Category: Bahasa Indonesia

All About Indonesian Foodstuff in Abudhabi

Semenjak tinggal di Abudhabi saya jadi sangat menunggu hari Jumat dan Sabtu, karena weekend di negara ini jatuh pada hari tersebut. Jika Jumat telah tiba, itu tanda bahwa saya harus segera belanja mingguan. Lumayan mengejutkan karena belanja mingguan ternyata bisa jadi salah satu hal yang sangat sangat menyenangkan untuk saya :o. Mulai dari mikir seminggu ke depan mau masak apa, milih barang mana yang promo, dan sebaiknya belanja dimana. Mengetik dan membayangkan hal tersebut sudah membuat mata saya berbinar-binar saking senengnya :D.

Berbicara mengenai tempat belanja, disini ga ada tuh yang namanya melijo alias tukang sayur. Lupakan toko sebelah rumah ataupun indomaret di ujung gang. Jadi kalau mau berangkat belanja mesti beneran dicatet mau beli apa aja. Dibawah ini merupakan daftar tempat yang biasa saya kunjungi untuk belanja kebutuhan rumah tangga.

  1. Lulu, merupakan tempat belanja favorit saya karena di departemen store ini lebih mudah untuk menemukan bahan makanan Asia yang tidak dijual di tempat lain. Seperti cabe merah besar, daun pisang, nangka muda, kelapa, gula merah (jaggery), tahu goreng. Selain itu, disini sering ada diskonan hahaha #emak2. Bayangin aja cube beef sekilo cuma 20 dhs (kurs 3600).
  2. Carrefour, suami saya lebih demen kesini dibanding ke Lulu karena memang penataannya lebih terstruktur. Tempat ini saya rekomendasikan kalau mau belanja sayur ama buah, karena barangnya fresh dan mulus dan sering ada promo juga. Buat yang mencari bahan untuk western food/baking juga sebaiknya belanja kesini karena alat dan bahannya lebih internesyenel hihihi.
  3. South Asia, nah ini satu-satunya toko bahan makanan Indonesia yang ada di Abudhabi. Tempat saya belanja masako ayam, tempe, kencur, kemiri, dll. Tapi tempe disini ga seenak tempe yang dibikin ama guru ngajinya Mbak Widhi-ku tercinta hihihi #rejekianaksholehah. Disini juga ada bahan membuat kue kaya SP, Ovalet dll (fyi, nyari begituan di supermarket sini susah bangetttt).
  4. Baqala, kalau di Indonesia, baqala ini semacam toko kelontong modern seperti indomaret atau alfamart. Tapi tetep aja untuk menjangkau tempat ini ga semudah menjangkau indomaret. Tetep harus ngeluarin mobil dulu brohhh. Baqala favorit saya yang ada di tourist club area, tepatnya di sebelah Restoran Beijing. Di baqala beijing ini saya menemukan kembang tahu, taoco, kulit siomay, ang ciu, chili oil, wakame, kurage, nori lembaran, miso paste, five spice, dll. Dan sebagaimana toko china di Indonesia, harganya murah <3. Tapi karena orangnya ga seberapa bisa berbahasa inggris, jadi sebelum belanja kesini biasanya saya nyari foto barang yang ada tulisan chinanya. Biar ga kelamaan pake bahasa tarzan :p
  5. Geant, isinya ga seberapa berbeda dengan Lulu dan Carrefour dan untuk beberapa item lebih mahal dibanding dua supermarket favorit saya tadi.
  6. Spinneys, kalau di Surabaya, spinneys tuh semacam ranch market. Ga usah dijelasin deh ya, saya kesini paling cuma itungan jari. Soalnya hemat kan sebagian dari cara mencintai suami wakakakakak.

