medicinal benefits toward multitude of akin problems and, believe it or not, I never had a relapse ever since. I wished I could feed Deira some of this meat but where could I find monitor lizard here in this desert, let alone people who sold and/or prepare it. If only camel’s meat had the same properties.

Anyway, dr Dinesh prescribed Peitel cream to heal the rash and Cetaphil lotion to keep her skin moist. The main purpose of this treatment was to aleviate the itch and to reduce the probability of skin infection. We needed to apply Cetaphil lotion right after Deira took a shower so some of the excess water left on her skin could also be retained by the cream as an added arsenal to keep her skin moist. The rash was largely reduced qithin the first 24 hours after we applied Peitel cream.

For her bath soap, it’s advisable to use perfume-free and presevative-free with 100% natural ingredients. After googling around for some times, I decided to use Allergika liquid soap. Alhamdulillah, Deira’s skin is more moist and a bit less sensitive now. I also minimized her exposure to the direct sun light to further reduce the chance of relapse. That’s my experience with Eczema and how Cetaphil and Allergika satisfactorily helped me against it.

Eczema Pada Anak: Penyebab, Gejala dan Pengobatannya

Alhamdulillah sudah memasuki bulan Oktober karena artinya musim panas akan segera berlalu. Selain tidak terlalu suka dengan hawa panas, keringnya cuaca seringkali mengurangi kelembaban kulit. Ternyata bukan hanya saya yang terganggu, karena kondisi cuaca yang ekstrem ini juga memberikan dampak pada kulit anak saya, Deira.

Awalnya, saya mendapati Deira bangun tidur dengan ruam-ruam merah dikulit namun masih saya abaikan. Saya anggap hanya gatal-gatal biasa. Hingga suatu hari ruam tersebut berdarah dan ada bekas garukan, mungkin karena terlalu gatal. Saya memutuskan untuk membawa Deira ke Dr. Dinesh Banur, pediatric consultant yang berpraktek di NMC Hospital. Bukan hanya Deira yang nyaman dengan dokter Dinesh, saya dan suami-pun senang berkonsultasi dengannya. Selain karena ketelitiannya dalam memeriksa pasien, caranya menyampaikan juga mendamaikan hati. Dalam menuliskan resep-pun ia sangat hati-hati. Jangankan antibiotik, obat aja ga dikasih. Ibaratnya, kalau ga parah banget, saya ga bakal berkunjung ke tempat prakteknya. Soalnya, ujung-ujungnya cuma disuruh minumin ASI yang banyak dan pelukan ama anak. Isn’t that sweet? 😍

Nah, ketika beberapa waktu lalu saya ketempat praktik beliau untuk memeriksakan kondisi kulit Deira, dokter Dinesh mendiagnosa Deira dengan penyakit Eczema. Eczema yang juga dikenal sebagai dermatitis atopik merupakan suatu kondisi kulit yang hyper-sensitive yang ditandai dengan peradangan, ruam dan gatal luar biasa. Jika tidak segera dihentikan, dampak dari penyakit ini dapat menimbulkan infeksi pada kulit. Oiyah, penyakit ini bukan disebabkan virus, bakteri ataupun jamur. Namun lebih dipengaruhi oleh faktor genetik, sehingga tidak perlu takut tertular yah 😄.

Jika dirunut, saya memang sempat mengalami kondisi kulit seperti Deira saat kecil. Syukurnya, sekarang tidak pernah kambuh lagi karena diam-diam mama saya memberikan daging biawak yang dipercaya mampu menyembuhkan berbagai permasalahan kulit 😭. 

Percayalah, semenjak saat itu memang tidak pernah kumat lagi 😬. Padahal Eczema ini sifatnya bisa berulang beberapa kali dalam setahun loh. Sempat kepikiran untuk melakukan hal yang sama ke Deira sih 😝. Tapi di gurun pasir mau cari biawak dimana? ada juga Onta hahahaha.

Anyway, dokter Dinesh meresepkan salep Peitel untuk mengobati bagian kulit yang berdarah dan syukurnya dalam waktu 24 jam sudah mengering. Untuk perawatan, dokter meresepkan Cetaphil Cream dan Cetaphil Lotion. Tujuan utama dari pengobatan ini adalah menghilangkan rasa gatal untuk mencegah terjadinya infeksi. Jadi ketika kulit terasa kering dan gatal, lotion dan krim pelembab dioleskan agar kulit menjadi lebih lembab. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sehabis mandi sehingga lotion yang dioleskan akan mempertahankan kelembaban kulit.

