Category: Living Abroad

Mengunjungi Emirates Sharjah: Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan

Jika Abu Dhabi dikenal sebagai ibu kota yang menjadi pusat bisnis sekaligus pusat perekonomian di UAE, maka Dubai lebih dikenal dengan kemegahan arsitektur dan modernitas kawasannya. Lain hal nya dengan Sharjah yang lebih mendapat julukan sebagai ibu kota budaya UAE. Hal ini tidak lepas dari peranan penguasa Sharjah, Dr. Syeikh Sultan bin Hamad al-Qasimi, yang memang pengagum sejarah, arsitektur dan budaya. Beberapa Museum yang pernah saya kunjungi diantaranya:

MUSEUM PERADABAN ISLAM

Museum yang di resmikan pada tanggal 6 Juni 2008 ini memiliki dua galeri utama. Galeri pertama diberi nama “Abu Bakar Gallery of Islamic Faith” yang berisikan mengenai prinsip Lima Rukun Islam dan Enam Rukun Iman. Didalam galeri ini terdapat koleksi Kiswah atau kain penutup Kabah di Mekkah, ada pula berbagai manuskrip Quran. Selanjutnya terdapat “Ibn Al-Haytham Gallery of Science and Technology” yang menyajikan kontribusi ulama Islam bagi peradaban dunia di bidang-bidang seperti astronomi, kedokteran, geografi, arsitektur, matematika, kimia, teknologi militer, navigasi laut dan rekayasa.

Ibn Al-Haytham sendiri merupakan salah satu ilmuwan Islam yang juga dikenal sebagai Bapak Optik karena banyak melakukan penelitian mengenai cahaya. Di bagian lantai teratas, pengunjung dapat menikmati interior kubah berupa langit biru lengkap dengan mozaik dari 12 zodiak dalam ilmu astrologi. Penggunaan kubah dan banyaknya ruangan yang menggunakan gerbang lengkung pada museum ini mempertegas penggunaan arsitektur Islam peninggalan dinasti Ummayah yang kemudian berkembang pesat di Andalusia.

AL MAHATTA MUSEUM

Di museum ini menceritakan tentang sejarah penerbangan di emirat Sharjah. Terdapat tiga ruangan pamer, ruangan utama berisikan display beberapa jenis pesawat terbang yang pernah digunakan oleh emirat Sharjah. Sedangkan dua ruangan lainnya merupakan ruangan yang mendukung informasi mengenai sejarah penerbangan di emirat Sharjah. Bandara Sharjah dibangun pada tahun 1932 dan merupakan bandara pertama yang dimiliki oleh negara kawasan teluk. Bandara ini dibuat sebagai tempat transit penerbangan komersial dengan rute dari Inggris ke India.

Baca Juga: 4 Wisata Menarik di Dubai, Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Untuk menuju ke museum ini, saya melewati King Abdul Azis Road yang dahulunya merupakan jalur airplane runway di bandara lama tersebut. Di dua ruangan pendukung, saya berkesempatan menonton diorama dan film mengenai sejarah penerbangan, ada pula display bioskop yang pertama ada di Sharjah. Dengan entrance fee sebesar 10 dirham per orang, saya serasa diajak bernostalgia menelusuri kejayaan Sharjah di masa lampau.

Fakta menarik tentang Sharjah:
➢ Sharjah merupakan satu-satunya emirat yang berbatasan langsung dengan ke enam emirat yang lain.
➢ Sharjah merupakan emirat pertama yang menyediakan pendidikan untuk perempuan pada tahun 1942.
➢ Sharjah merupakan emirat pertama di GCC yang memiliki bioskop dan bandara.

Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit tentang negara Persatuan Emirat Arab yang juga dikenal sebagai Uni Arab Emirates (UAE). Sebagaimana wisatawan mancanegara lebih familiar dengan Bali dibanding Indonesia, selama ini masyarakat juga lebih familiar dengan Dubai dan Abu Dhabi dibanding negara UAE sendiri.

Tidak banyak yang tau bahwa Uni Emirates Arab terdiri atas 7 emirat yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ras Al Khaimah, Umm Al Qwain, Fujairah dan Ajman. Negara ini dipimpin oleh presiden yang juga penguasa Abu Dhabi, HH Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Abu Dhabi merupakan ibu kota negara dan menjadi pusat pemerintahan negara ini, sedangkan Dubai dikembangkan sebagai tourism and commercial city.

Berdasarkan hal tersebut, tidak sedikit teman-teman yang mengirim pesan dan bertanya tips untuk berwisata ke UAE. Biasanya sih saya dengan rajin akan menjawab setiap pertanyaan yang masuk ke inbox. Namun setelah diamati, sebenarnya daftar pertanyaannya hampir sama. Jadi saya akan rangkum dalam bentuk Q&A supaya bisa lebih jelas.