Nah karena saya tipikal emak-emak pelit gak mau rugi, biasanya saya belanja bumbu dan daging-dagingan ke Lulu, abis itu langsung ke Carrefour untuk belanja sayur. Sekalian cuci mata gitu deh ;). Tapi walaupun bahan makanan disini lumayan lengkap, koper saya selalu beranak tiap menginjak Abudhabi. Mulai dari bahan makanan (kerupuk udang, petis, sambel, cabe rawit, dll) dan peralatan masak (cetakan roti kukus, cobek, ulekan, dll) masuk ke koper pemirsahhhh.

Pastinya, tinggal di luar negeri membuat saya lebih menghargai hal-hal yang tampaknya sepele. Betapa untuk makan rawon aja saya harus merendam kacang hijau dulu, masak lontong sayur-pun harus bikin lontong sendiri. Bahasan saya sih ga jauh-jauh dari makanan yaaa. Abis yang paling berasa banget emang masalah perut, kalau di tanah air mah tinggal kedepan kompleks udah berderet tuh nasi pecel, bubur ayam, soto, bakso, dll. Walaupun disini juga ada restoran yang menjual makanan Indonesia, tapi saya sih lebih prefer untuk masak sendiri. Soalnya kata suami saya lebih enak.

Well, setelah 7 bulan menikah makin banyak daftar makanan yang bisa saya buat :D. Kalau ada yang mau berbagi resep sate padang, saya tunggu yaaaa ^_^

Parenting: Focus on their needs, not yours!

Pengen deh teriak-teriak hal tersebut ke orang tua yang ga berhasil bikin anaknya berani bersikap, mengambil keputusan, bertanggung jawab dan menerima resiko. Eh, emang situ bisa? Walaupun memang tidak mudah, saya yakin BISA.

Saya dibesarkan di keluarga yang demokratis, berbicara dengan asertif merupakan sebuah kebiasaan yang terbangun sejak kecil. Jadi berdiskusi dan berdebat dengan orang tua sudah biasa kami lakukan, justru dari sini kedua pihak belajar untuk lebih mengenal satu sama lain. Papa dan Mama tau, rasa ingin tau saya yang berlebih kadang membuat saya terlalu berani mencoba hal baru. Menantang apa yang sudah biasa ada di masyarakat. Kadang berhasil dengan sukses dan tidak jarang pula saya pulang dengan tangisan karena gagal.

Biasanya selama beberapa waktu saya akan memendam kekecewaan itu, bertanya dalam hati. Kira-kira apa penyebabnya? Jika saya sudah menemukannya, saya tertawa dan (biasanya) akan mencobanya lagi. Hingga saya menghasilkan kesimpulan bahwa hal ini tidak bisa dilakukan. Tapi jika berhari-hari saya masih belum menemukannya, saya akan bertanya pada Papa dan Mama. Duh seketika saya jadi kangen sama mereka hiks.

Ketika menuliskan ini saya baru teringat bahwa Mama pernah mengajari saya mewarnai “Kalau mewarnai itu harus searah dek, biar rapi! Gunung kalau dari dekat warna hijau, kalau dari jauh warna biru…”. Dan saya-pun bertanya “Terus kalau Ayu pengen mewarnai gunung dengan warna hitam gak boleh? Kan di gunung belum ada listrik!”. Mama bilang “Ya gapapa dek, listrik belum masuk desa..”. Alhasil saya pernah mendapatkan nilai 6 untuk mewarnai.

Jadi ketika itu kami diberi selembar kertas yang berisikan gambar sebuah kota lengkap dengan gedung, mobil, rumah dan aktivitas orang-orang didalamnya. Saya mewarnainya dengan crayon hitam. Bisa ditebak, kertas saya layaknya kertas karbon yang berwarna hitam pekat. Bu Yati selaku guru kesenian menghampiri saya dan menanyakan mengapa saya mewarnai seperti itu. “Kota-nya lagi lampu mati bu!” jawab saya. Nilai itu-pun berganti menjadi 8. Dan saya bersekolah di TK Kemala Bhayangkari #bukaniklan. Btw, Bu Yati masih ngajar gak ya?

