Category: Food and Recipe

Gado-gado Siram ala Surabaya

Sejak saya tinggal di Abu Dhabi, banyak kuliner baru dari pelbagai daerah yang telah saya coba. Tidak lain dan tidak bukan karena teman-teman disini berasal dari seantero Indonesia. Pengalaman paling mengesankan bagi saya adalah saat memesan gado-gado Jakarta, karena ternyata bumbunya diuleg. Berbeda jauh dengan gado-gado Surabaya yang dijerang diatas api dan menggunakan santan sebagai salah satu bahan utama. Rasanya gurih perpaduan gurihnya kacang, santan dan gula merah. Berikut resepnya saya lampirkan.

Gado-gado Siram ala Surabaya

Isian:
Kol rebus
Wortel rebus
Taoge rebus
Irisan timun
Irisan tahu
Irisan tomat
Telor rebus

Saus kacang:
120 gram kacang tanah goreng
70 gram bawang putih goreng
1 buah cabai merah besar
1 liter santan
50 cc air asam
2 sdm tepung ketan, larutkan dengan 300 cc air
150 gram gula merah
Garam sesuai selera

Cara Membuat:
1. Panaskan santan diatas kompor menggunakan api sedang, masukkan gula merah sambil sesekali diaduk.
3. Blender kacang tanah, bawang putih goreng dan cabai merah.
4. Masukkan kedalam panci yang berisi santan, aduk rata. Tambahkan garam dan koreksi rasa.
5. Masukkan larutan tepung ketan dan aduk rata.
7. Tata isian gado-gado diatas piring, siram dengan bumbu. Taburi dengan bawang goreng.
8. Sajikan bersama pelengkap (lontong, emping, kerupuk dan sambal).\

Friday Brunch at City Cafe-Citymax Hotel Al Barsha

As we arrived at City Max hotel, Dubai, we were impressed with its vicinity to Mall of the Emirates: It literaly was stone throw away from this famous mall. My hubby and I conversed slightly and we agreed that staying here would be an interesting experience. This time, though, was not about staying but more towards one of its restaurant, City Cafe.

We were invited to enjoy the Friday Brunch at this venue but somehow the reservation didn’t get through. Fortunately, the management handled it professionally and within minutes. We were seated.

Read also: Daycation Friday Brunch at Kalea Restaurant-Lapita Resort

On that Friday afternoon the restaurant was quite busy serving guests but not over crowded so we still have options for our table. There were two live kitchens and I went immediately to one of them to order one stir-fried seafoods, while my hubby choosed to roamed the premise to seek for nice angles for his pictures.

Within minutes, the sous chef, Prakash Yesudasan, presented me with the menu I ordered and I didn’t regret my choice. The seafood was fresh and sweet and the seasoning the chef put perfectly enhanced the taste. The next dish I took was sweet and sour sauce, which was equally superb, but my favorite was their vietnamese spring roll. The smoothness texture of its skin contrasted by the crunchy matchstick sized fresh, juicy vegetables masaged my pallate.

Soon I realized that there were so many asian cuisines on their tables, and that was something I rarely saw in the hotels of Abu Dhabi and Dubai. So I approached the assistant bar manager, Mr Beura to inquire about that and, according to him, they adjusted the restaurant’s daily menu based on the majority of hotel guesses during each particular day. A nice touch, I’d say, to better pamper their customers.

Later on, hubby told me that during his walkabout, he noticed that the crew were attentive and catered to the guesses’ interests. Menu were swiftly replenished and any fallen of the buffet’s dishes were quickly removed from the premise to ensure that they will not be accidentaly used.

Read also: A Taste of Kuzbara, Marriot Downtown Abu Dhabi

For a three star hotel, we were impressed by City Max’ standard of quality for their service. That, and its vicinity to MoE ensure their guests a nice stay and easy access to the mall as well as to the rest of Dubai through Dubai’s public transport system.

Later on Mr Beura added their Friday Brunch is available throughout the year, even during the summer. Also, for this holiday season, the offer a programme called Turkey Festive so we can have a warm and juicy, well, turkey with affordable price.

Apa Itu Diet Ketogenic?

Belakangan banyak teman yang japri dan menanyakan ke saya, apa benar saya sedang menjalani diet keto? Apa sih sebenarnya diet keto itu?

