Category: Bahasa Indonesia

Cumi Hitam Pedas: Resep Buka Puasa yang Cocok Disajikan untuk Menjamu Tamu

Marhaban ya Ramadhan!

Sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan, bulan yang paling ditunggu oleh semua umat muslim di dunia. Saya ingin sedikit bercerita mengenai tradisi ramadhan di Abu Dhabi. Salah satu hal yang paling menyenangkan selama bulan ramadhan adalah berkurangnya jam kerja. Di kantor suami saya misalnya, jika biasanya per-hari harus kerja selama 8 jam, maka memasuki bulan ramadhan cukup bekerja 5 jam saja. Bahagia!

Di Abu Dhabi bukan tidak ada penjual takjil, hanya saja makanan yang dijual kurang sesuai dengan selera saya. Oleh sebab itu saya memilih untuk sedikit repot menyiapkan takjil berbuka puasa. Paling mudah sih menyiapkan kolak, namun memiliki toddler membuat saya harus memutar otak dalam memanajemen waktu. Sehingga saya mengakali hal tersebut dengan mengatur menu yang tepat. Misalnya, saya sengaja memasak kolak yang tahan dalam kulkas beberapa porsi sekaligus. Sehingga keesokan harinya saya bisa mengalokasikan waktu untuk memasak hidangan utama.

Mengingat saat ini saya tinggal di perantauan, maka seringkali saya dan teman-teman berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Salah satu menu yang menjadi andalan saya adalah Cumi Hitam Pete Pedas asal Madura ini. Tapi berhubung bulan puasa, penggunaan pete mungkin bisa di-skip yah agar tidak menimbulkan polusi udara dari aroma pete yang khas.

Walaupun warnanya hitam-pekat dan tampak mengerikan, tapi rasanya luar biasa endessss loh teman-teman. Bikinnya juga mudah banget, tinggal tumis aja. Proses yang agak tricky adalah saat memilih dan membersihkan cumi-cumi. Selain jangan sampai kantong tintanya pecah, kantong pasirnya juga tidak boleh pecah karena akan ngeres ketika dimasak. Cumi yang masih bagus/segar biasanya kantong pasirnya masih utuh, jadi tinggal dibuang aja.

Baca juga: Resep Sambel Bajak yang Awet dan Sedap

Cumi Hitam Pete Pedas

Bahan:
1 kg cumi-cumi, bersihkan dan potong-potong

Bumbu:
8 siung bawang merah, rajang halus
8 siung bawang putih, rajang halus
20 buah cabe rawit, rajang halus
2 lembar daun salam
2 cm lengkuas, keprak
1/2 sdm garam
20 biji pete
Gula untuk penyeimbang rasa

Cara membuat:
1. Panaskan minyak, masukkan salam dan lengkuas.
2. Setelah harum, masukkan rajangan bawang merah, bawang putih dan cabe rawit. Tumis hingga layu.
3. Masukkan cumi-cumi, tambahkan garam dan gula. Koreksi rasa.
4. Tunggu hingga kuahnya surut kemudian masukkan pete dan siap dihidangkan.

Oiya, walaupun saya tidak memiliki darah Madura, saya adalah penggemar sejati masakan Madura. Oleh sebab itu saya sering baca-baca tulisan blogger yang aktif melampirkan resep makanan khas Pulau Garam. Salah satu yang saya rekomendasikan adalah blog kotak warna, bisa klik link dibawah ini untuk membaca salah satu resep masakan madura lainnya.

Baca juga: Resep Soto Ayam Pamekasan untuk Sajian Ramadhan ala Kotak Warna

Sekali lagi selamat berpuasa ya teman-teman, semoga amal ibadah kita diterima Allah.

Resep Sup Merah

Saya yakin setiap orang memiliki makanan kenangan, begitupun saya dan suami. Mama adalah ibu rumah tangga sejati. Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan, namun memasak adalah keahlian terbaiknya. Sup Merah menjadi menu spesial setiap ada anggota keluarga yang berulang tahun. Aroma lidah sapi asap menjadi ciri khas sup merah buatan mama, belum lagi gorengan udang yang semakin memperlezat sup buatan beliau. Namun karena selama tinggal di Abu Dhabi saya belum pernah menemukan penjual lidah sapi asap maka sup merah kali ini minus lidah sapi.