Ketika kelas 1 SD, saya tidak berani pulang ke rumah karena ujian bahasa daerah mendapatkan nilai 0 (fyi, mama saya terbiasa menemani saya belajar, mengerjakan PR dan pastinya buku saya dibuka satu per satu). Hingga akhirnya saya pulang karena lapar, tapi sesampai di halaman saya tidak berani masuk rumah. Apalagi melihat mama sudah duduk di ruang tamu. “Loh kok ga masuk dek? Ada apa pulangnya kok cek siange?”. Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, saya malah menangis sesenggukan dan lari ke pelukan mama “Ulangan bahasa daerahku dapet 0 ma ” hahaha geli deh ingetnya. Seketika mama memeluk saya yang masih menangis “Ya udah gapapa, besok nol-nya diceplok buat sarapan yah”. Saya makin nangis sesenggukan karena merasa “cegek”, tau gitu pulang daritadi. That’s my mom! Unpredictable.

Jadi kalau sempat beredar “memepic” tentang anak pitik, anak wedhus dan lain-lain itu. Yeah I’ve been there and done that hahahah. Jangan ditanya deh, setelah kejadian itu, dengan ditemani Mama, saya kian rajin menghapalkan materi Pepak Basa Jawi yang sampulnya merah ntuh. Jadi selama bukan tulisan hanacaraka, saya selalu mendapat nilai memuaskan untuk pelajaran bahasa daerah.

Sedangkan Papa, Papa adalah orang pertama tempat saya mengadu ketika dimarahin Mama hahaha. Masih hangat dalam ingatan, ketika kecil saya selalu minta dibawakan oleh-oleh sepulang kerja. Paling sering minta dibawakan waffle, bukan karena saya suka. Hanya karena saya tau, di kantor Papa ada penjual kue tersebut. Sesampai dirumah yang makan kue tersebut ya Papa sendiri sih hahaha. Pernah Papa tidak membawakannya, mungkin karena beliau sendiri bosan tiap hari makan kue tersebut. Saya nangis dengan lebaynya di kamar, besoknya? dibawain lagi! Bedanya, saya menemani beliau makan, walaupun ga suka.

Beliau juga yang setiap malam memeriksa setiap bagian tubuh saya sebelum tidur. Jadi kalau siangnya saya jatuh, pasti malamnya saya sembunyikan lukanya dan selalu aja ketauan. Walaupun sambil ngomel, Papa akan dengan tekun membersihkan luka dan meneteskan obat merah. Old fashion banget yah hahaha.

Ketika kami beranjak dewasa, Papa merupakan salah satu fashion police yang bikin bete. Beliau pasti orang pertama yang mengkritisi appearance saya dan Kakak, bahkan lebih comel dari mama. Walaupun diawal masukannya seringkali kami tolak, tapi akhir-akhirnya nurut juga sih yak!. Gimana-gimana seleranya Papa emang bagus, makanya dapet istri cantik (-_-).

Papa Mama

Begitulah sekilas mengenai pola pendidikan orang tua saya, mereka tidak pernah memaksakan saya untuk menjadi A, B ataupun C. Mereka percaya setiap anak itu “spesial”. Mereka hanya menyiapkan bekal saya, berjalan dari belakang, memandang dari kejauhan, menggumamkan doa dan dengan tangan terbuka siap menerima anaknya yang bahkan pulang dalam kondisi penuh luka.

Ga kerasa air mata ini menetes, I Love You Papa-Mama. Thank you for supporting my decision, my latest decision to be the wife of him. I am grateful to have parents like you who always encourage me to strive for the best in my different way. I would not be where I am today without you.

Cara Mengurus Residence Visa UAE-Abu Dhabi

Tulisan ini saya persembahkan buat rekan-rekan yang masih bingung mengenai tata cara mengurus residence visa UAE, khususnya di Abu Dhabi. Terlebih, tidak semua perusahaan menyediakan visa untuk keluarga, misalnya kantor suami saya. Oleh karena itu yang menjadi sponsor saya untuk mendapatkan residence visa adalah suami.

