Category: Living Abroad

Resep Kue Nastar Keju ala Pojok Simbok

Walaupun suami-istri, saya dan suami memiliki selera yang lumayan berbeda. Termasuk dalam hal kue kering untuk lebaran. Saya yang tidak terlalu menyukai makanan manis, lebih tertarik untuk menghabiskan setoples kaastengels dibanding nastar. Apalagi membuat selai nanas bukanlah pekerjaan yang sederhana karena pasti akan menghabiskan waktu berjam-jam. Tapi lagi-lagi mumpung ada mama, jadilah saya mengukuhkan niat untuk membuat kue nastar hahaha. Dan untuk mengakali perbedaan selera antara saya dan suami, maka terciptalah Resep Kue Nastar Keju Premium yang gurih dan manis diluar, serta manis dan lembut didalam seperti dibawah ini.

Keju yang saya gunakan dalam adonan nastar ini adalah keju edam. Menurut selera saya, dibandingkan keju cheddar, keju edam memiliki rasa yang lebih enak dan khas. Saya sengaja memilih keju edam yang mature atau tua agar rasa dan aroma yang dihasilkan lebih nendang, tapi jika anda bukan cheese lovers-die hard level sebaiknya menggunakan keju cheddar, karena keju edam yang tua memiliki after taste agak pahit yang mungkin kurang cocok dilidah beberapa orang.

Baca juga: Resep Kaastengels ala Ricke Ordinary Kitchen

Bahan:
250 gram margarin
250 gram wisjman butter
150 gram gula halus
4 kuning telur
200 gram keju edam, parut/haluskan
700 gram all purpose flour
50 gram maizena

Kuning telur untuk olesan

Selai nanas:
3 buah nanas
300 gram gula pasir
2 batang kayu manis
3 buah cengkeh
1/4 sdt garam

Cara membuat selai nanas:

  1. Kupas dan cuci bersih nanas.
  2. Parut menggunakan parutan keju.
  3. Tumis parutan nanas bersama kayu manis dan cengkeh menggunakan wajan teflon.
  4. Setelah surut masukkan gula pasir dan garam.
  5. Koreksi rasa, sesuaikan dengan selera.

Cara membuat:

  1. Ayak terigu dan maizena. Sisihkan.
  2. Campur margarin, butter, gula halus dan telur (Saya mengaduk dengan menggunakan sendok kayu. Bisa juga menggunakan mixer, namun mengocoknya jangan terlalu lama karena akan mempengaruhi hasil saat dioven).
  3. Masukkan parutan keju edam, aduk rata.
  4. Tambahkan campuran tepung. Aduk dengan sendok kayu hingga tercampur rata dan adonan bisa dipulung.
  5. Ambil sedikit adonan, pipihkan, beri selai nanas, bulatkan. beri guratan agar berbentuk seperti nanas yang baru dikupas. Olesi dengan kuning telur.
  6. Tata dalam loyang yang telah diolesi baking paper.
  7. Panggang dalam oven suhu 180’C selama 45 menit atau sesuai kondisi oven masing-masing.
  8. Keluarkan dari oven, dinginkan. Simpan dalam toples kedap udara.

Resep Opor Ayam Kuning untuk Lebaran

Tidak terasa lebaran sudah didepan mata, semoga ibadah kita tetap lancar dan dimudahkan ya teman-teman. Bicara tentang lebaran ada menu spesial warisan eyang saya yang selalu tersaji di meja makan. Jika biasanya Opor Ayam yang banyak saya jumpai berwarna putih dan pucat, maka eyang saya menyajikan Opor Ayam Kuning. Sebenarnya bumbunya hampir sama sih, hanya menggunakan kunyit sebagai pewarna alami. Hal yang membuat berbeda, eyang menyajikan opor dengan nasi dan sambal terasi. Ngangenin deh.

Baca juga: Kenangan Masa Kecil Saat Lebaran Tiba

Saya yakin tiap keluarga memiliki menu khas yang disajikan setiap lebaran. Dan apapun menu itu selalu terasa spesial dilidah kita, sesederhana karena makanan tersebut dimasak dengan penuh cinta. Mengingat eyang membuat saya menitikkan air mata, eyang saya pemasak yang handal dan cenderung kondervatif. Beliau bersikukuh tidak mau menggunakan blender untuk menghaluskan bumbu. Walaupun di usianya yang menginjak 60 tahun, eyang masih kuat menguleg bumbu bali, bumbu opor dan lain sebagainya. Berbeda dengan saya yang nguleg sambel aja langsung berasa tremor. Mungkin itu yang membuat masakan generasi jaman dulu tidak tergantikan.

Menurut saya pribadi, tidak ada resep pakem dalam sebuah masakan karena setiap keluarga pasti memiliki selera tersendiri. Saya meyakini hal tersebut sebagaimana saya meyakini bahwa tidak ada makanan yang tidak enak didunia ini. Hanya ada dua jenis makanan, makanan yang sesuai dan tidak sesuai dengan selera kita. Variasi resep inilah yang memperkaya khasanah kuliner Indonesia. Berikut resep Opor Ayam Kuning khas keluarga saya, semoga bisa menginspirasi.