  1. Bagaimana cara mengurus visa untuk berkunjung ke UAE?
    Jika anda menggunakan maskapai Emirates/Etihad, visa bisa dibeli dari maskapai tersebut. Namun jika menggunakan maskapai lain, saya lebih menyarankan untuk mengurus di travel agent. Untuk yang transit, bisa membeli visa di airport seharga 300 dirham yang berlaku selama 4 hari.
  1. Apakah untuk masuk ke UAE, membutuhkan 3 kata untuk nama yang tercantum dalam paspor?
    Sebaiknya iya, walaupun suami saya menggunakan 2 kata dalam paspornya dan aman-aman saja.
  1. Katanya biaya hidup di UAE itu mahal, apakah memungkinkan untuk travelling dengan gaya backpacker?

    Mungkin banget! Untuk akomodasi, bisa cek tarif hotel lewat situs Agoda atau sejenisnya. Sejauh yang saya tau, ada juga hotel yang tarifnya tidak berbeda jauh dengan yang ditawarkan oleh AirBnB. Kalau mau lebih irit bisa juga memanfaatkan situs couchsurfing yang sudah banyak dimanfaatkan para traveller. Untuk transportasi, bisa mengandalkan transportasi umum seperti Dubai Metro (semacam MRT) dan citybus yang jadwalnya tepat waktu dan jelas banget rutenya. Sempat ada yang bertanya, kalau naik Uber gimana? Boleh! Tapi tarifnya lebih mahal dari taksi regular.

    Buat ngecek rute dubai metro bisa ke sini, sedangkan untuk jadwal bus, bisa dicek di sini

  1. Bagaimana dengan makanan di UAE? Apakah bisa diterima lidah Indonesia?

    80% penduduk UAE adalah expatriates jadi bisa dipastikan tidak akan susah menemukan restoran Indonesia/China/Thailand/Vietnam dll. Insyaa Allah terjamin kehalal-annya. Mengingat negara ini layaknya toserba atau toko serba ada, tidak perlu khawatir masalah harga. Dari harga murah meriah hingga harga yang bikin seret kerongkongan juga ada, dengan 5 dirham kita sudah bisa makan Shawarma dengan kenyang.

  1. Apakah negara ini aman untuk solo woman traveller?
    Menurut saya negara ini termasuk aman untuk solo woman traveller. Bahkan salah satu hal yang paling membuat saya betah tinggal disini karena mereka sangat mengutamakan perempuan. Hampir disemua tempat terdapat area khusus untuk perempuan (parkir, ruang tunggu, antrian dll). Apalagi jika anda seorang Ibu yang menggendong anak, biasanya akan diberi antrian khusus.
  1. Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi UAE?

    UAE adalah negara teluk yang sebagian besar wilayahnya merupakan gurun pasir, sehingga saat summer tiba, suhu bisa mencapai 54 derajat celcius. Namun tidak banyak yang tau jika UAE juga memiliki musim dingin di bulan November-Maret. Emang ga sampe bersalju sih, suhu paling rendah berkisar 9-11 derajat celcius. Menariknya, banyak tempat wisata yang hanya buka saat winter tiba, salah satunya Dubai Miracle Garden.

  1. Berapa dirham yang sebaiknya dibawa untuk berlibur ke UAE?
    Mata uang UAE adalah Dirham, satu dirhamnya sekitar 3600 rupiah. Jumlah yang dibawa bisa dihitung dari perkiraan kebutuhan anda selama disini dikalikan berapa hari anda akan tinggal disini. Agar tidak rugi, saya menyarankan untuk membawa dirham secukupnya. Tapi jika takut kurang, lebih baik membawa US Dollar karena lebih mudah untuk menukarkan kedalam dirham.
  1. Selama di UAE, sebaiknya menginap di Dubai atau di Abu Dhabi?

    Ini pertanyaan paling susah untuk dijawab karena tergantung beberapa faktor, diantaranya: berapa lama anda akan berlibur di UAE? Apa preferensi anda? Misalnya saya memiliki 5 hari waktu untuk berlibur, dan saya memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi seni dan sejarah negara ini. Maka saya akan menghabiskan 3 hari di Dubai dan 2 hari di Abu Dhabi.

    Saya akan menginap lebih lama di Dubai karena lokasinya berbatasan dengan emirates Sharjah yang mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai “Capital City of Arab Culture” dan “Capital City of Islamic Culture”. Sehingga saya tetap bisa mengeksplor Dubai namun tetap berkesempatan untuk mengunjungi Sharjah dengan efektif dan efisien.

  1. Tempat apa saja yang menarik untuk dikunjungi selama berada di UAE?
    Untuk penggemar skyscraper dan shopping, Dubai adalah tempat yang tepat untuk anda. Kota tersebut dipenuhi gedung dengan arsitektur yang unik, belum lagi pusat perbelanjaannya yang up-to-date dan sering diskon. Sedangkan pecinta seni bisa mengunjungi Sharjah. Tapi jika anda ingin berselancar dinegara gurun, bisa mengeksplorasi Fujairah. Banyak resort cantik dengan harga yang lumayan terjangkau.