Tak kenal maka tak sayang. Demikianlah pepatah yang tepat untuk menggambarkan persepsi saya mengenai diet ketogenic (selanjutnya saya sebut diet keto). Sebenarnya saya malu membahas hal ini, karena awalnya saya adalah orang yang sangat antipati dengan pola makan tinggi lemak dan rendah karbo ini. Dan sejauh ini, saya rasa tidak ada yang salah dengan isi piring saya. Nasi, ayam goreng, lalap, sambel. Paling cuma ditambah sayur asem, tempe goreng, dadar jagung dan kerupuk. Belum lagi pencuci mulut berupa potongan buah semangka, mangga dan lain sebagainya. Empat sehat dan lima sempurna kalau ditambah segelas susu 😝.

Dimana salahnya?

Coba dibandingkan dengan mereka yang menganut diet keto, 60-75% isi piring mereka harus dipenuhi dengan lemak! Bayangkan saja bagaimana mereka harus mengkonsumi gajih yang mengambang di kuah bakso, jerohan, kulit ayam demi mendapatkan tubuh yang katanya sehat dan ideal.

Namun yang kemudian mengulik pemikiran saya adalah ada banyak tenaga medis, mulai dari ahli gizi, perawat dan juga dokter yang tanpa ragu menjalankan diet tinggi lemak dan rendah karbo ini. Saya kepo-in donk latar belakang mereka-mereka ini. Mereka bukan orang bodoh, mereka juga tidak memiliki kepentingan ekonomis di dalamnya. Tampaknya membenci diet keto tanpa argumentasi yang jelas bukanlah hal yang bijaksana.

Jadilah saya meluangkan waktu untuk membaca berbagai artikel mengenai diet keto. Melalui tulisan ini saya bermaksud menjelaskan apa yang sudah saya baca mengenai diet keto dengan bahasa yang sederhana. Intinya, jika sebelumnya tubuh terbiasa menggunakan karbohidrat dan gula sebagai sumber energi utama, maka pelaku diet keto bermaksud mencapai kondisi ketosis yang artinya ‘mengubah’ metabolisme tubuh untuk menggunakan lemak sebagai sumber energi utama.

Caranya?
Tentu saja dengan menjadikan lemak sebagai makanan utama dan menekan konsumsi karbohidrat/gula serendah mungkin. Oleh karena tubuh tidak mendapat asupan gula dan karbohidrat yang cukup, maka tubuh akan menggunakan lemak sebagai sumber energi. Sekarang terjawab kan bagaimana diet keto bisa membuat seseorang lebih langsing?

Jangan salah! Mengetahui fakta tersebut tidak lantas membuat saya memutuskan untuk menjadi ketoers.

Bagaimanapun tidak dapat dipungkiri banyak sekali pro dan kontra didalam pola makan ini. Lemak yang selama ini diyakini sebagai sumber penyakit degeneratif tiba-tiba dianggap sebagai penyelamat tubuh. Tapi rasa ingin tau yang besar mengantarkan saya untuk terus membaca dan ternyata memang saya yang kurang piknik. Ternyata selama ini di piring saya sudah ada lemak-nya, keterbatasan pengetahuan yang membuat saya tidak mengenali makanan tersebut sebagai lemak.

Didalam ayam goreng terdapat lemak sebesar 15 gram dalam setiap 100 gram-nya, setiap sendok teh sambal bajak yang masuk ke perut saya ternyata mengandung lemak sebanyak 2 gram. Sejak itu saya mulai memperhatikan apa yang masuk kedalam mulut saya. Betapa mencengangkan ternyata saya bisa mengkonsumsi 1500 kalori dalam satu kali waktu makan. Padahal jika ingin menurunkan berat badan, dengan tingkat aktivitas rendah seperti ini, kebutuhan kalori saya hanya 1500 kkal per harinya. Apa kabar cemilan dan lain sebagainya?

Dari situ saya menyadari bedanya tukang masak dan chef hahahaha. It hurts me to confess the truth karena kenyataannya, saya cuma tukang masak yang mampu menghasilkan rasa enak tapi bahkan tidak tau masakan apa yang saya hasilkan. Pengetahuan mendasar tersebut mengubah persepsi saya mengenai diet keto.