Opor Ayam Kuning

Bahan:
1 kg ayam, potong dan cuci bersih
500 ml air
100 ml santan

Bumbu:
5 siung bawang putih
7 siung bawang merah
3 butir kemiri
3 ruas jahe
3 ruas kunyit
5 lembar daun jeruk purut, remas
1 batang sereh, geprek
1/2 sdm merica halus
1/2 sdm garam halus
1/2 sdm garam

Cara membuat:

  1. Haluskan bawang putih, bawang merah, kemiri, jahe dan kunyit.
  2. Panaskan minyak, tumis daun jeruk dan sereh hingga harum.
  3. Masukkan bumbu halus, tumis hingga matang.
  4. Tambahkan ayam, setelah ayam berubah warna, masukkan air dan didihkan.
  5. Masukkan santan, tambahkan garam dan lada bubuk, koreksi rasa.
  6. Tunggu hingga kuah mengental dan siap disajikan.

Soto Ayam Bening khas Semarang

Salah satu makanan favorit anak saya adalah soto, apapun olahan soto pasti akan dihabiskan dengan lahap. Entah soto ayam, soto daging, soto babat dan lain sebagainya. Salah satu soto yang paling sering saya buat adalah soto ayam khas Semarang yang dimakan dengan pelengkap berupa keripik kentang. Bumbu soto ayam khas Semarang ini sedikit berbeda dengan soto ayam lainnya karena penggunaan bumbu yang minimalis. Kuah yang cenderung bening menjadikannya berbeda dengan soto ayam Lamongan yang keruh karena penggunaan bandeng dalam kaldunya. Buat saya, keduanya sama enaknya.

Bahan pelengkap Soto Ayam khas Semarang ini sebenarnya bermacam-macam, dapat disesuaikan dengan selera dan persediaan bahan yang ada dirumah. Di Surabaya sendiri tidak banyak penjaja soto yang menyajikan soto dengan versi Semarang seperti ini. Berbeda ketika saya berwisata ke Yogyakarta atau ke Semarang, tipikal soto yang disajikan berkuah bening dan dilengkapi dengan keripik kentang atau perkedel. Huahhh jadi kangen tanah air!

Mengingat lebaran tahun ini saya tidak mudik, alamat baper liat postingan teman-teman yang mudik hahahaha. Tapi alhamdulillah juga sih, karena ramadhan tahun ini ada mama yang berkunjung ke Abu Dhabi. Jadi semangat kebersamaan dengan keluarga tetap dapat saya rasakan walaupun jauh dari ibu pertiwi. Jadilah mumpung mama disini, saya banyak-banyak berguru dan mencatat resep masakan mama yang luar biasa enaknya. Emang yah, seenak apapun masakan kita, paling enak tetap masakan mama. Saya jadi senyum-senyum GR, membayangkan 20 tahun lagi, anak cucu saya akan merindukan masakan saya hahahaha. Yah semoga resep-resep disini bisa menjadi salah satu warisan untuk anak saya kelak. Berikut catatan resep soto ayam berkuah bening ini, mungkin teman-teman ada yang mau mencoba.

Resep Soto Ayam Semarang

Bahan:

1 kg ayam
2 liter air
1 batang daun bawang, rajang halus
1 sdm bawang putih goreng
2 batang serai, geprek
5 lembar daun jeruk, remas
1 sdm garam
Sejumput gula untuk penyeimbang rasa

Bumbu Halus:

5 siung bawang merah
7 siung bawang putih
4 butir kemiri
1 ruas kunyit
1 ruas jahe
1 ruas lengkuas
1/2 sendok teh merica

Isian:

Kol, iris tipis
Telor rebus
Keripik kentang
Bawang merah goreng
Kerupuk udang
Sambal

Cara Membuat:

  1. Rebus ayam hingga matang di atas api kecil.
  2. Haluskan bumbu, sisihkan.
  3. Panaskan minyak, tumis serai dan daun jeruk hingga wangi. Masukkan bumbu halus dan tumis hingga matang.
  4. Masukkan bumbu ke kaldu rebusan ayam. Tambahkan garam dan gula, koreksi rasa.
  5. Tambahkan rajangan daun bawang, dan bawang putih goreng. Biarkan mendidih dan meresap.
  6. Angkat ayam. Suwir-suwir ayam, sajikan bersama pelengkap.
  7. Untuk sambal, rebus cabai rawit, cabai merah, dan bawang putih kemudian haluskan.

Baca juga: Pengalaman Mengikuti Iftaar di Sheikh Zayed Grand Mosque

Pengalaman Mengikuti Iftaar di Sheikh Zayed Grand Mosque

Apa kabar teman-teman? Masih semangat kan puasanya? Saya sih lumayan lemas mengingat suhu diluar sudah mencapai 40 derajat celcius. Jadilah males ngapa-ngapain hehehe. Sebelum berbagi resep, saya mau berbagi cerita dulu tentang bulan Ramadhan di Abu Dhabi. Sebenarnya tahun lalu saya sudah sempat menuliskan sedikit cerita tentang situasi puasa disini yang sangat jauh berbeda dengan di Indonesia.

Baca juga: 4 Pengalaman Baru Menjalankan Puasa di Negeri Orang

Selayaknya negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim, Abu Dhabi memiliki masjid besar yang bernama Sheikh Zayed Grand Mosque. Masjid yang berdiri diatas tanah seluas 12 hektar ini mampu menampung lebih dari 40 ribu orang. Pilar-pilar masjid banyak dihiasi ornamen floral dan emas yang memberikan kesan mewah. Hal ini mengantarkan saya pada memori tahun lalu ketika mengunjungi Al Ain Museum. Di museum tersebut dipajang beberapa foto masjid ditahun 1960-an, masa sebelum minyak ditemukan di negara ini. Dari foto tersebut jelas terlihat bagaimana masjid sudah dibangun dengan megah, padahal penduduknya sendiri masih tinggal di yanoobi atau tenda yang terbuat dari anyaman daun kurma. Menyaksikan hal ini membuat saya berdecak kagum, betapa pemimpin negara ini memberikan yang terbaik untuk rumah Allah.  Tidak hanya itu, untuk penganut agama lain-pun disediakan rumah ibadah yang menunjukkan betapa pemimpin negara ini menjunjung tinggi toleransi. Jangan khawatir, nanti akan saya tulis di artikel terpisah.

