Category: Living Abroad

Rujak Cireng

Menjelang weekend gini biasanya saya lebih sibuk dari biasanya #gaya hihihi. Bukan sibuk yang gimana gitu sih, cuma nguplek didapurnya agak lamaan. Karena mesti nyiapin cemilan untuk suami. Kali ini saya bikin rujak cireng, buat yang di Indonesia sih benernya tinggal beli yang siap goreng itu aja yak. Tapi masak sendiri juga seru loh, ngeluarin duitnya sama dan dapetnya lebih banyak #emak2 irit hehehe.

Rujak Cireng

Bahan:

200 gram tepung kanji

2 sdm terigu

2 siung bawang putih

1 sdt garam

Daun bawang (jika ada)

Air panas 100 ml

Cara membuat:

Campur semua bahan jadi satu, tambahkan air panas sedikit demi sedikit, aduk dengan menggunakan garpu. Kunci dari pembuatan cireng ada di cara mengaduknya. Jadi biarkan aja merengkel-merengkel seperti di foto. Ambil menggunakan sendok dan garpu, masukkan ke penggorengan. Setelah matang, tiriskan.  Bumbu rujak

Bahan: 

100 gram Cabe rawit

200 gram Petis

200 gram Gula merah

1 sdm Terasi

5 siung Bawang putih

200 ml air asem

Garam secukupnya

Cara membuat:

Haluskan cabe rawit dan bawang putih. Rebus air asem, masukkan cabe rawit+bawang putih yang telah dihaluskan, gula merah, petis, terasi didihkan hingga mengental.

#Tips

Kunci cireng yang krispi diluar dan moist didalam adalah saat mengaduk adonan, pastikan adonannya masi merengkel-merengkel.

Tempat beli tapioka di Abudhabi adalah di Toko South East sebelah restoran bandung atau kalau disana lagi kosong bisa beli di supermarket depan restoran bandung.

Siomay Ayam-Udang

Hallo, semenjak tinggal di tanah rantau saya jadi rajin masak loh :D. Salah satu makanan yang paling sering saya bikin Siomay Ayam-Udang, soalnya bisa di masukin freezer. Kapanpun laper tinggal masukin dikukusannya rice cooker :). Resep ini merupakan padu padan dari berbagai sumber dan sudah disesuaikan dengan selera saya. Tapi temen-temen saya pada ketagihan loooh <3

Siomay Ayam-Udang

Bahan:

150 gram fillet paha ayam, cincang halus
50 gram udang kupas, cincang halus
25 gram jamur shitake, iris halus
1 buah wortel, parut dengan parutan keju
1/2 butir telur ayam
5 siung bawang putih
1 batang kucai, iris tipis
1 sdm gula pasir
4 sdm tapioka
1 sdt garam
1/2 sdt merica bubuk
1/2 sdm minyak wijen
1 sdm saos tiram
50 lembar kulit siomay
 
Cara membuat:
1. Aduk semua bahan menjadi satu
2. Isikan kedalam kulit siomay
3. Beri taburan wortel
4. Kukus selama 20 menit
5. Siap disajikan
Selamat mencoba \(^o^)/

April and the 7234 km distance 

Tanpa terasa tahun 2015 sudah memasuki bulan yang ke-empat. Biasanya di bulan ini, keluargaku pasti disibukkan dengan persiapan perayaan ulang tahun papa dan kakak. Bukan yang besar-besaran sih, sekedar tiup lilin dan makan bersama sekeluarga. Sesuatu yang aku anggap ritual tahunan, tidak ada yang spesial selain umur yang makin bertambah.

Rupanya aku salah, tahun ini pertama kalinya aku tidak bergabung bersama keluargaku untuk melewati hari tersebut, betapa momen tersebut tidak sesederhana yang aku pikir sebelumnya. Bukan hanya umur yang makin bertambah, tapi kebersamaan yang kami bangun hingga 60 tahun usia papaku dan 32 tahun usia kakakku. Itu esensi yang terlewat olehku.