Sekali lagi, masih banyak pro dan kontra terkait pola makan ini. Saya sih tidak akan membahas pro dan kontra tersebut didalam tulisan ini karena tidak akan pernah ada habisnya. Namun, saya sengaja melampirkan foto makanan yang saya konsumsi saat ini (beberapa fotonya milik Rini Handayani) agar anda-pun lebih bisa obyektif menilainya.

Mana yang lebih sehat dibandingkan sepiring penuh nasi, plus soto ayam, ditambah perkedel atau keripik kentang. Belum ditambah es teh, es krim, kerupuk dan kudapan lain seperti cheese cake, coffee latte dan lain sebagainya. Apalagi jika rasanya cocok, bisa nambah 2x bukan?

Oiya, selain harus makan lemak, beberapa hal yang membuat saya sempat ragu untuk mengikuti diet keto adalah tidak boleh makan karbo dan gula artinya saya tidak boleh makan nasi, kentang, buah-buahan dan lain sebagainya. Pikiran saya sederhana saja, apa iya Tuhan menciptakan kesemua itu namun kemudian melarang kita untuk memakannya?

Jujur saja, saya tidak memiliki jawaban ilmiah untuk pertanyaan ini. Saya sih memilih untuk menggunakan logika.

Faktanya dalam diet keto bukan tidak boleh memakan karbohidrat dan gula sama sekali, namun membatasinya dalam jumlah 20 hingga 50 gram perharinya.

Jadi seumpama ingin makan apel, ya silahkan saja disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Cari infonya, jangan benci berlebihan apalagi sampe bawa-bawa nama Tuhan 😂.. Dalam 100 gram apel, kandungan gulanya 12 gram. Kebayang kan jika dalam satu waktu anda mengkonsumsi 1 kg apel? Gula dalam buah memang tidak beracun namun bukannya segala hal yang berlebihan akan menjadi hal yang tidak baik?

Ibu saya penderita diabetes, dan dokter-pun membatasi konsumsi buah ibu saya. Bukan tidak boleh sama sekali tapi dibatasi. Itu adalah dua hal yang berbeda.

Selain itu, jika dahulu kita harus menunggu musim panen tiba untuk bisa mengkonsumi mangga, duren dan lain sebagainya. Maka kemajuan jaman membawa manusia pada berbagai macam kemudahan termasuk dalam mendapatkan makanan. Sehingga dengan mudahnya kita bisa menghadirkan durian medan dan jeruk manis dalam satu waktu. Kemudahan-kemudahan itu juga yang membuat aktivitas fisik kita jauh berkurang.

Jadi kesimpulannya, jika anda tetap ingin makan karbohidrat ataupun gula ya silahkan saja asal disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan aktivitas harian anda. Pada akhirnya kita sebagai pemilik tubuh yang paling mengerti, nutrisi apa saja sih yang dibutuhkan tubuh kita?

Menurut saya pribadi, pro dan kontra bukanlah hal yang buruk, karena dengan benturan tersebutlah ilmu pengetahuan terus berkembang demi sebuah perbaikan generasi.

Menjadi salah ketika anda melakukan diet keto hanya karena ikut-ikutan dan ingin kurus. 

*Oiya tulisan ini saya buat bukan untuk mengajak anda melakukan diet keto, bukan juga untuk mengagung-agungkan kelebihan diet keto dibanding diet-diet yang lainnya. Ini hanya sebuah catatan yang semoga bisa diambil baiknya dan ditinggalkan buruknya.

Singapore Laksa Soup Recipe

Winter has come, and although winter in Abu Dhabi rarely reaches 10 degree Celcius, it still nice to have something hot and spicy to ward off the cold. There are a plenty of hot and spicy foods, and one of them is Laksa.

Laksa is spicy noodle soup widely known in the South Asia region. There are several variations of Laksa, based on their locality and their significant ingredient such as Malaysian Laksa, Indonesian laksa, Sour Laksa, Curry Laksa, etc. Actually there is not much differences between Singaporean and Indonesian Laksa but on the type of chili used. Indonesian Laksa uses fresh chili while Singaporean Laksa uses dried one. This time I’d like to present you Singaporean Laksa.

