Category: Marriage

Apa benar wanita butuh kepastian? #SelmaHaqyJourney

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk turut membahas kisah cinta mbak Selma dan mas Haqy yang populer di instagram dengan hashtag #SelmaHaqyJourney. Sudah bukan jaman saya ngurusin cinta-cintaan anak jaman sekarang. Tapi ketika saya membaca statement mbak Selma bahwa apa yang dia lakukan semata-mata karena ingin menginspirasi generasi muda Indonesia, saya-pun merasa terpanggil #eaaa. Alhasil, ajakan teman blogger untuk berkolaborasi melalui tulisan dengan tema ini-pun saya iyakan. Bisa di cek juga tulisan SyunaMom tentang Saat Harus Memilih Antara Kekasih atau Pelamar

Oke, secara pribadi saya tidak akan menyalahkan mbak Selma atas keputusan yang diambilnya. Lah apalah aku ini? Emaknya juga bukan.

Mengingat saya penganut paham selama janur kuning belum melengkung, semua masih memiliki kesempatan yang sama. Saya bisa memaklumi keputusan yang diambil mbak Selma dan mas Haqy. Toh, mbak Selma juga manusia, wajarlah kalau khilaf-khilaf dikit waktu liat yang bening 😍.

Hanya saja, berbagai pertanyaan muncul dikepala ketika si-mbak menggunakan jargon wanita butuh kepastian dalam tulisannya. Setau saya yang juga wanita, wanita mah butuhnya banyak 😂. Dari yang sifatnya intangible, wanita itu butuh disayang, dimanjain, di-iya-in, diberi pujian, dibimbing, dan lain sebagainya. Belum lagi yang sifatnya tangible, wanita butuh belanja, nyalon, nonton, haha-hihi, endebrah brah brah brah. Jadi saya cukup surprised ketika tau mbak Selma ini cuma butuh kepastian!

Berkaca pada pengalaman saya ketika memutuskan menikah, ada banyak faktor yang saya pertimbangkan sebelum mengiyakan ajakan menikah #papadei. Dibandingkan kesiapan finansial, saya lebih memilih untuk memperhatikan indikator kecocokan pemikiran, visi-misi dan kematangan emosional. Bermodalkan tiga hal tersebut, kesiapan finansial menjadi hal yang mungkin dicapai berdua. Begitu juga pengalaman teman blogger saya yang punya 7 Kriteria Pria Idaman untuk Dijadikan Suami. Dan mbak Selma semudah itu mengatakan bahwa dia cuma butuh kepastian?

Coba saya nanya, seumpama sebelum mbak Selma dilamar mas Haqy, ada seorang pria yang katakanlah bernama Haqqul yang memutuskan untuk memberikan kepastian kepada mbak Selma, let’s say Haqqul ini berprofesi sebagai karyawan pabrik sabun dan dari keluarga yang biasa saja, apa mbak Selma akan langsung mau?

Sebagaimana yang mbak Selma gembar-gemborkan, Haqqul membawa kepastian loh! 

Saya sih cuma mengajak mbak Selma untuk lebih jujur dalam menulis. Kalau ga siap untuk jujur ya jangan membagikan kehidupan pribadinya ke publik donk 😂. Eits,,bukan saya nyinyir, pemikiran sederhana itu hanya berlandaskan pada statement mbak Selma yang mengatakan bahwa mbak Selma belum cinta sama mas Haqy. Jadi sampe sekarang saya masih bingung dan belum menemukan jawaban kenapa mbak Selma memutuskan menikah dengan mas Haqy? Apakah benar hanya karena butuh kepastian? 

Mbak Selma sayang, hidup ga semudah cocote Mario Bross. Mungkin akan lebih baik jika mbak Selma sedikit lebih bersabar dalam menceritakan perjalanan cinta yang belum ada cinta-nya ini. Akan lebih inspiratif jika mbak Selma membagikan cerita tentang bagaimana si-mbak dan si-mas menumbuhkan dan memelihara perasaan cinta satu sama lain, karena memelihara perasaan itu bukan sesuatu yang mudah loh mbak. Mbak sendiri sudah berpengalaman kan sebelumnya?