7234 km diantara kita, tidak akan memutuskan doaku untuk kalian, keluargaku. Disini aku dan “keluarga baru”-ku memasuki usia ke-8 bulan. Belum ada apa-apanya dibanding semua yang papa, mama dan kakak berikan untukku.

Tapi kuingat pesanmu, jadi istri yang sholehah dan berbakti untuk suami adalah suksesmu mendidik aku.

 

All About Indonesian Foodstuff in Abudhabi

Semenjak tinggal di Abudhabi saya jadi sangat menunggu hari Jumat dan Sabtu, karena weekend di negara ini jatuh pada hari tersebut. Jika Jumat telah tiba, itu tanda bahwa saya harus segera belanja mingguan. Lumayan mengejutkan karena belanja mingguan ternyata bisa jadi salah satu hal yang sangat sangat menyenangkan untuk saya :o. Mulai dari mikir seminggu ke depan mau masak apa, milih barang mana yang promo, dan sebaiknya belanja dimana. Mengetik dan membayangkan hal tersebut sudah membuat mata saya berbinar-binar saking senengnya :D.

Berbicara mengenai tempat belanja, disini ga ada tuh yang namanya melijo alias tukang sayur. Lupakan toko sebelah rumah ataupun indomaret di ujung gang. Jadi kalau mau berangkat belanja mesti beneran dicatet mau beli apa aja. Dibawah ini merupakan daftar tempat yang biasa saya kunjungi untuk belanja kebutuhan rumah tangga.

  1. Lulu, merupakan tempat belanja favorit saya karena di departemen store ini lebih mudah untuk menemukan bahan makanan Asia yang tidak dijual di tempat lain. Seperti cabe merah besar, daun pisang, nangka muda, kelapa, gula merah (jaggery), tahu goreng. Selain itu, disini sering ada diskonan hahaha #emak2. Bayangin aja cube beef sekilo cuma 20 dhs (kurs 3600).
  2. Carrefour, suami saya lebih demen kesini dibanding ke Lulu karena memang penataannya lebih terstruktur. Tempat ini saya rekomendasikan kalau mau belanja sayur ama buah, karena barangnya fresh dan mulus dan sering ada promo juga. Buat yang mencari bahan untuk western food/baking juga sebaiknya belanja kesini karena alat dan bahannya lebih internesyenel hihihi.
  3. South Asia, nah ini satu-satunya toko bahan makanan Indonesia yang ada di Abudhabi. Tempat saya belanja masako ayam, tempe, kencur, kemiri, dll. Tapi tempe disini ga seenak tempe yang dibikin ama guru ngajinya Mbak Widhi-ku tercinta hihihi #rejekianaksholehah. Disini juga ada bahan membuat kue kaya SP, Ovalet dll (fyi, nyari begituan di supermarket sini susah bangetttt).
  4. Baqala, kalau di Indonesia, baqala ini semacam toko kelontong modern seperti indomaret atau alfamart. Tapi tetep aja untuk menjangkau tempat ini ga semudah menjangkau indomaret. Tetep harus ngeluarin mobil dulu brohhh. Baqala favorit saya yang ada di tourist club area, tepatnya di sebelah Restoran Beijing. Di baqala beijing ini saya menemukan kembang tahu, taoco, kulit siomay, ang ciu, chili oil, wakame, kurage, nori lembaran, miso paste, five spice, dll. Dan sebagaimana toko china di Indonesia, harganya murah <3. Tapi karena orangnya ga seberapa bisa berbahasa inggris, jadi sebelum belanja kesini biasanya saya nyari foto barang yang ada tulisan chinanya. Biar ga kelamaan pake bahasa tarzan :p
  5. Geant, isinya ga seberapa berbeda dengan Lulu dan Carrefour dan untuk beberapa item lebih mahal dibanding dua supermarket favorit saya tadi.
  6. Spinneys, kalau di Surabaya, spinneys tuh semacam ranch market. Ga usah dijelasin deh ya, saya kesini paling cuma itungan jari. Soalnya hemat kan sebagian dari cara mencintai suami wakakakakak.