Baiklah, berikut ringkasan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengurus residence visa di Abu Dhabi

  1. Menuju typing center untuk menginput data pengajuan “Entry Visa” dengan membawa dokumen administrasi berupa kontrak kerja sponsor dan perusahaan, surat keterangan kerja, surat keterangan gaji, foto copy emirates id milik sponsor, surat tagihan listrik, thawteeq, foto copy paspor keluarga yang di disponsori. Biayanya 300 dhs dan prosesnya sekitar 30 menit.
  2. Menuju kantor imigrasi dengan membawa formulir pengajuan entry visa dan dokumen administrasi diatas. Jika dokumen sudah benar dan lengkap, pihak imigrasi akan mengeluarkan entry visa berupa lembaran kertas keramat berwarna merah muda. Oiyah, sebelum proses ini dilakukan, pastikan orang yang disponsori berada di luar UAE.
  3. Setelah itu keluarga yang disponsori bisa masuk ke UAE dengan berbekal foto copy entry visa yang dikirim lewat email. Sebelum keluarga yang disponsori masuk ke UAE, pihak sponsor menyerahkan lembaran asli entry visa ke bagian “Visa Collection” di Abu Dhabi International Airport dan membayar 35 dhs. Jika entry visa dikumpulkan setelah pesawat mendarat maka biayanya menjadi 45 dhs (sayang-sayang 10 dhs bisa dapet..bisa dapet apa yak? semua-semua mahaaal wakssss). Kemudian keluarga yang di sponsori bisa menukarkan foto copy entry visa dengan entry visa yang asli melalui loket Visa Collection, seturunnya dari pesawat, untuk kemudian melakukan scan mata (yang pake lensa kontak ga usah khawatir, saya pake yang bening dan ga perlu di lepas).
  4. Sesampainya di Abu Dhabi, saya harus segera mengurus “Emirates ID” (semacam KTP-nya ekspatriat selama di UAE) dengan mendatangi MOFA di Marina Mall untuk melakukan registrasi. Dokumen yang dibawa adalah paspor keluarga yang di sponsori dan entry visa. Prosesnya sekitar 15 menit dan kita akan mendapatkan form registrasi emirates id, biayanya 270 dhs.
  5. Sesudah tahapan diatas, sponsor sebaiknya segera mengurus asuransi ke perusahaan asal dengan membawa dokumen milik sponsor berupa paspor, visa, emirates id, insurance card. Serta dokumen milik keluarga yang disponsori berupa form registrasi emirates id, paspor dan entry.
  6. Melakukan cek fisik dan kesehatan. Diawali dengan identifikasi sidik jari di pusat biometrik dengan membawa paspor, entry visa dan form registrasi emirates id untuk melakukan scan sidik jari. Jangan lupa untuk meminta stamp berupa keterangan bahwa proses tersebut sudah dilakukan.
  7. Menuju ke SEHA (saya ambil yang di Berkeley, karena bersih dan tidak terlalu ramai) dengan membawa paspor, entry visa dan form registrasi emirates id. Disini kita akan di cek fisik, foto rontgen dan diambil darahnya untuk memastikan kesehatan tubuh kita. Untuk proses ini biayanya 250 dhs. Hasil tes kesehatannya bisa diambil setelah mendapat konfirmasi melalui sms.
  8. Setelah mendapatkan sms konfirmasi, hasil cek kesehatan sudah bisa diambil.
  9. Menuju ke typing center untuk registrasi pengajuan residence visa. dengan membawa dokumen milik sponsor berupa paspor, visa, emirates id, insurance card. Serta dokumen milik keluarga yang disponsori berupa form registrasi emirates id, paspor, visa entry, surat keterangan sehat dari SEHA. Prosesnya hanya 15 menit, biayanya 350 dhs.
  10. Menuju kantor imigrasi dengan membawa dokumen di atas, foto copy insurance card keluarga yang di sponsori plus form registrasi pengajuan residence visa. Setelah data di submit, 3-4 kemudian paspor yang sudah berstikerkan residence visa akan dikirim melalui pos ke p.o box yang kita cantumkan. Emirates id juga akan dikirim melalui pos secara terpisah. Alhamdulillah sekarang saya sudah resmi mendapatkan Visa Residence UAE-Abu Dhabi