Untuk sabun mandi, disarankan menggunakan sabun yang bebas parfum, pengawet alias 100% natural. Seperti biasa, googling sana-sini, saya memutuskan mencoba mengganti sabun yang biasa dipakai Deira dengan Allergika. Alhamdulillah, kulit Deira lebih lembab dan sudah tidak sesensitif dulu. 

Kedepannya, untuk meminimalisir kemungkinan kambuhnya Eczema adalah dengan memastikan tercukupinya kebutuhan gizi anak dan mengusahakan agar anak tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Kurang-lebih, demikianlah pengalaman saya yang sempat panik melihat kulit anak gadisnya merintis, berdarah dan melepuh. Udahlah ga sampe hati mau motret 😭.

*Semoga informasi ini bermanfaat untuk ibu-ibu tersayang diluar sana ❤️

Belajar Bersama Pororo, Kartun Korea yang Mendunia

Saya mulai mengenal kartun ini saat Deira memasuki usia 19 bulan. Seperti biasa, Papa Deira akan jadi orang pertama yang menyeleksi apakah acara ini boleh ditonton Deira atau tidak. Jika suami sudah memberikan approval-nya, maka saya bisa dengan tenang membiarkan Deira menonton tv, sementara saya memasak.

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan konten ceritanya, namun seringkali saya mendengar Deira tertawa terbahak-terbahak dan berlari kesana-kemari saat menontonnya. Belum lagi, anak saya tiba-tiba mampu mengucapkan kata “no way”, “all right”, “sorry”, “better”, “you know why”. Walaupun pelafalannya masih belum sempurna, hal tersebut cukup mengagetkan karena saya dan suami menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan Deira.

Saya-pun memutuskan untuk menemani Deira menonton televisi. Saat ini Pororo sudah memasuki season ke-5, kartun ini menceritakan tentang persahabatan hewan yang tinggal di Porong-porong Forest. Pororo sebagai pemeran utama digambarkan sebagai seekor penguin kecil yang mengenakan helm dan kacamata penerbang karena cita-citanya untuk dapat terbang mengarungi angkasa. Ia memiliki 8 sahabat dengan berbagai karakter, yaitu:

  1. Crong, dinosaurus yang diadopsi oleh Pororo
  2. Poby, beruang putih yang kuat dan penyabar
  3. Harry, burung kecil yang pandai bernyanyi
  4. Eddy, rubah yang sangat cerdas dan sering berinovasi membuat penemuan baru
  5. Rody, robot kuning buatan Eddy
  6. Petty, berang-berang yang anggun dan pandai memasak
  7. Loopy, penguin perempuan kecil yang ceria
  8. Tong-tong, naga yang mampu memainkan magic dengan mantra khas “kuri-kuri tong-tong-kuri-kuri-tong-tong”

Tiap episode dalam kartun ini memang menarik dan mengandung banyak nilai-nilai kehidupan, namun tetap ringan dinikmati anak-anak seusia Deira. Kata-kata yang digunakan pun positif dan tidak ada ejekan maupun umpatan satu sama lain. Dan usut-punya usut, ternyata kata-kata yang diucapkan Deira memang meniru ucapan karakter di film ini 😍😆.

Dari kartun ini, anak-anak mengenal arti berbagi, bekerja sama, memaafkan dan berbagai nilai-nilai yang sudah seharusnya ditanamkan sejak dini. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton anak seusia 2-6 tahun. Akan lebih baik jika orang tua ikut mendampingi, sehingga dapat membantu menerangkan nilai apa yang dapat diambil dari setiap episodenya.

Selain itu, hal yang tak kalah menarik menurut saya adalah turut serta pemerintah Korea dalam kesuksesan kartun ini. Mengetahui film ini telah mendunia, pemerintah Korea tidak segan menginvestasikan dana khusus untuk mengembangkan kartun Pororo. Jika kita perhatikan tiap season mengalami perkembangan yang luar biasa. Dari sisi teknis, grafis yang ditampilkan lebih halus, dari segi cerita juga terdapat penggalian karakter yang mendalam.

Harapan saya sederhana, semoga sineas Indonesia mampu memproduksi tayangan edukatif seperti ini.