Baca Juga: Empat Wisata Menarik di Dubai, Mengunjungi Emirates Sharjah: Pusat Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan

Nah kurang lebih demikian rangkumannya, sambil jalan akan saya tambahkan. Jika masih ada yang kurang jelas, boleh tinggalkan komentar atau kirim pesan lewat facebook/instagram.

Selama bisa, insyaa Allah akan saya bantu.

Singapore Laksa Soup Recipe

Winter has come, and although winter in Abu Dhabi rarely reaches 10 degree Celcius, it still nice to have something hot and spicy to ward off the cold. There are a plenty of hot and spicy foods, and one of them is Laksa.

Laksa is spicy noodle soup widely known in the South Asia region. There are several variations of Laksa, based on their locality and their significant ingredient such as Malaysian Laksa, Indonesian laksa, Sour Laksa, Curry Laksa, etc. Actually there is not much differences between Singaporean and Indonesian Laksa but on the type of chili used. Indonesian Laksa uses fresh chili while Singaporean Laksa uses dried one. This time I’d like to present you Singaporean Laksa.

LAKSA SINGAPORE RECIPE

Ingredients:

For the spices paste
15 dried red chillies, soak for 2 hours
10 shallots
2 cm galangal
5 candlenuts
100 grams dried shrimp
1 tsp shrimp paste, lightly toasted
salt and sugar

5 sdm cooking oil
2 stalks lemongrass
500 cc shrimp broth
500 cc thick coconut milk
Salt and sugar

Complement:

200 grams fish cake, thinly sliced
500 grams medium prawns, shells removed
100 grams rice noodles
300 grams bean sprouts
Coriander leaves

Directions:

  1. Boil water in a pot and add shrimps’s shell to make a broth. Set aside.
  2. Blend all the spices. Heat the cooking oil in a wok, put in the spices paste, add the lemongrass stir until fragrant.
  3. Put the spices paste into the shrimp broth, heat until boiled. Add coconut milk, stirring constantly
  4. Serve the complement: bring a pot of water to the different boil and cook the fish cake and prawns. Drain, remove from the heat and set aside. Throw away the water. Refill the pot with water and bring it to the boil. Blanch the rice noodles and beansprouts, then drain.
  5. Serve rice noodles and bean sprouts in a bowl. Top with the prawns and fish cake.
  6. Reheat the soup, ladle the laksa soup over the complement and garnish with coriander leaves.

Read also: I Fu Mie Recipe

Review Indomie Sambal Matah

Karena sedang tidak berada di Indonesia jadi review tentang Indomie Sambal Matah ini mungkin agak terlambat. Tapi gapapa deh, siapa tau ada yang membutuhkan informasinya.

Seperti yang kita tahu, indomie adalah salah satu produsen mi instan asal Indonesia yang rajin mengeluarkan berbagai varian rasa yang baru. Jika diamati, varian baru yang dikeluarkan mengacu pada kekayaan khasanah kuliner Indonesia.

Bahkan di Abu Dhabi saya pernah menemukan varian Indomie Rendang, Indomie Sate dan Indomie Cabe Hijau. Oiya, produk indomie yang dikeluarkan untuk area negara teluk (UAE, KSA, Oman, Qatar, Bahrain, Kuwait dll) biasanya diproduksi oleh Indomie Saudi Arabia.

Sempat ada yang bertanya ke saya, apakah rasanya sama dengan indomie di Indonesia? Hmm kalau boleh jujur untuk tekstur sih 100% sama. Sedangkan rasanya, entah perasaan saya saja atau memang benar, micin-nya semacam kurang terasa 😂. Jadi menurut saya, indomie buatan Indonesia tetap yang terbaik!

Oleh sebab itu ketika salah seorang teman membawakan Indomie Sambal Matah, rasanya senang bukan kepalang. Selain karena review-nya sudah berseliweran di grup masak-memasak di facebook, saya adalah pecinta makanan tradisional Bali. Sama sekali tidak pernah terbayangkan ada rasa sambal matah dalam sepiring Indomie. Saya sengaja tidak menggunakan berbagai macam topping kekinian agar bisa fokus merasakan otentisitas Indomie Sambal Matah.

Kemasan
Indomie Sambal Matah ini dikemas dengan dominasi warna ungu sebagaimana warna bawang merah yang merupakan bahan utama pembuatan Sambal Matah. Setiap bungkusnya berukuran 85 gram, dilengkapi dengan bumbu serbuk dan minyak sayur.

Cara Membuat
Pembuatannya sebagaimana Indomie pada umumnya. Mie direbus sekitar 3 menit atau sesuai selera dan sambil menunggu mie matang, kita siapkan bumbu pelengkapnya. Setelah mie matang, tiriskan dan aduk secara merata dengan bumbunya.