Nah karena saya tipikal emak-emak pelit gak mau rugi, biasanya saya belanja bumbu dan daging-dagingan ke Lulu, abis itu langsung ke Carrefour untuk belanja sayur. Sekalian cuci mata gitu deh ;). Tapi walaupun bahan makanan disini lumayan lengkap, koper saya selalu beranak tiap menginjak Abudhabi. Mulai dari bahan makanan (kerupuk udang, petis, sambel, cabe rawit, dll) dan peralatan masak (cetakan roti kukus, cobek, ulekan, dll) masuk ke koper pemirsahhhh.

Pastinya, tinggal di luar negeri membuat saya lebih menghargai hal-hal yang tampaknya sepele. Betapa untuk makan rawon aja saya harus merendam kacang hijau dulu, masak lontong sayur-pun harus bikin lontong sendiri. Bahasan saya sih ga jauh-jauh dari makanan yaaa. Abis yang paling berasa banget emang masalah perut, kalau di tanah air mah tinggal kedepan kompleks udah berderet tuh nasi pecel, bubur ayam, soto, bakso, dll. Walaupun disini juga ada restoran yang menjual makanan Indonesia, tapi saya sih lebih prefer untuk masak sendiri. Soalnya kata suami saya lebih enak.

Well, setelah 7 bulan menikah makin banyak daftar makanan yang bisa saya buat :D. Kalau ada yang mau berbagi resep sate padang, saya tunggu yaaaa ^_^

Cara Mengurus Residence Visa UAE-Abu Dhabi

Tulisan ini saya persembahkan buat rekan-rekan yang masih bingung mengenai tata cara mengurus residence visa UAE, khususnya di Abu Dhabi. Terlebih, tidak semua perusahaan menyediakan visa untuk keluarga, misalnya kantor suami saya. Oleh karena itu yang menjadi sponsor saya untuk mendapatkan residence visa adalah suami.

Baiklah, berikut ringkasan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengurus residence visa di Abu Dhabi