5 Tips in Choosing The Right Mobile Apps For Your Kids

In this era of technology almost all kids are attracted to the gadgets, and my 15 months old baby included. She’s seen her mom and dad’s working in front of their laptops, so no wonder if she, to some degree, can already use iPhone, iPad, and even laptop. To be honest, we are not anti-gadget kind of parents, so we don’t try to stay our baby away from those devices, as long as she is within the fair use limit. Within this limit, the gadget can be beneficial to us all, both parents and the kid, and that’s why I had discussion with hubby about downloading mobile apps that are safe for our kiddo, ones that suit her age and, after a lengthy research, we decided to install KidloLand. KidloLand has winning the Mom’s Choice Gold Award, it also conforms with our predefined 5 criteria, which are:

  1. No advertisements. I used to play nursery rhymes which are scattered widely on youtube, until one day I realized that they pun ads inserts at the beginning and within the playlist. Some of the ads were about online games, and I also noticed that my baby expressed fear upon watching some of the ads, perhaps due to violence or to the suspense air brought by the background music.
  2. Can be played offline. We travel almost regularly to Dubai, which is 125 kms away from Abu Dhabi. Sitting for 1.5 hours in the car can be boring even for adults, so you can imagine how bored my baby is to sit on her baby car seat. An application playing nursery rhymes and/or playing games can help ease her boredom.
  3. Educational, and yet not boring. From my childhood memory, being educational usually means being boring, but I don’t want my baby to have that same kind of memory. We want her to keep having fun even when she is learning something, and KidloLand enables her to have just that.

    Even in nursery rhymes mode, the illustrations displayed while the song is played are clickable. Tap on birds and it starts to chip happily, or tap on the castle and it turns into box, or touch a chimney and smoke comes out of it, etc. Those additional animations keep my kid engaged with the apps instead of being a passive audience.

  4. Age appropriate. In the middle of information torrent, we don’t want her grow too quickly. We want her to play as much as she wants, and grows physically and mentally according to her age. KidloLand informs us about the age recommendation for each of its menu and sub-applications, so we can rest assured she accesses only parts that are suitable for her.
  5. Worth the money. For one month of using this application, I keep on finding new menu almost everyday. The team behind Kidloland are quite active in updating the contents. With features of more than 1000 nursery rhymes, lullabies, games, bedtime stories, activities, games and lot of other stuffs I finds it worth every cents of the 24,99 dollars I spent for this apps (subscription for 6 months) and KidloLand can be downloaded from iOS, Google Playstore, and Amazon Appstore.

Well, that are the five criteria for me to select apps for children, and how KidloLand fits them well. Yet don’t forget that no matter how good the application is, the best activity for our children is the activity engaged along with their parent.

 

 

When she isn’t baby anymore!

It just feels only yesterday when i was holding a little tiny baby girl in my arms. Today I find her a way smarter. She even knows how to ask her papa to play peek-a-boo together.


Lately, I was struck by a revelation that my dear baby wasn’t really a baby anymore ?. Every time I look at her, I see her as a big girl who is so curious and excited about something new.

Another progress happened. A few months ago, when she started feeding herself, she used to grasp her food with her whole hand and tried to shove her whole hand into her mouth. But I recently noticed she began to use her fingers to pick up specific part of the foods. From articles I read, this step has something to do with her development of fine motoric skills like writing, clumping, cutting, etc. So I should just let it happens, and not to push her to jump into the next step of feeding: using cutlery.


For another surprise, just as everyone told me it would, my baby found her voice and started saying baba. I wasn’t surprised, is her papa is her first love, right?. Her second words is mamam. I don’t exactly know, does it refer to me as her mama or it means she wants to eat in bahasa (Ind: makan). A day after, she added  her vocabulary further with words like red, juice, sayang (eng: love), apa (eng: what).

It’s trully amazing how much she has changed and developed in just 9 months. I keep on thinking of what will happen when she becomes 1 year old and starts to walking and having her own choice instead of doing everything what mama told.


One thing, though, luckily for me she still needs a lot of pamperings, always wants cuddles and hugs from me, and me alone ❤️

#babydei and Car Seat

#babydei is 8 months old and since she was  newborn, she always cried whenever I put her in the car seat. She didn’t stop crying from the time her papa started the engine until we arrived to the destination, or until I got her out of the car seat ?

I’ve talked to my husband, maybe it’s all about the car seat. I thought the fabric is not well enough for my baby or maybe it just about the straps too tightly holding her body. I’ve tried so many ways to make her enjoy the trip. From toys to baby food, you name it!