Rasa
Setelah mie diaduk dengan bumbu pelengkap, aroma harum khas indomie berpadu dengan sedapnya bawang merah serasa memenuhi ruangan. Tekstur mie yang kenyal berbalut rasa manis dan sedikit pedas ditambah aroma bawang yang cukup kuat sangat memanjakan lidah saya. Pada suapan selanjutnya saya seperti mengecap rasa gurih-tipis mirip terasi.

Pertemuan indomie goreng yang menggunakan kecap manis sebagai bumbu dasar dengan sambal matah yang dominan dengan rasa bawang merah adalah perpaduan yang tepat. Secara keseluruhan rasanya enak, saya sih doyan.

Bagaimana dengan kamu?

6 Tips Agar Hunian Terasa Lebih Nyaman

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Happiness is being home again”. Itulah salah satu alasan mengapa mendekorasi rumah menjadi salah satu kegiatan yang saya gemari. Sebagai seorang istri yang baik, tentunya saya tidak ingin suami menjumpai rumah dalam kondisi acak-acakan sepulang kerja. Bukankah sudah selayaknya rumah menjadi tempat paling nyaman untuk me-recharge energi.

Sebagaimana dipaparkan dalam ilmu psikologi, saya meyakini bahwa kepribadian seseorang dapat tercermin dari kondisi rumahnya. Tidak percaya? Coba bayangkan bagaimana suasana hati anda jika tinggal di rumah yang penuh barang, berdebu dan tidak tertata dengan rapi. Tentu tidak nyaman, bukan?

Perasaan tidak nyaman itu tentunya akan mempengaruhi aktivitas dan pastinya akan berdampak pada orang yang ada disekitar kita. Oleh sebab itu, mendekorasi ruangan menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap keluarga. Oiya, indikator rumah yang nyaman bukanlah rumah yang berukuran besar dan memiliki furnitur yang mewah. Untuk keluarga saya, suatu hunian dapat dikatakan nyaman bila memenuhi syarat bersih, rapi dan bebas dari aroma yang tidak menyenangkan.

Kebetulan saat ini saya tinggal di apartemen dengan ukuran yang cukup terbatas. Kondisi tersebut menantang saya untuk mengatur dan menempatkan perabot secara tepat guna. Namun dibawah ini ada beberapa tips yang akan saya bagikan, sehingga bagi anda yang memiliki lahan terbatas tetap dapat memiliki rumah yang nyaman dan ‘terasa’ luas.

  1. Letakkan cermin di dinding rumah anda. Keberadaan cermin akan membantu membuat ruangan yang sempit menjadi tampak lebih luas. Selain itu, cermin juga bisa merefleksikan cahaya lampu sehingga menjadi lebih indah, yang artinya menambah suasana baru pada keseluruhan interior rumah.
  1. Gantunglah pigura berisikan foto-foto yang membuat anda merasa lebih bersemangat dan berbahagia saat melihatnya. Adanya foto-foto ini akan membuat suasana rumah lebih hidup dan hangat. Pilih bingkai foto yang sesuai dengan gaya penataan rumah anda.
  1. Mengganti perabot lama dengan yang baru. Setiap benda pasti memiliki masa pakai, begitu pula perabot dirumah kita. Membeli sebuah furnitur, tidak akan membuat kita kehilangan banyak uang. Cara mensiasatinya adalah dengan, misalnya, ketika anda ingin mengganti sofa yang lama dengan sofa yang baru.Manfaatkan situs pencarian seperti google dan masukkan kata kunci “sofa minimalis murah”. Nantinya akan banyak ditemukan informasi mengenai toko perabotan yang sedang mengadakan promo dan diskon. Sofa merupakan salah satu elemen penting dalam mengatur ruang keluarga, oleh sebab itu kita harus memperhatikan setiap detailnya. Hal utama yang harus dipertimbangkan adalah ukurannya. Saya memilih sofa yang ukurannya tidak terlalu besar agar tidak membuat ruangan terasa sempit. Saya menggunakan sofa minimalis bermodel sofa-bed sehingga dapat difungsikan sebagai tempat tidur ketika ada sanak saudara yang datang.

    Selain ukuran, pemilihan warna dan bahan juga menjadi faktor penentu, saya menempatkan sofa minimalis dengan warna yang cerah untuk ruang keluarga, sehingga ruangan tampak lebih luas. Nah, karena saya memilih sofa yang berwarna abu-abu muda maka akan rentan kotor, apalagi saya memiliki toddler yang sedang aktif-aktifnya. Solusinya, saya memilih sofa yang cover atau kain penutupnya bisa dibuka, sehingga jika terkena noda tinggal dilepas dan dicuci.

