Bedanya Kaya, Miskin dan Sederhana?

Beberapa tahun belakangan ini di Indonesia sedang ramai dengan yang namanya Stand Up Comedy. Kompas TV merupakan salah satu stasiun TV yang dengan cerdas mengambil keuntungan dengan menyelenggarakan Stand Up Comedy Indonesia. Tidak lepas dalam ingatan bagaimana Ryan Adriandhy, Ihsan Nur Akbar, juara dan runner up Stand Up Comedy Indonesia Season 1 melemparkan guyonan yang sukses membuat saya tertawa ngakak. Memasuki season ke-2, Indro Warkop kembali didapuk menjadi juri, didampingi oleh Raditya Dika yang sebelumnya menjadi Co-Host dalam acara ini. Mengenai masuknya Raditya Dika kedalam format acara ini tentu saja tidak mengherankan, saya pribadi mengenal guyonan gaya Amerika ini dari buku-bukunya. Seringkali paragraf yang ditampilkan berupa monolog yang tentu saja mengundang tawa.

Seiring tumbuhnya penikmat acara ini, kritik dan saran pun bermunculan. Masyarakat Indonesia yang sudah semakin cerdas menuntut humor yang tidak melulu mencela fisik, namun juga ada pesan positif yang terkandung di dalamnya. Salah satu comics (sebutan untuk pelakon Stand Up Comedy) yang sukses membawa nilai tersebut adalah Cak Lontong. Baru nulis namanya udah pengen ngakak :v. Pria dengan nama asli Lies Hartono ini rutin tampil di Stand Up Comedy Show di Metro TV, ia terkenal dengan lawakan cerdas yang menantang pendengarnya untuk berpikir. Tidak jarang ia juga menyelipkan anekdot yang bernada sarkas alias nyinyir. Salah satu tayangan yang tidak dapat saya lupakan berjudul “Sederhana” di link berikut.

Selepas menonton tayangan tersebut, berbagai pemikiran didalam kepala saya terus berkecamuk. Cak Lontong sukses bikin saya mikir hahahaha. Nyatanya memang masih banyak di masyarakat kita yang belum bisa membedakan antara kaya, miskin dan sederhana. Sebenarnya gampang saja, kaya, miskin dan sederhana dapat dibedakan dari bagaimana cara anda berperilaku. Jadi, orang yang sederhana belum tentu ia adalah orang miskin, belum tentu juga orang sederhana adalah orang yang kaya. Karena kesederhanaan berjalan sejajar dengan kebijaksanaan, bukan materi 🙂

1 Comments

Leave a Reply