LAKSA SINGAPORE RECIPE

Ingredients:

For the spices paste
15 dried red chillies, soak for 2 hours
10 shallots
2 cm galangal
5 candlenuts
100 grams dried shrimp
1 tsp shrimp paste, lightly toasted
salt and sugar

5 sdm cooking oil
2 stalks lemongrass
500 cc shrimp broth
500 cc thick coconut milk
Salt and sugar

Complement:

200 grams fish cake, thinly sliced
500 grams medium prawns, shells removed
100 grams rice noodles
300 grams bean sprouts
Coriander leaves

Directions:

  1. Boil water in a pot and add shrimps’s shell to make a broth. Set aside.
  2. Blend all the spices. Heat the cooking oil in a wok, put in the spices paste, add the lemongrass stir until fragrant.
  3. Put the spices paste into the shrimp broth, heat until boiled. Add coconut milk, stirring constantly
  4. Serve the complement: bring a pot of water to the different boil and cook the fish cake and prawns. Drain, remove from the heat and set aside. Throw away the water. Refill the pot with water and bring it to the boil. Blanch the rice noodles and beansprouts, then drain.
  5. Serve rice noodles and bean sprouts in a bowl. Top with the prawns and fish cake.
  6. Reheat the soup, ladle the laksa soup over the complement and garnish with coriander leaves.

Read also: I Fu Mie Recipe

Review Indomie Sambal Matah

Karena sedang tidak berada di Indonesia jadi review tentang Indomie Sambal Matah ini mungkin agak terlambat. Tapi gapapa deh, siapa tau ada yang membutuhkan informasinya.

Seperti yang kita tahu, indomie adalah salah satu produsen mi instan asal Indonesia yang rajin mengeluarkan berbagai varian rasa yang baru. Jika diamati, varian baru yang dikeluarkan mengacu pada kekayaan khasanah kuliner Indonesia.

Bahkan di Abu Dhabi saya pernah menemukan varian Indomie Rendang, Indomie Sate dan Indomie Cabe Hijau. Oiya, produk indomie yang dikeluarkan untuk area negara teluk (UAE, KSA, Oman, Qatar, Bahrain, Kuwait dll) biasanya diproduksi oleh Indomie Saudi Arabia.

Sempat ada yang bertanya ke saya, apakah rasanya sama dengan indomie di Indonesia? Hmm kalau boleh jujur untuk tekstur sih 100% sama. Sedangkan rasanya, entah perasaan saya saja atau memang benar, micin-nya semacam kurang terasa 😂. Jadi menurut saya, indomie buatan Indonesia tetap yang terbaik!

Oleh sebab itu ketika salah seorang teman membawakan Indomie Sambal Matah, rasanya senang bukan kepalang. Selain karena review-nya sudah berseliweran di grup masak-memasak di facebook, saya adalah pecinta makanan tradisional Bali. Sama sekali tidak pernah terbayangkan ada rasa sambal matah dalam sepiring Indomie. Saya sengaja tidak menggunakan berbagai macam topping kekinian agar bisa fokus merasakan otentisitas Indomie Sambal Matah.

Kemasan
Indomie Sambal Matah ini dikemas dengan dominasi warna ungu sebagaimana warna bawang merah yang merupakan bahan utama pembuatan Sambal Matah. Setiap bungkusnya berukuran 85 gram, dilengkapi dengan bumbu serbuk dan minyak sayur.

Cara Membuat
Pembuatannya sebagaimana Indomie pada umumnya. Mie direbus sekitar 3 menit atau sesuai selera dan sambil menunggu mie matang, kita siapkan bumbu pelengkapnya. Setelah mie matang, tiriskan dan aduk secara merata dengan bumbunya.

Rasa
Setelah mie diaduk dengan bumbu pelengkap, aroma harum khas indomie berpadu dengan sedapnya bawang merah serasa memenuhi ruangan. Tekstur mie yang kenyal berbalut rasa manis dan sedikit pedas ditambah aroma bawang yang cukup kuat sangat memanjakan lidah saya. Pada suapan selanjutnya saya seperti mengecap rasa gurih-tipis mirip terasi.

Pertemuan indomie goreng yang menggunakan kecap manis sebagai bumbu dasar dengan sambal matah yang dominan dengan rasa bawang merah adalah perpaduan yang tepat. Secara keseluruhan rasanya enak, saya sih doyan.

Bagaimana dengan kamu?