Didalam masjid yang mulai dibangun pada tahun 1996 ini tidak hanya ada area ibadah, namun ada pula cafe, souvenir shop, juga perpustakaan yang berisikan berbagai literatur agama Islam. Di halaman masjid terdapat makam Sheikh Zayed, pendiri negara UAE. Sepanjang hari ada staff yang khusus bertugas untuk mengumandangkan bacaan Al Quran di sekitar makam. Sayangnya kita dilarang mengambil gambar ditempat tersebut. Di sekeliling area masjid juga terdapat kolam yang melambangkan ketenangan dalam berdialog dengan sang pencipta. Masjid ini sangat terbuka untuk siapapun yang ingin mengenal agama Islam, jadi siapapun boleh berkunjung asal mau mengikuti tata tertib yang ada. Biaya masuknya gratis, bahkan pengunjung yang tidak menggunakan baju muslim akan dipinjami abaya untuk perempuan dan kondura untuk laki-laki.

Sebagaimana masjid-masjid di Indonesia, di masjid ini juga menyediakan menu takjil dan berbuka selama bulan ramadhan. Area akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu laki-laki, perempuan dan keluarga. Mengingat banyak masyarakat yang menikmati waktu berbuka di masjid, maka sebaiknya sebelum jam 6:30 pm kita sudah sampai disini. Harap bersabar ya, mengingat besarnya ukuran masjid maka jarak perjalanan dari tempat parkir ke lokasi masjid lumayan bikin kaki berkonde. Lagi-lagi mengingat ukuran masjidnya yang luar biasa besar, biasanya saya sudah membawa wudhu dari rumah. Jadi sesampai di masjid langusng duduk manis, menikmati makanan lalu dilanjut sholat maghrib. Umumnya, pengunjung akan tetap berada di masjid hingga waktu tarawih tiba. Tapi karena saya bawa toddler jadilah seusai ibadah maghrib langsung pulang.

Oiyaaa, takjil yang dibagikan tidak hanya sekedar kurma dan air minum loh. Namun lengkap dengan menu utama berupa paket Nasi Biryani dan Sayur Kari. Makan bersama diatas hamparan karpet seperti ini sungguh menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Seselesai makan, masing-masing dari kami akan membereskan sisa makanan dan membuangnya ketempat sampah. Sungguh sangat mendamaikan hati.

Sayangnya sesampai dirumah saya masih punya PR untuk menyiapkan makan sahur, karena saya lagi malas masak yang ribet. Jadilah saya memasak “Tumis Tempe dan Cecek Pedas” untuk menu sahur. Berhubung disini tidak ada yang menjual kulit sapi segar, maka saya memanfaatkan rambak yang dibawakan mama dari Indonesia. Saya menggunakan 250 gram rambak kering yang telah direndam semalaman.

Tumis Tempe dan Cecek Pedas

Bahan:
1 papan tempe, potong kotak
250 gram rambak, rendam semalam
Segenggam pete jika suka
50 cc air asam
250 cc air

Bumbu:
8 siung bawang merah
5 siung bawang putih
5 buah cabai rawit
2 ruas lengkuas
1 sdm gula merah sisir
1/2 sdm garam
2 lembar daun salam

Cara membuat:

  1. Goreng tempe setengah matang, sisihkan. Cuci bersih rambak yang sudah direndam semalaman.
  2. Haluskan bumbu kecuali daun salam.
  3. Panaskan minyak, tumis daun salam hingga wangi. Masukkan bumbu halus dan tumis hingga tanak.
  4. Masukkan gula merah dan garam, tambahkan tempe dan cecek. Aduk rata.
  5. Tambahkan air asam, aduk hingga matang.
  6. Masukkan air, biarkan hingga menyusut dan meresap.
  7.  Tambahkan pete, koreksi rasa dan siap disajikan.

Demikian pengalaman saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman semua. Boleh di share juga donk pengalaman ramadhan di kotamu?

Baca juga: Piknik ke Green Mubazarah: Agenda Wajib Setiap Musim Dingin, Sheikh Zayed Festival: Festival untuk Mengenang Presiden Pertama UAE

Cara Mengurus Surat Ijin Mengemudi di UAE-Abu Dhabi

Setelah tinggal di Abu Dhabi selama kurang-lebih 3 tahun, akhirnya bulan Maret lalu saya memberanikan diri untuk mengurus driving license alias surat ijin mengemudi alias SIM. Bukan tidak bisa menyetir, tapi mendengar cerita dari suami dan teman-teman bahwa rangkaian tes yang harus diikuti sangatlah banyak dan panjang. Seketika saya mengingat proses mendapatkan SIM di Indonesia yang cuma bayar, lalu foto! Alhasil selama ini saya nyetirnya asal nyetir dan tanpa tau aturan yang berlaku, hiks.

Baiklah, langkah pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan SIM adalah datang ke Emirates Driving Company yang terletak di Mussafah untuk melakukan open file atau registrasi. Siapkan copy dan dokumen asli dari paspor, emirates id, visa, SIM dari negara asal (kalau ada) dan legalisir SIM dari KBRI. Untuk jam kerja-nya bisa di cek langsung di website berikut yah.