Suami saya sangat menggemari masakan ini namun begitu saya jarang membuatnya. Sebenarnya tidak susah membuat sup merah, tapi saya malas memotong wortel menjadi bentuk kotak-kotak kecil, belum lagi menggoreng adonan udang dan menyiapkan garlic bread-nya. Jadi tetap, sup merah ini hanya akan terhidang di momen khusus, momen saat saya lagi rajin dan enak hati hahahaha.

Sup Merah

Bahan:
1 buah bawang bombay, cincang
3 buah wortel, potong dadu
2 buah tomat, potong dadu
2 buah sosis, potong dadu
200 gram udang giling untuk meatball
100 gram jamur kancing, iris tipis
100 gram pasta tomat
200 ml saos tomat
1 sendok teh bayleaf
1 sendok teh oregano
1 sendok teh pala bubuk
1 sendok teh merica bubuk
2 sendok makan bawang putih goreng
2 sendok makan butter
1500 ml kaldu dari kepala+kulit udang
2 sendok makan terigu
Garam dan gula secukupnya

Pelengkap:
French bread
2 siung Bawang putih
2 sdm Butter
Sedikit parsley

Cara membuat:
1. Campur udang giling, terigu dan beri sedikit garam, bentuk bola-bola kemudian goreng dalam minyak panas, tiriskan jika sudah mengapung.
2. Panaskan butter, tumis bawang bombay, pasta tomat dan saos tomat. Jika sudah berubah warna masukkan wortel dan tomat. Tumis hingga matang dan harum.
3. Masukkan air kaldu dan tunggu hingga mendidih.
4. Tambahkan sosis, jamur, meatball, jamur kancing dan kacang polong, didihkan kembali
5. Tambahkan bay leaf, oregano, pala, merica, dan bawang putih goreng.
6. Tambahkan garam dan gula sesuai selera.

Untuk membuat garlic bread:
1. Hancurkan bawang putih, aduk rata dengan salted butter, tambahkan parsley
2. Oleskan pada french bread yang sudah dipotong-potong
3. Oven hingga kuning-keemasan

Review Jajanan Kekinian: The Golden Duck vs Irvin Salted Egg

Kali ini saya datang dengan review jajanan kekinian yah.

Siapa sih yang ga tau telur asin? Produk khas Brebes-Jawa Tengah ini sangat mudah ditemukan dimana saja. Bahkan saya-pun biasa bikin telor asin sendiri di rumah. Nah hebatnya, rasa telor asin yang khas ini berhasil dikembangkan oleh produsen snack asal Singapore menjadi jajanan kekinian yang bernama “salted egg yolk fish skin crisp”.

Dan hasil baca sana-sini, katanya ada dua merk yang paling terkenal, yaitu Irvin Salted Egg dan The Golden Duck. Saya pengen ngebandingin rasanya, kira-kira enak mana yaaa? Saking pengennya saya sampe kirim email ke customer servicenya, sayangnya dua-duanya ga melayani pengiriman ke UAE, hiks!. Tapi untunglah waktu mama saya berkunjung ke Abu Dhabi, ada teman di Singapore yang berbaik hati mengirimkan jajanan ini untuk saya. Sebut saja Hamba Allah, semoga rejekinya makin banyak ya kakak.

Okay, berikut review dari saya:

The Golden Duck
Harga 7 SGD, 125 gram
Di ingredients tertulis bahan utamanya menggunakan kulit ikan. Beberapa sumber mengatakan bahwa produk ini menggunakan kulit ikan salmon, ada juga yang menyebut kulit ikan dori. Entahlah 😂. Anyway, kulitnya berasa krispi, saus telor asinnya juga enak. Pecinta cabai mungkin lebih suka produk ini karena sausnya berasa sedikit pedas 🔥. Selain itu, rasa sausnya gurih-manis dan ada aroma khas daun kari yang mendominasi di setiap gigitannya.
Skor: 4

Irvin Salted Egg
Harga 8 SGD, 105 gram
Di bagian ingredients juga hanya tertulis terbuat dari kulit ikan. Ga tau kenapa semuanya enggan menuliskan jenis kulit ikan yang digunakan. Yang jelas, dari harga sih lebih mahal tapiii kulit ikannya lebih krispi dan saus telor asinnya cenderung gurih-manis. Sausnya didominasi rasa kuning telor sehingga sausnya lebih nendang 💕, cukup sempurna menggantikan rasa daun kari dan chili padi yang tidak terdeteksi lidah.
Skor: 4,5

Overall, saya doyaaaan banget sama dua-duanya, sama-sama enak dan ga kerasa ada jejak micin ditenggorokan simbok. Oiyaaaa mengingat harganya yang tidak murah, bisa dicoba juga produk snack saus telor asin buatan lokal yang menggunakan bahan dasar kulit ayam. Nanti kapan-kapan eike posting reviewnya yah!