  1. Gunakan bantal hias untuk aksesoris dirumah anda. Menggunakan bantal hias untuk mempercantik rumah adalah hal yang paling mudah dilakukan, selain harganya tidak terlalu mahal, bantal memiliki beragam ukuran, bentuk dan warna sehingga mudah untuk di mix and match dengan perabot lainnya. Mengingat ruangan saya tidaklah luas, maka dua bantal berukuran sedang dengan warna polos sudah cukup untuk meramaikan ruang keluarga saya.
  1. Mencari inspirasi di internet. Jika anda orang yang kreatif dan suka melakukan DIY, jangan segan untuk mencari inspirasi di pinterest ataupun di youtube. Banyak sekali tutorial untuk membuat aksesoris rumah dengan memanfaatkan bahan yang ada. Siapa tau bisa jadi peluang usaha! Namun mengingat saya bukan orang yang nyeni, saya membuka laman tersebut sebatas untuk mencari inspirasi penataan ruang saja.
  1. Jangan takut bermain-main dengan konfigurasi ruangan di rumah anda. Kebetulan saya adalah orang yang gampang bosan, sehingga beberapa bulan sekali selalu ada sudut yang saya utak-atik untuk di dekorasi ulang.

Sedikit bocoran, di ponsel saya selalu tersimpan ukuran ruangan dan konfigurasi ruangan di rumah. Sehingga ketika saya berjalan-jalan dan melihat perabot yang menarik, saya dapat dengan mudah mendapatkan gambaran akan diletakkan dimana perabot tersebut. Hal ini bukan tanpa sebab, diawal menikah beberapa kali saya membeli barang yang berujung pada tidak ada tempat atau dipaksakan diletakkan di suatu sudut yang pada akhirnya hanya menuh-menuhin ruangan.

Demikian tips dari saya, jika ada yang memiliki tips lain silahkan dibagikan di kolom komentar. Akhir kata, semoga bermanfaat.

5 Negara Impian untuk Dikunjungi!

Beberapa tahun kebelakang, demam travelling melanda seantero dunia. Jalan-jalan keluar negeri sudah bukan lagi menjadi aktivitas mewah yang hanya bisa dilakukan oleh kelas sosial tertentu. Asal mau bekerja keras, semua orang bisa mewujudkan impian untuk melihat dunia. Lihat saja bagaimana gencarnya promosi yang dilakukan maskapai penerbangan. Mulai dari tiket seharga 0 rupiah hingga fasilitas cicilan dengan bunga 0%. Siapa yang tidak tergoda? 😆

Saya adalah salah satu orang yang senang travelling, baik itu ke tempat wisata domestik maupun mancanegara. Bahkan ketika tinggal di Abu Dhabi yang walaupun kotanya tidak terlalu besar, saya berusaha mengalokasikan waktu di akhir pekan untuk sekedar berkunjung ke tempat yang saya sukai, misalnya taman, museum, galeri seni dan lain sebagainya.

Baca juga: Naik Kapal Pesiar di Sunborn Yacht London

Bepergian selalu menawarkan pengalaman baru, belum lagi kesempatan untuk belajar mengenai kebudayaan masyarakat sekitar. Itulah sebabnya, saya rela menyisihkan sebagian pemasukan untuk berlibur. Setelah bekerja selama setahun penuh, sudah sewajarnya memberikan reward untuk diri sendiri.

Berikut adalah 5 negara impian untuk dikunjungi:

  1. China

    Sejak kecil saya tertarik dengan berbagai kebudayaan dan sejarah bangsa ini. Terlebih setelah membaca novel berjudul Empress Orchid karya Anchee Min, keinginan saya untuk berwisata ke China, tepatnya ke kota Beijing menjadi semakin membuncah. Forbidden city yang menjadi latar belakang novel tersebut menempati urutan teratas untuk bangunan bersejarah yang paling ingin saya kunjungi. Ketika berada di bangunan bersejarah, saya selalu membayangkan bagaimana dahulunya orang-orang di jaman itu menjalani kehidupannya. Kehidupan istana yang penuh kemewahan, namun juga berbalut intrik tentang perebutan kekuasaan. Bittersweet. What a life!

  2. Turki

    Sebelumnya saya tidak terlalu tertarik dengan negara ini. Namun setelah mengikuti drama serial “Magnificent Century” yang menceritakan tentang kejayaan dinasti Ottoman didalam istana Topkapi, seketika saya memasukkan Turki kedalam daftar negara yang ingin saya kunjungi. Selain itu, secara geografis, Turki adalah negara yang sangat unik karena sebagian wilayahnya berada di benua Asia, sebagian lagi di Benua Eropa. Pastinya hal tersebut berpengaruh terhadap gaya arsitektural bangunan dan tata kotanya. Kabar baiknya, insyaa Allah saya berkesempatan untuk menyambut tahun baru 2018 di negara ini.

  3. Yunani

    Saya merasa familiar dengan negara ini sejak berusia 6 tahun. Dilatar belakangi dari kesukaan membaca komik Doraemon, saya mengenal seorang tokoh yang bernama Poseidon, dewa penguasa laut. Ketika membaca dan menggali lebih dalam, akhirnya saya malah menjadi tertarik dengan mitologi Yunani kuno. Kebayang donk bagaimana besar keinginan saya untuk berkunjung ke Parthenon yang berlokasi di Akropolis, kuil pemujaan untuk Dewi Athena.