Pada tahapan ini, petugas akan mengambil data diri sekaligus foto kita. Jangan lupa dandan yang kece! Jika lulus, foto inilah yang nantinya akan terpampang di SIM kita. Sesudah melengkapi proses pemberkasan, kita menuju ke gedung utama di bagian driving schools services center untuk mengaktifkan akun yang sebelumnya sudah diregistrasi. Pendaftarannya juga bisa dilakukan melalui aplikasi Abu Dhabi Police, biayanya 320 dhs.

Setelah akun aktif, kita bisa mendaftar untuk mengikuti kelas teori yang keseluruhan-nya ada 8 kelas. Oleh karena ingin mempersingkat waktu, maka kelas teori saya padatkan menjadi 2 hari. Untuk mengikuti kelas teori, biaya yang harus dikeluarkan sebesar 1102 dhs. Sesudah mengikuti kelas teori, kita dapat mem-booking jadwal tes di resepsionis.

Saya beruntung karena tes-nya dilakukan seminggu kemudian, mengingat ada teman yang harus menunggu hingga sebulan untuk mendapatkan jadwal tes. Sempat nderedeg juga di tahapan ini. Namanya udah lama ga sekolah, jangan-jangan daya ingat udah mulai menurun. Tapi alhamdulillah soal yang keluar tidak jauh berbeda dari apa yang sudah diajarkan di kelas. Jika sudah lulus tes teori, kita akan diberi SIM sementara yang bisa digunakan saat praktek mengemudi dijalan.

Sebenarnya untuk mereka yang sudah memiliki SIM di negara asalnya bisa mempergunakan golden chance atau kesempatan untuk langsung mengikuti road test tanpa harus praktek mengemudi lebih dahulu. Tapi saya melewatkan kesempatan tersebut! Alasannya sederhana sih, walaupun di Indonesia memiliki 9 tahun jam terbang menyetir mobil, tetap saja saya merasa perlu untuk membiasakan diri dengan setir yang berada di kiri. Jadilah saya mengambil jadwal road test di tanggal 20 Mei. Sehingga ada waktu yang cukup untuk berlatih mengemudi di jalan.

Oiyaaa, untuk praktek mengemudi di jalan kita harus mengeluarkan biaya sebesar 75 dhs per kelas (durasi 45 menit). Awalnya, saya bermaksud mengambil 4 kelas biar irit, tapi kok masih belum percaya diri! Jadilah diperpanjang hingga 8 kelas. Sedikit saran, pilihlah instruktur dengan cermat. Jika perlu minta rekomendasi dari teman anda. Saya mengikuti kelas praktek yang di-instruktur-i oleh Syad (mungkin ada yang butuh kontaknya boleh japri). Orangnya sabar tapi tegas. Di pertemuan pertama, Syad banyak mengkoreksi cara menyetir saya yang sangat tidak mengikuti peraturan. Ia berkali-kali menekankan bahwa praktek mengemudi dilakukan bukan untuk lulus tes pada tanggal 20 mei. Praktek ini bertujuan untuk membuat saya terbiasa dengan aturan jalan di UAE, sehingga nantinya dapat menyetir dengan aman dan selamat.

If you drive safely, you will pass the test!

Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga, tepat tanggal 20 Mei saya mengikuti road test. Dihari H, semua peserta dikumpulkan di ruang resepsionis tempat pertama kami meregistrasikan diri. Sesudah itu, satu demi satu peserta diarahkan menuju bus. Sebelum menaiki bus, tiap orang diwajibkan membayar 40 dhs. Nantinya bus ini akan berjalan dibelakang mobil khusus untuk praktek, didalamnya terdapat 2 orang polisi (1 polisi pria duduk disamping pengemudi, 1 polisi wanita duduk dibelakang) yang siap menilai performa menyetir peserta tes. Saya mengikuti road test bersama dengan 21 orang lain yang berasal dari berbagai negara. Dari obrolan yang kami lakukan, ada yang sudah gagal 2x, 4x dan lain sebagainya. Sebenarnya mendengar informasi tersebut sempat membuat saya down, tapi karena sudah terlanjur, ya sekalian saja saya tanya penyebab mereka gagal di tes sebelumnya.

Nantinya didalam bis, kita akan berdiskusi dengan peserta lain, siapa yang akan turun dan tes duluan. Satu sama lain biasanya akan berebut ingin mendapatkan giliran nomer sekian, sekian dan sekian. Tapi saran saya, lupakan hal tersebut! Mau giliran nomer 1 atau nomer 10, jika cara menyetirnya salah – tidak akan lulus. Jadi daripada buang-buang energi untuk memperebutkan nomer, lebih baik kita mengamati teman yang lebih dahulu turun dari bus dan mengikuti tes. Setiap orang di tes sekitar 2-5 menit, sesudahnya kita bisa kembali ke bus dan menunggu SMS yang dikirim oleh UAE Traffic. Setelah menerima sms tersebut, kita bisa segera meng-issue kartu SIM melalui aplikasi Abu Dhabi police, biayanya 315 dhs. Alhamdulillah, begitu kartu ditangan bahagia-nya ngalah-ngalahin lulus skripsi hahahaha. Bayangkan aja dari 22 orang, cuma ada 7 yang lulus. Masyaa Allah.