Sekali lagi, saya tidak menyalahkan, saya hanya menyayangkan tindakan si-mbak yang memilih untuk membagikan kisah cinta yang katanya menginspirasi ini ke media sosial. Banyak judgement dan mis-interpretasi yang akan timbul. Jangan sampai si-mbak lupa menghitung keuntungan dan kerugian semua pihak sebelum memposting hal pribadi seperti ini. Bayangkan kalau si-mbak jadi mas Haqy, se-Indonesia sudah mendengar kalau mbak Selma belum cinta sama si-mas 😂. Belum lagi perasaan Senna, mantan pacar si-Mbak, yang terlanjur diajak foto ala-ala tapi ujungnya malah ditinggal kawin. 

 

“Dikenal sebagai sosok yang inspiratif memang menyenangkan, tapi untuk mampu memberikan inspirasi, akan lebih baik jika kita belajar berempati terlebih dahulu” 

Serius deh, masih ada banyak cara yang lebih bijaksana yang bisa dilakukan untuk dapat menginspirasi orang lain. Di usia pernikahan yang baru memasuki usia 3 tahun ini, boro-boro menginspirasi, saya sih lebih memilih untuk memperbaiki diri dan menyelaraskan langkah dalam mewujudkan visi-misi keluarga kami. Kalaupun ternyata mampu menjadi inspirasi bagi orang lain, itu adalah bonus, bukannya fokus. Jangan lupa mbak, sudah ada MT sebagai contoh, betapa berkata-kata itu lebih mudah daripada bertindak. Beneran deh, kata-kata dan hashtag saja tidak cukup untuk menginspirasi.

Akhir kata, semoga si-mbak dan si-mas bisa lebih bijaksana dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahmah ya 🙂

Curhatan Ibu yang anaknya abis di vaksin! 

Alhamdulillah, akhirnya kemarin #babydei dapet jadwal vaksin di Khalifa Healthcare Center. Saking deketnya sama rumah, sampe ga digantiin baju sama emaknya. Lah gimana? bobonya udah pules aja, ga tega mau ngegangguin, apalagi abis ini mau di suntik #caripembelaan.

Sebenernya saya datang ke tempat ini udah dari minggu lalu, tapi ternyata sistemnya bukan yang daftar terus langsung divaksin. Melainkan daftar dulu, dikasih jadwal, baru deh datang buat vaksin #hayatikecelebang!. Yaudah akhirnya baru kesampaian kemarin deh. Caranya juga simpel, cukup bawa buku vaksin, emirates id ama insurance card. Udah ga perlu bayar apa-apa lagi.
Btw, saya sebel sama fotonya ?. Keliatan gede buanget, padahal aslinya ga segitu lo beneran. Pak suami nih ngambilnya cepet-cepetan jadi angle-nya ga pas #alesan #gasadar2 #gigit2pager

Oiyahhh, sejak punya anak, saya jadi cari tau beberapa hal tentang vaksin. Termasuk pro dan kontra-nya. Saya dan suami sih sepakat memberikan vaksin terhadap #babydei. Pusing cin kalau kebanyakan mikir tentang teori konspirasi. Bisa-bisa bukannya mati karena vaksin, tapi justru mati gegara kekhawatiran berlebih ?. But anyway saya bukan mau bahas itu, secara eike juga bukan dokter. Lagipula tiap orang punya pilihan masing-masing, jadi saling menghargai aja deh.

Nah ini nih daftar vaksin yang diwajibkan sama pemerintah UAE, banyak banget. Ga jauh beda juga-lah ama yang di Indonesia.   Karena #babydei usianya udah 2 bulan, 10 hari jadilah kemarin divaksin Hexavalent ama PCV. Alhamdulillah papanya dapet cuti, jadi emaknya ga perlu megangin pahanya pas disuntik. Nangisnya itu loh menyayat hati, untungnya ga sampe semenit udah diem.

Tapi sedihnya, sorenya badannya demam, diminumin Adol malah disembur-sembur. Setelah kuicipin ternyata emang dominan pahit sih rasanya. Pantes Deira ga doyan. See? Siapa bilang bayi ga punya preferensi? ?. Syukurnya, #babydei ga berhenti nyariin ASI. Akhirnya sekarang emaknya yang lemes #tapisempetngeblog #diliriksuami. Lumayan, tiap abis di susuin, Deira langsung ketiduran. Tapi kasian sih, bobonya kaya ga nyenyak gitu, ngeringik aja. Untung si-papa dengan sabarnya ngegendong hampir semaleman, jadi deh Deira bisa bobo dengan pules ?.