Indonesian Taste on UAE National Day

I fell in love with this country since the first time I stepped my foot on The UAE soil. Here I can meet people from many backgrounds and cultures. This country also allows me to see and experience Islam from a different point of view. Women are highly valued and much more respected here.

No wonder when the preparations for the 46th UAE National Day celebrations are in full swing in Abu Dhabi, I easily got carried away with the people’s excitement.

What’s a celebration without cake? Since UAE is my second home country, so I want to make special dessert cake for this occasion.

This is my husband’s favorite cake, a traditional Javanese cake called Klepon. Maybe some of you are already familiar with this canape-sized snack. Basically klepon is a balls of glutinous rice cake filled with Javanese brown sugar and coated in grated coconut. It usually comes in green but, since this is a special occasion, I want to make it looks like UAE Flag with red, green, white and black colors.

Read also: Singapore Laksa Soup Recipe

Actually I never wanted to make homemade food coloring, as it takes too much work! But remembering your little ones are going to eat it too, I give you an option to make natural and homemade food coloring! It was so easy, no cooking, no mess. It’s worth it!

I simply use juicer to make the colors. Raw beet juice extracted from a juicer makes a bold red. Then I boil the juice to reduce the soil-flavor of beets. For the green color I use the juice of pandan leaves. It is also known as ‘fragrant plant’ because of its sweet aroma. As for black color, we can use charcoal but, unfortunately, I didn’t know where to find it in Abu Dhabi so I use chocolate paste for substitute. Here is the basic recipe.

KLEPON CAKE RECIPE

Ingredients:
350 gram of glutinous rice powder
150 cc of warm water
Food colorings as needed
8 tsp. of Javanese brown sugar
1 cup of fresh-grated coconut, steamed and mixed with a pinch of salt

How to make it:

  • Mix the glutinous rice powder with the warm water, knead the dough until firm but supple.
  • Divide the dough into 4 part and give green, red and black/chocolate food coloring into the dough.
  • Pull off a teaspoon of the dough and shape it into a ball. Push a finger into the center of the ball to make a hole, and then put in the grated sugar. Seal the hole, and roll it back into the ball shape with the palms of your hands.
  • Prepare all the balls and set them aside.
  • Prepare a pot half filled with water and bring it to boil.
  • Drop the balls into the boiling water. Remove the balls with a spoon once they afloat on the water surface and then roll the balls in the grated coconut.
  • Serve at room temperature.

There you are, a traditional Indonesian taste with international twist, just for one of very special days of my UAE friends. This post is part of the UAE Mom Bloggers Blog Hop for UAE’s National Day on December 2.


Do check out other posts from our bloggers:

7 things under 20 dirhams that I love in the UAE – Nayel and Mummy
Oatmeal, Carrot and Apple Muffins – Thoughts Over Chai
Popsicle Stick Flag Craft – Stars In The Desert
The Spirit of the Nation – Explored by Mafaza
UAE Flag Crafts and Activities for Toddlers and Pre-schoolers – As They Grow
UAE Flag Paper Pinwheel – Mumzy Notebook
UAE Keepsake Box – Sand In My Toes
UAE Flag Colors Lunch Box – Cuddles & Crumbs

Hope this creation inspires you all for your own special occasions ❤️.

Bebek Goreng Surabaya

Kota Surabaya selain terkenal dengan aneka makanan berbahan dasar petis juga dikenal dengan olahan Bebek Gorengnya. Hal yang membedakan Bebek Goreng di Surabaya dan di kota lain adalah keberadaan kuah rempah sebagai pendamping sambal koreknya.

Nah waktu ulang tahun kemarin saya menyempatkan memasak menu ini sebagai obat kangen tanah air. Beneran kalau masak sendiri jatuhnya lebih puas, rasanya bisa disesuaikan dengan selera keluarga kita dan mau nambah sampe ampun-ampun juga ga takut dompet jebol hehehehe. Sebenarnya bumbunya menggunakan bumbu ungkep biasa sih, tapi mungkin yang berbeda hanya diteknik masaknya.

Untuk mempersingkat waktu, saya menggunakan panci presto. Tapi jika ingin menggunakan teknik ungkep, tipsnya adalah dengan menambahkan air pada panci yang berisikan bumbu ungkep dan bebek sebelum kompor dinyalakan. Panas yang naik secara perlahan akan menghasilkan tekstur bebek yang lembut. Memasukkan bebek pada air ungkepan yang panas hanya akan membuat daging bebek menjadi liat dan sulit empuk.