Mungkin ada yang heran, dapet SIM aja bahagia bener. Bagaimana tidak berbahagia, mau tau total biaya yang dikeluarkan? Totalnya sekitar 2400 dhs atau sekitar 9 juta rupiah! Menurut saya pribadi, mengeluarkan uang sejumlah itu untuk mengurus SIM sangatlah mahal. Dibanding di Indonesia yang cukup membayar 500 ribu rupiah saja. Belum lagi waktu yang harus dikeluarkan untuk mengurus ini-itu, bahkan suami sampai ambil cuti untuk mengantar saya registrasi dan tes. Alhamdulillah-nya saat proses mengurus SIM ini saya lakukan, ada mama yang sedang berkunjung ke Abu Dhabi. Jadilah saya harus bersungguh-sungguh untuk lulus road test. Hampir semua orang saya minta bantuan doa dan tips-tips-nya.

Sekalian saya tuliskan tips dan trik saat mengikuti road-test ya, siapa tau ada yang butuh.

  1. Jangan lupa menyapa polisi dibelakang, ucapkan Assalammualaikum dengan ramah. Tunjukkan bahwa anda percaya diri. Masyarakat lokal umumnya menyukai orang yang bersemangat, percaya diri namun tetap santun.
  2. Cek SMS alias Seat-Mirrors-Seat belt. Namanya mobil habis digunakan pengemudi lain, pasti donk pengaturan-nya harus disesuaikan dengan kebutuhan kita.
  3. Dengarkan instruksi dari polisi didepan, jangan takut mengambil keputusan untuk menyalip kendaraan lain jika memang dibutuhkan.
  4. Pastikan selalu melihat ke arah front mirror saat menginjak rem. Polisi dibelakang yang nantinya akan mengecek gesture kita selama menyetir.
  5. Saat akan pindah jalur atau belok kiri/kanan, pastikan untuk mengecek sekitar baru menyalakan lampu sign. Ada lima tahapan dalam mengecek kondisi jalan, yaitu cek front mirror, side view mirror, blind spot, nyalakan lampu sign lalu cek kembali front mirror. Kelihatannya ribet, tapi inilah salah satu indikator utama dalam penilaian.

Demikian pengalaman saya mengurus SIM di Abu Dhabi, tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang telah dengan tulus membantu doa, memberikan tips dan meyakinkan bahwa saya pasti lulus. Makasih ya semuanya, gusti Allah yang membalas 🙏🏻❤️. Semoga bermanfaat ya teman-teman.

Baca juga:Cara Mengurus Residence Visa di UAE-Abu DhabiBerbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke UAE: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Piknik ke Green Mubazzarah: Agenda Wajib Setiap Musim Dingin!

Halo semuanyaaa, jujur deh, saya suka krik-krik kalau posting resep doank, jadilah diselingi dengan beberapa cerita, curhatan, opini dan catatan perjalanan selama tinggal di UAE. Jadi selain belajar masak bareng, kita bisa saling bertukar cerita dan pengalaman satu sama lain.

Saya ingat betul pertama kali datang di Abu Dhabi, sejauh mata memandang yang tampak hanya padang pasir. Pertama sih seru ya, tapi lama-kelamaan saya mulai merasa bosan. “Serius nih, pasir lagi-pasir lagi?” demikian saya bertanya kepada suami. Mungkin karena berisik mendengar keluhan istrinya, suami saya berinisiatif untuk mengajak saya piknik ke gunung yang berlokasi di Al Ain. Sebagai istri yang baik, saya semangat donk. Secara udah kangen juga sama hijaunya pegunungan. Demikian bahagianya, ketika sampai dilokasi saya-pun mengernyitkan dahi. Gunung yang dimaksud suami ternyata ya seperti yang difoto itu. Gunung batu!

Asli kalau diingat, bawaannya pengen ngakak. Yakali, saat musim panas suhu bisa mencapai 55 derajat. Mana mungkin ada hutan pinus disini, ngayal aja. Jadi teman-teman, ternyata homesick membuat saya menjadi mendadak oneng hahahaha. But anyway, kami tetap piknik dan berbahagia, dan jadi agenda wajib setiap musim dingin tiba.

Biasanya saya dan teman piknik dari pagi sampai malam, kalau perlu menginap dan membawa tenda. Pernah juga saya piknik bawa kompor, jadi makan lontong sayur di taman gitu deh. Abis gimana? banyak taman bagus tapi makanannya burger lagi-burger lagi. Bete! hahahahaha.

Lah gimana, jangankan ke taman, ke London aja saya bawa sambel bawang. Dan kali ini saya mau berbagi resep Kotokan Tahu, mumpung punya belimbing wuluh dan pete. Banyak masakan Jawa yang menggunakan santan sebagai bahan utama. Seperti lodeh, kare, opor dll. Sebagaimana umumnya masakan bersantan lainnya, makanan ini lebih enak jika sudah “nginep” alias dihangatkan beberapa kali. Memang tidak sehat, tapi sekali-sekali bolehlah yaaaa😂

Kotokan Tahu

Bahan:
200 gram tahu
100 gram jambal roti potong kotak, goreng sebentar
100 gram bunga bawang, potong-potong (bisa diganti kacang panjang)
20 gram pete
5 buah belimbing wuluh (bisa diganti tomat hijau)
200 cc santan

Bumbu:
7 siung bawang merah
3 siung bawang putih
5 buah cabai rawit
2 ruas lengkuas, geprek
4 lembar daun salam
Gula dan garam secukupnya

Cara membuat:
1. Rajang halus bawang merah, bawang putih dan cabai rawit.
2. Potong-potong belimbing wuluh.
3. Panaskan air, masukkan bumbu rajang, lengkuas dan daun salam. Biarkan mendidih.
4. Masukkan tahu, ikan asin jambal roti, bunga bawang, pete dan belimbing wuluh, didihkan kembali.
5. Masukkan santan, gula dan garam.
6. Koreksi rasa, siap disajikan.