  1. Menuju typing center untuk menginput data pengajuan “Entry Visa” dengan membawa dokumen administrasi berupa kontrak kerja sponsor dan perusahaan, surat keterangan kerja, surat keterangan gaji, foto copy emirates id milik sponsor, surat tagihan listrik, thawteeq, foto copy paspor keluarga yang di disponsori. Biayanya 300 dhs dan prosesnya sekitar 30 menit.
  2. Menuju kantor imigrasi dengan membawa formulir pengajuan entry visa dan dokumen administrasi diatas. Jika dokumen sudah benar dan lengkap, pihak imigrasi akan mengeluarkan entry visa berupa lembaran kertas keramat berwarna merah muda. Oiyah, sebelum proses ini dilakukan, pastikan orang yang disponsori berada di luar UAE.
  3. Setelah itu keluarga yang disponsori bisa masuk ke UAE dengan berbekal foto copy entry visa yang dikirim lewat email. Sebelum keluarga yang disponsori masuk ke UAE, pihak sponsor menyerahkan lembaran asli entry visa ke bagian “Visa Collection” di Abu Dhabi International Airport dan membayar 35 dhs. Jika entry visa dikumpulkan setelah pesawat mendarat maka biayanya menjadi 45 dhs (sayang-sayang 10 dhs bisa dapet..bisa dapet apa yak? semua-semua mahaaal wakssss). Kemudian keluarga yang di sponsori bisa menukarkan foto copy entry visa dengan entry visa yang asli melalui loket Visa Collection, seturunnya dari pesawat, untuk kemudian melakukan scan mata (yang pake lensa kontak ga usah khawatir, saya pake yang bening dan ga perlu di lepas).
  4. Sesampainya di Abu Dhabi, saya harus segera mengurus “Emirates ID” (semacam KTP-nya ekspatriat selama di UAE) dengan mendatangi MOFA di Marina Mall untuk melakukan registrasi. Dokumen yang dibawa adalah paspor keluarga yang di sponsori dan entry visa. Prosesnya sekitar 15 menit dan kita akan mendapatkan form registrasi emirates id, biayanya 270 dhs.
  5. Sesudah tahapan diatas, sponsor sebaiknya segera mengurus asuransi ke perusahaan asal dengan membawa dokumen milik sponsor berupa paspor, visa, emirates id, insurance card. Serta dokumen milik keluarga yang disponsori berupa form registrasi emirates id, paspor dan entry.
  6. Melakukan cek fisik dan kesehatan. Diawali dengan identifikasi sidik jari di pusat biometrik dengan membawa paspor, entry visa dan form registrasi emirates id untuk melakukan scan sidik jari. Jangan lupa untuk meminta stamp berupa keterangan bahwa proses tersebut sudah dilakukan.
  7. Menuju ke SEHA (saya ambil yang di Berkeley, karena bersih dan tidak terlalu ramai) dengan membawa paspor, entry visa dan form registrasi emirates id. Disini kita akan di cek fisik, foto rontgen dan diambil darahnya untuk memastikan kesehatan tubuh kita. Untuk proses ini biayanya 250 dhs. Hasil tes kesehatannya bisa diambil setelah mendapat konfirmasi melalui sms.
  8. Setelah mendapatkan sms konfirmasi, hasil cek kesehatan sudah bisa diambil.
  9. Menuju ke typing center untuk registrasi pengajuan residence visa. dengan membawa dokumen milik sponsor berupa paspor, visa, emirates id, insurance card. Serta dokumen milik keluarga yang disponsori berupa form registrasi emirates id, paspor, visa entry, surat keterangan sehat dari SEHA. Prosesnya hanya 15 menit, biayanya 350 dhs.
  10. Menuju kantor imigrasi dengan membawa dokumen di atas, foto copy insurance card keluarga yang di sponsori plus form registrasi pengajuan residence visa. Setelah data di submit, 3-4 kemudian paspor yang sudah berstikerkan residence visa akan dikirim melalui pos ke p.o box yang kita cantumkan. Emirates id juga akan dikirim melalui pos secara terpisah. Alhamdulillah sekarang saya sudah resmi mendapatkan Visa Residence UAE-Abu Dhabi

Menariknya di negara ini, jika anda tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu, beberapa proses menyediakan pelayanan yang lebih cepat. Misalnya di SEHA, jalur khusus berbiaya 350 dhs dan hasilnya bisa keluar keesokan harinya. Kemudian di Imigrasi (proses terakhir) juga ada jalur cepatnya, jadi kita tidak perlu menunggu 3-4 hari untuk mendapatkan paspor kita kembali. Bayar 450 dhs dan paspor bisa selesai hari itu juga.

Tapi alhamdulillah, rejeki anak sholehah, SEHA saya jadi keesokan harinya, paspor juga langsung diserahkan saat itu juga. Langsung deh hore-hore senang. Yah walaupun biaya pengurusan residence visa ini di ganti oleh kantor, rasanya seneng aja mendapatkan keajaibannya Allah.

Buat yang lagi mengurus visa residence, selamat berjuang yah! proses panjang dan melelahkan tapi bukan berarti ga bisa dilalui. Beberapa hal yang bikin ribet karena beberapa petugasnya agak terbatas dalam berbahasa Inggris, jadi dalam menyampaikan proses/tahapan yang harus dilalui terkadang kurang jelas. Terkadang mereka akan memanggil temannya dulu untuk menjelaskan kepada kita hehehe. Jadi sekalian sama latihan sabar dan dinikmati aja setiap prosesnya.

Akhir kata, semoga tulisan saya bisa membantu yaaa.

Baca juga: Cara Mengurus SIM di Abu Dhabi, All About Indonesian Foodstuffs in Abu Dhabi