3 Tantangan Ketika Memutuskan Menggunakan Hijab!

Jika dirunut kebelakang, sudah hampir dua tahun saya menggunakan hijab. Hal ini cukup mengagetkan banyak orang, lah jangankan orang lain, saya aja kaget 😂. Baiklah, melalui tulisan ini saya akan sedikit bercerita hal-hal apa saya yang membuat saya memutuskan menggunakan hijab.

Jadi, bagaimana awalnya saya memutuskan menggunakan hijab?

Saya bukan tidak tau bahwa setiap umat muslim yang sudah baligh diwajibkan untuk menutup aurat, tapi hanya Allah yang memiliki kuasa untuk membolak-balikkan hati, maka nasehat dari siapapun ya tetap saja tidak akan ada yang masuk ke kepala 🙄.

Saran saya, jika keluarga atau teman Anda berasa di fase ini, baiknya jangan malah di beri label kafir, liberal, bebal, keras hati dan berbagai stempel lainnya. Perlakuan seperti itu bukannya akan membuat mereka tersadar, namun malah akan menjadi-jadi seperti yang saya lakukan.

Iyah, karena sebel dikata-katain kafir jadi sekalian saya tantangin tuh yang doyan ceramah dengan menggunakan hot pants kemana-mana.

Percayalah, akan lebih baik jika Anda mendoakannya ❤️.

Long story short, entah doa siapa yang pada akhirnya dikabulkan Allah.

Di suatu sore di bulan Maret, suami mengajak jalan-jalan ke Yas Mall. Saya menggunakan celana jeans pendek sebagaimana biasa. Untuk pertama kalinya saya merasa malu menggunakan celana pendek. Malam itu juga saya membahas perasaan malu tersebut kepada suami, saya juga minta ijin untuk menggunakan hijab. Alhamdulillah suami mendukung keputusan tersebut.

Apa lagi yang melatar-belakangi keputusan tersebut?

Hmm,,apa yah? Bisa dibilang 2 tahun lalu adalah masa-masa terberat dalam hidup saya. Papa saya mengidap Leukimia akut dan divonis hidupnya tinggal 18 bulan. Saya yang selama ini tidak pernah sekalipun jauh dari orang tua, tiba-tiba berada ditengah gurun dan tidak bisa hadir untuk menemani dan merawat papa yang sedang sakit.

Itu adalah titik terendah dalam hidup saya and nobody knew how sorry I am.

Selain berdoa, rasanya tidak ada lagi yang bisa saya perbuat. Saya menyesali diri karena belum banyak yang saya lakukan untuk membahagiakan papa. Belum lagi dari sisi spiritual, yang paling mendasar untuk menutup aurat saja tidak saya lakukan. Apakah lantas ada jaminan bahwa amal ibadah yang lain akan diterima?

Disitu saya menangis sejadi-jadinya. Saya tidak mau mengulangi hal yang sama terhadap suami. Bukankah sesudah menikah, segala tanggung jawab papa akan berpindah ke tangan suami? Jadi sederhananya, menggunakan hijab adalah bentuk cinta saya kepada suami, karena Allah.

Baca juga: Apa Benar Wanita Butuh Kepastian?

Apakah lantas hidup saya baik-baik saja?

Ini adalah salah satu keputusan besar dalam hidup saya, tidak mungkin tidak membawa pengaruh apapun. Ada banyak sekali tantangan yang harus saya hadapi selama menggunakan hijab. Bisa dibilang tantangan tersebut justru datang dari dalam diri saya.

  1. Merasa Sombong

    Seringkali karena merasa sudah menutup aurat, maka saya akan memandang sebelah-mata seorang muslim yang masih menggunakan tanktop, hot pants, bikini, dll. Ada yang sempat seperti itu? Saya sih ga munafik dan ga mau bohong. Memang saya pernah dihinggapi penyakit ujub, sombong dan merasa lebih solehah dibanding yang lain. Untungnya Allah masih memberi saya kewarasan untuk tidak terus-terusan menjadi pribadi yang seperti itu. Ya kali sapa elo? Baru pake hijab aja udah sok solehah 😂. Apalagi saya pernah berada di posisi mereka, dihakimi itu tidak enak.

  2. Lebih Sensitif

    Jadi suatu hari, saya pernah bergabung dengan mommies community gitu deh, terus intinya tidak mendapat sambutan yang hangat. Saat melihat anggotanya memang rata-rata bukan muslim dan tidak menggunakan hijab. Saya yang seorang muslim dan menggunakan hijab mendadak dihinggapi perasaan inferior dan tersisih.

    Namun kabar baiknya, Allah mempertemukan dengan komunitas mom blogger yang memang sejalan dengan hobi dan passion saya. Bahkan dari komunitas ini, saya berhasil mewujudkan cita-cita untuk tetap gajian walaupun bekerja dari rumah. Rencana Allah selalu lebih indah, ya?

  3. Mengurangi Eksistensi

    Ini adalah tantangan terberat untuk saya. Bahkan mungkin akan menjadi bahasan paling panjang 😂. Bayangkan saja, beberapa bulan setelah menggunakan hijab, gaya rambut ombre mendadak hits di seantero negeri. Serius! Saya sempat menyesal menggunakan hijab. Tau gitu di-pending dulu #eh.

    Belum lagi saat menemukan baju yang kece tapi ternyata panjangnya cuma selengan. Ampun, perkara baju doank bisa membuat nyesek loh ternyata. Apalagi saat travelling ke Bali, bawaannya pengen buka hijab. Sebenarnya, saya bisa aja sih tetap mengecat rambut dengan warna ombre, ataupun membeli baju berlengan pendek untuk dikenakan dirumah. Tapi jujur, sungguh tidak mudah membelenggu keinginan untuk eksis alias pamer rambut di instagram.

Siapa yang bilang hijrah itu gampang? Kata mamak, surga itu mahal-panci yang murah. Anyway, pada akhirnya saya cuma bisa berharap bahwa pengorbanan saya untuk tidak mengikuti fashion update tadi menjadi tambahan amalan saya di akherat nanti.

Berbicara seperti ini, bukan berarti cara berpakaian saya sudah sempurna. Saya masih lebih sering menggunakan celana jeans model pensil dibanding rok atau gamis, sekali lagi karena hati saya belum tergerak. Saya tau, sebenarnya hal ini sifatnya personal, dan tidak dapat dihindari jika kemudian akan ada pihak yang memberikan judgement seenak udel-nya. Tapi saya yakin, pembaca jaman sekarang adalah pembaca yang cerdas, sehingga dibanding yang julid akan jauh lebih banyak yang bisa mengambil pelajaran dari tulisan saya diatas.

Baca juga tulisan Mbak Tikha tentang My Hijab Story: Sebuah Janji Di Masa Kecil. Yuk berbagi pengalaman tentang hijab pertamamu di kolom komentar, supaya kita dapat saling memberi semangat agar tetap istiqamah. 

 

 

8 Comments

  1. Saya sempat merasakan kehilangan eksistensi setelah berhijab. Haha…dulu banget. Kan biasanya gaya2an di depan kamera dengan aneka. Macam gaya rambut, terus mendadak gak bisa. Tapi… Lebih bersyukur berhijab jadi bisa jaga diri

Leave a Reply