Piknik ke Green Mubazzarah: Agenda Wajib Setiap Musim Dingin!

Halo semuanyaaa, jujur deh, saya suka krik-krik kalau posting resep doank, jadilah diselingi dengan beberapa cerita, curhatan, opini dan catatan perjalanan selama tinggal di UAE. Jadi selain belajar masak bareng, kita bisa saling bertukar cerita dan pengalaman satu sama lain.

Saya ingat betul pertama kali datang di Abu Dhabi, sejauh mata memandang yang tampak hanya padang pasir. Pertama sih seru ya, tapi lama-kelamaan saya mulai merasa bosan. “Serius nih, pasir lagi-pasir lagi?” demikian saya bertanya kepada suami. Mungkin karena berisik mendengar keluhan istrinya, suami saya berinisiatif untuk mengajak saya piknik ke gunung yang berlokasi di Al Ain. Sebagai istri yang baik, saya semangat donk. Secara udah kangen juga sama hijaunya pegunungan. Demikian bahagianya, ketika sampai dilokasi saya-pun mengernyitkan dahi. Gunung yang dimaksud suami ternyata ya seperti yang difoto itu. Gunung batu!

Asli kalau diingat, bawaannya pengen ngakak. Yakali, saat musim panas suhu bisa mencapai 55 derajat. Mana mungkin ada hutan pinus disini, ngayal aja. Jadi teman-teman, ternyata homesick membuat saya menjadi mendadak oneng hahahaha. But anyway, kami tetap piknik dan berbahagia, dan jadi agenda wajib setiap musim dingin tiba.

Biasanya saya dan teman piknik dari pagi sampai malam, kalau perlu menginap dan membawa tenda. Pernah juga saya piknik bawa kompor, jadi makan lontong sayur di taman gitu deh. Abis gimana? banyak taman bagus tapi makanannya burger lagi-burger lagi. Bete! hahahahaha.

Lah gimana, jangankan ke taman, ke London aja saya bawa sambel bawang. Dan kali ini saya mau berbagi resep Kotokan Tahu, mumpung punya belimbing wuluh dan pete. Banyak masakan Jawa yang menggunakan santan sebagai bahan utama. Seperti lodeh, kare, opor dll. Sebagaimana umumnya masakan bersantan lainnya, makanan ini lebih enak jika sudah “nginep” alias dihangatkan beberapa kali. Memang tidak sehat, tapi sekali-sekali bolehlah yaaaa😂

Kotokan Tahu

Bahan:
200 gram tahu
100 gram jambal roti potong kotak, goreng sebentar
100 gram bunga bawang, potong-potong (bisa diganti kacang panjang)
20 gram pete
5 buah belimbing wuluh (bisa diganti tomat hijau)
200 cc santan

Bumbu:
7 siung bawang merah
3 siung bawang putih
5 buah cabai rawit
2 ruas lengkuas, geprek
4 lembar daun salam
Gula dan garam secukupnya

Cara membuat:
1. Rajang halus bawang merah, bawang putih dan cabai rawit.
2. Potong-potong belimbing wuluh.
3. Panaskan air, masukkan bumbu rajang, lengkuas dan daun salam. Biarkan mendidih.
4. Masukkan tahu, ikan asin jambal roti, bunga bawang, pete dan belimbing wuluh, didihkan kembali.
5. Masukkan santan, gula dan garam.
6. Koreksi rasa, siap disajikan.

Resep Ikan Bakar ala Jimbaran

Ketika tinggal di Indonesia, Bali menjadi salah satu tempat wisata yang paling sering saya datangi. Selain pemandangan alamnya yang menakjubkan, kuliner di Bali tidak boleh dilewatkan begitu saja. Makanan yang menjadi favorit saya diantaranya rujak kuah pindang, tipat cantok, sup ikan makbeng, nasi ayam bu oki dan yang pasti seafood Jimbaran. Saking cintanya dengan Pulau Dewata, dengan memanfaatkan tiket promo dari salah satu maskapai penerbangan yang ada di Indonesia, saya bisa mengunjungi Bali dua kali dalam sebulan. Kebayang kan seberapa cinta saya dengan Pulau Bali hiksss!

Berhubung saat ini saya sedang merantau, rasa rindu tersebut saya obati dengan membuat masakan Bali yang dahulunya sering saya nikmati. Walaupun mungkin rasanya tidak sama dengan yang di Cafe Menega, tapi termasuk mirip lah hehehe.