Ngomong-ngomong perkara gendong, anak saya emang doyaaaan banget digendong. Istilahnya bau tangan, sempet bete tiap ada komen “wahhh bau tangan yahhh?”, belom lagi nanyanya ketambahan tatapan yang gitu banget. Berasa gw ga becus aja jadi ibu #mungkinhayatibabyblues

Setelah lama kupikir-pikir, tak apalah anakku bau tangan. Anak-anak gw, toh gw juga ga minta tolong orang buat ngegendong ?. Jadi kenapa mesti mikirin omongan orang? Tapi yang jelas ntar kalau ada anaknya temen yang doyan gendong, Insyaa Allah saya ga bakal deh ngeluarin statement dan tatapan nyebelin gitu. All we need is love and support  ❤️ #hayatilelah

Lagian, sampe umur berapa sih dia bakalan minta digendong? Yakin deh,,, pas dia udah gede ntar, kita yang bakalan kangen sama masa-masa ini. Sekarang aja saya udah kangen sama masa-masa Deira pas baru lahir. Antara excited ngeliat Deira tambah pinter, sekaligus sedih karena betapa waktu berjalan sangat cepat.

Pesan moralnya sih satu:

Yuk menikmati setiap waktu yang kita punya dengan orang tercinta ❤️

Oh iya satu lagi!

 

 

Kurang-kuranginlah banyak omong yang ujung-ujungnya nyakitin orang

#hayatilelah #ngurusbayisendiri #selfreminder

April and the 7234 km distance 

Tanpa terasa tahun 2015 sudah memasuki bulan yang ke-empat. Biasanya di bulan ini, keluargaku pasti disibukkan dengan persiapan perayaan ulang tahun papa dan kakak. Bukan yang besar-besaran sih, sekedar tiup lilin dan makan bersama sekeluarga. Sesuatu yang aku anggap ritual tahunan, tidak ada yang spesial selain umur yang makin bertambah.

Rupanya aku salah, tahun ini pertama kalinya aku tidak bergabung bersama keluargaku untuk melewati hari tersebut, betapa momen tersebut tidak sesederhana yang aku pikir sebelumnya. Bukan hanya umur yang makin bertambah, tapi kebersamaan yang kami bangun hingga 60 tahun usia papaku dan 32 tahun usia kakakku. Itu esensi yang terlewat olehku.

7234 km diantara kita, tidak akan memutuskan doaku untuk kalian, keluargaku. Disini aku dan “keluarga baru”-ku memasuki usia ke-8 bulan. Belum ada apa-apanya dibanding semua yang papa, mama dan kakak berikan untukku.

Tapi kuingat pesanmu, jadi istri yang sholehah dan berbakti untuk suami adalah suksesmu mendidik aku.

 

Parenting: Focus on their needs, not yours!

Pengen deh teriak-teriak hal tersebut ke orang tua yang ga berhasil bikin anaknya berani bersikap, mengambil keputusan, bertanggung jawab dan menerima resiko. Eh, emang situ bisa? Walaupun memang tidak mudah, saya yakin BISA.

Saya dibesarkan di keluarga yang demokratis, berbicara dengan asertif merupakan sebuah kebiasaan yang terbangun sejak kecil. Jadi berdiskusi dan berdebat dengan orang tua sudah biasa kami lakukan, justru dari sini kedua pihak belajar untuk lebih mengenal satu sama lain. Papa dan Mama tau, rasa ingin tau saya yang berlebih kadang membuat saya terlalu berani mencoba hal baru. Menantang apa yang sudah biasa ada di masyarakat. Kadang berhasil dengan sukses dan tidak jarang pula saya pulang dengan tangisan karena gagal.

Biasanya selama beberapa waktu saya akan memendam kekecewaan itu, bertanya dalam hati. Kira-kira apa penyebabnya? Jika saya sudah menemukannya, saya tertawa dan (biasanya) akan mencobanya lagi. Hingga saya menghasilkan kesimpulan bahwa hal ini tidak bisa dilakukan. Tapi jika berhari-hari saya masih belum menemukannya, saya akan bertanya pada Papa dan Mama. Duh seketika saya jadi kangen sama mereka hiks.

Ketika menuliskan ini saya baru teringat bahwa Mama pernah mengajari saya mewarnai “Kalau mewarnai itu harus searah dek, biar rapi! Gunung kalau dari dekat warna hijau, kalau dari jauh warna biru…”. Dan saya-pun bertanya “Terus kalau Ayu pengen mewarnai gunung dengan warna hitam gak boleh? Kan di gunung belum ada listrik!”. Mama bilang “Ya gapapa dek, listrik belum masuk desa..”. Alhasil saya pernah mendapatkan nilai 6 untuk mewarnai.