So we decided to change the rear facing car seat to the forward facing one but, again, I was so dissapointed because it didn’t get better even after she faced forward. Then, my husband had a super duper brilliant idea. He asked me to use my seat belt in passenger seat and to show #babydei that I got trapped with the straps too.

Guess what? It worked perfectly ?


Even baby learns from what parents do much more than what parents say ?.

I can understand why some children seemed nice and some were not. Actually it’s not about the children. It’s all about us, the parents. People will easily know about you by the way your child plays, talks and behaves. The ones who are treated respectfully by their parents will show respect, and vice versa.


From now on, I have to be more careful on how I behave in front of my baby #fight ??

Even if there’s nobody expects me to be a perfect mom. Everyone wants to give what best for their children, right?

Flying with #babydei

Last month, I and my family travelled into our lovely home country, Indonesia. Fun yet scary because it was my first experience of bringing baby (7 months) for flying. I couldn’t imagine, what will happen in an 8 hours of flight to Jakarta, plus 1,5 hours of flight from Jakarta  to Surabaya.

I took some notes from the trip , as maybe someday I will need it again hahaha

  1. Don’t even forget to request baby bassinet to the airline you flew with. Eventhough #babydei only used the bassinet for 1 hour of sleeping, we can make the bassinet as an additional space ?. Just put the diapers, baby toys or anything inside to get more space on your seat. Ssst, actually I got this tips from #mamamysha.
  2. Any of us have felt that weird ear-popping sensation when travelling on a plane. It’s a common, normal part of flying. This is related to pressure changes in the air space behind the eardrum. That explains why so many babies cry during the last few minutes of the flight, when the air pressure in the cabin increases as the plane prepares to take off/landing. So does #babydei. Some simple thing to reduce this effect is by taking the breastfeed/bottle milk or put a food in the baby’s mouth so she can chew to make the Eustachian tubes become unclogged.
  3. Some airlines also provide baby food that placed on a jar, but I suggest you to bring your baby’s favorite food from home. Actually, I’m not kind of mother who strictly prohibit instant food but unfortunately, my baby doesn’t like it.
  4. Long before the day, try to talk with your baby that we’re going to vacation by plane. “We can see the sea from above the sky.”, “We will be so close with the stars!”, etc. Desribe anything fun about travelling. Make her feel happy and excited too. Eventhough she doesn’t seem to really understand, trust me that she does!
  5. Spread the positive vibe! Some of passengers even help me to babysit #babydei. So I can relax a bit and enjoy the flight hahahaha ?
  6. I feel haunted when imagine how the other passengers will stare at me if my baby starts to cry outloud. With a supportive travelmate beside you, you will feel warm and more relax to handle your baby. Thank you hubby! Finally we make it ❤️

Happy travelling!

Curhatan Ibu yang anaknya abis di vaksin! 

Alhamdulillah, akhirnya kemarin #babydei dapet jadwal vaksin di Khalifa Healthcare Center. Saking deketnya sama rumah, sampe ga digantiin baju sama emaknya. Lah gimana? bobonya udah pules aja, ga tega mau ngegangguin, apalagi abis ini mau di suntik #caripembelaan.

Sebenernya saya datang ke tempat ini udah dari minggu lalu, tapi ternyata sistemnya bukan yang daftar terus langsung divaksin. Melainkan daftar dulu, dikasih jadwal, baru deh datang buat vaksin #hayatikecelebang!. Yaudah akhirnya baru kesampaian kemarin deh. Caranya juga simpel, cukup bawa buku vaksin, emirates id ama insurance card. Udah ga perlu bayar apa-apa lagi.
Btw, saya sebel sama fotonya ?. Keliatan gede buanget, padahal aslinya ga segitu lo beneran. Pak suami nih ngambilnya cepet-cepetan jadi angle-nya ga pas #alesan #gasadar2 #gigit2pager

Oiyahhh, sejak punya anak, saya jadi cari tau beberapa hal tentang vaksin. Termasuk pro dan kontra-nya. Saya dan suami sih sepakat memberikan vaksin terhadap #babydei. Pusing cin kalau kebanyakan mikir tentang teori konspirasi. Bisa-bisa bukannya mati karena vaksin, tapi justru mati gegara kekhawatiran berlebih ?. But anyway saya bukan mau bahas itu, secara eike juga bukan dokter. Lagipula tiap orang punya pilihan masing-masing, jadi saling menghargai aja deh.