    Belum lagi Pulau Santorini yang keindahannya sangat memanjakan mata. Sebenarnya, di awal tahun 2014, saya dan suami sempat membeli tiket dan paket trip menuju negara ini, namun karena kemudian saya hamil maka perjalanan tersebut harus ditunda. Mengapa? karena menurut review yang saya baca, Santorini adalah sebuah pulau berbukit sehingga perjalanan kesana membutuhkan stamina yang baik dan tidak disarankan untuk usia kehamilan 8 bulan.

  4. Austria

    Lebih spesifik lagi saya ingin berkunjung ke Vienna. Mengingat julukannya sebagai The City of Music, membuat tempat ini layak dimasukkan dalam wish list. Saya memang tidak bisa memainkan piano, tapi saya penggemar musik klasik dan menariknya di kota ini kita bisa menemukan segala hal tentang musik. Mulai dari sekolah musik sampai museum-museum tentang musik sangat dilestarikan di sini. Tidak mengherankan ya, karena memang banyak komposer terkenal yang karya-karya musiknya lahir dari Wina. Bahkan musisi sekelas Beethoven dan Mozart menghabiskan akhir hayatnya di kota ini!

  5. Korea Selatan

    Lagi-lagi saya ingin mengunjungi suatu negara karena terinspirasi tontonan drama serialnya. Ada yang tau serial drama Jewel in The Palace? Drama saeguk berlatar-belakang jaman kerajaan dinasti Joseon ini membuat saya terkagum-kagum dengan keindahan Pulau Jeju yang menjadi tempat pengasingan si tokoh utama. Belum lagi disepanjang film, penonton ‘disuguhi’ berbagai potret kekayaan kuliner Korea.

    Walaupun cukup sering mampir ke restoran Korea, tetap saja saya ingin merasakan kelezatan kimchi dinegara asalnya.

Itulah lima negara yang ingin saya kunjungi, jika dianalisa sebenarnya kelihatan yah bahwa si-empunya blog ini adalah pecinta sejarah hahahaha. Anyway, semoga Allah memberikan umur dan rejeki untuk mewujudkan cita-cita saya. Artikel ini merupakan tulisan kolaborasi saya dengan Indira yang juga memiliki daftar negara impian untuk dikunjungi.

Baca juga: 7 Hal Yang Harus Dipersiapkan Ketika Mengunjungi Warner Bross Studio: The Making of Harry Potter

Kalau boleh tau, negara apa yang ingin kalian kunjungi? SYuk bagikan mimpimu di kolom komentar, sehingga kita bisa saling  mendoakan ❤️.

Indonesian Taste on UAE National Day

I fell in love with this country since the first time I stepped my foot on The UAE soil. Here I can meet people from many backgrounds and cultures. This country also allows me to see and experience Islam from a different point of view. Women are highly valued and much more respected here.

No wonder when the preparations for the 46th UAE National Day celebrations are in full swing in Abu Dhabi, I easily got carried away with the people’s excitement.

What’s a celebration without cake? Since UAE is my second home country, so I want to make special dessert cake for this occasion.

This is my husband’s favorite cake, a traditional Javanese cake called Klepon. Maybe some of you are already familiar with this canape-sized snack. Basically klepon is a balls of glutinous rice cake filled with Javanese brown sugar and coated in grated coconut. It usually comes in green but, since this is a special occasion, I want to make it looks like UAE Flag with red, green, white and black colors.

Read also: Singapore Laksa Soup Recipe

Actually I never wanted to make homemade food coloring, as it takes too much work! But remembering your little ones are going to eat it too, I give you an option to make natural and homemade food coloring! It was so easy, no cooking, no mess. It’s worth it!

I simply use juicer to make the colors. Raw beet juice extracted from a juicer makes a bold red. Then I boil the juice to reduce the soil-flavor of beets. For the green color I use the juice of pandan leaves. It is also known as ‘fragrant plant’ because of its sweet aroma. As for black color, we can use charcoal but, unfortunately, I didn’t know where to find it in Abu Dhabi so I use chocolate paste for substitute. Here is the basic recipe.

KLEPON CAKE RECIPE

Ingredients:
350 gram of glutinous rice powder
150 cc of warm water
Food colorings as needed
8 tsp. of Javanese brown sugar
1 cup of fresh-grated coconut, steamed and mixed with a pinch of salt

How to make it:

  • Mix the glutinous rice powder with the warm water, knead the dough until firm but supple.
  • Divide the dough into 4 part and give green, red and black/chocolate food coloring into the dough.
  • Pull off a teaspoon of the dough and shape it into a ball. Push a finger into the center of the ball to make a hole, and then put in the grated sugar. Seal the hole, and roll it back into the ball shape with the palms of your hands.
  • Prepare all the balls and set them aside.
  • Prepare a pot half filled with water and bring it to boil.
  • Drop the balls into the boiling water. Remove the balls with a spoon once they afloat on the water surface and then roll the balls in the grated coconut.
  • Serve at room temperature.