Sheikh Zayed Festival, Festival untuk Mengenang Presiden Pertama UAE

Jika teman-teman ada yang ingin berkunjung ke Abu Dhabi, waktu terbaik adalah saat musim dingin, selain cuacanya lebih nyaman untuk berjalan-jalan, saat musim dingin kita berkesempatan untuk mendatangi berbagai festival yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Al Wathba untuk mengunjungi Zayed Heritage Festival. Biaya masuknya gratis loh! Saya lampirkan beberapa fotonya ya teman-teman.

Festival ini diselenggarakan untuk memperingatin 100 tahun usia Sheikh Zayed. Sheikh Zayed adalah founding father negara UAE. Beliau adalah orang yang sangat visioner dan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Negara ini sangat kaya, ibarat pepatah, penduduknya lahir dengan sendok emas di mulutnya.

Untuk menghindari sifat malas yang biasa menjangkiti warga dari negara-negara kaya, pemerintah UAE mendorong warganya untuk bersekolah setinggi mungkin. Bayangkan saja, siapapun yang mau mengenyam pendidikan akan diberi peralatan sekolah, mulai dari laptop, buku, iPad hingga uang saku. Sekolahan untuk warga lokal juga gratis alias tidak membayar sepeser-pun. Setelah lulus-pun tidak perlu khawatir akan bekerja kemana, karena sudah ada kementerian khusus yang bertugas untuk mencarikan pekerjaan bagi warga lokal agar keahlian mereka termanfaatkan dengan tepat, namanya Ministry of Human Resource and Emiratisation.

Baca juga: 4 Wisata Menarik di Dubai, Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Berbicara mengenai kesejahteraan warganya, jangan heran jika gaji yang didapat oleh expat atau pendatang yang bekerja disini sangat jauh dibanding penduduk lokal, walaupun posisinya sama. Jangan protes! Begitulah cara mereka memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya.

Kalau boleh jujur, saya luar biasa salut dengan cara berpikir pemimpin negara ini, jangan sampai, warga lokal malah kesulitan mendapatkan pekerjaan di tanah airnya. Dan hebatnya spirit tersebut dilanjutkan oleh Sheikh Khalifa dan Sheikh Mohammad, pemimpin saat ini. Kebayang kan bagaimana penduduk-nya sangat mencintai Sheikh Zayed?

Anyway, selain menyaksikan pertunjukan kembang api, di festival ini juga terdapat pertunjukan kesenian lokal. Irama musik padang pasir berkumandang dari segala sudut, ada pula tarian khas Arab yang menggunakan tongkat, juga marching band yang diiringi lagu Arab #yaiyalah. Dan dimana ada keramaian, disitu ada makanan hahahaha. Tapi dasar saya lidah lokal, yaudah sih ga ada makanan yang menarik untuk saya.

Lidah saya lebih memilih untuk makan klepon dibanding burger, hotdog, kentang spiral dll. Ngomong-ngomong klepon, sekalian saya bagikan resepnya yah. Siapa yang bisa menolak gurihnya santan didalam adonan tepung ketan yang berpadu dengan legitnya gula merah?

Klepon

Bahan:
250 gram tepung ketan
150 cc santan hangat
1 sdt pasta pandan
2 sdm minyak sayur
1 sdt garam

Bahan Pelengkap:
100 gram gula merah, sisir untuk isian klepon
200 gram kelapa parut, aduk dengan sejumput garam lalu dikukus

Cara membuat:
1. Didihkan air, sisihkan.
2. Masukkan pasta pandan kedalam santan hangat, aduk rata.
3. Tuangkan sedikit demi sedikit larutan santan hangat kedalam tepung beras, aduk rata.
4. Basahi telapak tangan menggunakan minyak goreng, pulung adonan tepung ketan dan beri isian gula merah.
5. Masukkan kedalam air yg mendidih, lakukan hingga adonan habis.
6. Segera angkat klepon yang sudah mengapung dengan menggunakan saringan.
7. Gulingkan diatas kelapa parut yang telah dikukus. Sajikan.

How to Make Pine Tree Craft for Door Decoration

December is my favorite month of the year, as it’s a month to celebrate my daughter’s birthday. Especially since I move to UAE, weather is always being at its very nice during the end of the year. December is also the time for Christmas for some and, even though I’m not celebrating Christmas, I love the Christmas festivities from the people around me.

This year, I want to join the excitement by crafting a season ornament and, instead of buying new things, I prefer to use recycled material to reduce my home waste. Moreover I think it can also be good activity for my daughter, since she can play with the watercolor and brush while I create the pine tree craft.

Christmas Tree Craft

Supplies:

  • Pine Tree template
  • Tissue box
  • Watercolor
  • Brush
  • Glue
  • Twigs

Instructions:

  1. Print out the pine tree template on a piece of paper.
  2. Copy the pattern onto the tissue box, cut it.
  3. Color the pine tree with watercolor
  4. Stack a bundle of twigs to make it looks like a board
  5. Attach the pine tree to the twigs board
  6. Install it to the door so everyone can see your winter spirit

I choose to craft pine trees because its presistent green needels widely represents the resilience during winter season, when other trees have lost all their leaves. Since 1830s, when first installed as in house christmas decoration by German immigrants in Pennsylvania, US, pine trees became synonymous with the holiday seasons.