Nah ini nih daftar vaksin yang diwajibkan sama pemerintah UAE, banyak banget. Ga jauh beda juga-lah ama yang di Indonesia.   Karena #babydei usianya udah 2 bulan, 10 hari jadilah kemarin divaksin Hexavalent ama PCV. Alhamdulillah papanya dapet cuti, jadi emaknya ga perlu megangin pahanya pas disuntik. Nangisnya itu loh menyayat hati, untungnya ga sampe semenit udah diem.

Tapi sedihnya, sorenya badannya demam, diminumin Adol malah disembur-sembur. Setelah kuicipin ternyata emang dominan pahit sih rasanya. Pantes Deira ga doyan. See? Siapa bilang bayi ga punya preferensi? ?. Syukurnya, #babydei ga berhenti nyariin ASI. Akhirnya sekarang emaknya yang lemes #tapisempetngeblog #diliriksuami. Lumayan, tiap abis di susuin, Deira langsung ketiduran. Tapi kasian sih, bobonya kaya ga nyenyak gitu, ngeringik aja. Untung si-papa dengan sabarnya ngegendong hampir semaleman, jadi deh Deira bisa bobo dengan pules ?.

Ngomong-ngomong perkara gendong, anak saya emang doyaaaan banget digendong. Istilahnya bau tangan, sempet bete tiap ada komen “wahhh bau tangan yahhh?”, belom lagi nanyanya ketambahan tatapan yang gitu banget. Berasa gw ga becus aja jadi ibu #mungkinhayatibabyblues

Setelah lama kupikir-pikir, tak apalah anakku bau tangan. Anak-anak gw, toh gw juga ga minta tolong orang buat ngegendong ?. Jadi kenapa mesti mikirin omongan orang? Tapi yang jelas ntar kalau ada anaknya temen yang doyan gendong, Insyaa Allah saya ga bakal deh ngeluarin statement dan tatapan nyebelin gitu. All we need is love and support  ❤️ #hayatilelah

Lagian, sampe umur berapa sih dia bakalan minta digendong? Yakin deh,,, pas dia udah gede ntar, kita yang bakalan kangen sama masa-masa ini. Sekarang aja saya udah kangen sama masa-masa Deira pas baru lahir. Antara excited ngeliat Deira tambah pinter, sekaligus sedih karena betapa waktu berjalan sangat cepat.

Pesan moralnya sih satu:

Yuk menikmati setiap waktu yang kita punya dengan orang tercinta ❤️

Oh iya satu lagi!

 

 

Kurang-kuranginlah banyak omong yang ujung-ujungnya nyakitin orang

#hayatilelah #ngurusbayisendiri #selfreminder

Parenting: Focus on their needs, not yours!

Pengen deh teriak-teriak hal tersebut ke orang tua yang ga berhasil bikin anaknya berani bersikap, mengambil keputusan, bertanggung jawab dan menerima resiko. Eh, emang situ bisa? Walaupun memang tidak mudah, saya yakin BISA.

Saya dibesarkan di keluarga yang demokratis, berbicara dengan asertif merupakan sebuah kebiasaan yang terbangun sejak kecil. Jadi berdiskusi dan berdebat dengan orang tua sudah biasa kami lakukan, justru dari sini kedua pihak belajar untuk lebih mengenal satu sama lain. Papa dan Mama tau, rasa ingin tau saya yang berlebih kadang membuat saya terlalu berani mencoba hal baru. Menantang apa yang sudah biasa ada di masyarakat. Kadang berhasil dengan sukses dan tidak jarang pula saya pulang dengan tangisan karena gagal.

Biasanya selama beberapa waktu saya akan memendam kekecewaan itu, bertanya dalam hati. Kira-kira apa penyebabnya? Jika saya sudah menemukannya, saya tertawa dan (biasanya) akan mencobanya lagi. Hingga saya menghasilkan kesimpulan bahwa hal ini tidak bisa dilakukan. Tapi jika berhari-hari saya masih belum menemukannya, saya akan bertanya pada Papa dan Mama. Duh seketika saya jadi kangen sama mereka hiks.

Ketika menuliskan ini saya baru teringat bahwa Mama pernah mengajari saya mewarnai “Kalau mewarnai itu harus searah dek, biar rapi! Gunung kalau dari dekat warna hijau, kalau dari jauh warna biru…”. Dan saya-pun bertanya “Terus kalau Ayu pengen mewarnai gunung dengan warna hitam gak boleh? Kan di gunung belum ada listrik!”. Mama bilang “Ya gapapa dek, listrik belum masuk desa..”. Alhasil saya pernah mendapatkan nilai 6 untuk mewarnai.