Jadi ketika itu kami diberi selembar kertas yang berisikan gambar sebuah kota lengkap dengan gedung, mobil, rumah dan aktivitas orang-orang didalamnya. Saya mewarnainya dengan crayon hitam. Bisa ditebak, kertas saya layaknya kertas karbon yang berwarna hitam pekat. Bu Yati selaku guru kesenian menghampiri saya dan menanyakan mengapa saya mewarnai seperti itu. “Kota-nya lagi lampu mati bu!” jawab saya. Nilai itu-pun berganti menjadi 8. Dan saya bersekolah di TK Kemala Bhayangkari #bukaniklan. Btw, Bu Yati masih ngajar gak ya?

Ketika kelas 1 SD, saya tidak berani pulang ke rumah karena ujian bahasa daerah mendapatkan nilai 0 (fyi, mama saya terbiasa menemani saya belajar, mengerjakan PR dan pastinya buku saya dibuka satu per satu). Hingga akhirnya saya pulang karena lapar, tapi sesampai di halaman saya tidak berani masuk rumah. Apalagi melihat mama sudah duduk di ruang tamu. “Loh kok ga masuk dek? Ada apa pulangnya kok cek siange?”. Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, saya malah menangis sesenggukan dan lari ke pelukan mama “Ulangan bahasa daerahku dapet 0 ma ” hahaha geli deh ingetnya. Seketika mama memeluk saya yang masih menangis “Ya udah gapapa, besok nol-nya diceplok buat sarapan yah”. Saya makin nangis sesenggukan karena merasa “cegek”, tau gitu pulang daritadi. That’s my mom! Unpredictable.

Jadi kalau sempat beredar “memepic” tentang anak pitik, anak wedhus dan lain-lain itu. Yeah I’ve been there and done that hahahah. Jangan ditanya deh, setelah kejadian itu, dengan ditemani Mama, saya kian rajin menghapalkan materi Pepak Basa Jawi yang sampulnya merah ntuh. Jadi selama bukan tulisan hanacaraka, saya selalu mendapat nilai memuaskan untuk pelajaran bahasa daerah.

Sedangkan Papa, Papa adalah orang pertama tempat saya mengadu ketika dimarahin Mama hahaha. Masih hangat dalam ingatan, ketika kecil saya selalu minta dibawakan oleh-oleh sepulang kerja. Paling sering minta dibawakan waffle, bukan karena saya suka. Hanya karena saya tau, di kantor Papa ada penjual kue tersebut. Sesampai dirumah yang makan kue tersebut ya Papa sendiri sih hahaha. Pernah Papa tidak membawakannya, mungkin karena beliau sendiri bosan tiap hari makan kue tersebut. Saya nangis dengan lebaynya di kamar, besoknya? dibawain lagi! Bedanya, saya menemani beliau makan, walaupun ga suka.

Beliau juga yang setiap malam memeriksa setiap bagian tubuh saya sebelum tidur. Jadi kalau siangnya saya jatuh, pasti malamnya saya sembunyikan lukanya dan selalu aja ketauan. Walaupun sambil ngomel, Papa akan dengan tekun membersihkan luka dan meneteskan obat merah. Old fashion banget yah hahaha.

Ketika kami beranjak dewasa, Papa merupakan salah satu fashion police yang bikin bete. Beliau pasti orang pertama yang mengkritisi appearance saya dan Kakak, bahkan lebih comel dari mama. Walaupun diawal masukannya seringkali kami tolak, tapi akhir-akhirnya nurut juga sih yak!. Gimana-gimana seleranya Papa emang bagus, makanya dapet istri cantik (-_-).

Papa Mama

Begitulah sekilas mengenai pola pendidikan orang tua saya, mereka tidak pernah memaksakan saya untuk menjadi A, B ataupun C. Mereka percaya setiap anak itu “spesial”. Mereka hanya menyiapkan bekal saya, berjalan dari belakang, memandang dari kejauhan, menggumamkan doa dan dengan tangan terbuka siap menerima anaknya yang bahkan pulang dalam kondisi penuh luka.