This post is part of the UAE Mom Bloggers Festive Blog Hop.

Do check out other posts from our bloggers:

A Blessed and Joyful 2018 – Blissed & Blessed
Christmas Tree Craft – The Diary of Mom
Festive Peanut Butter Cookies – Thoughts Over Chai
Last-minute Shopping Ideas – Love, life & the little one
Pom-Pom Painted Christmas Tree – Sand In My Toes
Santa Claus Craft – Stars In The Desert
Simbang Gabi and How to make Bibingka – Cuddles & Crumbs
Winter in Dubai, Down Memory Lane – Explored By Mafaza

Disclaimer: Actually I’m not really a crafting person so this is the best I can do. The most important thing is I’m happy doing it. Wishing you a happy holiday!

Mengunjungi Emirates Sharjah: Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan

Jika Abu Dhabi dikenal sebagai ibu kota yang menjadi pusat bisnis sekaligus pusat perekonomian di UAE, maka Dubai lebih dikenal dengan kemegahan arsitektur dan modernitas kawasannya. Lain hal nya dengan Sharjah yang lebih mendapat julukan sebagai ibu kota budaya UAE. Hal ini tidak lepas dari peranan penguasa Sharjah, Dr. Syeikh Sultan bin Hamad al-Qasimi, yang memang pengagum sejarah, arsitektur dan budaya. Beberapa Museum yang pernah saya kunjungi diantaranya:

MUSEUM PERADABAN ISLAM

Museum yang di resmikan pada tanggal 6 Juni 2008 ini memiliki dua galeri utama. Galeri pertama diberi nama “Abu Bakar Gallery of Islamic Faith” yang berisikan mengenai prinsip Lima Rukun Islam dan Enam Rukun Iman. Didalam galeri ini terdapat koleksi Kiswah atau kain penutup Kabah di Mekkah, ada pula berbagai manuskrip Quran. Selanjutnya terdapat “Ibn Al-Haytham Gallery of Science and Technology” yang menyajikan kontribusi ulama Islam bagi peradaban dunia di bidang-bidang seperti astronomi, kedokteran, geografi, arsitektur, matematika, kimia, teknologi militer, navigasi laut dan rekayasa.

Ibn Al-Haytham sendiri merupakan salah satu ilmuwan Islam yang juga dikenal sebagai Bapak Optik karena banyak melakukan penelitian mengenai cahaya. Di bagian lantai teratas, pengunjung dapat menikmati interior kubah berupa langit biru lengkap dengan mozaik dari 12 zodiak dalam ilmu astrologi. Penggunaan kubah dan banyaknya ruangan yang menggunakan gerbang lengkung pada museum ini mempertegas penggunaan arsitektur Islam peninggalan dinasti Ummayah yang kemudian berkembang pesat di Andalusia.

AL MAHATTA MUSEUM

Di museum ini menceritakan tentang sejarah penerbangan di emirat Sharjah. Terdapat tiga ruangan pamer, ruangan utama berisikan display beberapa jenis pesawat terbang yang pernah digunakan oleh emirat Sharjah. Sedangkan dua ruangan lainnya merupakan ruangan yang mendukung informasi mengenai sejarah penerbangan di emirat Sharjah. Bandara Sharjah dibangun pada tahun 1932 dan merupakan bandara pertama yang dimiliki oleh negara kawasan teluk. Bandara ini dibuat sebagai tempat transit penerbangan komersial dengan rute dari Inggris ke India.

Baca Juga: 4 Wisata Menarik di Dubai, Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Untuk menuju ke museum ini, saya melewati King Abdul Azis Road yang dahulunya merupakan jalur airplane runway di bandara lama tersebut. Di dua ruangan pendukung, saya berkesempatan menonton diorama dan film mengenai sejarah penerbangan, ada pula display bioskop yang pertama ada di Sharjah. Dengan entrance fee sebesar 10 dirham per orang, saya serasa diajak bernostalgia menelusuri kejayaan Sharjah di masa lampau.

Fakta menarik tentang Sharjah:
➢ Sharjah merupakan satu-satunya emirat yang berbatasan langsung dengan ke enam emirat yang lain.
➢ Sharjah merupakan emirat pertama yang menyediakan pendidikan untuk perempuan pada tahun 1942.
➢ Sharjah merupakan emirat pertama di GCC yang memiliki bioskop dan bandara.

Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit tentang negara Persatuan Emirat Arab yang juga dikenal sebagai Uni Arab Emirates (UAE). Sebagaimana wisatawan mancanegara lebih familiar dengan Bali dibanding Indonesia, selama ini masyarakat juga lebih familiar dengan Dubai dan Abu Dhabi dibanding negara UAE sendiri.

Tidak banyak yang tau bahwa Uni Emirates Arab terdiri atas 7 emirat yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ras Al Khaimah, Umm Al Qwain, Fujairah dan Ajman. Negara ini dipimpin oleh presiden yang juga penguasa Abu Dhabi, HH Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Abu Dhabi merupakan ibu kota negara dan menjadi pusat pemerintahan negara ini, sedangkan Dubai dikembangkan sebagai tourism and commercial city.

Berdasarkan hal tersebut, tidak sedikit teman-teman yang mengirim pesan dan bertanya tips untuk berwisata ke UAE. Biasanya sih saya dengan rajin akan menjawab setiap pertanyaan yang masuk ke inbox. Namun setelah diamati, sebenarnya daftar pertanyaannya hampir sama. Jadi saya akan rangkum dalam bentuk Q&A supaya bisa lebih jelas.