Jadi ketika itu kami diberi selembar kertas yang berisikan gambar sebuah kota lengkap dengan gedung, mobil, rumah dan aktivitas orang-orang didalamnya. Saya mewarnainya dengan crayon hitam. Bisa ditebak, kertas saya layaknya kertas karbon yang berwarna hitam pekat. Bu Yati selaku guru kesenian menghampiri saya dan menanyakan mengapa saya mewarnai seperti itu. “Kota-nya lagi lampu mati bu!” jawab saya. Nilai itu-pun berganti menjadi 8. Dan saya bersekolah di TK Kemala Bhayangkari #bukaniklan. Btw, Bu Yati masih ngajar gak ya?

Ketika kelas 1 SD, saya tidak berani pulang ke rumah karena ujian bahasa daerah mendapatkan nilai 0 (fyi, mama saya terbiasa menemani saya belajar, mengerjakan PR dan pastinya buku saya dibuka satu per satu). Hingga akhirnya saya pulang karena lapar, tapi sesampai di halaman saya tidak berani masuk rumah. Apalagi melihat mama sudah duduk di ruang tamu. “Loh kok ga masuk dek? Ada apa pulangnya kok cek siange?”. Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, saya malah menangis sesenggukan dan lari ke pelukan mama “Ulangan bahasa daerahku dapet 0 ma ” hahaha geli deh ingetnya. Seketika mama memeluk saya yang masih menangis “Ya udah gapapa, besok nol-nya diceplok buat sarapan yah”. Saya makin nangis sesenggukan karena merasa “cegek”, tau gitu pulang daritadi. That’s my mom! Unpredictable.

Jadi kalau sempat beredar “memepic” tentang anak pitik, anak wedhus dan lain-lain itu. Yeah I’ve been there and done that hahahah. Jangan ditanya deh, setelah kejadian itu, dengan ditemani Mama, saya kian rajin menghapalkan materi Pepak Basa Jawi yang sampulnya merah ntuh. Jadi selama bukan tulisan hanacaraka, saya selalu mendapat nilai memuaskan untuk pelajaran bahasa daerah.

Sedangkan Papa, Papa adalah orang pertama tempat saya mengadu ketika dimarahin Mama hahaha. Masih hangat dalam ingatan, ketika kecil saya selalu minta dibawakan oleh-oleh sepulang kerja. Paling sering minta dibawakan waffle, bukan karena saya suka. Hanya karena saya tau, di kantor Papa ada penjual kue tersebut. Sesampai dirumah yang makan kue tersebut ya Papa sendiri sih hahaha. Pernah Papa tidak membawakannya, mungkin karena beliau sendiri bosan tiap hari makan kue tersebut. Saya nangis dengan lebaynya di kamar, besoknya? dibawain lagi! Bedanya, saya menemani beliau makan, walaupun ga suka.

Beliau juga yang setiap malam memeriksa setiap bagian tubuh saya sebelum tidur. Jadi kalau siangnya saya jatuh, pasti malamnya saya sembunyikan lukanya dan selalu aja ketauan. Walaupun sambil ngomel, Papa akan dengan tekun membersihkan luka dan meneteskan obat merah. Old fashion banget yah hahaha.

Ketika kami beranjak dewasa, Papa merupakan salah satu fashion police yang bikin bete. Beliau pasti orang pertama yang mengkritisi appearance saya dan Kakak, bahkan lebih comel dari mama. Walaupun diawal masukannya seringkali kami tolak, tapi akhir-akhirnya nurut juga sih yak!. Gimana-gimana seleranya Papa emang bagus, makanya dapet istri cantik (-_-).

Papa Mama

Begitulah sekilas mengenai pola pendidikan orang tua saya, mereka tidak pernah memaksakan saya untuk menjadi A, B ataupun C. Mereka percaya setiap anak itu “spesial”. Mereka hanya menyiapkan bekal saya, berjalan dari belakang, memandang dari kejauhan, menggumamkan doa dan dengan tangan terbuka siap menerima anaknya yang bahkan pulang dalam kondisi penuh luka.

Ga kerasa air mata ini menetes, I Love You Papa-Mama. Thank you for supporting my decision, my latest decision to be the wife of him. I am grateful to have parents like you who always encourage me to strive for the best in my different way. I would not be where I am today without you.