Ga kerasa air mata ini menetes, I Love You Papa-Mama. Thank you for supporting my decision, my latest decision to be the wife of him. I am grateful to have parents like you who always encourage me to strive for the best in my different way. I would not be where I am today without you.

a Mate Shows the Lighter Side of Destiny

Hari ini tepat satu bulan setelah hari pernikahan saya. Saya menikah dengan pria yang sudah saya kenal sejak tahun 2011. Sama sekali tidak terbayang dalam hidup saya untuk menikah dengannya. Kami berkenalan melalui perantara seorang teman di depan kantin karyawan. Itu saja. Saat itu saya sudah memiliki komitmen dengan seseorang, begitu pula dengannya. Perkenalan itu kemudian lenyap tak berbekas.

Saya seorang sarjana ilmu informasi yang mengidap adiksi tinggi terhadap berbagai jenis bacaan. Linkedin sebagai situs jaringan sosial-profesional menjadi jembatan yang mengantarkan informasi mengenai keberadaannya pada saya. Tulisannya yang random namun terstruktur memikat rasa ingin tahu saya. Layaknya candu, postingan demi postingan tidak pernah saya lewatkan. Iya, saya teracuni oleh tulisannya. Sayangnya seiring berjalannya waktu, konten yang ada di blognya makin tidak bermutu. Sehingga saya-pun melupakannya. Masih banyak blog lain yang lebih berkualitas keleusss.

Di awal tahun 2014, di suatu siang yang terik dan di jam kantor, saya men-tweet quote dari seorang teman. Saya tidak menujukan tulisan itu pada siapapun. 100% untuk diri saya sendiri.

“Everything happens for a reason, but sometimes the reason is because you are stupid and you make a bad decision”

Dan dia me-ReTweet-nya. Terlintas dalam kepala saya “Oh orang ini masih hidup”. Karena kabar terakhir yang saya dengar, dia mendamparkan dirinya ke tengah padang pasir dan parahnya sekarang saya juga ikut terdampar kesini (-__-).

Bakat kepo saya seolah terpancing untuk mencari tau apa yang terjadi dengannya. Melalui blog-nya tentu saja. Dan saya tertawa terbahak-bahak ketika menemukan jawaban atas kondisinya saat ini. “Makanya kalau jatuh cinta jangan lebay, mampus deh lu ditinggal pujaan hati”. Iya, saya memang jahat, judes, ada masalah?.

Jadilah saya mem-bully dia melalui chat yang makin hari makin intens. Sebenarnya tindakan mem-bully dan mentertawakan penderitaannya tidak lepas dari kejadian yang menimpa saya sebelumnya. Gagal menikah. Secara tidak langsung, sebenarnya saya mentertawakan dirinya sekaligus mentertawakan diri sendiri.

Semakin intens percakapan yang kami bangun, entah mengapa saya merasa terlalu nyaman. Dan jika diteruskan mungkin saja akan menjadi bumerang bagi kami berdua. Saya menyampaikan bahwa tidak wajar rasanya bila rasa ketergantungan dalam hubungan pertemanan ini menjadi sedemikian kuat. Saya bermaksud mengakhiri semuanya. Berdiskusi secukupnya. Tapi alam bawah sadar kami sama-sama menolaknya. Entah mengapa terus berlanjut. Saya yakin betul, saat itu saya belum mencintainya. Boro-boro cinta, sayang aja enggak. Tapi jika Allah sudah berkehendak, mampukah kami yang cuma manusia ini menentangnya?

Di bulan Maret 2014, dia pulang ke Indonesia. Saya memperkenalkannya pada Papa dan Mama. Pikiran saya cuma satu, jika boleh ya syukur bisa dilanjut. Jika tidak, ya mumpung belum terlalu dalam. Berakhirlah…

Ternyata orang tua menyerahkan segala keputusan pada saya.

Dan disinilah saya sekarang, terduduk didepan laptop. Menunggunya pulang dari kantor sambil tetap melakukan apa yang menjadi kegemaran saya. Membaca, menulis, memasak, melamun dan whatsapp-an dengannya. Praktis tidak ada yang berubah dalam kehidupan saya, ga tau kalau dia.

Mungkin akan banyak anjing menggonggong yang berkomentar ini-itu, tapi mau sampai kapan kami peduli pendapat orang lain? Dari kami hanya ada niat baik, cukup Allah yang mengetahui. Kami sebagai khafilah cukup berlalu dan mengusahakan yang terbaik.

So baby, please just stand by me and hold my hand 🙂