Ketika Saya Memutuskan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Per bulan Agustus 2017 nanti, terhitung sudah 3 tahun saya meninggalkan dunia kerja. Saya belum bisa move on dan mungkin tidak akan move on 😁.

Mengapa?

Banyak hal yang saya pelajari dari tempat tersebut. Saat itu, saya sangat beruntung karena memiliki manajer yang mempercayakan banyak hal kepada saya. Ia tidak segan untuk melibatkan saya dalam setiap aktivitasnya.

Tentu saja si ibu manager tidak seceroboh itu untuk mempercayakan berbagai hal begitu saja. Tidak ada sesuatu yang berjalan secara instan, bukan? Saya ingat betul yang beliau lakukan ketika awal memasuki dunia kerja, beliau mengajak saya untuk ikut duduk meeting bersama stakeholder. Selain benar-benar duduk, saya berinisiatif untuk menjadi juru tulis notulen rapat. Dari situ saya memperhatikan bagaimana mereka berbasa-basi, berdiskusi dan kemudian bernegosiasi. Bahkan saya mencatat dengan baik reaksi beliau jika ada poin-poin dalam proposal kami yang ditolak. Catatan tersebut bukan untuk kepo, bukan pula untuk bergosip. Catatan tersebut adalah ilmu yang mengajari saya bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, dalam konteks profesional kerja. Hasilnya, tidak sekalipun terbayang dalam benak saya akan melakukan meeting dan audiensi dengan teman-teman komunitas, walikota, direktur BUMN ataupun pejabat pemerintahan di usia saya yang baru 22 tahun.

Mungkin saat manajer saya membaca tulisan ini, beliau akan ingat apa yang saya sampaikan setiap waktu appraisal tiba. Saya tidak pernah sekalipun meminta kenaikan gaji, tidak pula meminta kenaikan grade. Saya hanya meminta untuk terlibat di project A, B, C, …, dst.

Hasilnya?

Setiap tahun, gaji saya naik antara 15%-30%. Untuk yang pernah jadi karyawan pasti tau seberapa besar angka tersebut karena standar kenaikan gaji perusahaan umumnya hanya 5-15%.

Satu hal yang pasti, hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Percayalah, tidak semua atasan/perusahaan memberikan kesempatan tersebut kepada karyawannya. Jadi, jika saat ini anda berada diposisi saya, jangan berhenti dan jangan berkeluh kesah. Itu adalah kesempatan belajar yang sangat mahal yang belum tentu bisa anda dapatkan ditempat lain.

Memutuskan keluar kerja dan menjadi ibu rumah tangga merupakan keputusan terbesar dalam hidup saya yang baru 27 tahun ini. Saya meninggalkan office life diusia produktif yang bisa dibilang sedang “seru-serunya”. Saya yakin, bukan hanya saya yang mengalami dilema ini, banyak perempuan-perempuan hebat lain yang mengikhlaskan karirnya untuk keluarga namun tetap sukses memberdayakan diri, entah dengan berbisnis makanan/pakaian/kosmetik/travel dll atau sukses mengantarkan anaknya menjadi insan yang soleh/solehah. Bedanya mereka diam dan tidak koar-koar seperti saya hahahaha. Kembali lagi, menulis merupakan me time, menulis adalah waktu terbaik untuk berkontemplasi dan berdialog dengan dalam diri.

Menjadi Ibu Rumah Tangga?

Saat ini, praktis bisa dibilang saya tidak bekerja. Orang tidak melihat saya mengenakan seragam dan berangkat kekantor setiap paginya. Sehari-hari yang saya lakukan adalah menggeser layar handphone atau laptop kekiri, kekanan, keatas dan kebawah. Tapi syukur alhamdulillah, Allah tetap memberi saya kesempatan untuk memberdayakan diri. Setiap harinya saya masih bekerja. Setiap pagi, saya mengecek email, menghubungi kontak PR/brand, mengkonsep ide, mengirimkan proposal, bernegosiasi dan lain sebagainya. Bukan karena saya mengejar uang, sesederhana karena memang saya senang melakukan hal tersebut. Do your passion and money will follow, that’s what I do right now.

Saya hanya tidak mau semua yang saya kumpulkan sekian tahun menguap karena pilihan saya untuk menjadi ibu rumah tangga, termasuk ilmu dan pengalaman di dunia kerja.

Apakah lantas saya bisa dibilang sukses?

Iya, saya sukses mendobrak zona nyaman didalam diri saya, namun saya belum sukses menjadi apa-apa. Jalan saya masih sangat panjang, banyak mimpi yang sudah saya buat tapi bahkan saya belum tau bagaimana mewujudkannya 😂. Saya hanya tau bahwa saya harus terus berjalan, memaksimalkan potensi diri. Melakukan apa yang bisa saya lakukan dengan segala keterbatasan yang ada. Misalnya, saat ini keterbatasan saya adalah keluar rumah dan meninggalkan anak, maka bekerja menggunakan internet menjadi solusi saya.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti saya kehilangan potensi untuk berkarya. Saya percaya, Allah tidak sesembrono itu memberikan takdir pada ciptaanNya.

Dimanapun saya berada, selalu ada tujuan mengapa saya diletakkan disitu. Begitu pula ketika saat ini saya berada di gurun yang bernama Abu Dhabi ini. Allah ingin saya mengambil banyak pelajaran dari tempat ini untuk bekal hidup saya kedepan. Entah apa dan dimana yang baru bisa saya tuliskan ketika saya sudah tidak lagi berada disini. Segala hal didunia ini sifatnya hanya sementara, bukan?

Jangan bertanya tentang kegagalan, karena daftarnya pasti lebih tebal dari novel Harry Potter yang ke-7. Tentu saja berbagai kegagalan tersebut mengecilkan hati saya, tapi saya tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, karena waktu terus berjalan. Segala yang terjadi sudah ada yang mengatur dan pasti yang terbaik.

Oh yes! I’cant move on but I’m awake that life must go on and here I am.

3 Comments

Leave a Reply