Baca juga: Resep Black Pepper Ribe Eye Steak a la Mama Deira

Daripada saya ngoceh kepanjangan, berikut saya tuliskan resepnya:

Bahan:

  • 1 ekor bebek (saya gunakan bebek perancis beratnya sekitar 2 kg)
  • 1 buah lemon untuk mencuci bebek

Bumbu:

  • 15 siung Bawang Putih
  • 10 siung Bawang Merah
  • 5 butir Kemiri
  • 1 sdm Ketumbar
  • 1 jari Jahe
  • 1/2 jari kunyit
  • 3 jari Lengkuas
  • 4 batang Serai
  • 10 lembar Daun Jeruk
  • Garam dan Gula Secukupnya

Sambal Korek:

  • 5 siung Bawang putih
  • 10 buah Chilli bird
  • Minyak panas bekas menggoreng bebek

Cara membuat bebek goreng:

  1. Potong bebek menjadi 12 bagian, rendam dengan perasan air lemon selama 10 menit. Cuci bersih dah sisihkan.
  2. Haluskan semua bumbu kecuali serai dan daun jeruk.
  3. Masukkan bebek, bumbu yang telah dihaluskan, serai dan daun jeruk kedalam panci presto. Presto selama 15 menit setelah mendesis.
  4. Angkat bebek dan sisihkan.
  5. Didihkan minyak goreng dengan api sedang, masukkan bebek jika sudah panas. Goreng hingga kuning keemasan.

Cara membuat kuah rempah:

  1. Didihkan bumbu yang tersisa agar surut.
  2. Setelah surut tumis ampasnya dengan minyak bekas menggoreng bebek.

Cara membuat sambal korek:

  1. Ulek kasar bawang putih dan chillibird.
  2. Tambahkan garam.
  3. Siram dengan minyak bekas menggoreng bebek.

Selamat mencoba! Kalau ada yang kurang jelas boleh japri atau tinggalkan komentar dibawah ya.

Baca juga: Resep Sop Ikan Batam

 

Black Pepper Rib Eye Steak A La Mama Dei

Hampir semua orang suka makan steak, termasuk saya dan suami. Tapi kalau setiap hari makan di restoran, selain bahaya untuk dompet, bahaya juga untuk kesehatan. Karena kita ga pernah tau kan, kandungan apa saja yang ada didaamnya. Sedangkan kalau masakan rumahan, kita bisa mengontrol semua macam dan kebersihan bahannya.

Kali ini saya mencoba memasak menu steak yang memang menjadi makanan favorit #papadei. Resep dan cara memasaknya hasil modifikasi sana-sini, jadi bisa disesuaikan dengan selera keluarga masing-masing. Dengan kemajuan teknologi seperti saat ini terasa menyenangkan yah, semua masakan restoran bisa dihadirkan dirumah. Benar-benar memudahkan orang yang senang belajar memasak seperti saya 😍.

Berikut hasil utak-atik resep saya, semoga cocok yah 😉

Bahan:

  • 2 pcs Rib Eye Steak @200 gram
  • 3 siung Bawang Putih
  • 5 siung Bawang Merah
  • 3 sdm Merica Hitam
  • 5 sdm Whipping Cream
  • 1 buah Bawang Bombay, iris tipis
  • 1 sdm Olive Oil
  • 1/2 sdm Saus Tiram
  • 1/2 sdm Kecap Manis
  • 1/2 sdm Saus Inggris
  • Gula dan Garam secukupnya

Pelengkap:

  • Kentang Goreng
  • Buncis potong sesuai selera
  • Wortel potong dadu

Cara membuat steak:

  1. Rendam daging dengan 1 sdm olive oil, garam dan merica sesuai selera, sisihkan minimal 30 menit sebelum dibakar.
  2. Siapkan pan dan bakar tiap permukaan daging selama 4 menit atau sesuai selera dengan menggunakan api sedang. Bisa juga dioven 4 menit dengan suhu 120 derajat celcius untuk mendapatkan tingkat kematangan medium-rare

Cara membuat saus:

  1. Tumis bawang putih dan bawang merah cincang dengan 1 sdm butter hingga wangi.
  2. Masukkan 2 sdm merica hitam yg ditumbuk kasar.
  3. Tambahkan saus tiram dan saus inggris.
  4. Tambahkan whipping cream 5 sdm, jika dirasa terlalu pekat boleh ditambah air/kaldu sesuai selera.
  5. Tambahkan gula dan garam sesuai selera.
  6. Aduk hingga mendidih

Cara membuat pelengkap:

  1. Tumis buncis dan wortel menggunakan butter,
  2. Tumis bawang bombay dengan butter secukupnya,
  3. Goreng kentang dengan minyak banyak, tiriskan agar crunchy.