Menariknya di negara ini, jika anda tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu, beberapa proses menyediakan pelayanan yang lebih cepat. Misalnya di SEHA, jalur khusus berbiaya 350 dhs dan hasilnya bisa keluar keesokan harinya. Kemudian di Imigrasi (proses terakhir) juga ada jalur cepatnya, jadi kita tidak perlu menunggu 3-4 hari untuk mendapatkan paspor kita kembali. Bayar 450 dhs dan paspor bisa selesai hari itu juga.

Tapi alhamdulillah, rejeki anak sholehah, SEHA saya jadi keesokan harinya, paspor juga langsung diserahkan saat itu juga. Langsung deh hore-hore senang. Yah walaupun biaya pengurusan residence visa ini di ganti oleh kantor, rasanya seneng aja mendapatkan keajaibannya Allah.

Buat yang lagi mengurus visa residence, selamat berjuang yah! proses panjang dan melelahkan tapi bukan berarti ga bisa dilalui. Beberapa hal yang bikin ribet karena beberapa petugasnya agak terbatas dalam berbahasa Inggris, jadi dalam menyampaikan proses/tahapan yang harus dilalui terkadang kurang jelas. Terkadang mereka akan memanggil temannya dulu untuk menjelaskan kepada kita hehehe. Jadi sekalian sama latihan sabar dan dinikmati aja setiap prosesnya.

Akhir kata, semoga tulisan saya bisa membantu yaaa.

Baca juga: Cara Mengurus SIM di Abu Dhabi, All About Indonesian Foodstuffs in Abu Dhabi

Tomatensoep Meatballen

Setiap malam, saya dan suami memiliki agenda pillow talk. Obrolan ngalor ngidul, mulai dari kondisi politik di Indonesia *ceileh* hingga kehidupan masa kecil kami.

Di keluarganya, hubby merupakan cucu pertama laki-laki dari anak laki-laki pertama. Tidak mengherankan jika kemudian mengaku-ngaku menjadi cucu kesayangan Opa dan Oma-nya. Hampir setiap liburan ia selalu pergi ke Jakarta, jadi wajar saja jika ada beberapa masakan Oma yang di kangenin, salah satunya sup merah. Tapi rasa sup merah yang di ceritakan hubby kayanya ga seperti yang biasanya mama bikin untuk saya deh, mengingat Oma-nya yang holland spreken, sepertinya ini sup merah ala western gitu.

Setelah hunting resep sana-sini, jadi juga sup merah yang dimaksud. Ternyata memang beda resep sih, walaupun bahan utamanya tetaplah tomat. Kata hubby sih rasanya more than delicious hahaha.

Tomatensoep Meatballen by @AyuTanimoto

“Tomatensoep Meatballen”

Bahan:

1 buah bawang bombay, cincang
3 buah wortel, potong dadu
2 buah tomat, potong dadu
100 gram kacang polong
2 buah sosis, potong dadu bay leaf
200 gram daging giling untuk meatball
100 gram jamur kancing, iris tipis
100 gram pasta tomat
200 ml saos tomat
1 sendok teh thyme egg
1 sendok teh bay leaf
1 sendok teh pala bubuk
1 sendok teh merica bubuk
2 sendok makan bawang putih goreng
2 sendok makan butter
1500 ml air kaldu
2 sendok makan terigu
Garam dan gula secukupnya

Cara membuat:

Campur daging giling, terigu dan beri sedikit garam, bentuk bola-bola kemudian rebus dalam air panas, tiriskan jika sudah mengapung.
Panaskan butter, tumis bawang bombay, pasta tomat dan saos tomat. Jika sudah berubah warna masukkan wortel dan tomat. Tumis hingga matang
Masukkan air kaldu dan tunggu hingga mendidih, masukkan sosis, jamur, meatball, jamur kancing dan kacang polong, didihkan kembali
Tambahkan thyme, bay leaf, pala, merica, dan bawang putih goreng. Tambahkan garam dan gula sesuai selera.
Untuk mengentalkan sup, tambahkan larutan terigu kedalamnya. Sajikan selagi panas.

Belajar Baking: Gagal itu biasaaa!

Saya tidak pernah merasa memiliki bakat baking sebagaimana Mama dan Kakak saya, tapi suami tercinta yang doyan makan terus meyakinkan untuk mencobanya. Bisa ditebak donk hasilnya wakakakak. Belum selesai cerita udah pengen ngakak aja. Jadi dua hari lalu saya bermaksud bikin mug cake, resepnya dapet dari sana-sini dan langsung aja dieksekusi. Oleh karena dirumah belum punya oven, saya memanfaatkan media microwave. Beberapa menit di panggang, aromanya luar biasa donk, waktu diintip juga ngembang ciiiin!. Udah main whatsapp aja ke suami yang lagi sibuk kerja di kantor. Memberikan angin optimisme bahwa istrinya berhasil. Tidak lama kemudian the bell was ringing and VOILA!. Kuenya bantet ._.

Sakitnya tuh beneran disini *nunjukhati*, gilakkkk! gue di-PHP-in ama microwave. Dafuq banget dah. Langsung aja donk saya ngabarin suami sekalian kirimin penampakan fotonya.”Nih ko, aromanya sih enak tapi ga tau deh! teksturnya kaya sandal”.

Sesampainya dirumah langsung dicariin donk ama suami *terharu*, dibilang enak pulak. Padahal saya udah nyicipin loooooh, enak dari mananya coba *terharulagi*. Masih aja doi nyemangatin.”Dari rasa udah enak kok yang, cuma teksturnya aja yang kurang pas. Besok bikin lagi gimana?”

Langsung aja saya ngakak, “Kurang pas apaan? Jelas gak bener keleusss”. Dia sih nyengir ajah, saya pun kembali sibuk menyiapkan pesenan carrot cake, bacon pie dan cheese cake, yang sayangnya cuma di dunia hayday ._.

Pagi ini, saya kembali mencoba wakakakka. Resep kemarin gagal masih ada ratusan resep lainnya kali. Tepung murah ini #sombong!. Bikin pastel kecil-kecil yang isi abon gitu deh. Alhamdulillah bahan-bahan juga lengkap semua. Exhibitionist lah yah biasaaa, langsung whatsapp suami. “Ntar pulang kerja makan telor ama kecap aja yah ko, sibuk nih! Mau bikin pastel <3”. Udah asik-asik aja donk yang lagi di kantor, kesenengen gitu mau dibikinin kue.

30 menit kemudian…

Picture sent!

“Asiiiik! aku mau ya mey <3”.

Iyaaaah! akhirnya saya berhasil bikin pastel abon. 10 biji ga sampe tapi ._.

Beberapa gosong dan beberapanya lagi jadi pastel mangkok.

Belom pernah denger? Yup! Memang pastel mangkok adalah produk baru temuan saya. Cape bok bikin pastel se-unyil satu-satu ga selese-selese. Jadi deh adonan dough-nya saya taruh mangkok, masukin abonnya, tutup lagi dengan dough dan panggang. Beres!

Kesimpulannya? coba disimpulkan sendiri *senyumtakzim*

Intinya jadi apa enggak? *senyummakintakzim* pastel unyilnya sih huwenakkkk sumpah deh! pastel mangkoknya jadi sandal lagi ._. #yanginibelomngapdetsuami #malu