Ikan Bakar Jimbaran

Bahan:
1 kg ikan segar, cuci dengan air lemon

Bumbu Halus:
3 buah cabai merah
5 buah cabai rawit
3 siung bawang putih
5 siung bawang merah
1 ruas jahe
1 ruas kencur
1 ruas kunyit bakar
2 butir kemiri
1 sdm gula merah disisir
3 lembar daun jeruk
1 batang serai, geprak
Garam sesuai selera
Minyak untuk menumis

Cara membuat:
1. Haluskan bumbu kecuali daun jerek dan sereh
2. Panaskan minyak, kemudian masukkan daun jeruk dan sereh.
3. Setelah harum masukkan bumbu halus dan tumis hingga matang. Koreksi rasa lalu matikan api.
4. Panggang ikan yang telah dibersihkan dengan menggunakan oven, 180 derajat celcius selama 15 menit.
5. Keluarkan ikan lalu oles bumbu, panggang kembali selama kurang lebih 15 menit atau sesuai selera. Sajikan dengan pelengkap berupa nasi, lalap dan sambal kecap.

Baca juga: Tumpeng ala Bali: Resep Sate Lilit

Resep Sambal Bajak yang Awet dan Sedap

Sebenarnya tinggal di Abu Dhabi, saya tidak perlu khawatir kekurangan rempah-rempah untuk memasak makanan Indonesia. Mulai cengkeh, ketumbar, kapulaga, pala semuanya lengkap ada disini.

Namun setiap ada saudara yang datang dari Indonesia, saya selalu minta tolong teman untuk dibawakan rempah-rempah dari pasar. Percayalah! Kualitas rempah-rempah Indonesia jauh lebih bagus dari rempah-rempah yang ada disini. Aroma dan rasa yang dihasilkan lebih kuat dan wangi. Pernah suatu ketika saya memasak sup buntut dengan menggunakan pala produksi negara tetangga karena kebetulan stok pala dari kampung halaman sedang habis. Sudah 5 butir pala yang masuk ke panci tapi rasa palanya tidak kunjung keluar 😣. Tidak mengherankan ya jika dimasa lalu semua pedagang asing berlomba-lomba memonopoli hasil produksi rempah-rempah di Indonesia. 

Pada titik inilah, saya menjadi rindu tanah air.

Dan salah satu cara saya untuk mengobati rindu adalah dengan memasak. Masakan Indonesia yang tidak pernah absen dari meja saya contohnya SAMBAL!. Saya ini pecinta makanan pedas, rasanya makanan apapun jadi kurang nendang kalau ga dicocolin sambal. Nah kali ini saya mau berbagi tips cara memasak sambal bajak yang gurih, awet/tahan lama namun bebas MSG dan pengawet. Berikut resepnya yaaa

Baca juga: Tumpeng ala Bali: Resep Sate Lilit, Resep Ayam Panggang ala Bu Setu-Magetan, Resep Onde-onde Kentang

Sambal Bajak

Bahan:
300 gram cabai rawit/cabai merah
1 buah tomat ukuran sedang
6 siung bawang putih
5 siung bawang merah, rajang halus
1/2 sdm gula merah sisir
1/2 sdm garam
1/2 sdm terasi
Minyak goreng secukupnya

Cara memasak:
1. Panaskan minyak, tumis rajangan bawang merah kemudian sisihkan.
2. Potong-potong cabai, bawang putih dan tomat.
3. Panaskan minyak, tumis cabai merah, bawang putih dan tomat hingga layu.
4. Masukkan terasi, gula merah dan garam, setelah aromanya wangi, matikan api.
5. Blender kesemua bahan yang telah ditumis diatas.
6. Panaskan minyak, tumis bahan yang telah dihaluskan hingga tanak.
7. Masukkan tumisan bawang merah, aduk rata.
8. Koreksi rasa dan siap disajikan.

Tips:

Bahan-bahan ditumis dua kali sehingga matang sempurna dan rasa juga lebih keluar. Jika ingin menyimpan sambal ini dalam waktu lama, bisa dimasukkan ke botol kaca dan disimpan di lemari pendingin.

Sheikh Zayed Festival, Festival untuk Mengenang Presiden Pertama UAE

Jika teman-teman ada yang ingin berkunjung ke Abu Dhabi, waktu terbaik adalah saat musim dingin, selain cuacanya lebih nyaman untuk berjalan-jalan, saat musim dingin kita berkesempatan untuk mendatangi berbagai festival yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Al Wathba untuk mengunjungi Zayed Heritage Festival. Biaya masuknya gratis loh! Saya lampirkan beberapa fotonya ya teman-teman.