There you are, a traditional Indonesian taste with international twist, just for one of very special days of my UAE friends. This post is part of the UAE Mom Bloggers Blog Hop for UAE’s National Day on December 2.


Do check out other posts from our bloggers:

7 things under 20 dirhams that I love in the UAE – Nayel and Mummy
Oatmeal, Carrot and Apple Muffins – Thoughts Over Chai
Popsicle Stick Flag Craft – Stars In The Desert
The Spirit of the Nation – Explored by Mafaza
UAE Flag Crafts and Activities for Toddlers and Pre-schoolers – As They Grow
UAE Flag Paper Pinwheel – Mumzy Notebook
UAE Keepsake Box – Sand In My Toes
UAE Flag Colors Lunch Box – Cuddles & Crumbs

Hope this creation inspires you all for your own special occasions ❤️.

Eczema: Causes, Symptoms and Treatment

Alhamdulillah, we entered the month of October, which meant that the summer was over. Apart from the heat, I didn’t really like summer because its dry weather made the skin parched. Also, as it turned out, this extreme condition affected Deira’s skin as well.

One morning earlier this summer I found her with red rash on one of her elbow. I didn’t pay much attention at first, but day after day the rash grew until one day I notice dried blood smeared the rash. Apparently the rash became itchy and naturally she scratch them. Immediately I brought her to Dr. Dinesh Banur, her pediatric consultant at NMC Royal Hospital in Khalifa City. Both Deira, my hubby, and me like him because he treated Deira with gentle care and answered many of our questions patiently and concisely. He also quite cautious in prescribing medications. He rarely ordered paracetamol, and even more rarely antibiotics. Mom’s milk is the best medicine we can give to our little one, he said.

Speaking of him and our baby’s rash, He diagnosed it as dermatitis atopic or known as Eczema. This is a skin condition happened to the hyper-sensitive skin, and manifested as inflamation and super itchy rash. If kept untreated, the rash could develop skin infection. This skin condition is hereditary and hence did not contagious.

I remembered when I was a little girl, I had the similar skin condition but, thank God, it subsided after I consumed monitor lizard’s meat. My mom fed me that lizard’s meat dish we me knowing it because it was believed, in javanese tradition, to have medicinal benefits toward multitude of akin problems and, believe it or not, I never had a relapse ever since. I wished I could feed Deira some of this meat but where could I find monitor lizard here in this desert, let alone people who sold and/or prepare it. If only camel’s meat had the same properties.

Anyway, dr Dinesh prescribed Peitel cream to heal the rash and Cetaphil lotion to keep her skin moist. The main purpose of this treatment was to aleviate the itch and to reduce the probability of skin infection. We needed to apply Cetaphil lotion right after Deira took a shower so some of the excess water left on her skin could also be retained by the cream as an added arsenal to keep her skin moist. The rash was largely reduced qithin the first 24 hours after we applied Peitel cream.

For her bath soap, it’s advisable to use perfume-free and presevative-free with 100% natural ingredients. After googling around for some times, I decided to use Allergika liquid soap. Alhamdulillah, Deira’s skin is more moist and a bit less sensitive now. I also minimized her exposure to the direct sun light to further reduce the chance of relapse. That’s my experience with Eczema and how Cetaphil and Allergika satisfactorily helped me against it.

Mediterranean Cuisine at Todd English Olives

William Todd English is an American celebrity chef that best known for his TV cooking show, Food Trip with Todd English, on PBS. Last Thursday I got a chance to review his Todd English’s Olives restaurant in Venetian Village, Ritz Carlton Canal, Abu Dhabi. The restaurant’s name is a tribute to his then-wife, Olivia.

The restaurant’s concept is Mediterranean cuisine with a strong influence from Italian cuisine. A staff named Bojana warmly welcomed us, and we really enjoyed her company. She was knowledgeable about the dishes served to us and passionately explained every details of the menu. From the beginning i knew she loved her job.

Read also: Mercadito Night Brunch at Amerigos Mexican Bar and restaurant in Park Inn by Radisson Blu

Location
Located in the Venetian Village of Ritz Carlton, the restaurant was easily accessible yet offered a nice retreat from the buzzing life of Abu Dhabi. There were valet service also an ample parking spaces available near the venue so we could quickly park our car. Sheik Zayed Mosque was visible from the access road to the Venetian Village, while Qaryat al Beri can be seen from across the strait.

Ambiance
Inside the restaurant, customers sat around several tables and, although we can hear the chitter-chatter, the noise level is low so we could have comfortable conversation. In fact, I suspected that our table was the loudest one that night, thanks to our energetic #babydei. The restaurant had both outside and inside tables and I guess it would be nice to sit outside when the weather permits.

