Bandara. 

All human life can be found in an airport. Berbagai emosi saling tumpang-tindih diantara ribuan orang yang memadati setiap ruang yang ada di bandara. Ada yang sudah bahagia, ada pula yang masih dalam perjalanan menuju bahagia.

Mataku tanpa sengaja berpapasan dengan seorang perempuan. Wajahnya sesegar bunga dalam genggaman, garis bibir yang tanpa sadar terus merekah, binar bahagia tampak jelas pada sudut matanya. Memandang dengan lekat setiap orang yang melintas di pintu kedatangan. Jangan sampai terlewat barang sekedip saja. Menunggu kekasihnya, mungkin.

Kusapukan mataku kearah lain. Sesosok pria berdiri termangu melihat papan pengumuman. Menghela nafas cukup dalam, berlomba dengan sang waktu, sebelum kekesalan memenuhi rongga dadanya. Tampak sigap jemarinya menari di atas keyboard ponselnya. Mengirimkan kabar mengenai pesawatnya yang akan datang terlambat, mungkin.

Ada pula wajah-wajah penuh pengharapan yang tekun mengular dalam antrian imigrasi, tampak sibuk membayangkan tumpukan riyal dalam genggaman. Teringat bahwa dibelakang sana ada keluarga yang menunggu kiriman uang darinya, mungkin.

Dalam hitungan detik, perhatianku teralihkan pada rombongan pramugari yang menarik kopernya. Tampak anggun berbalut seragam yang khas, tidak lupa senyum ramah yang menawan. Kulirik jam-ku, tepat pukul 00:00. Dedikasi pada sebuah profesi, mungkin.


Saat ini, didepanku ada pria yang terus memandangi langit-langit boarding room. Pikirannya berkelana, entah kemana. Kepada orang tuanya, anaknya atau…entahlah.

Bandara. Selalu ada yang tertinggal dalam setiap perjalanan.
*photo source: www.thousandwonders.net

1 Comments

  1. dunia Bandara yang memang selalu meninggalkan jejak kenangan, terutama kenangan pramugari yang gemulai semampai dengan dibalut oleh seragam yang ciamik bisa bikin kita sesaat perpaling dari ibunya anak-anak dirumah…eh

Leave a Reply