Setelah semua komponen disiapkan, bisa di tata ke piring saji sesuai selera. Biasanya saya menempatkan tumisan bawang bombay dibawah steak karena memberikan aroma wangi dan rasa manis tanpa menghilangkan rasa khas daging itu sendiri.

Baca juga: Resep Bebek Goreng Surabaya

Biasanya selera tiap orang untuk tingkat kematangan daging tidaklah sama, cara diatas untuk memasak daging dengan level medium rare. Jika ingin membuatnya lebih matang bisa mengambil waktu 7 menit untuk tiap sisinya. Kehadiran pelengkap juga tidak baku seperti yang ada di resep saya. Bisa menggunakan jagung pipil yang ditumis dengan butter, jagung utuh yg dibakar, ataupun menggunakan coleslaw. Silahkan menyesuaikan dengan isi kulkas kita.

Mediterranean Cuisine at Todd English Olives

William Todd English is an American celebrity chef that best known for his TV cooking show, Food Trip with Todd English, on PBS. Last Thursday I got a chance to review his Todd English’s Olives restaurant in Venetian Village, Ritz Carlton Canal, Abu Dhabi. The restaurant’s name is a tribute to his then-wife, Olivia.

The restaurant’s concept is Mediterranean cuisine with a strong influence from Italian cuisine. A staff named Bojana warmly welcomed us, and we really enjoyed her company. She was knowledgeable about the dishes served to us and passionately explained every details of the menu. From the beginning i knew she loved her job.

Read also: Mercadito Night Brunch at Amerigos Mexican Bar and restaurant in Park Inn by Radisson Blu

Location
Located in the Venetian Village of Ritz Carlton, the restaurant was easily accessible yet offered a nice retreat from the buzzing life of Abu Dhabi. There were valet service also an ample parking spaces available near the venue so we could quickly park our car. Sheik Zayed Mosque was visible from the access road to the Venetian Village, while Qaryat al Beri can be seen from across the strait.

Ambiance
Inside the restaurant, customers sat around several tables and, although we can hear the chitter-chatter, the noise level is low so we could have comfortable conversation. In fact, I suspected that our table was the loudest one that night, thanks to our energetic #babydei. The restaurant had both outside and inside tables and I guess it would be nice to sit outside when the weather permits.

Food and Drink
We had Beef Carpaccio, Sweet Potato Brava’s, Seared Duck Foie Gras Steak and Beetroot Carpaccio as the starters. All were my favorite but the most interesting menu was Beef Carpacio. It had different style from the carpaccio that I usually ate before. It consisted of 3 layers of filling: gorgonzola rosti (potato) cake, mix greens, and beef, and springkled with balsamic dressing. The ingredients perfectly blended and gave a unique mouth watering experience. Sweet potato brava, covered with honey, had a really sweet taste, the jalapeno paste yielded a dash of spiciness while the feta cheese added a savoury flavour. As for their Foie Gras, a popular and well-known delicacy in French Cuisine, I can only say it was outstanding especially because it’s served with blinis. The liver tasted rich, buttery, and delicate. It was more than delicious, and my mouth was watering as I described it here🙊

For the pasta, I chose Baked Ricotta Ravioli, Portobello Pizza, Scallops Vol-Au-Vent and Prime Beef Tenderloin for the entrees. The ravioly was good, while the tasty portobello pizza specially baked from housemade dough was a perfect choice if you were a vegan. The portobello mushroom tasted tender and meaty, I love it. But my favorite entree was the Scallop Vol-Au-Vent, the dish had a number of layers: the scallop, puff pastry cup, cauliflower puree, spinach with lemon butter sauce. Besides its taste, the most important factor to value seafood dishes is their texture, and the scallop was cooked with perfect timing so the texture was chewy but not too cheewy.