Festival ini diselenggarakan untuk memperingatin 100 tahun usia Sheikh Zayed. Sheikh Zayed adalah founding father negara UAE. Beliau adalah orang yang sangat visioner dan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Negara ini sangat kaya, ibarat pepatah, penduduknya lahir dengan sendok emas di mulutnya.

Untuk menghindari sifat malas yang biasa menjangkiti warga dari negara-negara kaya, pemerintah UAE mendorong warganya untuk bersekolah setinggi mungkin. Bayangkan saja, siapapun yang mau mengenyam pendidikan akan diberi peralatan sekolah, mulai dari laptop, buku, iPad hingga uang saku. Sekolahan untuk warga lokal juga gratis alias tidak membayar sepeser-pun. Setelah lulus-pun tidak perlu khawatir akan bekerja kemana, karena sudah ada kementerian khusus yang bertugas untuk mencarikan pekerjaan bagi warga lokal agar keahlian mereka termanfaatkan dengan tepat, namanya Ministry of Human Resource and Emiratisation.

Baca juga: 4 Wisata Menarik di Dubai, Berbagai Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berlibur ke Dubai atau Abu Dhabi: Visa, Akomodasi, Transportasi, dll

Berbicara mengenai kesejahteraan warganya, jangan heran jika gaji yang didapat oleh expat atau pendatang yang bekerja disini sangat jauh dibanding penduduk lokal, walaupun posisinya sama. Jangan protes! Begitulah cara mereka memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya.

Kalau boleh jujur, saya luar biasa salut dengan cara berpikir pemimpin negara ini, jangan sampai, warga lokal malah kesulitan mendapatkan pekerjaan di tanah airnya. Dan hebatnya spirit tersebut dilanjutkan oleh Sheikh Khalifa dan Sheikh Mohammad, pemimpin saat ini. Kebayang kan bagaimana penduduk-nya sangat mencintai Sheikh Zayed?

Anyway, selain menyaksikan pertunjukan kembang api, di festival ini juga terdapat pertunjukan kesenian lokal. Irama musik padang pasir berkumandang dari segala sudut, ada pula tarian khas Arab yang menggunakan tongkat, juga marching band yang diiringi lagu Arab #yaiyalah. Dan dimana ada keramaian, disitu ada makanan hahahaha. Tapi dasar saya lidah lokal, yaudah sih ga ada makanan yang menarik untuk saya.

Lidah saya lebih memilih untuk makan klepon dibanding burger, hotdog, kentang spiral dll. Ngomong-ngomong klepon, sekalian saya bagikan resepnya yah. Siapa yang bisa menolak gurihnya santan didalam adonan tepung ketan yang berpadu dengan legitnya gula merah?

Klepon

Bahan:
250 gram tepung ketan
150 cc santan hangat
1 sdt pasta pandan
2 sdm minyak sayur
1 sdt garam

Bahan Pelengkap:
100 gram gula merah, sisir untuk isian klepon
200 gram kelapa parut, aduk dengan sejumput garam lalu dikukus

Cara membuat:
1. Didihkan air, sisihkan.
2. Masukkan pasta pandan kedalam santan hangat, aduk rata.
3. Tuangkan sedikit demi sedikit larutan santan hangat kedalam tepung beras, aduk rata.
4. Basahi telapak tangan menggunakan minyak goreng, pulung adonan tepung ketan dan beri isian gula merah.
5. Masukkan kedalam air yg mendidih, lakukan hingga adonan habis.
6. Segera angkat klepon yang sudah mengapung dengan menggunakan saringan.
7. Gulingkan diatas kelapa parut yang telah dikukus. Sajikan.

Tumpeng ala Bali: Resep Sate Lilit

Umumnya kita mengenal tumpeng dengan isian nasi kuning, kering tempe, ayam goreng dan lain sebagainya. Namun kali ini saya iseng membuat tumpeng versi Bali dengan isian Nasi Putih, Be Sisit Ikan, Sate Lilit, Lawar dan Sambal Matah sebagai pelengkap.