  1. Bagaimana cara mengurus visa untuk berkunjung ke UAE?
    Jika anda menggunakan maskapai Emirates/Etihad, visa bisa dibeli dari maskapai tersebut. Namun jika menggunakan maskapai lain, saya lebih menyarankan untuk mengurus di travel agent. Untuk yang transit, bisa membeli visa di airport seharga 300 dirham yang berlaku selama 4 hari.
  1. Apakah untuk masuk ke UAE, membutuhkan 3 kata untuk nama yang tercantum dalam paspor?
    Sebaiknya iya, walaupun suami saya menggunakan 2 kata dalam paspornya dan aman-aman saja.
  1. Katanya biaya hidup di UAE itu mahal, apakah memungkinkan untuk travelling dengan gaya backpacker?

    Mungkin banget! Untuk akomodasi, bisa cek tarif hotel lewat situs Agoda atau sejenisnya. Sejauh yang saya tau, ada juga hotel yang tarifnya tidak berbeda jauh dengan yang ditawarkan oleh AirBnB. Kalau mau lebih irit bisa juga memanfaatkan situs couchsurfing yang sudah banyak dimanfaatkan para traveller. Untuk transportasi, bisa mengandalkan transportasi umum seperti Dubai Metro (semacam MRT) dan citybus yang jadwalnya tepat waktu dan jelas banget rutenya. Sempat ada yang bertanya, kalau naik Uber gimana? Boleh! Tapi tarifnya lebih mahal dari taksi regular.

    Buat ngecek rute dubai metro bisa ke sini, sedangkan untuk jadwal bus, bisa dicek di sini

  1. Bagaimana dengan makanan di UAE? Apakah bisa diterima lidah Indonesia?

    80% penduduk UAE adalah expatriates jadi bisa dipastikan tidak akan susah menemukan restoran Indonesia/China/Thailand/Vietnam dll. Insyaa Allah terjamin kehalal-annya. Mengingat negara ini layaknya toserba atau toko serba ada, tidak perlu khawatir masalah harga. Dari harga murah meriah hingga harga yang bikin seret kerongkongan juga ada, dengan 5 dirham kita sudah bisa makan Shawarma dengan kenyang.

  1. Apakah negara ini aman untuk solo woman traveller?
    Menurut saya negara ini termasuk aman untuk solo woman traveller. Bahkan salah satu hal yang paling membuat saya betah tinggal disini karena mereka sangat mengutamakan perempuan. Hampir disemua tempat terdapat area khusus untuk perempuan (parkir, ruang tunggu, antrian dll). Apalagi jika anda seorang Ibu yang menggendong anak, biasanya akan diberi antrian khusus.
  1. Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi UAE?

    UAE adalah negara teluk yang sebagian besar wilayahnya merupakan gurun pasir, sehingga saat summer tiba, suhu bisa mencapai 54 derajat celcius. Namun tidak banyak yang tau jika UAE juga memiliki musim dingin di bulan November-Maret. Emang ga sampe bersalju sih, suhu paling rendah berkisar 9-11 derajat celcius. Menariknya, banyak tempat wisata yang hanya buka saat winter tiba, salah satunya Dubai Miracle Garden.

  1. Berapa dirham yang sebaiknya dibawa untuk berlibur ke UAE?
    Mata uang UAE adalah Dirham, satu dirhamnya sekitar 3600 rupiah. Jumlah yang dibawa bisa dihitung dari perkiraan kebutuhan anda selama disini dikalikan berapa hari anda akan tinggal disini. Agar tidak rugi, saya menyarankan untuk membawa dirham secukupnya. Tapi jika takut kurang, lebih baik membawa US Dollar karena lebih mudah untuk menukarkan kedalam dirham.
  1. Selama di UAE, sebaiknya menginap di Dubai atau di Abu Dhabi?

    Ini pertanyaan paling susah untuk dijawab karena tergantung beberapa faktor, diantaranya: berapa lama anda akan berlibur di UAE? Apa preferensi anda? Misalnya saya memiliki 5 hari waktu untuk berlibur, dan saya memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi seni dan sejarah negara ini. Maka saya akan menghabiskan 3 hari di Dubai dan 2 hari di Abu Dhabi.

    Saya akan menginap lebih lama di Dubai karena lokasinya berbatasan dengan emirates Sharjah yang mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai “Capital City of Arab Culture” dan “Capital City of Islamic Culture”. Sehingga saya tetap bisa mengeksplor Dubai namun tetap berkesempatan untuk mengunjungi Sharjah dengan efektif dan efisien.

  1. Tempat apa saja yang menarik untuk dikunjungi selama berada di UAE?
    Untuk penggemar skyscraper dan shopping, Dubai adalah tempat yang tepat untuk anda. Kota tersebut dipenuhi gedung dengan arsitektur yang unik, belum lagi pusat perbelanjaannya yang up-to-date dan sering diskon. Sedangkan pecinta seni bisa mengunjungi Sharjah. Tapi jika anda ingin berselancar dinegara gurun, bisa mengeksplorasi Fujairah. Banyak resort cantik dengan harga yang lumayan terjangkau.

Baca Juga: Empat Wisata Menarik di Dubai, Mengunjungi Emirates Sharjah: Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan

Nah kurang lebih demikian rangkumannya, sambil jalan akan saya tambahkan. Jika masih ada yang kurang jelas, boleh tinggalkan komentar atau kirim pesan lewat facebook/instagram.

Selama bisa, insyaa Allah akan saya bantu.