After the entree, eventhough my stomach was almost full, i didn’t loose my appetite for dessert. Chef Jaime Mendoza proudly presented his housemade desserts consisted of Red Velvet Cake, Creme Brulee, Tiramisu and Panna Cotta. The tasting platter was too pretty to eat. But I ate it anyway!

This restaurant also served espresso so my husband requested for a double espresso. He said that the coffee was rich and bitter, with a hint of sourness of arabica. As for myself, I chose a glass of the chamomile tea, because I wasn’t really a coffee fan.

Mercadito Night Brunch at Amerigos Mexican Bar and Restaurant in Park Inn by Radisson Blu

I’d say I was lucky to be able to live in UAE, a country where 80% of its population are expatriates from multitude of other countries. This allows me to easily have a taste on many kind of culinary. Cafes with specific dishes of India, Turki, Pakistan, Korea, Polynesia, or any other region can be found just around the corner, and one of them has Mexican flavors!

Last week I got an invitation to taste Mexican foods at Amerigos Mexican Bar and Restaurant in Park Inn by Radisson Blu, a hotel located in Yas Island. To be honest, I didn’t know much about Mexican foods other than taco, quesadilla, and tortilla chips and I knew them only from Mexican telenovelas such as Maria Mercedes, Rosalinda, or Marimar which were popular in Indonesia during the 90s 😂.

The first appetizer served was tortilla chips with salsa and guacamole sauces. The combination of tomato and lime juice in the salsa felt so fresh and rich with spices, while the creamy guacamole was made of avocado, onion, tomato, coriander leaves, and lime juice. The perfect combination of fresh ingredients made both sauces tasted delicious. After the tortilla, came another set of appetizers which were a bowl of Creamy Soup of Corn and Mushroom, Traditional Quesadilla, Chicken Taquitos Dorados, and Shredded Beef Salpicon Tostada. They were scrumptious, crunchy, and tasty, but my favorite was the Chicken Taquitos Dorados, a hot and spicy barbecued chicken meat rolled in tortilla. Very much compatible to Indonesia palate 👍🏻.

Read also: Polynesian Daycation Brunch at Kalea Restaurant, Lapita Park and Resort

We barely scrapped the bottom of the plate when the waiter brought us the salad, one dish that I’ve been waiting for! I noticed that each culture has its own kind of salad. Indonesia, for instance, has Gado-Gado, while Thailand has Papaya Salad, and Vietnam is proud of its Noodle Salad. And who doesn’t know Korean kimchi? That’s why I was intrigued on what kind of salad Mexican had.

Turned out that Mexican Salad had a unique characteristic, a marriage between western salad and a healthy dose of spices. Take Chevice de Atun, for example, a tuna meat cured in lime juice. The meat tasted sweet and sour, with no fishy after taste. They also served us Pineapple and Cucumber Salad with Tajin Chile Powder whose flavor reminded me of Indonesian Rujak Buah: sour, salty, sweet, and hot. So refreshing. I craved for this salad as I wrote this post! 🤤. I think I’m gonna go there again to have another serving of both salads, just to drive the summer away!

The main menu we got was a plate of US flank, Adobo Australian Lamb Chops, and Free-Range Chicken Breast Steaks, grilled with one whole Jalapeno Toreado, and cuts of Corn Cobs. The steak was served with a bowl of Charro Beans, a typical Mexican bean soup. Again, unlike European steaks which usually minimalistically spiced, Mexican steak was rich with spices. According to Chef Jorge Rodrigues –Amerigos’ Chef de Cuisine, a few dozens kind of spices were used to marinate the steak.

The chef also, upon knowing that we were Indonesians, served us a small cup of Habanero Paste. Having used to Indonesian rawit, we initially underestimated this chili paste but at the end we had to admit that rawit was nothing in the face of habanero! Lucky for us that the dessert presented was dulche de leche cream caramel, so we could quickly put the habanero fire down.

All in all, I really enjoyed the Mexican foods because of their bold taste of herbs and spices. The restaurant ambience, situated at the poolside with life musicians performing latin songs, also helped us mexicanized our night away.

About Me
Ayu Tanimoto
I'm Young, I'm Mom, I'm Proud!
My Tweet