Tumpeng ini terinspirasi dari teman facebook saya yang banyak berkreasi dengan menu tumpeng yang ia jual. Mulai dari nasi tumpeng Madura yang berisikan nasi jagung, cumi hitam, tumis peda pete, dadar jagung dan mie goreng, hingga tumpeng Jogja yang tentu saja menyajikan gudeg dengan segala pernak-perniknya. Kesemuanya unik, tidak kalah cantik dengan tumpeng nasi kuning dan yang terpenting semakin memperkaya khasanah kuliner Indonesia.

Kali ini saya share resep sate lilitnya dulu ya teman-teman, siapa tau ada yang butuh.

Sate Lilit Tengiri

Bahan:
400 gram fillet ikan tengiri, haluskan
3 sdm santan kental
1 butir putih telur
100 gram kelapa parut
20 batang serai untuk tusukan

Bumbu halus:
4 siung bawang putih
8 siung bawang merah
2 buah cabe rawit
1/2 sdt merica
1 sdt ketumbar
3 butir kemiri
1 ruas jahe
1 ruas lengkuas
1 ruas kunyit bakar
1/2 sdt terasi, opsional
Gula dan garam sesuai selera

Cara membuat:
Aduk rata tengiri yang telah dihaluskan, kelapa parut, putih telur dan santan kental. Haluskan bumbu dan masukkan kedalam adonan kemiri, aduk rata. Basahi telapak tangan dengan minyak goreng, lilitkan adonan ke batang serai. Panggang diatas teflon.

Baca juga: Resep Gado-gado Siram Surabaya, Resep Klepon Santan

Resep Ayam Panggang ala Bu Setu Gandhu-Magetan

Setiap mudik, sebisa mungkin saya mengunjungi kota Madiun untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang tinggal disana.Agenda yang tidak kalah pentingnya adalah berwisata kuliner di Madiun dan sekitarnya. Salah satu tempat yang wajib saya kunjungi adalah Ayam Panggang Bu Setu yang terletak di Magetan. Tempat ini memiliki daya tarik tersendiri mengingat hampir satu kampung menjajakan ayam panggang. Ada dua jenis ayam panggang yang ditawarkan, yaitu yang menggunakan bumbu rujak dan bumbu bawang putih. Kali ini saya berusaha menduplikasi menu ayam panggang bawang putih tersebut, semoga cocok ya.

Ayam Panggang Bawang ala Bu Setu

Bahan:
Ayam 1 kg, lumuri dengan lemon dan garam lalu bilas

Bumbu halus:
Bawang putih 8 siung
Ketumbar 1 sdt
Merica 1/2 sdt
Garam dan gula secukupnya

Cara membuat:
1. Grill ayam dengan suhu 180 selama 10 menit
2. Ratakan bumbu halus ke permukaan ayam, diamkan satu jam
3. Grill dengan suhu 180 selama 20 menit setiap sisinya
4. Hidangkan dengan lalap dan sambel korek

Cara membuat sambel korek:
Ulek kasar bawang putih, cabe rawit dan garam, kemudian siram dengan minyak panas.

Onde-onde Kentang

Onde-onde adalah jajanan tradisional yang banyak ditemukan di sepanjang jalanan menuju ke arah Mojokerto. Sebenarnya saya tidak terlalu suka membuat kue/jajanan, mengingat dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan mengikuti langkah-langkah pembuatannya. Namun onde-onde merupakan jajanan yang termasuk mudah cara pembuatannya. Kali ini saya memodifikasi resep dari bunda diah-didi yang menggunakan kentang dalam resepnya.

Onde-onde Kentang

Bahan Kulit :
250 gram tepung ketan
50 gram kentang kukus,haluskan
65 gram gula pasir halus
½ sdk teh garam
175 ml air hangat
100 gram wijen

Bahan isi :
250 gram kacang hijau kupas
150 gram gula pasir
1 lembar daun pandan
½ sdk teh garam
200 ml santan dari ½ kelapa

Cara membuat :

Adonan isi:
Rebus kacang hijau sampai agak lunak dan kering,tambahkan santan, gula pasir, daun pandan, garam. Masak sambil di aduk sampai empuk dan kalis. Angkat, dinginkan, bulatkan kecil-kecil, sisihkan dulu.

Adonan kulit:
Campur tepung ketan, kentang, gula pasir dan garam, aduk rata.
Tuang air hangat sedikit demi sedikit, uleni hingga kalis.
Ambil adonan kulit, kurang lebih 20 gram, bulatkan, pipihkan lalu isi dengan kacang hijau. Gulingkan diwijen, masukkan dalam minyak dingin.
Nyalakan api kecil. Aduk sampai mengapung lalu nyalakan api sedang, goreng hingga matang kecoklatan.