Food and Drink
We had Beef Carpaccio, Sweet Potato Brava’s, Seared Duck Foie Gras Steak and Beetroot Carpaccio as the starters. All were my favorite but the most interesting menu was Beef Carpacio. It had different style from the carpaccio that I usually ate before. It consisted of 3 layers of filling: gorgonzola rosti (potato) cake, mix greens, and beef, and springkled with balsamic dressing. The ingredients perfectly blended and gave a unique mouth watering experience. Sweet potato brava, covered with honey, had a really sweet taste, the jalapeno paste yielded a dash of spiciness while the feta cheese added a savoury flavour. As for their Foie Gras, a popular and well-known delicacy in French Cuisine, I can only say it was outstanding especially because it’s served with blinis. The liver tasted rich, buttery, and delicate. It was more than delicious, and my mouth was watering as I described it here🙊

For the pasta, I chose Baked Ricotta Ravioli, Portobello Pizza, Scallops Vol-Au-Vent and Prime Beef Tenderloin for the entrees. The ravioly was good, while the tasty portobello pizza specially baked from housemade dough was a perfect choice if you were a vegan. The portobello mushroom tasted tender and meaty, I love it. But my favorite entree was the Scallop Vol-Au-Vent, the dish had a number of layers: the scallop, puff pastry cup, cauliflower puree, spinach with lemon butter sauce. Besides its taste, the most important factor to value seafood dishes is their texture, and the scallop was cooked with perfect timing so the texture was chewy but not too cheewy.

After the entree, eventhough my stomach was almost full, i didn’t loose my appetite for dessert. Chef Jaime Mendoza proudly presented his housemade desserts consisted of Red Velvet Cake, Creme Brulee, Tiramisu and Panna Cotta. The tasting platter was too pretty to eat. But I ate it anyway!

This restaurant also served espresso so my husband requested for a double espresso. He said that the coffee was rich and bitter, with a hint of sourness of arabica. As for myself, I chose a glass of the chamomile tea, because I wasn’t really a coffee fan.

4 things You’ll Encounter in the month of Ramadhan Abroad.

This year’s Ramadhan is the first time I fast in Abu Dhabi, for two years before I was expecting #babydei while last year I breast fed her exclusively. While going through this fasting month, I find 4 things that are different from fasting in my home-country.

First, This year’s Ramadhan falls in the month of June which means it’s summer here. We fast for 14 hours long, 2 hours longer than Surabaya-Indonesia. The difference is not too significant, but combined with 45 degrees Celcius of outside temperature, it’s quite exhausting for me.

Second, if we want our suhoor, takjil, and iftaar in the tradition Indonesian way, we have to prepare for all those dishes all by myself (que dramatic backsound). The tastier we want them, the more effort we have to take, because there is no “Pasar Kaget” here.

What is “Pasar Kaget”?

“Pasar Kaget” is an in situ food bazaar where people sell various kind of meals. From grilled chicked to intestine satay (trust me, it’s heavenly delicious), from chilled coconut water to fruit coktail in grated ice, along with urap-urap, buntil, pentol, jajan pasar, and many other traditional dishes that I can’t easily name, let alone describe, in English, you can find them there. This food bazaars are usually held along the side of roads and so those roads, that are usually quiet, suddenly become crowded with people who sell and buy those food merchandies as they are “ngabuburit”, a term that represents the general activities that people do to kill time as they wait for iftar.

Craving for this bazaar here, you can imagine how I feel when I see my friends and family upload photos about meals in their facebook timeline.

Third, there is a shift in activity hours here. During Ramadhan, many malls open their doors until 3 AM, as many of their foodcourts and restaurants serve both iftaar and suhoor. Accordingly, other shops and departments stores are open until early morning too to catch potential customers. My hubby and I usually go for groceries at 10 PM after Isha and Tarawih.

How about working hours the next day?

During Ramadhan we have less office time! My Hubby who usually works from 06:30 AM to 02:30 PM now has to work only from 9:00 AM to 2:00 PM. So, Alhamdulillah, he has more time to help me caring for our baby 😆.

Fourth, towards the end of Ramadhan, people in Indonesia are usually busy with sharing knick knacks snacks of Eid Al-Fitr. Ketupat, opor, sambel goreng kentang-ati, specialty cookies, and clothes are changing hands. For us who faraway from our hometown, things become a bit less and quieter. Our solution for this togetherness is to have halal-bihalal sessions with our compatriots. Last year, for instance, we had it in our friend’s home with potluck system for the dishes, where we tried our best in making those traditional meals and cookies and then brought them to the venue to be shared.

and here is the Indonesian traditional snacks!

All in all, even when we are far from our root society, we can still have the taste of togetherness during Eid Al-Fitr. Last but not least, I wish you all Ramadhan Kareem for this Ramadhan 1438H, may Allah (SWT) accept our good deeds and devotions